[Kb] BOGOR : Meski Semrawut, Bogor Masih Jadi Idaman

Meski Semrawut, Bogor Masih Jadi Idaman 

DARI tahun ke tahun, Kota Bogor semakin tambah
semrawut. Angkutan kota 
memenuhi jalan-jalan di Kota Bogor, pedagang kaki lima
semakin tak 
terbendung.. Trotoar, jembatan, dan badan jalan
"diduduki" untuk menggelar 
dagangannya di pagi hari, sore, malam, dan subuh
hingga Matahari terbit. 
Sedangkan rumah toko dan mal tumbuh subur di
sudut-sudut kota. Itu semua 
membuat kemacetan di mana-mana. 

Kota Bogor yang kini berpenduduk sekitar 850.000 jiwa
sepertinya dikepung 
kemacetan Kota Bogor yang tahun 1970-an, masih sejuk
dan nyaman, kini panas 
dan "sumpek". Lomba baris-berbaris keliling kota oleh
pelajar SLTA se Kota 
Bogor yang dulu diselenggarakan secara periodik, kini
tinggal kenangan. 
Warga tak lagi menyaksikan kerapian berbaris pelajar
SLTA peserta lomba. 
Malah kini warga lebih sering disuguhi kegiatan
tawuran antarpelajar yang 
membuat para orang tua mengelus dada. 

Kota Bogor yang tahun 1970-an, masih sejuk dan nyaman,
kini panas dan 
"sumpek". Lomba baris-berbaris keliling kota oleh
pelajar SLTA se Kota Bogor 
yang dulu diselenggarakan secara periodik, kini
tinggal kenangan. Warga tak 
lagi menyaksikan kerapian berbaris pelajar SLTA
peserta lomba. Malah kini 
warga lebih sering disuguhi kegiatan tawuran
antarpelajar yang membuat para 
orang tua mengelus dada. 

Kendaraan pribadi yang semakin bertambah, dan angkot
yang tak juga berkurang 
membuat sebagian pengguna jalan, khususnya pengendara
mobil pribadi menjadi 
sewot dan stres. Sebab, mereka harus bersabar untuk
bergerak saat terjepit 
di tengah "lautan" angkot. 

Kota Bogor kini tidak hanya dikenal sebagai "Kota
Sejuta Angkot", melainkan 
juga "surga" bagi PKL. Sebab, di Kota Bogor lah para
PKL mulai dari yang 
jual sayuran, pakaian, buah-buahan, VCD bajakan,
makanan dan minuman, serta 
kebutuhan sehari-hari lainnya, berjubel. Tidak kurang
dari 10.000 PKL 
mencari nafkah di Kota Bogor, mulai yang hanya
menggelar dagangannya sampai 
yang bertenda. Mulai dari puluhan ribu sampai jutaan
rupiah. Padatnya PKL 
dan angkot membuat Kota Bogor saat ini tidak nyaman
lagi. 

KOTA Bogor, bukan hanya sumpek secara fisik, tetapi
secara klimatologis. 
Doktor Ir Gatot Irianto, Kepala Balai Penelitian
Agroklimat dan Hidrologi 
Bogor menyebutkan, ada dua indikator yang menyebabkan
Bogor tidak lagi 
nyaman. Yakni, suhu dan kelembaban udara. 

Menurut Gatot, saat ini suhu di Kota Bogor cenderung
lebih tinggi, meningkat 
sampai 2 derajat Celsius dari kondisi normal yang
rata-rata 25 derajat 
Celsius. Sehingga, penguapan tubuh orang, tanaman,
maupun hewan lebih 
tinggi. 

Penyebabnya, jumlah tanaman berkurang karena
ditebangi, polusi yang 
ditimbulkan kendaraan bermotor meningkat, dan jumlah
orang semakin 
bertambah. 

"Kalau dulu jumlah manusianya sedikit, kapling
oksigennya lebih, suhu lebih 
rendah sehingga nyaman. Sekarang jumlah udara yang
dihirup tetap, orang 
bertambah. Akibat peningkatan jumlah orang itu
mengganggu kenyamanan," 
katanya. 

Agar Kota Bogor berangsur-angsur nyaman kembali,
katanya, jumlah angkot 
harus dikendalikan dan jumlah tanaman harus
ditingkatkan. 

Gatot yang warga daerah Cihidueng, Kecamatan Ciampea,
Kabupaten Bogor dan 
kantornya di Kota Bogor ini, mengatakan saat ini tak
ada titik di Kota Bogor 
yang tak macet. "Kemacetan diperparah dengan
dibangunnya pusat-pusat 
pertokoan di mana-mana, sehingga Bogor dikepung oleh
kemacetan seperti di 
daerah Tajur, Warungjambu," katanya 

Sementara itu, Wali Kota Bogor Ishwara Natanegara yang
habis masa jabatannya 
pada awal tahun 2004 dan tak lagi mencalonkan kembali
sebagai Wali Kota 
Bogor mengatakan, masalah PKL dan kemacetan lalu
lintas sampai menjelang 
habis masa jabatannya diakui belum berhasil secara
tuntas diatasinya, meski 
berbagai upaya telah dilakukan. 

PKL itu, katanya, berkembang sejalan dengan kondisi
perekonomian negara. PKL 
di Kota Bogor dan kota lainnya berkembang dan
meningkat jumlahnya menyusul 
krisis moneter pada tahun 1997. Dengan modal tak
terlalu besar yang di 
antaranya diperoleh dari uang PHK, mereka lalu
berusaha menyambung hidup 
sehari-hari, dan yang paling mudah adalah menjadi PKL.


"Kami telah menyusun konsep penataan PKL , sedang
dibahas di DPRD, tinggal 
menindaklanjuti untuk diterbitkan perdanya. Namun,
kami juga menyadari dalam 
pelaksanaannya bisa berhasil atau tidak. Sebab, kita
tak mungkin mampu 
menampung PKL di Kota Bogor yang berjumlah sekitar
10.000 orang, sementara 
lokasi yang ada hanya mampu menampung sekitar 2.000
an. Tetapi itu harus 
dicoba, terus dicoba dengan melakukan pengaturan waktu
jualan dan 
pengelompokan jenis komoditasnya," kata Wali Kota yang
berharap semua pihak 
ikut serta menata pedagang kaki lima (PKL) dengan
konsep yang dibuat, bukan 
ikut mengatur dengan cara yang lain. 

Upaya lain yang dilakukan Pemkot Bogor, menurut
Ishwara, adalah pembinaan 
terhadap PKL. "Sebenarnya, kalau kami menempatkan PKL
disuatu tempat itu, 
kami tak ingin PKL itu seumur hidup menjadi PKL,
tetapi kami harapkan bisa 
meningkat, tidak lagi menjadi PKL tetapi memiliki
warung," katanya 

SAAT ini, berdasarkan data yang ada, sekitar 40.000
kendaraan bermotor tiap 
harinya memadati jalan-jalan di Kota Bogor, termasuk
jumlah angkot Kota 
Bogor sekitar 3.000 unit, dan angkot Kabupaten Bogor
sebanyak 6.000 unit. 
Untuk mengurangi padatnya angkot dari Kabupaten Bogor
yang masuk kota dari 
wilayah Barat, telah dibangun terminal di Bubulak
Bogor Barat. Sejumlah 
terminal di perbatasan Kota/Kabupaten Bogor lainnya,
sedang diupayakan untuk 
dibangun. 

Kota Bogor, menjadi sebuah Kota Niaga dengan
bertumbuhnya ruko. Factory 
outlet juga di mana-mana, sehingga cenderung tak
terkendali lagi. Ishwara 
mengelak bila disebutkan tumbuhnya ruko sepertinya tak
terkendali di bangun 
di daerah-daerah yang tak sesuai dengan tata ruang
yang ada. "Semua sesuai 
dengan tata ruang yang ada, bangunan ruko yang tak
mengindahkan aturan yang 
ada kami bongkar," kata Ishwara. 

Meski dinilai semrawut, tak nyaman lagi, sesungguhnya
Kota Bogor masih 
menjadi idaman untuk tinggal atau menginap. Juga
mereka yang ingin 
berinvestasi dengan membuka usaha makanan jajanan dan
rumah makan untuk para 
wisatawan domestik yang berdatangan di Kota Bogor pada
setiap hari libur. 
"Kalau ingin hidup dengan umur panjang, tinggallah di
Kota Bogor," kata 
Ishwara. 

Tentang umur panjang ini, ia menyebutkan, usia harapan
hidup warga Kota 
Bogor mencapai 69,7 tahun, sedangkan tingkat Jabar,
64,7 tahun. Saat ini, 
Kota Bogor benar-benar menjadi idaman orang luar Kota
Bogor untuk menjadi 
warga Kota Bogor dengan tinggal di berbagai perumahan
yang berkembang di 
Kota Bogor. Dari jumlah penduduk 700.000 jiwa pada
tahun 1999, kini sudah 
mencapai 850.000 jiwa. 

"Padahal, kami memproyeksikan pada tahun 2006 nanti
jumlah penduduk Kota 
Bogor menjadi satu juta jiwa. Ini merupakan indikator
bahwa Kota Bogor masih 
menjadi kota tempat tinggal idaman," katanya. 

Julukan Kota Hujan bagi Bogor sebenarnya juga masih
melekat, meski diakui 
tak sesejuk dulu. Curah hujan di daerah Bogor masih
relatif tinggi. Pada 
tahun 2000 sekitar 3.337 mm per tahun, tahun 2001
3.684 mm per tahun, dan 
tahun 2002 malah mencapai 4.352 mm per tahun. Dan,
pamor Kota Bogor 
ditingkat dunia karena Kebun Raya-nya tak memudar. (fx
puniman) 

kb kecoak_buntung at yahoo.com 
Copyright � 2002 Harian KOMPAS 




        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends.  Fun.  Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/ 

Kirim email ke