Ada tulisan dari Kompas hari ini, mungkin bisa jadi bahan renungan :

Mimpi Pembangunan di Tahun ke-59
Oleh Agus Haryadi
SUATU kali, Farid Wadjidi, mahasiswa Indonesia di Belanda, mengutarakan kegusarannya melihat propaganda Pemerintah Belanda terhadap pelajar tingkat dasar dan menengah dalam memandang Indonesia. Di masa pendudukannya, kurikulum pendidikan Belanda selalu mengaitkan kolonialisme sebagai upaya melakukan modernisasi, pembangunan, dan memajukan peradaban. Penjajahan bukan kata yang tepat.
Karena itu, jangan heran bila hingga detik ini Pemerintah Belanda acap berlagak pilon dalam melihat masa lalu. Indonesia lebih dipandang sebagai teritorial yang uncivilized, dan Belanda hadir sebagai malaikat. Jadi, tak perlu ada maaf. Indonesia justru harus berterima kasih untuk semua usaha modernisasi di masa lampau. Kalaupun harus ada kata maaf, bukan Belanda yang melakukan, tetapi Indonesia. Mengapa? Karena aset dan perusahaan Belanda-yang mereka gunakan untuk menguras kekayaan alam Indonesia-dinasionalisasi Soekarno pascakemerdekaan. Belanda menderita kerugian besar. Atas kejadian itu Indonesia dianggap berutang!


Demikianlah kolonialis memandang penjajahan. Asumsi kerap dibangun dalam paradigma yang menguntungkan pihak pendominasi. Dalam teori hegemoni, alam sadar masyarakat diperangkap dalam kreasi imaji yang dibuat pemilik kekuasaan. Bila tak cukup, hegemoni dapat dikembangkan menjadi dominasi-yakni, saat kekuatan koersif (kekerasan) menjadi domain dalam mengendalikan pihak-pihak lain. Ekspresinya bisa diwujudkan lewat beragam cara, baik struktural maupun konvensional. Yang jelas, rasa takut yang masif adalah efek yang hendak dituju dari kebijakan sejenis ini.
MENGINJAK tahun ke-59 Indonesia merdeka tentu tak lepas dari hubungannya dengan cita-cita kebebasan. Dalam periode yang amat panjang, Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri (self determination right), satu cara paling sederhana untuk mengukur ruang kemerdekaan. Memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan memiliki serentet konsekuensi yang serba terbuka untuk ditafsirkan.


Tulisan ini dimaksudkan sebagai refleksi guna mempertanyakan ulang, sejauh mana kemerdekaan benar-benar telah dirasakan, sekaligus mengingatkan kembali semangat dan cita-cita founding fathers di masa lampau untuk dicarikan relasinya dalam konteks kekinian.
Penempatan cara pandang Belanda atas Indonesia pada awal tulisan dimaksudkan sebagai analogi yang seragam tentang bagaimana Pemerintah Indonesia selama ini mengemukakan pandangannya. Pemerintah Belanda yakin mereka membangun bukan menjajah.
Di Indonesia, pembangunan menjadi mantra ajaib yang bisa membuat semua hal bertekuk lutut. Pembangunan adalah ideologi, sekaligus persepsi imajinatif yang patut dipertanyakan legitimasinya.


Ada bahasa kekuasaan yang sering dipropagandakan sebagai landasan pembangunan, terungkap dalam stabilitas nasional, keamanan, dan kepentingan umum. Corak semacam ini terus bertahan sejak Orde Baru hingga sekarang.
Dalam cara berbeda, aktor politik hari-hari belakangan ini tak pernah alpa untuk mengingatkan kebutuhan Indonesia terhadap pemimpin kuat. Pemimpin kuat yang dipercaya bisa meletakkan fundamen pemerintahan yang stabil, jaminan keamanan, dan mampu merumuskan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi serta golongan. Sayang, asosiasi pemimpin kuat diterjemahkan dalam cara pongah. Pemimpin kuat, nahasnya, jarang dihubungkan dengan kemampuan mengatasi masalah KKN, perlindungan ekonomi rakyat, dan penegakan hukum. Pemimpin kuat adalah urusan tentara.
Cara pandang demikian memiliki kandungan analogi yang sama dalam cara Belanda melihat jajahannya. Mereka percaya telah membangun, namun sebenarnya menindas. Pembangunan terperangkap sebagai imajinasi akibat praktik hegemoni yang terus dipropagandakan. Dan praktik-praktik kekerasan dioptimalisasi sebagai medium pendukung untuk mengokohkan sendi-sendi stabilitas. Masyarakat tenang bukan karena kepuasan, tetapi akibat yang dimunculkan lewat ketakutan yang dahsyat.


Sekali waktu ada perlunya mengembangkan sisi empati negara terhadap apa yang dirasakan masyarakat Aceh, Papua, Maluku, Poso, Jawa, dan seluruh kawasan Indonesia. Ini bukan perkara sederhana karena akibat yang dimunculkan oleh kegagalan pembangunan amatlah besar. Separatis, salah satunya. Persis seperti ketika Indonesia dulu dituduh sebagai ekstremis-separatis oleh Belanda.
Gejala separatis, meski masih terbilang sporadis, jangan melulu dilihat melalui kacamata hitam. Separatis sering muncul sebagai fenomena manifes ketimbang laten. Perhatian pemerintah untuk mencari tahu motif tak terucap dalam setiap gejolak mutlak diperlukan. Dalam setiap reaksi, selalu ada aksi yang mendahului. Kondisi inilah yang harus digali.
Keadilan adalah soal pokok dalam bangun kenegaraan modern. Sejak Socrates merumuskan tujuan dasar negara yang berorientasi pada kebahagiaan dan berkembang sebagai kesejahteraan umum, keadilan senantiasa menjadi obyek pokok etika negara. Ketidakadilan yang tercermin dalam wujud ketidaksetaraan dapat terjadi di semua lini.


DALAM konteks budaya, misalnya, Indonesia masih dalam proses mencari identitas kebangsaan. Keragaman budaya membutuhkan ekuilibrium yang mampu mengakomodasi seluruh entitas budaya, tanpa ambisi satu pihak untuk mengeliminasi yang lain.
Pada sisi lain, eksploitasi kekayaan alam di satu kawasan demi memenuhi target-target pencapaian laba juga berpotensi memantik api kecemburuan dan kemarahan. Terlebih, bila pengelolaan sumber daya alam tak memerhatikan aspek-aspek lingkungan. Kejadian yang menimpa Teluk Buyat adalah karya manusia yang memadukan antara ketamakan, perselingkuhan elite politik dan pengusaha, serta keserakahan.
Sementara pada kota-kota besar, terutama Jakarta, telah berlangsung proses dehumanisasi pembangunan. Adalah benar bila gedung-gedung pencakar langit bertebaran di Jakarta. Tetapi, orientasinya lebih kepada membangun gedung-gedung mewah, membangun benda-benda mati, namun alpa membangun manusia. Pembangunan gedung-gedung yang mencolok mata itu kian tidak ramah kepada makhluk hidup. Karena itu, jangan terkejut bila bangunan sekolah begitu banyak, namun tawuran antarpelajar mudah dijumpai. Begitu pula dengan kemewahan yang kerap ditemui dalam bangunan mentereng di Jakarta, ternyata gagal menurunkan angka pengangguran dan kriminalitas yang meningkat tajam. Penggusuran pun kian giat dilakukan.
Seiring melesatnya angka pertumbuhan ekonomi di paruh pertengahan masa keemasan Orde Baru, stabilitas nasional diadopsi sebagai anak angkat pembangunan. Semua tuntutan yang menuturkan sikap berbeda lebih dianggap sebagai ancaman ketimbang kekayaan khazanah gagasan. Tak tersedia ruang cukup bagi kebebasan ekspresi sehingga hak menyatakan pendapat hanya tertulis rapi dalam konstitusi, tetapi tidak dalam kebijakan politik. Lantas, di mana kebebasan yang menjadi ruh kemerdekaan?


Di tahun ke-59 Indonesia merayakan kemerdekaan, dibutuhkan sebuah cara baru untuk memberi makna. Kemerdekaan adalah ruang kebebasan bagi rakyat. Maka sekali waktu, perlu bertanya tentang sejauh mana rakyat bisa meresapi arti pembangunan bagi dirinya. Bila ternyata rakyat menjawab tak ada pembangunan tetapi penindasan, maka sejatinya kemerdekaan itu tak pernah sungguh-sungguh ada. Yang ada cuma penjajah bernama baru: pemerintah. Mungkin benar, Belanda mewariskan begitu banyak pelajaran buat kita.
Agus Haryadi Peneliti, Kini Studi di RWTH Aachen, Jerman




At 05:13 PM 16/08/2004 +0700, Firman, Wahyudi wrote:
Apa benar Indonesia sudah merdeka?? Silahkan nurani anda menjawabnya........
-----Original Message-----
From: Ramadansyah Siregar (EHS) [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, August 16, 2004 4:19 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [AKA Bogor] Merdeka


Dear All


MERDEKAAAA

Best Regards,
Ramadansyah Siregar
Environment Health Safety Dept.<?xml:namespace prefix = o />
ISUZU
PT Pantja Motor - Assy Plant Pondok Ungu
Jln. Kaliabang No. 1 Pondok Ungu, Bekasi 17132, Indonesia
Phone :+62 (21) 8897 6628 Ex. 2101
Facsimile :+62 (21) 8897 6629
Email           : <mailto:>>[EMAIL PROTECTED]



---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/

Kirim email ke