Poliuretan, Polimer Serba Bisa
Oleh Harry H. Nazarudin, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Material Universitas
Indonesia



Poliuretan adalah jenis polimer yang sangat unik dan luas pemakaiannya.
Poliuretan ditemukan pada tahun 1937 oleh Prof. Otto Bayer sebagai pembentuk
serat yang didesain untuk menandingi serat nylon. Tetapi penelitian lebih
lanjut menunjukkan bahwa poliuretan bukan saja bisa digunakan sebagai serat,
tapi dapat juga digunakan untuk membuat busa (foam), bahan elastomer
(karet/plastik), lem, pelapis (coating), dan lain-lain. 
Nama 'poliuretan' sebenarnya mengandung kerancuan. Seharusnya polimer adalah
monomer yang bereaksi membentuk rantai, tapi poliuretan bukan terdiri dari
monomer uretan, melainkan suatu polimer yang terdiri dari pengulangan ikatan
uretan (lihat gambar 1). 


Gambar 1. Ikatan uretan dan reaksi pembentukan poliuretan 
Poliuretan dibuat dengan mereaksikan molekul yang memiliki gugus isosianat
dengan molekul yang memiliki gugus hidroksil. Dengan demikian, jenis dan
ukuran setiap molekul pembentuk akan memberikan sumbangan terhadap sifat
poliuretan yang terbentuk. Hal inilah yang membuat poliuretan menjadi
polimer yang sangat fleksibel baik dalam sifat mekanik maupun aplikasinya. 
Saat ini, aplikasi poliuretan paling banyak (sekitar 70%) adalah sebagai
bahan busa, kemudian diikuti dengan elastomer, baru kemudian sebagai lem dan
pelapis. Pembuatan busa dari poliuretan dimungkinkan dengan menggunakan agen
pengembang (blowing agent), yang akan menghasilkan gas pada saat terjadi
reaksi sehingga poliuretan dapat membentuk busa. Jika poliuretan yang
digunakan bersifat lunak, maka yang dihasilkan adalah busa lunak seperti
pada kasur busa, alas kursi dan jok mobil. Ada juga jenis busa kaku (rigid
foam), seperti pada insulasi dinding, insulasi lemari es, atau insulasi
kedap suara. Busa poliuretan bersifat ulet dan tidak mudah putus. Dalam
aplikasi sebagai insulasi dinding, poliuretan juga dapat dibuat menjadi
tahan api dengan penambahan senyawa halogen. 
Serat Spandex, yang biasanya digunakan sebagai serat untuk kaus kaki atau
T-shirt, juga dibuat dari poliuretan. Bahan spandex terkenal sangat elastis
dan tidak mudah putus. Kemampuan poliuretan untuk dibuat menjadi fiber yang
tipis, elastis, dan tidak mudah putus, bergantung kepada pemilihan jenis
isosianat dan hidroksil yang digunakan. Aplikasi terbaru yang kini sedang
giat dipromosikan adalah sebagai pelapis untuk cat mobil. Dalam hal ini yang
digunakan bukan sifat elastisnya, melainkan sifat tahan gores. Poliuretan
yang keras dapat dibuat menjadi lapisan sangat tipis dan akan memiliki efek
tahan gores sehingga cocok untuk aplikasi pada cat mobil. Sifat poliuretan
yang dapat terdegradasi oleh sinar ultraviolet dari matahari dapat diatasi
dengan menambahkan aditif UV stabilizer. 
Aplikasi yang tak kalah penting adalah sebagai elastomer untuk menggantikan
karet alam. Di sini, sifat poliuretan yang elastis, kuat, tahan gores, dan
tahan terhadap minyak sangat berguna. Bahan elastomer digunakan untuk
melapisi bahan yang terkena tekanan mekanik terus-menerus, seperti roda
gigi, pelapis rol, dan sol sepatu. Misalnya sebagai pelapis rol pada mesin
pembuat kertas, di mana poliuretan akan mengalami tekanan hingga 5.3 MPa dan
diputar dengan kecepatan sampai 600 rpm (lihat gambar 2). 


Gambar 2. Contoh rol poliuretan (berwarna kuning) di mesin pembuat kertas 
Pemakaian poliuretan di Indonesia sebagai bahan pendukung industri masih
sangat tergantung pada impor, walaupun beberapa industri sudah mulai mencoba
memproduksi poliuretan di dalam negeri. Banyaknya pabrik kertas, furnitur,
industri otomotif dan industri alas kaki di Indonesia membuat prospek usaha
di bidang poliuretan di masa depan cukup menjanjikan, asalkan kita mau tekun
mendalami teknik pembuatan dan pencetakannya. 


Kirim email ke