Setelah pre survei dilakukan oleh FUJIMORI LABORATORY -UNIVERSITY OF TOKYO, kembali kota Bogor diagendakan untuk proyek 'Understanding Heritage' yang disponsori oleh modern Asian Architecture Network (mAAN). Kegiatannya berupa inventarisasi bangunan tua Bogor, baik berupa bangunan, artefak dan situs budaya yang telah berdiri pada kurun tahun 1970 atau lebih tua. Walau telah dirombak sana sini,gedung kampus AKA lama kemungkinan besar termasuk dalam inventory tersebut mengingat keberadaannya konon memang telah digunakan sejak 1900-an. Sepintas saja kita melihat, gaya bangunan gedung AKA lama memang mirip dengan bangunan-bangunan khas zaman Belanda. Tapi tidak jelas, apakah kampus kita tersebut dibangun bersamaan dengan Museum Zoologi yang dibangun pada 1894 oleh Dr.J.G Koningsberger dengan nama Landbouw Zoologish Laboratorium. Mencermati tata letak bangunan pada rangkaian gedung-gedung disekitar Museum Zoologi, tidak menutup kemungkinan bahwa bangunan AKA memang dibangun pada masa itu. Ketika Istana Bogor dibangun pada tahun 1745 oleh G.W Baron Van Imhoff dan dirombak kiri-kanan oleh Daendels pada 1808-1811, sepeninggalnya, oleh para Pejabat tinggi Belanda lingkar istana dijadikan semacam pusat kota dengan balai-balai pelajaran dan penelitian melingkupinya. Merogoh lebih dalam 'situs AKA' ke zaman yang lebih purwa, daerah kampus kita ternyata penuh kenangan sejarah. Pada masa kerajaan Pajajaran, lokasi AKA merupakan batas luar benteng kerajaan. Benteng tersebut terdapat di Lebak Soto, tempat kost-an kita dulu.
Sepelemparan batu keselatan, tepatnya alun-alun Empang, dulunya adalah merupakan alun-alun kerajaan yang dipisahkan dari benteng Pakuan dengan sebuah parit yang dalam (lolongok-Cipakancilan). Tanjakan Bondongan yang sekarang, pada masa itu merupakan jalan masuk yang sempit dan mendaki sehingga hanya dapat dilalui penunggang kuda atau dua orang pejalan kaki. Lokasi AKA menjadi batas kumpul pasukan musuh yang akan menyerang ke gerbang Pakuan - ibukota Pajajaran. Selepas masa kejayaan Sri Baduga Prabu Siliwangi yang akhirnya mati tua di Rancamaya karena menjauh dari keluarganya yang memaksanya masuk Islam, daerah ini menjadi tak bertuan sampai akhirnya datang ekspedisi Scipio (1687), Adolf Winkler (1690) dan Abraham Van Riebeeck (1703-1709) yang lalu penduduk asli, migran kaum Tionghoa dan pedagang Arab menetap di pesisirnya (Suryakancana-empang). Mengingat untaian sejarah yang pernah 'mengontrak' di kawasan tersebut sangat memprihatinkan bila kini kita melihat suasana lokasi tempat ini menjadi semrawutan oleh angkot dan pedagang kaki lima. Gedung AKA telah pindah dan masih dipakai akademi sebagai tempat administrasi (pendaftaran mahasiswa dll), khabarnya akan dijadikan perkantoran (ada juga yang bilang mau dijadikan pertokoan -ee..ko..ngegossip he..euh-) sayang sekali bila kemudian dipugar dan meninggalkan kesan tuanya. Dalam Inventarisasi Bangunan Tua Bogor nanti hasilnya akan diolah dalam daftar bangunan / tempat/ artefak yang perlu dilestarikan. Pantaskah gedung kampus lama kita menjadi bangunan yang perlu dilestarikan? Hhhhmmm... Salam Ferry (nya satu pendukungnya banyak...)
