Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional. 1908-2008 Pemuda dimanapun di belahan dunia ini selalu menjadi pelopor, disekian banyak momentum kebangkitan sebuah bangsa. Tidak terkecuali 20 Mei 1908 adalah salah satu momentum dari sekian banyak momentum yang dimiliki bangsa ini yang harus kita jaga. Sejarah bangsa ini harus diakui penuh warna dan gejolak namun setiap kita mampu melewati itu semua seharusnya kita menjadi bangsa yang lebih kuat dan percaya diri menatap masa depannya bukan malah kepanikan. Menjadikan sejarah sebagai laboratorium research adalah tantangan buat para pemuda Sejarah kelam dan buruk masa lalu adalah pelajaran menapaki masa depan. Sayang kata Research (penelitian) masih terlalu mewah buat kebanyakan kita. Kebangkitan 1908 adalah kesadaran sejarah berabad sebelumnya, tanpa kesadaran sejarah kita hanya mengulang-ulang mimpi buruk yang diwariskan kepada anak cucu kita.
Kobarkan kembali semangat kebangkitan disetiap aliran darah para pemuda, didada ini kebangkitan itu bermula "ini dadaku, mana dadamu !" kata Soekarno. Saat itu di tahun 1957 Soekarno berdiri di tepian sungai Kahayan di kota Cantik Palangka Raya dengan gagah seraya menyemangati "disini ibu kota negara akan berdiri". Ironis jika 60 tahun kemudian ada yang berkata" kondisi begini ingin jadi ibu kota negara !" kita tak mampu menangkap Visi Bung Karno. di tahun 70-an di Jakarta masih banyak dijumpai sawah, kebun buah, kebun sayur-sayuran segar. Palangka Raya tahun 1957 ?! Jepang setelah perang melakukan restorasi dan selama 200 tahun para brahmana (kaum Samurai) yang disegani dan dikenal cakap menjadi guru bagi rakyatnya. Saat itu pula hampir semua bidang ilmu diterjemahkan kedalam bahasa jepang. Kini tanah yang begunung-gunung, kekerapan gempa vulkanik dan dilalui dengan empat musim bukan halangan menjadi bangsa yang maju sejajar dengan bangsa yang sudah maju. Marilah kita membangun dengan "mencerdaskan kehidupan bangsa" bukan dengan mengendalikannya pada digit yang aman dan terkendali seperti angka inflasi yang biasa dipantau dengan baik oleh otoritas moneter dan fiskal. Ajak semua anak bangsa ini cerdas. Tidak ada waktu untuk merawat kesenjangan. Selamat merenung, bung ! salam, from Ciliwung to Kahayan with love.
