Siapa yang sebenarnya salah...?
 
http://jkt1.detiknews.com/indexfr.php?url=http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/11/tgl/19/time/165417/idnews/241295/idkana
l/10

Logika Berhenti Grak!

Reporter: Eddi Santosa
detikcom - Den Haag, "Balik kanan maju jalan!" Barisan pun
serentak mengikuti perintah. "Berhenti, grak!" Barisan pun
seketika langsung berhenti. Di tol Jagorawi? "Berhenti,
grak!" Nyawa bergelimpangan.

Ini perintah. Presiden mau lewat. Semua kendaraan harus
berhenti. Kerjakan.

Aparat di lapangan pun dengan tegap dada membusung,
memerintahkan semua kendaraan berhenti. "Berhenti, grak!,"
Semua kendaraan di jalan tol Jagowari dihentikan mendadak.
Dan... brak! Jagorawi bersimbah darah.

Bukan derap langkah sepatu kompak berhenti sesuai
perintah, tapi benturan hebat logam keras, mobil-mobil
ringsek, jerit kesakitan melolong menembus langit,
nyawa-nyawa bergelimpangan. Berhenti grak! Hidup mereka
terampas hari itu, demi presiden lewat.

Karena presiden tak boleh cacat citra, maka buru-buru
lidah yang ujungnya bercabang pun dijulurkan. Dengan suara
mendesis dikatakan, "Sopir bus Garuda ngantuk. Penghentian
sudah sesuai protap," Sis, sis, sisss.... Lidah itu terus
menjulur dan mendesis. Lalu sopir-sopir, rakyat pengguna
jalan ditangkapi. Berhenti grak!. Lebaranmu, keceriaan
anak-istri-sanak-familimu, hari esokmu, stop sampai di
sini.

Berhenti grak!. Pokoknya berhenti. Ini protap. Kecerdasan
pun ikut berhenti. Kemampuan analisis apakah protap sesuai
dengan kondisi lapangan juga ikut berhenti. Berhenti
grak!. Semua harus berhenti. Siapa tidak berhenti, dia
bersalah karena melanggar perintah.

Bahkan otak yang tetap bergerak dan bekerja juga salah.
Kecerdasan berhitung bahwa mobil di jalan tol dengan laju
kecepatan 80km/jam itu sama dengan 22,2m/detik, sehingga
untuk 'berhenti grak! pada jarak pandang 100m pengemudinya
hanya punya kesempatan bereaksi 4 detik.

Dua detik untuk analisa obyek (mobil) di depan, bereaksi,
mengambil keputusan, dan bertindak menginjak rem. Jika dua
detik ini terpakai, maka detik berikutnya jarak mobil
dengan mobil di depannya sudah sekitar 50 meter. Ketika
rem diinjak, dengan kecepatan 22,2m/detik dengan jarak
sisa cuma 50m, maka dapat dibayangkan apa yang terjadi.
Bagaimana pula dengan mobil yang melaju dengan kecepatan
di atas 80 km/jam dengan penghentian mendadak seperti itu?
Skenarionya lebih mengerikan jika memperhitungkan momentum
(tergantung besar kecilnya fisik mobil), kondisi jalan
aspalnya tidak bersih tapi berkerikil atau permukaannya
berpasir, kondisi ban, dst.

Berhenti grak!. Ini protap. Laju mobil-mobil di jalan tol,
jika diperintah, ya harus patuh berhenti. Sak jeg sak nyet
(seketika diperintah, seketika harus dipatuhi). Kecepatan
harus tunduk pada protap, tidak boleh tunduk pada hukum
fisika. Polisi tidak salah dan presiden juga tidak boleh
dipandang salah, apalagi sebagai penyebab kematian.
Pertanyaan siapa bersalah siapa bertanggung jawab tidak
boleh mengarah ke polisi atau presiden.

Berhenti grak!. Akal sehat harus berhenti sampai di sini.
Apakah akal Presiden Doktor Jenderal SBY juga telah ikut
berhenti? Jawabannya janda, orangtua, anak-anak para
korban tewas dan korban ditangkap polisi kini menanti.
(es)


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Meet the all-new My Yahoo! � Try it today! 

Kirim email ke