Slmt pagi dan sejahtera selalu, saya tertarik topik ini namun saya hanya bisa menambahi saja, bos jangan begitu extrim bos dengan tulisan begini ini, yach kita-kita ini kan sama-sama abdi negara dan saling menjaga dan mempertimbangkan sesuatu yang akan ditempuh,saya kira tidak begitu adanya seseorang pejabat harus dilayani dsb nya, kita2 ini orang Indonesia penuh dengan keramahannya juga baik hatinya suka ringan tangan semestinya kita2 orang timur gak mungkin lah kalau hal tersebut gak kita lakukan sama hal nya kita ketamuan dirumah apa ga kita jamu tamu tsb, itu pasti kita lakukan dengan otomatis. Tamu adalah merupakan rezeki, menerima tamu dengan baik berarti ibadah dan ibadah yg dilakukan dengan tulus ikhlas akan mendapatkan pahala yg berlipat ganda, nah sebaiknya jangan fullgar bos kita saling menghormati bos, thanks
--- In [email protected], Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau melihat gaya tulisan Saudara yang mengebu-gebu dan penuh semangat, sepertinya Saudara termasuk dalam golongan Wong Alit, tetapi pada akhir paragraf, Saudara termasuk orang lama dalam milis ini dan kelihatannya mengenal betul kedua pejabat itu, sehingga berani menantangnya dengan terang-terangan. > > Saya jadi ragu kapasitas Saudara, tapi tidak apa-apa. Kalau memang benar Saudara Wong Alit saya salut Saudara betul-betul berani dan penuh semangat tanpa tedeng aling-aling, tidak kenal rikuh mengungkap habis sebuah fakta yang memang sudah mendarah daging. > > Kalau Saudara Wong Elit, saya akan lebih kagum lagi berarti Saudara adalah Pelopor dalam menghancurkan sebuah Paradigma Lama. Tidak banyak Pejabat berani menentang arus seperti Saudara. Kebanyakan mereka pingin cari aman. Lha daripada mati tenggelam ya.,,.mendingan ikut arus aja. Apalagi kalau ada unsur 'balas budi' walah malah lebih 'gila'. > > Saya setuju sekali, kalau kunjungan pejabat itu tanpa pemberitahuan (sidak), sehingga tidak perlu ada acara-acara penyambutan, penyiapan hotel, dsb. Kalau misalnya ada pemberitahuan ya..persiapannya tidak usah terlalu berlebihan, hotel dan transport tidak perlu dibayarkan (lha mereka khan udah bawa duit negara). > > Untuk makan..ya bolehlah sekali-kali (nggak perlu 3 kali sehari), tapi syaratnya dari kocek pribadi pejabat penerima tamu, (khan...TCnya udah guedeee skali), jangan pakai duit DIPA dong malu sama rakyat kecil. > > Sekian tanggapan saya, mudah-mudahan cita-cita Pak Carlin_Prince bisa membuka pintu hati pejabat lainnya. Salam Reformasi.. > > ----- Pesan Asli ---- > Dari: carlin_prince <[EMAIL PROTECTED]> > Kepada: [email protected] > Terkirim: Rabu, 9 Januari, 2008 7:33:52 > Topik: [Forum Prima] Mengubah Paradigma Kunjungan Pejabat di Kantor Daerah > > Sekali lagi saya menantang para > pejabat yang ingin brkunjung ke daerah agar mengubah paradigmannya > dari MENGEMIS menjadi MEMBERI/ MELAYANI. > > Saya tantang dari para pejabat yang sering singgah di milis ini dulu. > Bagaiman Pak Hari Ribowo di SEMARANG? atau mungkin MAS SUBASITA di > HEART OF BORNEO? Sanggup ga merealisasikannya? > > Sekali lagi bagaimana Pak Hari, juga MAS SUBASITA? kemana saja liburan > ini? > > Dan tentunya para pejabat lainnya. > > Saya Tunggu.... > > > > > > ________________________________________________________ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
