----- Forwarded by Muslich Riza/BSFM on 05/01/2005 11:54 -----
|--------+----------------------->
| | "Agus |
| | Partono" |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | .com> |
| | |
| | 05/01/2005 |
| | 03:26 |
| | Please |
| | respond to |
| | kota-bogor |
| | |
|--------+----------------------->
>--------------------------------------------------------|
| |
| To: [EMAIL PROTECTED] |
| cc: (bcc: Muslich Riza/BSFM) |
| Subject: [kota-bogor] Bang Aku Tak Sanggup |
| Lagi |
>--------------------------------------------------------|
"Bang Aku Tak Sanggup Lagi"
UPAYA Rafidaf (38) untuk menyelamatkan istri Nadia Balkis (32) dan
putrinya Dafa (4,5) gagal. Keduanya terlepas dari gendongan Rapidah
saat bah tsunami itu menggulung keluarga nya.
Kami sudah mengendong keduanya dan berhasil lari sampai sekitar 500 m.
Tapi air itu mengejar kami terus dan kemudian menerjang kami tanpa
ampun, ujar Karyawan Bank Rakyat Indonesia Unit KH A Dahlan Banda Aceh
ini mengawali kisahnya bisa keluar dan selamat dari gulungan ombak
tsunami.
Kedua orang yang disayangi ini tidak berdaya ketika melihat tsunami
yang bakal menerjang keluarga mereka. Saat itu saya sedang nyapu. Saya
dengar orang pada teriak air air. Ombak besar telah terlihat jelas.
Istri sudah gemetar dan lemas. Anak yang kecil saya gendong di tangan
kiri dan istri saya papah setengah terseret di tangan kanan. Kami
berlari menghindari air, tutur pria Aceh kelahiran Sumatra Utara ini.
Setelah keluarga ini berhasil lari sekitar 500 meter, ombak menerjang
dan memisahkan mereka. Istri baru dapat sekitar 100 meter sudah minta
di tinggal saja. Dia ngomong, bang aku tak sanggup lagi. Abang lari
saja sama anak kita. Tapi aku masih terus berusaha memapahnya sambil
lari. Anak saya menyengkeram leher saya. Nafas seperti sudah mau
habis, tapi ombak masih terus mengejar, katanya.
Setelah ombak menerjang mereka dari belakang, Rafidaf tak tahu lagi
bagaimana nasib anak dan istrinya. Keduanya terlepas dari
rengkuhannya. Semuanya menjadi gelap. Rafidaf sendiri tergulung gulung
ombang bersama lumpur dan kayu kayu. Tubuhnya terhempas ketembok, kayu
dan timbul tenggelam di tengah ombak tsunami.
Saya terseret ombak dari Punge Jurung sampai Kampung Baru. Sekitar 1,5
kilometer. Saya melingkarkan tubuh seperti bayi di dalam kandungan.
Melindungi dada saya. Dihempas ke tembok, terlempar ke atas dan timbul
tenggelam, Sudah pokoknya gak tau lagi kayak apa. Saya tidak menyangka
masih bisa hidup, ujarnya
Rafidaf masih bersyukur. Dalam keadaan terombang ambing dan diseret
ombak, ia masih bisa sadar dan selalu menyebut nama Allah. Yang ia
ingat dan sebut hanya nama Allah. Istri dan anaknya tidak dipikirkan
lagi. Ia merasa pasrah tak dapat berbuat apa apa lagi buat mereka
berdua.
Detik detik antara hidup dan mati di alami Rafidaf ketika ia terkurung
di terbawa obak ke sebuah rumah bertingkat dua. Lantai satu dan dua
terendam air semua. Ia terkurung di bawah plafon rumah. Hampir tidak
ada lagi tempat ia bernafas, karena airnya hampir menyentuh plafon.
Dan ia juga tidak tahu harus jalan keluarnya kemana.
Kadang airnya menyentuh plafon kadang tidak. Itukan berombak. Saya
cuman bisa meraba raba plafon. Bila ada kesempatan saya bernafas.
Kalau pas airnya menyentuh plafon saya tahan nafas, kantanya.
Setelah bertahan beberapa saat dalam kondisi seperti itu, Rafidaf
melihat secercah cahaya Gelombang itukan timbul tenggelam. Naik turun.
Nah saat turun itu ada cahaya masuk. Saya jadi tahu arah saya harus
berenang kemana. Saya nyelem menuju arah cahaya. Pas saya keluar dapat
resplang. Saya pegangan terus naik ke atap rumah. Saya bisa istirahat
di bumbungan rumah, ceritanya.
Dalam posisi seperti ini Rafidaf sudah bisa menghirup udara leluasa.
Tidak terombang ambing ombak. Namun hatinya kembali cemas. Rumah yang
ia naiki setiap saat bergoyang goyang. Ia khawatir roboh. Saat itu
beberapa kali terjadi gempa. Jadi rumahnya goyanggyang, katanya.
Hampir dua jam Rafidaf bertahan ia di atas bumbungan rumah. Setelah
airnya surut ia turun dan mencari istrinya. Menurut penuturan Rafidaf,
saat itu air masih setinggi dada. Ia mencar cari jalan anak dan
istrinya sampai sekitar empat jam dan menemukan istrinya di tempat
mereka berpisah. Saya tidak merasakan ada luka luka ditubuh saya,
katanya.
Rafidaf baru merasakan tubuhnya penuh luka setelah istrinya ditemukan
tak bernyawa. Rafidaf mengalami luka luka lecet di sekujur tubuhya
Namun untuk dada dan muka tidak terkena luka. Yang paling parah adalah
kaki, punggung dan lengan tangan. Luka di kaki yang di rasa paling
parah. Sementara yang lain sudah mulai mengering.
Anaknya, Dafa sampai sekarang belum ditemukannya. Ia juga baru
menyadari bahwa anaknya laki lakinya Askar (9) sudah terpisah sejak
awal. Ia tidak tahu kemana anaknya lari ketika anak air bah tersebut.
Tapi sekarang bisa menghiburku. Ternyata dia lari lebih cepat ke
tempat yang lebih aman. Ia selamat. Dia bisa lari dari rumah lebih
dari 2 Km. Dia tidak mengalami luka apa apa. Hanya merasakan kakinya
sakit karena lari terus tuturnya. *JBP/sugiyarto
www.serambinews.com
Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang pernah
tinggal di Bogor.
Jika ingin keluar dari milis ini, harap kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kota-bogor/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/