Frens,
Sekedar sharing analisis2 mengenai pemilu presiden 5 juli 2004, hasil analisis ini
dari berbagai sumber, dari pers, dari temen2 yg masih berkeliaran di lapangan, dari
temen2 aktivis 98 yg jadi tim pendukung capres. Saya coba sebarin beberapa yang
relatif valid and bagus untuk dibuka.
Artikel-artikel seperti ini hanya bagus untuk sebatas informasi belaka saja, meminjam
istilah intelejen, tulisan macam di bawah ini masih tergolong analisis C3, yang mesti
diklarifikasi dan butuh verifikasi. Namun dalam politik di Indonesia yg masih
terbelakang (baca : memberhalakan kursi kekuasaan), artikel seperti ini kategorinya
lumayan juga....
Wassalam,
SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Salah seorang petinggi PDIP yang kecewa karena gagal menjadi anggota DPR RI bercerita
panjang lebar soal skenario Mega. Berikut ini penuturannya : Dalam rapat DPP PDIP
hampir semua peserta rapat tertawa terbahak-bahak ketika membaca hasil survey LSI yang
mengunggulkan SBY sampai 58%. Terlihat tawa bahagia disana ketika tahu scenario
mengunggulkan SBY dikerjakan dengan baik oleh LSI.
Kalau mau sedikit berpikir, memang aneh gerakan tim Mega ini, walau nampak kasat mata,
tapi tidak ada satupun media massa yang mau memberitakan betapa Mega begitu piawai
mengobok-obok konstelasi politik dimana-mana. Golkar dibuat pecah berantakan dengan
memunculkan faksi; AT, faksi Kalla, dan faksi Palloh. Keluarga besar NU dibuat cerai
berai dengan munculnya kelompok Hasyim, kelompok Gus Solah dan tentu saja the joker,
Abdurahman Wahid.
Kalau mengikuti Koran dan TV misalnya, hampir-hampir semua pembicaraan menguliti sepak
terjang SBY, Wiranto dan AR. Banyak media yang berubah menjadi partisan, terutama
TVRI. Tahu tidak, kalau direktur TVRI mendadak diganti dengan orang Mega? Anehnya,
tidak ada sedikitpun yang mencoba mengamati gerakan Mega. Padahal gerakan Mega,
dirancang oleh puluhan akademisi dan purnawiraan militer.
Jauh sebelum Mega Presiden dibentuk, lembaga kajian untuk memuluskan Mega ke Istana
sudah dirancang rapi. Kepala BIN, Hendropriyono, adalah komandan dibalik scenario
Mega. Namanya juga dinas intelejen negara, kekuatan dan keakuratan datanya
sungguh luar biasa. Memberikan rencana A sampai Z dengan segala resikonya. Hasilnya?
Kita lihat saja paparan dibawah ini. Menohok Pesaing Berat Tim Mega yakin hanya
Wiranto yang benar-benar penantang terkuat, sementara AR gampang ditaklukan, sementara
SBY hanya Koran dan media massa saja yang membesar-besarkannya.
Coba diamati baik-baik, isu anti militerisme misalnya, jelas-jelas hanya menyerang
Wiranto. Padahal SBY juga militer, namun sama sekali tidak diungkit-ungkit oleh Mega.
Sebab Mega memang yakin, SBY masih dibawah kendalinya. Bukankah Kalla, Yusril
merupakan anak buahnya yang paling manis di kabinet?
Kasus Yacob Nuwawea yang merancang ide demo misalnya, ini memang sengaja dibocorkan.
Sebab, Mega sedang memprovokasi Wiranto, untuk jangan macam-macam. Apalagi diketahui
bahwa yang ikut rapat di pihak Yacob Nuwa Wea ada pentolan-pentolan GMNU, Famred,
Forkot dan Dita Indah Sari. Ada juga memang informasi yang menyatakan menyatakan bahwa
bocornya ini karena Wiranto memang seorang militer tangguh, sehingga sudah biasa
mengendus gerakan musuh. Buktinya, dari yang hadir di rapat, nomor telephone-nya,
sampai detil suasana rapat bisa diketahui dengan
pasti.
Sungguh, ini buah kerja intelejen yang luar biasa. Mega tentu saja tidak tinggal diam,
TPDI yang sudah lama "tidur" tiba-tiba saja membawa kasus Wiranto soal 27 Juli dan
kerusuhan Mei 98 ke Mahkamah Agung. Belum cukup dengan itu, semua kepala daerah dan
Gubenur dikumpulkan oleh Mega untuk diberi wejangan khusus, mengamankan Mega ke RI 1.
Beritanya terbarunya, Mega memerintahkan Jaksa Agung M Rahman untuk kembali membuka
kasus BNI. Sebab Mega mempunyai kartu truf soal
keterlibatan Wiranto dengan kasus ini.
Mengobok-obok NU
Jangan dikira Hasyim Muzadi berani berseberangan dengan Gus Dur sejak sebelum pemilu
legislative karena ingin memperjuangankan NU agar independen. Sama sekali tidak.
Hasyim memang sudah terikat kontrak dengan Mega sejak setahun lampau. Makanya Gus Dur
tiada henti menyuarakan dimana-mana kalau Hasyim seorang "pembohong". Siapa dibalik
munculnya ide Golput PKB ini? Jawabnya sebetulnya
gampang ditebak, Arifin Junaedi dan AS Hikam. Kedua orang ini berhasil menyakinkan GD
untuk Golput. Dengan Golput, suara PKB yang 12 juta dihanguskan. Sebuah scenario manis
dari Mega. Sebab Mega yakin, tidak mungkin pendukung PKB memiih dirinya. Daripada ke
Wiranto, lebih baik di'hanguskan" dengan metode canggih. Menyerukan golput. Coba
tengok ke belakang, bukankah GMNU dan PMII yang paling getol membela GD dengan
senjata Golput?
Padahal ketua umum kedua organisasi itu adalah orang-orang Mega. Ketua GMNU
diketahuisering berkunjung ke Yacob Nuwa Wea, sementara pengurus PMII pusat sering
terlihat bersama Taufik Kiemas. Sayang scenario mega kali ini kena batunya. GD
ternyata Cuma bersandiwara ketika menyatakan bahwa tidak akan bekerjasama dengan
militer dan ngotot maju sebagai capres. GD yang terkenal licin tahu betul, dengan
ngototnya dia akan menaikkan nilai tawar PKB. Dan minimal 5 menteri dan 3 menko
akan jatuh ke tangan PKB. Wiranto yang gelap mata, tentu oke-oke saja menyetujui
yang penting dia jadi presiden. Apakah mega diam dengan pernyataan GD mendukung
Wiranto? Tentu tidak! Setumpuk agenda baru sedang disiapkan untuk mematahkan ini.
Caranya? Tim Mega mulai aktif mendekati basis-basis NU yang membutuhkan bantuan".
Dengan fasilitas uang negara yang dia punya, akan ada 1000 macam agenda untuk merayu
kaum Nahdliyin. Sementara orang-orang Mega terus memborbardir arus bawah NU akan
"dosa-dosa" Golkar. 29 Mei 2004 akan diadakan demo besar-besaran menggoyang Golkar.
Demo ini akan didukung penuh oleh LSM-LSM dan mahasiswa nasionalis ini ditengarai
sebagai warning dan show of force kubu Mega untuk lawan-lawan politiknya. Dengan
scenario ini kubu Mega berharap, di putaran kedua nanti jika
harus ketemu Wiranto, Mega akan mendapat simpati dari masyarakat karena dia- lah kini
satu-satunya capres sipil!
Membombardir Golkar
Golkar juga tidak luput dari incaran scenario Mega. Suara Golkar yang 24 juta, diporak
porandakan dengan mengijinkan Kalla berduet dengan SBY. Orang bodoh sekalipun pasti
mafhum, bagaimana mungkin Kalla yang ikut konvensi Golkar, yang didukung oleh Sultan
HB 10, dan iramasuka tiba-tiba saja ke SBY?
Hitung-hitungannya jelas. Kalla setidaknya akan menggerogoti 5 juta suara Golkar dari
Iramasuka. Modal SBY yang Cuma 7 juta suara ditambah 5 juta suara Kalla, jelas cukup
mudah dikalahkan oleh Mega yang sudah mengantongi 23 juta suara solid! Ya, sementara
kubu Islam dan kubu Golkar dikocar-kacirkan, kubu PDIP nampak utuh, solid dan bersatu.
23 juta ditambah sedikit suara dari Hasyim cukuplah membuat Mega melenggang dengan
gampang ke putaran kedua.
Menciptakan capres boneka
Kubu Mega juga was-was dengan gerakan AR. Untuk membuyarkan berkumpulnya kekuatan
Islam non NU, Mega menyuruh Hamzah Haz maju ke pilpres. Coba buka lagi Koran dan
majalah, betapa Hamzah yang tadinya begitu semangat digaet Mega, dibatalkan tiba-tiba.
Ada apa? Karena Mega tahu, dengan menggaet Hamzah, percuma saja. Sebab dewan Syariah
PPP sudah jelas mengatakan menolak Mega. Dengan menyuruh Hamzah maju, Mega sedang
menghanguskan 7 juta suara PPP. Aneh kah, sebelum maju ke pilpres Hamzah dan Agum
(bukankah Agum tim Mega center?) meminta ijin ke Mega. Dan dikoran-koran pun jelas
dimuat, di putaran kedua, suara pemilih Hamzah akan di berikan ke Mega.
Sikap Hamzah ini yang kemudian membuat GPK yang underbow PPP memilih mendukung AR.
Membingungkan pendukung AR
Modal AR yang Cuma 7 juta pemilih Pan sebenarnya tidaklah membuat Mega cemas. Tapi
dengan berkumpulnya dengan PKS, setidaknya membahayakan Mega seandainya AR mampu ke
putaran kedua. Mega scenario merekomendasikan untuk memilih bertemu Wiranto ke putaran
kedua disbanding AR.
Lewat tangan Taufik Kiemas, Mega berhasil menyusup ke PKS dengan menggunakan tangan
Anis Matta dan Soeripto. Dengan alasan mendukung AR berarti membiarkan Mega dan SBY
lolos keputaran kedua, dewan syuro PKS "dipaksa" merekomendasikan untuk mendukung
Wiranto. Aneh bukan, alasannya? Kenapa SBY yang bermodal 7 juta dijadikan alasan untuk
menolak mendukung AR? Jawabannya jelas, dengan PKS
mendukung Wiranto, berarti menghanguskan suara PKS. Sebab dengan mendukung Wiranto
suara PKS akan pecah. Sebagian akan mengikuti rekomendasi dewan Syuro, sebagian akan
ke AR. Dukungan sebagian PKS ke Wiranto bisa digantikan oleh larinya sebagian Golkar
ke Kalla. Beda jauh efeknya kalau Syuro PKS merekomendasikan AR. Suara PKS bisa jadi
bulat. Pengikut PKS yang tanpa berikir panjang pasti akan
berbondong-bondong ke AR dan akibatnya bisa hebat. Sebab akan membuat parpol-parpol
gurem dan masyarakat muslim berbondong-bondong mendukung AR akibat magnet suara PKS.
Daripada AR, jelas Mega memilih Wiranto untuk bertarung di 5 September nanti.
Menonjolkan SBY Skenario Mega yang paling sukses adalah dengan menonjolkan SBY,
seakan-akan pasti menang. Padahal kalau mau berpikir, sungguh aneh kalau di prediksi
SBY akan lolos ke putaran kedua. Modal suara yang cekak, 7 jutaan masih
teramat jauh. Apalagi jelas-jelas kubu NU nggak bakalan ke SBY. Kubu Muhammadiyah
apalagi. Kubu nasionalis pasti ke Mega. Coba tanyakan ini kemana saja. Apakah ada
orang yang mencoblos PAN akan memilih SBY? Apakah ada orang yang mencoblos PDIP akan
memilih SBY? Apakah ada orang yang mencoblos PKS akan memilih SBY? Jawabnya gampang,
amat sangat sedikit! Biar tambah hebat, SBY di blow up sedemikian hebatnya, padahal
kalo betul hebat mustinya Demokrat bisa menang pemilu dong? Pilihan presiden beda
dengan legislative? Betul, tapi gunakan logika
sederhana, basis massa SBY itu dari mana? Kenapa SBY ditonjolkan? Sebab Mega ingin
bertemu SBY di 5 September nanti. Dengan melawan SBY di final, peluang Mega jadi lebih
gampang.
Inti Skenario
Semua ini memang hanya berpusat pada kata akhir, Mega lebih memilih SBY untuk berduel
di 5 September. Kalaupun bukan SBY, Mega lebih memilih Wiranto untuk berduel, dan
menghindari AR. Kenapa begitu? Dengan Wiranto, kubu Mega jelas memiliki setumpuk bahan
untuk meng-KO Wiranto di depan rakyat. Dari maslah pelanggaran HAM sampai masalah bank
BNI. Jangan lupa, kasus bobolnya BNI masih
ditangan Mega. Mega punya cukup bukti untuk menyeret Wiranto ke pengadilan.
Dengan SBY? Ini lebih gampang lagi. SBY dan partai Demokratnya jelas sudah cacat di
depan umat Islam. Latar belakang SBY yang terungkap dimedia massa masih 30% saja yang
dibeberkan. Kubu mega punya senjata lebih ampuh soal siapa itu Sarwo Edi Wibowo, siapa
itu Kristina, dan yang jelas kubu Mega berhassil menelusuri aliran dana kubu SBY.
Lewat James Ryadi yang di AS, kubu Mega berhasil mengungkapkan betapa aliran dana SBY
begitu "hitam pekat"!
Kubu Mega juga yakin, di 5 September nanti kubu Islam akan pikir-pikir dan mungkin
akan Golput(nanti akan disebarkan data tentang SBY yang sungguh seram, yang membuat
pemilih Islam tidak punya pilihan kecuali Golput), sementara kubu NU pasti
berbondong-bondong ke Mega karena ada Hasyim. Di putaran kedua, meskipun 50 juta orang
golput tidak akan mempengaruhi hasil pemilu. Yang penting, siapapun yang unggul atas
pesaingnya, dialah yang jadi presiden. Kalau ketemu AR? Ini yang membuat bingung. Mega
kesulitan menyerang AR kecuali dengan serangan-serangan ringan semisal mencla-mencle,
ambisius, dan gemar bicara. Serangan seperti itu jelas tidak memadai untuk
menghentikan AR seandainya AR mampu ke putaran kedua. Satu-
satunya jalan memang harus menghentikan AR di putaran pertama! Caranya? Ya seperti
yang dipaparkan oleh caleg PDIP diatas itu. Skenario cerdas bukan? [J-pi ]
Wa'alaikum salam wr.wb.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger