Dear Miliser Forum Prima,
Seperti biasa, setiap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM selalu diikuti
oleh pendapat pro dan kontra. Mereka yang tidak setuju dengan kebijakan
pemerintah pada umumnya mengkritik pemerintah karena hanya punya satu cara
untuk mengatasi masalah menggelembungnya subsidi BBM akibat meningkatnya harga
minyak dunia, yakni dengan menaikkan harga BBM. Padahal sebenarnya ada banyak
pilihan yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Iman Sugema, misalnya,
mengusulkan agar kita menghemat cost recovery (seluruh biaya operasional dan
investasi dalam proses produksi yang dibebankan kepada pemerintah) dalam
kontrak production sharing migas dan sekaligus memberangus perburuan rente
dalam pengadaan/impor BBM. Selain itu, ia juga mengusulkan peningkatan pajak
ekspor di sektor migas. Sementara itu Revrisond Baswir mengatakan bahwa
pemerintah cenderung patuh pada “perintah” IMF dan para investor asing agar
subsidi dihapus dan harga BBM diserahkan kepada
mekanisme pasar. Mengenai pilihan-pilihan lain yang dapat dilakukan oleh
pemerintah seperti diversifikasi energi dan peningkatan produksi minyak bumi
telah saya sebut pada bagian pertama tulisan saya.
Saya kira kita semua tahu bahwa sebenarnya pemerintah telah dan sedang mencoba
cara-cara lain untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak dunia
berikutnya. Beberapa waktu lalu kita telah melihat “heboh” ketika dilaksanakan
konversi minyak tanah ke elpiji. Kita juga telah melihat pelaksanaan konversi
premium ke bahan bakar gas di sektor angkutan di berbagai sudut jalan di
ibukota. Program diversifikasi energi lainnya kini juga sedang diupayakan
percepatannya.
Masalah inefisiensi dan korupsi dalam penghitungan cost recovery dan dalam
impor BBM sebagaimana dikemukakan oleh Iman Sugema tentu tidak dapat
diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Demikian pula usulan untuk
meningkatkan produksi minyak bumi. Mengenai usulan untuk meningkatkan pajak di
sektor migas sebenarnya bisa dipertimbangkan untuk dilakukan, walaupun
sebelumnya kita perlu menghitung sejauhmana dampak peningkatan pajak yang akan
kita berlakukan terhadap kerugian yang mungkin timbul (misalnya dalam hal
penerimaan devisa) akibat penurunan ekspor migas tersebut.
Sulit untuk dipungkiri bahwa kita dan juga negara-negara lain sangat tergantung
pada para investor dalam upaya meningkatkan produksi migas. Hal tersebut
dikarenakan kegiatan produksi migas sangat tergantung pada mereka yang memiliki
dana dan juga sekaligus menguasai teknologi. Sebagaimana kita ketahui,
investor akan cenderung berinvestasi di negara-negara yang dapat memberikan
insentif dan profit yang menarik kepada mereka. Kita harus bersaing dengan
negara-negara lain supaya kita bisa mengundang mereka. Kecuali kalau kita
berhasil memelihara dan membina “investor-investor spesialis domestik” di bawah
bendera “Indonesia Incorporated”.
Tetapi memang benar pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak perlu terlalu
mendewa-dewakan para investor karena mereka juga manusia biasa. Investor asing
misalnya, mereka bisa saja berkolaborasi dengan para koruptor domestik untuk
mendapatkan dispensasi atau berbagai kemudahan lainnya yang menguntungkan
mereka dan merugikan negara. Demikian pula investor domestik kita di bawah
bendera Pertamina pun bisa saja berubah atau merangkap peran sebagai spekulan
yang menyelundupkan minyak mentah ke luar negeri. Oleh karena itu saya setuju
sistem pengawasan produksi dan ekspor-impor minyak nasional kita ditata dan
dibenahi kembali.
Pertanyaan yang menurut saya paling sering mengundang kontroversi adalah apakah
harga BBM dalam negeri perlu disesuaikan atau disamakan dengan harga minyak
dunia? Saya melihat isu perlu atau tidaknya harga BBM dalam negeri
disesuaikan dengan harga minyak dunia tersebut terutama ketika suatu negara
dalam posisi mendapatkan tekanan defisit anggaran untuk memberikan subsidi
dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi BBM dalam negeri. Saya sama sekali
tidak melihat urgensi penghapusan atau pengurangan subsidi BBM tersebut ketika
suatu negara dalam kondisi surplus minyak yang berkelimpahan. Negara-negara
yang mempunyai surplus minyak, berlawanan dengan kepentingan negara pengimpor
minyak, bahkan berharap era booming minyak dapat berlangsung lebih lama.
Kondisi demikian mirip dengan ketika suatu negara menjadi kuat (mengalami
surplus berbagai barang komoditi) maka ia menginginkan terwujudnya suatu
perdagangan bebas. Tetapi ketika ia lemah di
suatu bidang pertanian misalnya, maka ia akan melakukan proteksi dengan cara
memberikan subsidi di bidang pertanian tersebut. Dengan kata lain, apakah kita
akan menyerahkan harga BBM kepada mekanisme pasar atau ditetapkan oleh
pemerintah melalui pemberian subsidi, menurut saya, tergantung pada kondisi
(kuat atau lemahnya) kita dan kepentingan (ekonomi dan politik) kita.
Salah satu kelemahan kita dan juga negara-negara berkembang penghasil minyak
lainnya, menurut saya, adalah ketika sedang mengalami krisis energi biasanya
kita mempunyai banyak sekali rencana program dan rencana kegiatan yang sangat
hebat dan nyaris sempurna. Tetapi ketika badai krisis berlalu, kita seakan lupa
bahwa rencana program dan rencana kegiatan yang sangat hebat tersebut harus
tetap kita laksanakan secara berkelanjutan dengan sebaik-baiknya kalau kita
ingin menjadi suatu negara yang maju. Barangkali itulah salah satu ciri yang
membedakan antara negara berkembang dan negara maju.
Ketika saya membuat tulisan ini, saya teringat ketika saya mendapatkan
kesempatan “jalan-jalan” di suatu negara maju kurang lebih sekitar sepuluh
tahun yang lalu. Ketika itu saya iri karena di sana saya sama sekali tidak
melihat beraneka ragam angkot dan bis kota yang berseliweran di jalan-jalan di
berbagai sudut ibukota. Ketika itu saya bahkan sama sekali tidak menemukan
satupun sepeda motor yang belakangan ini keberadaannya semakin menjamur di
negara kita. Sejak itu dan sampai hari inipun saya masih bermimpi Indonesia
bisa menuju ke sana.
Apakah bersama kita pasti bisa? Apakah kita harus dan pasti bisa? Entahlah.
Biarkan waktu dan generasi muda kita yang akan membuktikannya. Benarkah?
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]