:-------------------------- :UNTUK BUNDA DAN DUNIA :Karya :Abdurahman Faiz : : :Kata Pengantar Taufiq Ismail : :BU PRESIDEN, AKU JANGAN DIPENJARA, YA : : :Kumpulan sajak ini, Untuk Bunda dan Dunia, sungguh unik, karena :pengarangnya, Abdurahman Faiz, berumur 8 tahun. Dia lahir di :Jakarta, 15 November 1995. Ibunya, Helvy Tiana Rosa adalah :pengarang, dan ayahnya, Tomi Satryatomo, wartawan. Faktor :genetik dan lingkungan kepenulisan dengan budaya membaca di :rumah, secara dini telah membentuk Faiz. : :Sebelum menguasai aksara, cara bicara Faiz saja, karena :puitiknya, sudah menggemaskan orangtuanya. Di tahun 1998,dia :mengatakan pada mamanya, "Bunda, aku mencintai bunda seperti :aku mencintai surga." Waktu itu Faiz berumur 3 tahun. Konon :banyak kata-kata bijak seperti itu berhamburan dari anak ini :karena dia suka berkisah dan gemar bermain peran seperti dalam drama. : :Sesudah mampu mengetik dengan komputer meja dan laptop :orangtuanya, Faiz mulai menulis. Tapi kalau menulis sajak, dia :memilih layar telefon genggam yang kecil itu untuk menaruh :larik-larik sajaknya. : :Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 :sampai dengan November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 :tentang situasi sosial dan 5 tentang tokoh masyarakat. : :Kecintaan Faiz terhadap orangtuanya, pastilah karena :lingkungan interaksinya di rumah yang penuh kasih sayang pula. :Saya kutipkan 2 ungkapannya yang orisinal (dari "Ayah :Bundaku") dan mengharukan berikut ini: : : Ayah Bunda : kucintai kau berdua : seperti aku : mencintai surga : : Semoga Allah mencium ayah bunda : dalam tamanNya terindah : nanti : : (Januari 2002) : :Dia lebih banyak menulis tentang ibunya. Sajaknya ada yang :langsung, terasa jelas apa yang dimaksudkannya, tapi ada pula :yang maknanya dibiarkannya menggantung, dan diserahkannya pada :kita untuk menafsirkan lebih lanjut: : : JALAN BUNDA : : bunda : engkaulah yang menuntunku : ke jalan kupu-kupu : : (September 2003) : :Lima sajak sosial Faiz menunjukkan kepekaan yang dalam :terhadap duka-derita kehidupan manusia. "Siti dan Udin di :Jalan", sepanjang 8 bait, 38 baris berkisah tentang penggenjot :becak beristerikan tukang cuci pakaian, yang mewakili ribuan :lagi orang senasib, yang ". tetap berdoa / agar bisa sekolah / :dan punya rumah berjendela." Rumah kardus mereka, menurut :pengamatan Faiz, tak ada yang berjendela. Sebuah pengamatan :anak 8 tahun yang teliti. : :Saya tersentak membaca "Pengungsi di Negeri Sendiri" (Oktober :2003). Saya kok lupa pada saudara-saudara kita itu, satu juta :jumlahnya (mudah-mudahan sudah menyusut), akibat Balkanisasi :dan perang saudara, yang terusir dari rumah dan kampung :halaman sendiri. Saya malu, saya mulai lupa mereka. Cucunda :Faiz, terima kasih. Engkau telah mengingatkan aku lagi pada :mereka. Mari kita berbuat sesuatu untuk orang-orang sebangsa :yang bernasib malang itu dan kita baca Al-Fatihah untuk :mereka. Al Fatihah. : :Faiz juga kenal sejumlah tokoh, dan menulis sajak mengenai :mereka, yaitu Rasulullah Muhammad saw, tokoh novel :super-populer Harry Potter, tokoh novel Frodo (dari Lord of :the Rings karya J.R.R. Tolkien), proklamator Bung Hatta dan :dua presiden, yaitu George W. Bush dan Megawati Sukarnoputeri. : :Ibunya diundang sebagai sastrawati berceramah di Universitas :Madison, Madison, Wisconsin dan Universitas Michigan, Ann :Arbor, Michigan di bulan September 2003. Pengetahuan umum Faiz :bukan main, yang diketahuinya lewat media massa dan tentunya :percakapan di rumah, tentang kemungkinan repotnya ibunya yang :berjilbab pergi ke Amerika Serikat pada hari-hari ini: : : dari berita yang kubaca : Amerika penuh rekayasa : khawatir pun melanda : bila jilbab dijadikan masalah : : Bagaimana bila bunda : tiba-tiba dianggap anggota alqaidah? : bukankah Presiden Amerika : menuduh dengan mudah : siapa saja yang tak dia suka? : :Tapi syukurlah kekhawatirannya tak terjadi dan bundanya :selamat sepanjang perjalanan. : :Faiz ikut Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI sehubungan :dengan Hari Anak Nasional 2003 dan jadi pemenang pertama. :"Surat buat Ibu Negara" yang dimuat dalam kumpulan ini adalah :bentuk sajak dari surat yang memenangkan hadiah tertinggi dan :menawan perhatian luas di media massa Indonesia karena :bijaknya. Dalam setiap bait dari keenam bait sajaknya ini :terdapat ungkapan, cita-cita dan saran pada Presiden RI dalam :idiom anak-anak yang segar. : :Faiz sendiri juga bercita-cita kelak jadi presiden dengan :kualifikasi kecerdasan bisa bicara 10 bahasa, pandai membuat :komputer sendiri, dicintai orang-orang (dia tidak pilih kata :klise rakyat) dan persyaratan yang paling :berat: kalau mati masuk surga. : :Sebagai penutup surat, setelah usul ini-itu yang :dikhawatirkannya menyinggung perasaan presiden, Faiz bersajak: : : Sudah dulu ya. : Ibu jangan marah ya. : Kalau tidak senang : aku jangan dipenjara ya. : Terimakasih. : :Kemampuan Faiz menulis, dalam perkiraan saya, 10 tahun :melompati umurnya. Remaja berusia 18 tahun, jika mampu menulis :serapi ini, sudah terbilang bagus sekali. Ayah bunda Faiz :dititipi Allah bakat brilyan yang mereka harus jaga dan :tumbuhkan sebaik-baiknya. Janganlah sampai kemashuran dini :mengguncangnya dan mengganggu perkembangan psikologi Faiz selanjutnya. : :Mudah-mudahan ibunda Helvy dan ayahanda Tomi berhasil baik dan :cucunda Faiz mencapai cita-citanya dalam naungan ridha Allah SWT. : :Amin. : :Jakarta, Ramadhan 1404 H / 6 November 2003 M. : : :TERIMAKASIH DARI FAIZ : :Faiz mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada Allah SWT, :kepada Ayah dan Bunda atas cinta dan dukungan yang berlimpah. :Juga untuk Pak Tuo Taufiq Ismail yang aku kagumi. Om Jamal D. :Rahman, Om Agus R. Sarjono yang suka menyemangatiku lewat sms. :Tante Medy Loekito, Pak Tuo Hamid Jabbar, Om Ahmadun Y. :Herfanda, Om Binhad Nurohmat yang sudah mau membaca :karya-karyaku sebelum menjadi buku. Untuk Oma Maria, Opa :Amin, Eyang Wiyati, Mami Rani, Papi Isa, Papi Eron, Mbak :Menuk, Om Ferry, Om Bimo, Tante Alif, Mbak Kiki, Caca, Adam, :Om Ali Muakhir, Om Andi Yudha, Penerbit Mizan, guru-guru dan :teman-temanku semua. Kupersembahkan puisi-puisi ini untuk :kalian dan untuk dunia. Semoga bermanfaat ya. : :Salam manis, :Abdurahman Faiz : : : :HATTA : :Engkau adalah kenangan :yang tumbuh :dalam kepala dan jiwaku : :Suatu malam kau datang :dalam mimpiku :katamu: :jangan lelah menebar kebajikan :jadikan kesederhaan :sebagai teman paling setia : :Aku anak kecil :berjanji menepati :jadi akan kusurati lagi :presiden kita :hari ini : :(17 Agustus 2003) : :PUISI BUNDA : :bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku :tapi semakin lama kuamati :senyuman bunda adalah puisi :tatapan bunda adalah puisi :teguran bunda adalah puisi :belaian dan doanya :adalah puisi cinta :yang disampaikannya padaku :tak putus putus :tak putus putus : :bahkan bila kutidur : :(Mei 2003) : : SITI DAN UDIN DI JALAN : :Siti dan Udin namanya :sejak pagi belum makan :minum cuma seadanya :dengan membawa kecrekan :mengitari jalan-jalan ibu kota : :Siti punya ayah :seorang tukang becak :ibunya tukang cuci :berbadan ringkih : :Udin tak tahu di mana ayahnya :ditinggal sejak bayi :ibunya hanya pemulung :memunguti kardus dan plastik bekas : :Mereka bangun rumah :dari triplek dan kardus tebal :di tepi kali ciliwung :tapi sering kena gusur : :Bila malam tiba :mereka tidur di kolong jembatan :ditemani nyanyian nyamuk :dan suara bentakan preman : :Siti dan Udin namanya :muka mereka penuh debu :dengan baju rombengan :menyanyi di tengah kebisingan : :pagi sampai malam :tersenyum dalam peluh :menyapa om dan tante :mengharap receh seadanya : :Beribu Siti dan Udin :berkeliaran di jalan-jalan :dengan suara serak :dan napas sesak oleh polusi :kalau hari ini bisa makan :sudah alhamdulillah :tapi tetap berdoa :agar bisa sekolah :dan punya rumah berjendela : :(Februari 2003) : :HARRY POTTER : :Sudahkah kau temukan :ramuan paling rahasia itu :agar seluruh orang di dunia :bisa saling cinta? : :(Oktober 2002) : :AYAH BUNDAKU : :Bunda :engkau adalah :rembulan yang menari :dalam dadaku : :Ayah :engkau adalah :matahari yang menghangatkan :hatiku : :Ayah Bunda :kucintai kau berdua :seperti aku :mencintai surga : :Semoga Allah mencium ayah bunda :dalam tamanNya terindah :nanti : :(Januari 2002) : : MENARUH : :Aku menaruh semua mainan :dan teman di sisiku : :Aku menaruh bunda :di hatiku :dekat sekali :dengan tempat kebaikan : :Tapi :Aku tak bisa menaruh Allah :Ia menaruhku di bumi :bersama bunda dan semua :Ia ada dalam tiap napas :dan penglihatanku : :Allah, hari ini kumohon :taruhlah para anak jalanan, :teman-teman kecilku yang miskin :dan menderita :dalam belaianMu :dan buatlah ayah bunda :menjadi kaya :dan menaruh mereka :di rumah kami : :Amin. :(Juli 2001) : : :JALAN BUNDA : :bunda :engkaulah yang menuntunku :ke jalan kupu-kupu : :(September 2003) : : SURAT BUAT IBU NEGARA : :Kepada Yang Terhormat :Presiden Republik Indonesia :Megawati :Di Istana : :Assalaamualaikum. :Ibu Mega, apa kabar? :Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini. :Ibu, di kelas badanku paling tinggi. :Cita-citaku juga tinggi. :Aku mau jadi presiden. :Tapi baik. :Presiden yang pintar, :bisa buat komputer sendiri. :Yang tegas sekali. :Bisa bicara 10 bahasa. :Presiden yang dicintai orang-orang. :Kalau meninggal masuk surga. : :Ibu sayang, :Bunda pernah cerita :tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. :Dia itu pemimpin. :Umar suka jalan-jalan :ke tempat yang banyak orang miskinnya. :Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar. :Soalnya Umar menyamar. :Umar juga tidak bawa pengawal. :Umar jadi tahu :kalau ada orang yang kesusahan di negerinya :Dia bisa cepat menolong. : :Kalau jadi presiden :aku juga mau seperti Umar. :Tapi masih lama sekali. :Harus sudah tua dan kalau dipilih orang. :Jadi aku mengirim surat ini :Mau mengajak ibu menyamar. :Malam-malam kita bisa pergi :ke tempat yang banyak orang miskinnya. :Pakai baju robek dan jelek. :Muka dibuat kotor. :Kita dengar kesusahan rakyat. :Terus kita tolong. : :Tapi ibu jangan bawa pengawal. :Jangan bilang-bilang. :Kita tidak usah pergi jauh-jauh. :Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan. :Mereka mengamen mengemis. :Tidak ada bapak ibunya. :Terus banyak orang jahat :minta duit dari anak-anak kecil. :Kasihan. : :Ibu Presiden, :kalau mau, ibu balas surat aku ya. :Jangan ketahuan pengawal :nanti ibu tidak boleh pergi. :Aku yang jaga :supaya ibu tidak diganggu orang. :Ibu jangan takut. :Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. :Ada kan seperti di filem? :Pakai saja. :Ibu juga bisa kurus :kalau jalan kaki terus. :Tapi tidak apa. :Sehat. :Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin :di negara Indonesia. :Bisa tahu sendiri :tidak usah tunggu laporan :karena sering ada korupsi. : :Sudah dulu ya. :Ibu jangan marah ya. :Kalau tidak senang :aku jangan dipenjara ya. :Terimakasih. : :Dari :Abdurahman Faiz :Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur : PENGUNGSI DI NEGERI SENDIRI : :Tak ada lagi yang menari :di antara tenda-tenda kumuh :di sini :hanya derita :yang melekat di mata :dan hati kami : :Tidak satu nyanyian pun :pernah kami dendangkan lagi :hanya lagu-lagu airmata :di antara lapar, dahaga :pada pergantian musim : :Sampaikah padamu, saudaraku? : :(Oktober 2003) : :BUNDA CINTAKU : :Bunda :kau selalu ada di sisiku :kau selalu di hatiku :senyummu rembulan :baktimu seperti matahari :yang setia menyinari :dan cintamu adalah udara :yang kuhirup setiap hari :meski di dalam sedih :walau dalam susah :langkahmu pasti :jadikan aku insan berarti : :terimakasih bunda cintaku : :(November 2002) : : TUJUH LUKA DI HARI ULANGTAHUNKU : :Sehari sebelum ulangtahunku :aku terjatuh di selokan besar :ada tujuh luka membekas, berdarah :aku mencoba tertawa, malah meringis : :Sehari sebelum ulangtahunku :negeriku masih juga begitu :lebih dari tujuh luka membekas :kemiskinan, kejahatan, :korupsi di mana-mana, :pengangguran, pengungsi :jadi pemandangan :yang meletihkan mata :menyakitkan hati : :Tapi ada yang seperti lucu :di negeriku :orang yang ketahuan berbuat jahat :tidak selalu dihukum :namun orang baik bisa dipenjara : :Pada ulangtahunku yang kedelapan :aku berdiri di sini dengan tujuh luka :sambil membayangkan Indonesia Raya :dan selokan besar itu : :Tiba-tiba aku ingin menangis : :(15 November 2003) : :YANTO DAN MAZDA : :Yanto dan Mazda, tidurlah :malam telah larut :Frodo dan Sam :sedang berjuang :memusnahkan Sauron : :tidakkah sebaiknya kita :cium kening bunda :dan selekasnya masuk :lewat pintu-pintu mimpi :untuk membantu mereka? : :(Februari, 2003) : :SIAPA MAU JADI PRESIDEN? : :menjadi presiden itu :berarti melayani :dengan segenap hati :rakyat yang meminta suka :dan menyerahkan jutaan :keranjang dukanya :padamu : :(November, 2003) : :DARI SEORANG ANAK IRAK DALAM MIMPIKU, UNTUK BUSH : :Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita :peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami :dengan bahasa yang paling perih : :Irak, Afghanistan, Palestina :dan entah negeri mana lagi :meratap-ratap : :Mengapa kau koyak tubuh kami? :apa yang kau cari? :apa salah kami? :kami hanya bocah :yang selalu gemetar mendengar :keributan dan ledakan :mengapa kau perangi bapak ibu kami? : :Kini :kami tak pernah lagi melihat pelangi :hanya api di matamu :dan sejarah yang perih :tapi kami sudah tak bisa lagi menangis :Kami berdarah :Kami mati : :(Oktober 2003) : PENULIS : :Ayahku wartawan :bundaku sastrawan : :dan akulah dia :yang susah payah :mengumpulkan semua cinta :semua duka :menjadikannya untaian kata :yang kualamatkan :pada dunia : :mungkin menjadi kebaikan :yang bisa dibaca siapa saja :dan sedikit uang :untuk kusedekahkan :pada fakir miskin : :(Agustus 2003) : :MUHAMMAD RINDUKU : :Kalau kau mencintai Muhammad :ikutilah dia :sepenuh hati : :apa yang dikatakan :apa yang dilakukan :ikuti semua :jangan kau tawar lagi :sebab ialah lelaki utama itu : :memang jalan yang ditempuhnya :sungguh susah :hingga dengannya terbelah bulan : :tapi kalau kau mencintai Rasul :ikutilah dia :sepenuh rindumu : :dan akan sampailah kau :padaNya : :(April 2003) : :KEPADA KORUPTOR : :Gantilah makanan bapak :dengan nasi putih, sayur dan daging :jangan makan uang kami :lihatlah airmata para bocah :yang menderas di tiap lampu merah :jalan-jalan Jakarta :dengarlah jerit lapar mereka :di pengungsian :juga doa kanak-kanak :yang ingin sekali sekolah : :Telah bapak saksikan :orang-orang miskin memenuhi :seluruh negeri :tidakkah menggetarkan bapak? : :Tolong, Pak :gantilah makanan bapak :seperti manusia :jangan makan uang kami : :(Oktober 2003) : :DOAKU HARI INI : :Tuhanku :berikanlah waktumu padaku :untuk tumbuh di jalan cinta :dan menyemainya :di sepanjang jalan ayah bundaku :di sepanjang jalan Indonesiaku :di sepanjang jalan menujuMu : :Amin : :(Juli, 2003) : BUNDA KE AMERIKA : :Sepucuk surat undangan sampai pagi ini :di rumah kami :untuk bundaku tercinta :dari universitas di Amerika : :aku tahu bundaku pintar :juga amat berbudaya :tak heran bila ia diundang bicara :sampai ke negeri adidaya : :ia adalah muslimah ramah :dengan jilbab tak pernah lepas dari kepala :sehari-hari berbicara benar :dan tak henti membela yang lemah : :dari berita yang kubaca :Amerika penuh rekayasa :khawatir pun melanda :bila jilbab dijadikan masalah : :Bagaimana bila bunda :tiba-tiba dianggap anggota alqaidah? :bukankah Presiden Amerika :menuduh dengan mudah :siapa saja yang tak dia suka? : :Maka aku minta kepada Allah :agar bunda dilindungi senantiasa :bunda tersenyum dan memelukku :ia teguh pergi dengan jilbab di kepala :katanya: hanya Allah maha penjaga : :(September 2003) : : :PUISI BUNDA 2 : :Engkau adalah puisi abadiku :yang tak mungkin kutemukan :dalam buku : :(November 2003) : :FAIZ : :Nama lengkapnya Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November :1995. Pada usia 13 bulan mengalami retak di tempurung kepala :bagian belakang karena terjatuh dari sebuah kursi tinggi. :Dokter menganggap sebuah mukjizat ketika dalam perkembangannya :Faiz tak menunjukkan gejala gangguan otak atau kecerdasan. Ia :sempat dirawat 2 minggu di Rumah Sakit karena hal tersebut. : :Sejak usia 2 tahun Faiz sangat suka bercerita dan bermain :peran. Ia pernah :berkata: "Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai :surga," ketika usianya baru 3 tahun. : :Ya, sejak saat itu, setiap waktu, Faiz bisa tiba-tiba :mengeluarkan kalimat-kalimat puitis layaknya seorang penyair. :Namun karena tidak langsung ditulis, puisi-puisi itu banyak :yang tidak terdokumentasi (Faiz baru mulai mau menulisnya :pertengahan tahun 2001). : : Saat Faiz tahu buku ini akan terbit, misalnya, ia spontan :berkata: "Bunda, engkau adalah puisi abadiku, yang tak mungkin :kutemukan dalam buku." Dan seperti biasa, sang bunda langsung :berseru, "Apa, nak? Tunggu, kamu harus menuliskan kalimat itu! :Itu puisi yang sangat indah!" : :Pada usia 3 tahun pula ia bercerita dengan mimik serius :tentang temannya bernama Mimis. "Kasihan deh, Bunda. Mimis itu :ibunya tukang cuci, bapaknya satpam di mall. Ibunya :sakit-sakitan sampai batuk darah. Mall tempat bapaknya bekerja :dibakar dan dijarah orang banyak. Aku kasihan sekali padanya." : :Tentu Bunda Faiz, Helvy Tiana Rosa yang juga seorang cerpenis :kebingungan. Seingatnya Faiz tak memiliki teman bernama Mimis. :Lagi pula anak itu bahkan belum masuk play group maupun TK. :Tapi Faiz terus bercerita. "Kasihan deh si Mimis itu. Kita :harus menolong dong, Bunda." : :Akhirnya Sang Bunda berkata: "Faiz, mari kita tolong Mimis. :Dia tinggal di mana? Kok bunda belum tahu?" : :Tiba-tiba Faiz tertawa gelak: "Bunda..... bunda!" serunya :masih menahan tawa. "Mimis itu kan cuma teman khayalanku saja!" : :Rupanya ia sudah mengerti konsep teman khayalan. Tinggal :bundanya yang geleng-geleng kepala. Sejak kecil Faiz juga :sudah sering bertanya yang aneh-aneh kepada bunda, maupun :ayahnya: Tomi Satryatomo yang bekerja sebagai wartawan. :Misalnya: Ayah, mengapa angin itu tidak kelihatan? Mengapa :awan ada di atas? Kan kalau di bawah enak dijadikan tempat :tidur? Mengapa api dinamakan api? Mengapa laut asin? Mengapa :Tuhan hanya satu? Adakah orang tinggal di Bintang? Dan lain sebagainya. : :Menjelang usia 5 tahun, Faiz masuk ke TK Pelita di dekat :rumahnya. Setahun kemudian ia didaftarkan ke SD negeri. Tapi, :karena usianya belum 6 tahun, ia belum diterima. Baru pada :usia menjelang 7 tahun ia masuk di kelas I SDN 02 Cipayung :yang juga tak jauh dari rumahnya. : :Kegiatan sehari-hari Faiz adalah sekolah, les, mengaji dan :bermain. Ia juga suka sekali mempelajari alat elektronik. Ia :terbiasa dengan komputer sejak usia 3 tahun. Saat balita ia :bisa mengoperasikan PDA, laptop, internet, HP jenis apa pun, :kamera digital bahkan handycam. Ia juga sudah memiliki laptop :sendiri--bekas bunda. Anehnya ia lebih suka menulis puisi di HP. : :Faiz yang suka berolahraga dan mengoleksi banyak buku ini, :bercita-cita menjadi seorang presiden yang juga professor. :Agustus 2003 lalu, ia menjadi Juara I Lomba Menulis Surat :untuk Presiden, Tingkat Nasional, yang diselenggarakan Dewan :Kesenian Jakarta, dalam rangka Hari Anak Nasional 2003. Sejak :saat itu ia kerap diburu wartawan dan menjadi tamu dalam :beberapa acara televisi antara lain Liputan 6 dan Who Wants to :be A President. Ia juga ditawari bermain sinetron tapi ia menolak. : :"Ternyata menjadi terkenal itu tidak enak ya. Capek :dikejar-kejar orang. Semua mencium kita sembarangan. Tapi :enaknya kita bisa gampang menolong orang," komentar tiga besar :di kelas II SDN 02 Cipayung yang juga anggota Forum Lingkar :Pena Kids ini. : : :KOMENTAR PARA PENYAIR : :Puisi Faiz belum banyak, tetapi mampu menimbulkan keharuan :yang mendalam ketika saya membacanya. Ia bicara cinta dengan :agung. Ia bicara agama dengan anggun. Ia bicara derita :manusia dengan bening. Mengutip akhir puisi "Siti dan Udin di :Jalan": dan punya rumah berjendela, nampaknya sebuah keinginan :sederhana, namun sesungguhnya teramat dalam maknanya, sebab :jendela adalah tempat kita menengok dunia luar, dan selama :jendela kita terbuka, hidup adalah indah. (Medy Loekito, :penyair, Yayasan Multimedia Sastra) : :Faiz, puisi-puisimu mencerminkan perasaan dan hatimu yang :bening. Dari puisi-puisimu aku tahu hati dan perasaanmu selalu :bergolak melihat apa pun di sekitarmu. Dan bahasamu sebening :hatimu. (Jamal D. Rahman, penyair, Pemimpin Redaksi Majalah :Sastra Horison) : :Faiz, berpikir lebih 'gila' lagi, tapi tetap bicara dengan :hati! (Hamid Jabbar, Penyair, Redaktur Senior Majalah Horison)
:Faiz, puisimu seperti danau, tempatku melihat --------------------------------- Do you Yahoo!? Protect your identity with Yahoo! Mail AddressGuard
