:--------------------------
:UNTUK BUNDA DAN DUNIA
:Karya
:Abdurahman Faiz
:
:
:Kata Pengantar Taufiq Ismail
:
:BU PRESIDEN, AKU JANGAN DIPENJARA, YA
:
:
:Kumpulan sajak ini, Untuk Bunda dan Dunia, sungguh unik, karena
:pengarangnya, Abdurahman Faiz, berumur 8 tahun. Dia lahir di
:Jakarta, 15 November 1995. Ibunya, Helvy Tiana Rosa adalah
:pengarang, dan ayahnya, Tomi Satryatomo, wartawan. Faktor
:genetik dan lingkungan kepenulisan dengan budaya membaca di
:rumah, secara dini telah membentuk Faiz.
:
:Sebelum menguasai aksara, cara bicara Faiz saja, karena
:puitiknya, sudah menggemaskan orangtuanya. Di tahun 1998,dia
:mengatakan pada mamanya, "Bunda, aku mencintai bunda seperti
:aku mencintai surga." Waktu itu Faiz berumur 3 tahun. Konon
:banyak kata-kata bijak seperti itu berhamburan dari anak ini
:karena dia suka berkisah dan gemar bermain peran seperti dalam drama.
:
:Sesudah mampu mengetik dengan komputer meja dan laptop
:orangtuanya, Faiz mulai menulis. Tapi kalau menulis sajak, dia
:memilih layar telefon genggam yang kecil itu untuk menaruh
:larik-larik sajaknya.
:
:Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001
:sampai dengan November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7
:tentang situasi sosial dan 5 tentang tokoh masyarakat.
:
:Kecintaan Faiz terhadap orangtuanya, pastilah karena
:lingkungan interaksinya di rumah yang penuh kasih sayang pula.
:Saya kutipkan 2 ungkapannya yang orisinal (dari "Ayah
:Bundaku") dan mengharukan berikut ini:
:
: Ayah Bunda
: kucintai kau berdua
: seperti aku
: mencintai surga
:
: Semoga Allah mencium ayah bunda
: dalam tamanNya terindah
: nanti
:
: (Januari 2002)
:
:Dia lebih banyak menulis tentang ibunya. Sajaknya ada yang
:langsung, terasa jelas apa yang dimaksudkannya, tapi ada pula
:yang maknanya dibiarkannya menggantung, dan diserahkannya pada
:kita untuk menafsirkan lebih lanjut:
:
: JALAN BUNDA
:
: bunda
: engkaulah yang menuntunku
: ke jalan kupu-kupu
:
: (September 2003)
:
:Lima sajak sosial Faiz menunjukkan kepekaan yang dalam
:terhadap duka-derita kehidupan manusia. "Siti dan Udin di
:Jalan", sepanjang 8 bait, 38 baris berkisah tentang penggenjot
:becak beristerikan tukang cuci pakaian, yang mewakili ribuan
:lagi orang senasib, yang ". tetap berdoa / agar bisa sekolah /
:dan punya rumah berjendela." Rumah kardus mereka, menurut
:pengamatan Faiz, tak ada yang berjendela. Sebuah pengamatan
:anak 8 tahun yang teliti.
:
:Saya tersentak membaca "Pengungsi di Negeri Sendiri" (Oktober
:2003). Saya kok lupa pada saudara-saudara kita itu, satu juta
:jumlahnya (mudah-mudahan sudah menyusut), akibat Balkanisasi
:dan perang saudara, yang terusir dari rumah dan kampung
:halaman sendiri. Saya malu, saya mulai lupa mereka. Cucunda
:Faiz, terima kasih. Engkau telah mengingatkan aku lagi pada
:mereka. Mari kita berbuat sesuatu untuk orang-orang sebangsa
:yang bernasib malang itu dan kita baca Al-Fatihah untuk
:mereka. Al Fatihah.
:
:Faiz juga kenal sejumlah tokoh, dan menulis sajak mengenai
:mereka, yaitu Rasulullah Muhammad saw, tokoh novel
:super-populer Harry Potter, tokoh novel Frodo (dari Lord of
:the Rings karya J.R.R. Tolkien), proklamator Bung Hatta dan
:dua presiden, yaitu George W. Bush dan Megawati Sukarnoputeri.
:
:Ibunya diundang sebagai sastrawati berceramah di Universitas
:Madison, Madison, Wisconsin dan Universitas Michigan, Ann
:Arbor, Michigan di bulan September 2003. Pengetahuan umum Faiz
:bukan main, yang diketahuinya lewat media massa dan tentunya
:percakapan di rumah, tentang kemungkinan repotnya ibunya yang
:berjilbab pergi ke Amerika Serikat pada hari-hari ini:
:
: dari berita yang kubaca
: Amerika penuh rekayasa 
: khawatir pun melanda
: bila jilbab dijadikan masalah
:
: Bagaimana bila bunda
: tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
: bukankah Presiden Amerika
: menuduh dengan mudah
: siapa saja yang tak dia suka?
:
:Tapi syukurlah kekhawatirannya tak terjadi dan bundanya
:selamat sepanjang perjalanan.
:
:Faiz ikut Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI sehubungan
:dengan Hari Anak Nasional 2003 dan jadi pemenang pertama.
:"Surat buat Ibu Negara" yang dimuat dalam kumpulan ini adalah
:bentuk sajak dari surat yang memenangkan hadiah tertinggi dan
:menawan perhatian luas di media massa Indonesia karena
:bijaknya. Dalam setiap bait dari keenam bait sajaknya ini
:terdapat ungkapan, cita-cita dan saran pada Presiden RI dalam
:idiom anak-anak yang segar.
:
:Faiz sendiri juga bercita-cita kelak jadi presiden dengan
:kualifikasi kecerdasan bisa bicara 10 bahasa, pandai membuat
:komputer sendiri, dicintai orang-orang (dia tidak pilih kata
:klise rakyat) dan persyaratan yang paling
:berat: kalau mati masuk surga.
:
:Sebagai penutup surat, setelah usul ini-itu yang
:dikhawatirkannya menyinggung perasaan presiden, Faiz bersajak:
:
: Sudah dulu ya.
: Ibu jangan marah ya.
: Kalau tidak senang
: aku jangan dipenjara ya.
: Terimakasih.
:
:Kemampuan Faiz menulis, dalam perkiraan saya, 10 tahun
:melompati umurnya. Remaja berusia 18 tahun, jika mampu menulis
:serapi ini, sudah terbilang bagus sekali. Ayah bunda Faiz
:dititipi Allah bakat brilyan yang mereka harus jaga dan
:tumbuhkan sebaik-baiknya. Janganlah sampai kemashuran dini
:mengguncangnya dan mengganggu perkembangan psikologi Faiz selanjutnya.
:
:Mudah-mudahan ibunda Helvy dan ayahanda Tomi berhasil baik dan
:cucunda Faiz mencapai cita-citanya dalam naungan ridha Allah SWT.
:
:Amin.
:
:Jakarta, Ramadhan 1404 H / 6 November 2003 M.
:
:
:TERIMAKASIH DARI FAIZ
:
:Faiz mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada Allah SWT,
:kepada Ayah dan Bunda atas cinta dan dukungan yang berlimpah.
:Juga untuk Pak Tuo Taufiq Ismail yang aku kagumi. Om Jamal D.
:Rahman, Om Agus R. Sarjono yang suka menyemangatiku lewat sms.
:Tante Medy Loekito, Pak Tuo Hamid Jabbar, Om Ahmadun Y.
:Herfanda, Om Binhad Nurohmat yang sudah mau membaca
:karya-karyaku sebelum menjadi buku. Untuk Oma Maria, Opa
:Amin, Eyang Wiyati, Mami Rani, Papi Isa, Papi Eron, Mbak
:Menuk, Om Ferry, Om Bimo, Tante Alif, Mbak Kiki, Caca, Adam,
:Om Ali Muakhir, Om Andi Yudha, Penerbit Mizan, guru-guru dan
:teman-temanku semua. Kupersembahkan puisi-puisi ini untuk
:kalian dan untuk dunia. Semoga bermanfaat ya.
:
:Salam manis,
:Abdurahman Faiz
:
:
:
:HATTA
:
:Engkau adalah kenangan
:yang tumbuh
:dalam kepala dan jiwaku
:
:Suatu malam kau datang
:dalam mimpiku
:katamu:
:jangan lelah menebar kebajikan
:jadikan kesederhaan
:sebagai teman paling setia
:
:Aku anak kecil
:berjanji menepati
:jadi akan kusurati lagi
:presiden kita
:hari ini
:
:(17 Agustus 2003)
:
:PUISI BUNDA
:
:bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku
:tapi semakin lama kuamati
:senyuman bunda adalah puisi
:tatapan bunda adalah puisi
:teguran bunda adalah puisi
:belaian dan doanya
:adalah puisi cinta
:yang disampaikannya padaku
:tak putus putus
:tak putus putus
:
:bahkan bila kutidur
:
:(Mei 2003)
:
: SITI DAN UDIN DI JALAN
:
:Siti dan Udin namanya
:sejak pagi belum makan
:minum cuma seadanya
:dengan membawa kecrekan
:mengitari jalan-jalan ibu kota
:
:Siti punya ayah
:seorang tukang becak
:ibunya tukang cuci
:berbadan ringkih
:
:Udin tak tahu di mana ayahnya
:ditinggal sejak bayi
:ibunya hanya pemulung
:memunguti kardus dan plastik bekas
:
:Mereka bangun rumah 
:dari triplek dan kardus tebal
:di tepi kali ciliwung
:tapi sering kena gusur
:
:Bila malam tiba
:mereka tidur di kolong jembatan
:ditemani nyanyian nyamuk
:dan suara bentakan preman
:
:Siti dan Udin namanya
:muka mereka penuh debu
:dengan baju rombengan
:menyanyi di tengah kebisingan
:
:pagi sampai malam
:tersenyum dalam peluh
:menyapa om dan tante
:mengharap receh seadanya
:
:Beribu Siti dan Udin
:berkeliaran di jalan-jalan
:dengan suara serak
:dan napas sesak oleh polusi
:kalau hari ini bisa makan
:sudah alhamdulillah
:tapi tetap berdoa
:agar bisa sekolah
:dan punya rumah berjendela
:
:(Februari 2003)
:
:HARRY POTTER
:
:Sudahkah kau temukan
:ramuan paling rahasia itu
:agar seluruh orang di dunia
:bisa saling cinta?
:
:(Oktober 2002)
:
:AYAH BUNDAKU
:
:Bunda
:engkau adalah
:rembulan yang menari
:dalam dadaku
:
:Ayah
:engkau adalah
:matahari yang menghangatkan
:hatiku
:
:Ayah Bunda
:kucintai kau berdua
:seperti aku
:mencintai surga
:
:Semoga Allah mencium ayah bunda
:dalam tamanNya terindah
:nanti
:
:(Januari 2002)
:
: MENARUH
:
:Aku menaruh semua mainan
:dan teman di sisiku
:
:Aku menaruh bunda
:di hatiku
:dekat sekali
:dengan tempat kebaikan
:
:Tapi
:Aku tak bisa menaruh Allah
:Ia menaruhku di bumi
:bersama bunda dan semua
:Ia ada dalam tiap napas
:dan penglihatanku
:
:Allah, hari ini kumohon
:taruhlah para anak jalanan,
:teman-teman kecilku yang miskin
:dan menderita
:dalam belaianMu
:dan buatlah ayah bunda
:menjadi kaya
:dan menaruh mereka
:di rumah kami
:
:Amin.
:(Juli 2001)
:
:
:JALAN BUNDA
:
:bunda
:engkaulah yang menuntunku
:ke jalan kupu-kupu
:
:(September 2003)
:
: SURAT BUAT IBU NEGARA
:
:Kepada Yang Terhormat
:Presiden Republik Indonesia
:Megawati
:Di Istana
:
:Assalaamualaikum.
:Ibu Mega, apa kabar?
:Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini.
:Ibu, di kelas badanku paling tinggi.
:Cita-citaku juga tinggi.
:Aku mau jadi presiden.
:Tapi baik.
:Presiden yang pintar,
:bisa buat komputer sendiri.
:Yang tegas sekali.
:Bisa bicara 10 bahasa.
:Presiden yang dicintai orang-orang.
:Kalau meninggal masuk surga.
:
:Ibu sayang,
:Bunda pernah cerita
:tentang Umar sahabat Nabi Muhammad.
:Dia itu pemimpin.
:Umar suka jalan-jalan
:ke tempat yang banyak orang miskinnya.
:Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar.
:Soalnya Umar menyamar.
:Umar juga tidak bawa pengawal.
:Umar jadi tahu
:kalau ada orang yang kesusahan di negerinya
:Dia bisa cepat menolong.
:
:Kalau jadi presiden
:aku juga mau seperti Umar.
:Tapi masih lama sekali.
:Harus sudah tua dan kalau dipilih orang.
:Jadi aku mengirim surat ini
:Mau mengajak ibu menyamar.
:Malam-malam kita bisa pergi
:ke tempat yang banyak orang miskinnya.
:Pakai baju robek dan jelek.
:Muka dibuat kotor. 
:Kita dengar kesusahan rakyat.
:Terus kita tolong.
:
:Tapi ibu jangan bawa pengawal.
:Jangan bilang-bilang.
:Kita tidak usah pergi jauh-jauh.
:Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan.
:Mereka mengamen mengemis.
:Tidak ada bapak ibunya.
:Terus banyak orang jahat
:minta duit dari anak-anak kecil.
:Kasihan.
:
:Ibu Presiden,
:kalau mau, ibu balas surat aku ya.
:Jangan ketahuan pengawal
:nanti ibu tidak boleh pergi.
:Aku yang jaga
:supaya ibu tidak diganggu orang.
:Ibu jangan takut.
:Presiden kan punya baju tidak mempan peluru.
:Ada kan seperti di filem?
:Pakai saja.
:Ibu juga bisa kurus
:kalau jalan kaki terus.
:Tapi tidak apa.
:Sehat.
:Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin
:di negara Indonesia.
:Bisa tahu sendiri
:tidak usah tunggu laporan
:karena sering ada korupsi.
:
:Sudah dulu ya.
:Ibu jangan marah ya.
:Kalau tidak senang
:aku jangan dipenjara ya.
:Terimakasih.
:
:Dari
:Abdurahman Faiz
:Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur
: PENGUNGSI DI NEGERI SENDIRI
:
:Tak ada lagi yang menari
:di antara tenda-tenda kumuh
:di sini
:hanya derita
:yang melekat di mata
:dan hati kami
:
:Tidak satu nyanyian pun
:pernah kami dendangkan lagi
:hanya lagu-lagu airmata
:di antara lapar, dahaga
:pada pergantian musim
:
:Sampaikah padamu, saudaraku?
:
:(Oktober 2003)
:
:BUNDA CINTAKU
:
:Bunda
:kau selalu ada di sisiku
:kau selalu di hatiku
:senyummu rembulan
:baktimu seperti matahari
:yang setia menyinari
:dan cintamu adalah udara
:yang kuhirup setiap hari
:meski di dalam sedih
:walau dalam susah
:langkahmu pasti
:jadikan aku insan berarti
:
:terimakasih bunda cintaku
:
:(November 2002)
:
: TUJUH LUKA DI HARI ULANGTAHUNKU
:
:Sehari sebelum ulangtahunku
:aku terjatuh di selokan besar
:ada tujuh luka membekas, berdarah
:aku mencoba tertawa, malah meringis
:
:Sehari sebelum ulangtahunku
:negeriku masih juga begitu
:lebih dari tujuh luka membekas
:kemiskinan, kejahatan,
:korupsi di mana-mana,
:pengangguran, pengungsi
:jadi pemandangan
:yang meletihkan mata
:menyakitkan hati
:
:Tapi ada yang seperti lucu
:di negeriku
:orang yang ketahuan berbuat jahat
:tidak selalu dihukum
:namun orang baik bisa dipenjara
:
:Pada ulangtahunku yang kedelapan
:aku berdiri di sini dengan tujuh luka
:sambil membayangkan Indonesia Raya
:dan selokan besar itu
:
:Tiba-tiba aku ingin menangis
:
:(15 November 2003)
:
:YANTO DAN MAZDA
:
:Yanto dan Mazda, tidurlah
:malam telah larut
:Frodo dan Sam
:sedang berjuang
:memusnahkan Sauron
:
:tidakkah sebaiknya kita
:cium kening bunda
:dan selekasnya masuk
:lewat pintu-pintu mimpi
:untuk membantu mereka?
:
:(Februari, 2003)
:
:SIAPA MAU JADI PRESIDEN?
:
:menjadi presiden itu
:berarti melayani
:dengan segenap hati
:rakyat yang meminta suka
:dan menyerahkan jutaan
:keranjang dukanya
:padamu
:
:(November, 2003)
:
:DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH
:
:Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
:peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami 
:dengan bahasa yang paling perih
:
:Irak, Afghanistan, Palestina
:dan entah negeri mana lagi
:meratap-ratap
:
:Mengapa kau koyak tubuh kami?
:apa yang kau cari?
:apa salah kami?
:kami hanya bocah
:yang selalu gemetar mendengar
:keributan dan ledakan
:mengapa kau perangi bapak ibu kami?
:
:Kini
:kami tak pernah lagi melihat pelangi
:hanya api di matamu
:dan sejarah yang perih
:tapi kami sudah tak bisa lagi menangis
:Kami berdarah
:Kami mati
:
:(Oktober 2003)
: PENULIS
:
:Ayahku wartawan
:bundaku sastrawan
:
:dan akulah dia
:yang susah payah
:mengumpulkan semua cinta
:semua duka
:menjadikannya untaian kata
:yang kualamatkan
:pada dunia
:
:mungkin menjadi kebaikan
:yang bisa dibaca siapa saja
:dan sedikit uang
:untuk kusedekahkan
:pada fakir miskin
:
:(Agustus 2003)
:
:MUHAMMAD RINDUKU
:
:Kalau kau mencintai Muhammad
:ikutilah dia
:sepenuh hati
:
:apa yang dikatakan
:apa yang dilakukan
:ikuti semua
:jangan kau tawar lagi
:sebab ialah lelaki utama itu
:
:memang jalan yang ditempuhnya
:sungguh susah
:hingga dengannya terbelah bulan
:
:tapi kalau kau mencintai Rasul
:ikutilah dia
:sepenuh rindumu
:
:dan akan sampailah kau
:padaNya
:
:(April 2003)
:
:KEPADA KORUPTOR
:
:Gantilah makanan bapak
:dengan nasi putih, sayur dan daging
:jangan makan uang kami
:lihatlah airmata para bocah
:yang menderas di tiap lampu merah
:jalan-jalan Jakarta
:dengarlah jerit lapar mereka
:di pengungsian
:juga doa kanak-kanak
:yang ingin sekali sekolah
:
:Telah bapak saksikan
:orang-orang miskin memenuhi
:seluruh negeri
:tidakkah menggetarkan bapak?
:
:Tolong, Pak
:gantilah makanan bapak
:seperti manusia
:jangan makan uang kami
:
:(Oktober 2003)
:
:DOAKU HARI INI
:
:Tuhanku
:berikanlah waktumu padaku
:untuk tumbuh di jalan cinta
:dan menyemainya
:di sepanjang jalan ayah bundaku
:di sepanjang jalan Indonesiaku
:di sepanjang jalan menujuMu
:
:Amin
:
:(Juli, 2003)
: BUNDA KE AMERIKA
:
:Sepucuk surat undangan sampai pagi ini
:di rumah kami
:untuk bundaku tercinta
:dari universitas di Amerika
:
:aku tahu bundaku pintar
:juga amat berbudaya
:tak heran bila ia diundang bicara
:sampai ke negeri adidaya
:
:ia adalah muslimah ramah
:dengan jilbab tak pernah lepas dari kepala
:sehari-hari berbicara benar
:dan tak henti membela yang lemah
:
:dari berita yang kubaca
:Amerika penuh rekayasa
:khawatir pun melanda
:bila jilbab dijadikan masalah
:
:Bagaimana bila bunda
:tiba-tiba dianggap anggota alqaidah?
:bukankah Presiden Amerika
:menuduh dengan mudah
:siapa saja yang tak dia suka?
:
:Maka aku minta kepada Allah
:agar bunda dilindungi senantiasa
:bunda tersenyum dan memelukku
:ia teguh pergi dengan jilbab di kepala
:katanya: hanya Allah maha penjaga
:
:(September 2003)
:
:
:PUISI BUNDA 2
: 
:Engkau adalah puisi abadiku
:yang tak mungkin kutemukan
:dalam buku
:
:(November 2003)
:
:FAIZ
:
:Nama lengkapnya Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November
:1995. Pada usia 13 bulan mengalami retak di tempurung kepala
:bagian belakang karena terjatuh dari sebuah kursi tinggi.
:Dokter menganggap sebuah mukjizat ketika dalam perkembangannya
:Faiz tak menunjukkan gejala gangguan otak atau kecerdasan. Ia
:sempat dirawat 2 minggu di Rumah Sakit karena hal tersebut.
:
:Sejak usia 2 tahun Faiz sangat suka bercerita dan bermain
:peran. Ia pernah
:berkata: "Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai
:surga," ketika usianya baru 3 tahun.
:
:Ya, sejak saat itu, setiap waktu, Faiz bisa tiba-tiba
:mengeluarkan kalimat-kalimat puitis layaknya seorang penyair.
:Namun karena tidak langsung ditulis, puisi-puisi itu banyak
:yang tidak terdokumentasi (Faiz baru mulai mau menulisnya
:pertengahan tahun 2001).
:
: Saat Faiz tahu buku ini akan terbit, misalnya, ia spontan
:berkata: "Bunda, engkau adalah puisi abadiku, yang tak mungkin
:kutemukan dalam buku." Dan seperti biasa, sang bunda langsung
:berseru, "Apa, nak? Tunggu, kamu harus menuliskan kalimat itu!
:Itu puisi yang sangat indah!"
:
:Pada usia 3 tahun pula ia bercerita dengan mimik serius
:tentang temannya bernama Mimis. "Kasihan deh, Bunda. Mimis itu
:ibunya tukang cuci, bapaknya satpam di mall. Ibunya
:sakit-sakitan sampai batuk darah. Mall tempat bapaknya bekerja
:dibakar dan dijarah orang banyak. Aku kasihan sekali padanya."
:
:Tentu Bunda Faiz, Helvy Tiana Rosa yang juga seorang cerpenis
:kebingungan. Seingatnya Faiz tak memiliki teman bernama Mimis.
:Lagi pula anak itu bahkan belum masuk play group maupun TK.
:Tapi Faiz terus bercerita. "Kasihan deh si Mimis itu. Kita
:harus menolong dong, Bunda."
:
:Akhirnya Sang Bunda berkata: "Faiz, mari kita tolong Mimis.
:Dia tinggal di mana? Kok bunda belum tahu?"
:
:Tiba-tiba Faiz tertawa gelak: "Bunda..... bunda!" serunya
:masih menahan tawa. "Mimis itu kan cuma teman khayalanku saja!"
:
:Rupanya ia sudah mengerti konsep teman khayalan. Tinggal
:bundanya yang geleng-geleng kepala. Sejak kecil Faiz juga
:sudah sering bertanya yang aneh-aneh kepada bunda, maupun
:ayahnya: Tomi Satryatomo yang bekerja sebagai wartawan.
:Misalnya: Ayah, mengapa angin itu tidak kelihatan? Mengapa
:awan ada di atas? Kan kalau di bawah enak dijadikan tempat
:tidur? Mengapa api dinamakan api? Mengapa laut asin? Mengapa
:Tuhan hanya satu? Adakah orang tinggal di Bintang? Dan lain sebagainya.
:
:Menjelang usia 5 tahun, Faiz masuk ke TK Pelita di dekat
:rumahnya. Setahun kemudian ia didaftarkan ke SD negeri. Tapi,
:karena usianya belum 6 tahun, ia belum diterima. Baru pada
:usia menjelang 7 tahun ia masuk di kelas I SDN 02 Cipayung
:yang juga tak jauh dari rumahnya.
:
:Kegiatan sehari-hari Faiz adalah sekolah, les, mengaji dan
:bermain. Ia juga suka sekali mempelajari alat elektronik. Ia
:terbiasa dengan komputer sejak usia 3 tahun. Saat balita ia
:bisa mengoperasikan PDA, laptop, internet, HP jenis apa pun,
:kamera digital bahkan handycam. Ia juga sudah memiliki laptop
:sendiri--bekas bunda. Anehnya ia lebih suka menulis puisi di HP.
:
:Faiz yang suka berolahraga dan mengoleksi banyak buku ini,
:bercita-cita menjadi seorang presiden yang juga professor.
:Agustus 2003 lalu, ia menjadi Juara I Lomba Menulis Surat
:untuk Presiden, Tingkat Nasional, yang diselenggarakan Dewan
:Kesenian Jakarta, dalam rangka Hari Anak Nasional 2003. Sejak
:saat itu ia kerap diburu wartawan dan menjadi tamu dalam
:beberapa acara televisi antara lain Liputan 6 dan Who Wants to
:be A President. Ia juga ditawari bermain sinetron tapi ia menolak.
:
:"Ternyata menjadi terkenal itu tidak enak ya. Capek
:dikejar-kejar orang. Semua mencium kita sembarangan. Tapi
:enaknya kita bisa gampang menolong orang," komentar tiga besar
:di kelas II SDN 02 Cipayung yang juga anggota Forum Lingkar
:Pena Kids ini.
:
:
:KOMENTAR PARA PENYAIR
:
:Puisi Faiz belum banyak, tetapi mampu menimbulkan keharuan
:yang mendalam ketika saya membacanya. Ia bicara cinta dengan
:agung. Ia bicara agama dengan anggun. Ia bicara derita
:manusia dengan bening. Mengutip akhir puisi "Siti dan Udin di
:Jalan": dan punya rumah berjendela, nampaknya sebuah keinginan
:sederhana, namun sesungguhnya teramat dalam maknanya, sebab
:jendela adalah tempat kita menengok dunia luar, dan selama
:jendela kita terbuka, hidup adalah indah. (Medy Loekito,
:penyair, Yayasan Multimedia Sastra)
:
:Faiz, puisi-puisimu mencerminkan perasaan dan hatimu yang
:bening. Dari puisi-puisimu aku tahu hati dan perasaanmu selalu
:bergolak melihat apa pun di sekitarmu. Dan bahasamu sebening
:hatimu. (Jamal D. Rahman, penyair, Pemimpin Redaksi Majalah
:Sastra Horison)
: 
:Faiz, berpikir lebih 'gila' lagi, tapi tetap bicara dengan
:hati! (Hamid Jabbar, Penyair, Redaktur Senior Majalah Horison)

:Faiz, puisimu seperti danau, tempatku melihat











---------------------------------
Do you Yahoo!?
Protect your identity with Yahoo! Mail AddressGuard

Kirim email ke