Selingan dari kang Harry Roesly......


Potong Bebek, Masak di Koali (si)


Harry Roesli
[EMAIL PROTECTED]

AHMAD berutang lima juta rupiah kepada Bambang, dan janjinya minggu depan
utangnya segera
dilunasi. Tapi sudah satu tahun lebih Ahmad tak kunjung melunasi utangnya
pada Bambang.
Tentu saja Bambang-yang sudah beberapa kali menagih-menjadi agak kesal.
Bambang pun
menghubungi pengacara untuk segera memperkarakan Ahmad lewat jalur hukum.
Terjadilah
percakapan di bawah ini;

Pengacara: "Apakah Anda punya bukti bahwa Ahmad berutang kepada Anda?"

Bambang: "Wah saya tidak punya bukti!"

"Kuitansi bukti utang tidak ada?"

"Wah, tidak ada!"

"Atau bukti-bukti lain misal- nya?"

"Wah, tidak ada Pak, saya memberi utang atas dasar kepercayaan saja, tanpa
kuitansi tetek
bengek" begitu Bambang berkeluh kesah.

"Wah sulit ini!"

Sang pengacara pun sedikit berpikir, lalu dia berkata, "Begini saja, Anda
segera buat
surat untuk Ahmad yang isinya supaya dia mengembalikan utangnya yang sebesar
sepuluh juta
itu."

"Lho, utangnya cuman lima juta bukan sepuluh juta!"

"Iya saya tahu, tapi kalau Anda surati dia untuk mengembalikan utangnya yang
sepuluh
juta, tentu Ahmad segera bereaksi dan akan segera menulis surat balasan pada
Anda bahwa
utang dia cuma lima juta bukan sepuluh juta. Nah, surat balasan ini jadi
bukti buat Anda,
bahwa dia berutang lima juta rupiah pada Anda. Iya kan? Mengerti ?"

"Oh... yaaa!"

***

Cerita di atas saya dapatkan dari majalah sunda Cupumanik. Maksud saya
mengangkat cerita
tadi untuk mengetahui bisakah kita menjebak para anggota DPR-DPRD agar
mengakui utangnya
pada rakyat dengan cara seperti cerita di atas tadi?

Jawabnya pasti: "Tidak bisa!!"

"Lho, kenapa?"

"Mereka tidak punya utang!"

"Kenapa mereka tidak punya utang?"

"Sebab kalau kita berutang tentu saja kita harus berani berjanji, minimal
berjanji
melunasi utang tadi! Nah, mereka tidak berani berutang karena mereka tidak
pernah berani
berjanji!!"

Tidak pernah berani berjanji? Iya betul, buktinya mereka berkelit untuk
menandatangani
kontrak sosial yang disodorkan konstituennya. Menurut mereka daripada
berutang lebih baik
korupsi! Alasannya, kalau soal utang paling-paling kasusnya masuk acara
Buser, Patroli,
dan sebagainya. Tapi kalau korupsi, wah lebih "terhormat" karena bisa masuk
acara
talkshow yang eksklusif. Jadi mereka lebih memilih korupsi daripada berutang
karena lebih
terasa "mahal" dan tidak perlu berjanji!

Bicara soal janji, sebagian anggota DPR-DPRD ini memang merasa risih untuk
berjanji. Anda
tahu kenapa? Anda tidak tahu? Karena sebagian mereka ini ijazahnya "nggak
janji" alias
palsu. Bagaimana bisa ijazah "nggak janji" mau berjanji, makanya mereka
bersumpah (dalam
hati): "Sebagai anggota DPR-DPRD saya berjanji untuk... tidak berjan- ji!!"

Bicara soal janji, bagaimana orang-orang terhormat ini mau berjanji kalau
mereka tidak
percaya pada janji! Maksudnya? Begini, kenapa harus percaya pada janji,
kalau mereka yang
sudah jadi tersangka korupsi pun masih bisa tetap diangkat menjadi anggota
DPR- DPRD,
padahal saat disumpah mereka berjanji untuk tidak korup! Jadi buat apa
percaya pada
janji, iya kan?

Bicara soal janji, semasa kampanye legislatif dulu mereka berjanji untuk
melakukan
perubahan, karena menurut mereka Megawati sudah gagal! Tapi, sekarang mereka
malahan
berjanji untuk memenangkan Megawati (yang katanya dulu gagal) untuk jadi
presiden lagi.
Mereka berjanji!! Maksudnya janji... ni... ye!

***

Janji!! Mungkin benar kata-kata dari Alexander Agung bahwa janji itu
pekerjaan hati.
Misalnya kita berjanji untuk tidak mengonsumsi narkoba lagi, awalnya hati
yang bicara dan
memerintah otak. Tanpa keteguhan hati, digoda sedikit kita akan kembali
menjadi narkobais
lagi.

Kita berjanji untuk tidak lagi malas-malasan belajar. Hati kita pun
merangsang otak untuk
bermotivasi benar-benar belajar, karena kasihan orangtua yang membiayai kita
seratus juta
rupiah untuk masuk fakultas kedokteran! Hati kita yang bicara seperti itu,
bukan otak!

Kita berjanji untuk hidup lurus, itu adalah sebuah komitmen hati, bukan
mulut, bukan
mata, bukan lain-lainnya, makanya Aa Gym selalu bernyanyi "Jagalah Hati".
Kalau Anda
tidak percaya kepada saya, percayalah kepada Aa Gym soal hati itu, masa Aa
Gym bohong!

Celakanya lagu Aa Gym "Jagalah Hati" itu oleh beberapa-yang konon
disebut-elite politik
diinterpretasikan dengan menambah satu huruf "L" lagi, menjadi "jagallah
hati". Maka
beramai-ramailah mereka menjagal hati mereka sehingga tanpa hati, mereka
merasa shahih
untuk tidak memenuhi janji.

Itulah sebabnya banyak politisi sekarang yang kebal terhadap penyakit
hepatitis. Kenapa?
Karena mereka tidak punya hati, jadi mau ke mana virus hepatitis menyerang?!

***

Begitulah cerita orang-orang tanpa hati yang saat ini lantang sekali
menyanyikan lagu
"Potong Bebek": "Potong bebek angsa masak di koali...si! (Rakyat itu ibarat
bebek/angsa
yang dengan mudahnya mereka "potong-potong" dan dipanggang di panggung
koalisi) /Nona
minta dansa, dansa empat kali! (Memang ada tiga partai status quo dan satu
partai baru
anaknya status quo yang jadi motor koalisi, dan jumlahnya empat dan mereka
berdansa)/
Sorong ke kiri, sorong ke kanan (Konstituen mereka pun menjadi pusing
disorong ke kiri,
disorong ke kanan, sepertinya konstituen ini sekadar nomor yang tidak punya
harkat dan
hasrat apa pun)/ Tralalalala (Dan di tengah represifitas mereka terhadap
konstituennya,
para elite ini bernyanyi riang: tralalalalala)"

Tra la la la la la la la la la la

Potong bebek...ah sudah ya!



                
_______________________________


---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/

Kirim email ke