100 tahun kebangkitan nasional, seremoni dan spanduk usang Tadi malam saya menonton acara "100 tahun kebangkitan nasional", memang bulan ini atau mungkin tepatnya tahun ini riuh benar slogan tentang memperingati satu abadnya kebangkitan nasional, sampe-sampe slogan 'visit indonesia year' pun dengan bangga mengambil jargon memperingati 100 tahun kebangkitan nasional..
tapi entah kenapa saya lebih bisa melihat dan menangkap maksud kebangkitan nasional dari iklan 1 menit Dedy Mizwar daripada acara yang ditampilkan seluruh stasiun tv dan berdurasi 1 jam lebih tersebut, saya lebih mengerti tentang kebangkitan nasional yang mengedepankan sikap takut, malu dan mencuri yang disebutkan aktor naga bonar daripada pidato 17 menit presiden SBY yang bercerita tentang luasnya daerah indonesia (tapi makin sering dipatok negara tetangga maupun serumpun), besarnya sumberdaya alamnya (yang dirampok oleh bangsa lain dan bangsa sendiri), sumberdaya manusianya (yang jadi TKI masih ada aja yang digebukin dan mati di negara orang), kemandirian (tapi pemerintah masih berencana menerapkan BLT yang menurut saya hanya membuat masyarakat miskin tambah tidak mandiri). Sulit bagi saya untuk bisa melihat manfaat seremoni akbar tersebut yang lebih banyak menampilkan aksi jungkir balik dan pemecahan benda keras oleh anggota TNI dan Polri daripada porsi penampilan kebudayaan indonesia yang sangat beragam maupun penampilan kreatif anak-anak indonesia belum lagi ditambah komentar-komentar MC (entah ini komentar MC-nya atau sudah disisipkan dalam susunan acara) yang menurut saya tidak masuk akal seperti ketika anggota tni/polri mematahkan benda keras MC mengatakan "ini mencerminkan bahwa dalam memecahkan masalah TNI/Polri mengedepankan upaya kebatinan dan bukan kekerasan", juga ketika dirigen drum band meliuk-liukkan badan dikatakan "ini mencerminkan fleksibilitas TNI/Polri menghadapi tantangan jaman" belum ditambah ketika anggota drum band Polri melakukan lompat harimau dengan drumnya dikatakan "ini mencerminkan anggota TNI/Polri selalu berkembang seiring putaran waktu" Apakah masyarakat bisa mendapat pesan-pesan tentang arti gerakan-gerakan itu?saya langsung membayangkan jika misalnya Departemen Keuangan atau Ditjen Perbendaharaan melakukan acara serupa kemudian ditampilkan staff yang memecahkan lebih dari 1 benda keras dengan waktu yang cepat apakah kemudian akan dikatakan "ini mencerminkan kemampuan staff KPPN dalam menyelesaikan SP2D dalam waktu yang cepat", atau kemudian dikatakan "ini mencerminkan staff KPPN yang mampu memecahkan kultur Gratifikasi atau Korupsi" apa pesan itu bisa sampai??Polri yang menerapkan tarif pembuatan SIM yang sesuai tarif sebenarnya, menilang dengan benar dan tidak menerima 'uang damai' pasti akan menyampaikan pesan lebih berwibawa kepada masyarakat daripada jungkirbalik doang. kadang saya bingung dengan program-program seremonial yang bermodalkan riuh-gemuruh saja, saya jadi ingat tentang program Visit Indonesia Year 2008, yang entah kenapa menurut saya lebih banyak dipicu karena tindakan negara serumpun kita yang melakukan program serupa pada tahun 2007 yang akhirnya mempecundangi kebudayaan-kebudayaan kita dengan mengklaim sebagai kekayaan budaya milik mereka, akhirnya kita gelagapan tapi tidak ada tindakan nyata karena memang sungguh kita telah dipecundangi, kita tidak pernah menganggap kayanya budaya tersebut bisa menjadi aset ekonomi, kita cuma berkoar-koar tentang kayanya budaya kita tanpa sedikitpun ide untuk menjadikannya aset ekonomi, belum lagi slogan "Celebrating 100 Years Nation's Awakening" yang ternyata dianggap menyalahi kaidah grammar akhirnya diganti jadi "Celebrating 100 Years National Awakening", padahal katanya telah dikonsultasikan dengan konsultan branding, belum lagi Jakarta yang gelagapan karena kebanjiran, sampe bandaranya kebanjiran (gimana ga kebanjiran?apartemen, mall, hypermarket besar dimana2, ngga ada lagi daerah serapan air tertutup semen dan marmer semua), kalo bandara internasional utama negaranya kebanjiran gimana Turis mau dateng??? belum lagi pembodohan massal yang dilakukan media di Indonesia, liat aja acara gosip bin infotaintment ditayangkan lebih dari aturan minum obat pada satu stasiun televisi, reality-reality show yang menjual mimpi dan tampilan-tampilan tolol dari pengisi acaranya, ditambah sinetron-sinetron yang tidak masuk akal menjual tragedi dan membodohi masyarakat, gimana masyarakatnya mau pinter???!!!ada komisi penyiaran TAPI sampai saat ini tidak pernah ada tindakan yang jelas terhadap program-program ini, jujur saja menurut saya sinetron-sinetron indonesia yang menjual tampang, menjual airmata dan tragedi (coba kita liat semua sinetron banyak sekali adegan penyiksaan anaknya) dan makin ga masuk akal menurut saya sih sinetron kaya gini (yang ditampilkan hampir seluruh stasiun tv, setiap hari) lebih najis daripada goyangan dewi persik!!dan bagi saya lebih baik nonton dvd bajakan yang mencerdaskan dan menginspirasi daripada nonton sinetron tv indonesia yang memuakkan dan membodohi! ---persis di siang 20 mei tersebut saya nonton global tv, saya lihat VJ Daniel memandu acara "Total Request" dengan latar dan penampilan ala kebangkitan nasional, saya benar2 kesal ketika dia bertanya ala trivia pada Kikan, katanya "coba sebutkan lima pancasila!" astaga pikir saya VJ MTV selain tambah cakep2 ternyata tambah bego-bego juga, wawasan cuma sekitar mall dan budaya pop, kangen gw ma jamie yang walaupun besar di luar negeri tapi bisa main gamelan, suling, dan gendang jawa, mampus aja VJ-VJ MTV skrg!---- ditambah ketidakjelasan hukum, dimana koruptor yang mengambil milyaran bahkan trilyunan uang rakyat melalui BLBI bisa menerima hukuman paling 5 tahun, 2 tahun, dan mangkirnya pejabat negara dalam menyampaikan kejelasan harta kekayaannya bahkan pejabat hukum juga, bayangkan para jaksa banyak yang belum menyampaikan daftar kekayaannya dan Mahkamah Agung menolak di audit, logika hukum macam apa yang ada di benak mereka??para kroco dipenjara lama sedangkan para inisiator penyelewengan kekayaan negara hanya menghabiskan sekejap di tahanan. belum lagi sikap anggota DPR/MPR kita yang tidak malu dengan anggaran yang digelontorkan tapi manfaat yang didapatkan rakyat hanya sedikit, perjuangan mereka bukan mengatasnamakan rakyat lagi tapi demi perut mereka dan partai bagi saya seremoni akbar "100 Tahun Kebangkitan Nasional" yang rasanya pasti menghabiskan biaya yang besar, coba pikirkan kostum2 pengisi acara, peralatan musik dan soundsystem, hanya akan sama seperti spanduk usang yang harga permeternya dua puluh ribu, jika tidak dibarengi tindakan dan contoh nyata positif yang diberikan penyelenggara negara kepada rakyatnya, dan jargon-jargon tersebut akan cuma seperti teriakan tukang kecap jika tidak disertai keberpihakan nyata pemerintah, parlemen kepada rakyat bukan partai, pemegang modal atau konglomerat! akhirnya ocehan protes ini saya akhiri dengan ucapan "selamat hari kebangkitan nasional indonesia, semoga kita semua benar-benar bangkit dari keterpurukan bangsa ini!!"
