pagi cerah menghampiri rumah 
secangkir kopi dan koran tidak luput mengampiri hari libur panjang ini
setiap pagi
biasanya di hari biasa, saya sibuk menyiapkan tuan tuan muda pergi
kesekolah
sebelum saya mempersiapkan  mental untuk berbakti pada tuan di kantor

di bawah berita bencana yang melanda di mana mana
ada berita menarik tentang kemacetan panjang warga yang pergi pulang
menikmati liburan panjang
tiba tiba saja aku merasa tercekat,
teringat jejeran panjang café café di cihampelas walk, dan kenikmatan
yang ditawarkan
dan jejeran panjang orang orang yang berbaring di pengungsian dan
kelaparan menunggu bantuan datang

sebuah iklan besar di halaman berikutnya tentang hunian mewah di
jakarta utara
dan janji promosi bebas banjir selamanya.
padahal masih di halaman itu
sebuah pemukiman nelayan yang kumuh hampir tenggelam karena naiknya
air pasang
  
ketimpangan, sebuah kata yang hinggap di angan saya 
dua orang yang menghabiskan waktu berjam jam di café bisa memberi
makan siang untuk pengungsi ini seluruhnya dengan jumlah uang yang sama.
harga sebuah kondo  di pantai kapuk muara
setara dengan  harga rumah susun yang bisa menampung semua nelayan di
desa sebelahnya.

malas bodoh dan miskin adalah mata rantai yang hanya bisa putus dengan
peduli.
padahal kita hidup di kampung yang sama, 

kemana perginya kayu di hutan bila bukan ke kota
tapi siapa yang lebih dulu kena longsor dan banjir apabila bencana melanda

stupid, saya sendiri tak bisa memutus mana yang perlu lebih dulu ada
hidup layak buat petani tentunya beda dengan pekerja dan jauh berbeda
dengan orang orang besar di kota
stupid, saya sendiri tak tahu layak itu seperti apa… kenapa di  bumi
hasrat itu ada, karena setelah mati kita kembali papa, tanpa hasrat ,
tanpa minta.


( kopi tak bisa menolong resah ini
 yeah, aku harus sholat duha )

jamie
    



Kirim email ke