Assalamu'alaikum
Penting untuk diketahui

Muhammad Irwan :

Tidak Semua Pasien DBD Mengalami Gejala Bercak Merah!

Banyaknya dokter yang salah mendiagnosis pasien DBD juga disebabkan ketika 
memeriksa pasien, sering kali dokter mencari-cari bercak merah di sekujur tubuh 
pasien. 

Jika tidak ada bercak, pasien belum dinyatakan terkena DBD. 

Padahal tidak semua pasien DBD mengalami gejala bercak-bercak merah pada 
tubuhnya. Bahkan ada pasien DBD yang tidak mengalami panas tinggi.

Menurut "Info Penyakit Menular" yang dikeluarkan Departemen Kesehatan, 
ruam berupa bercak merah tidak selalu muncul pada hari pertama pasien 
mengalami panas tinggi. Bercak merah bisa muncul pada hari keempat sakit berupa 
bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit 
campak. Kadang-kadang bercak merah hanya muncul pada daerah tangan atau 
kaki saja. Sementara pada awal panas, ruam yang muncul bisa berupa flushing 
(kemerahan pada muka, leher, dan dada).  

Selain itu, kelengahan atau kecenderungan orangtua menganggap remeh gejala 
awal penyakit biasanya menjadi sebab terjadinya hal buruk bagi penderita 
DBD.

Kesalahan orang tua adalah selalu berusaha menyangkal kepada diri sendiri 
apabila muncul gejala-gejala demam pada anak atau diri mereka. Mereka 
selalu mengaggap atau berharap ini flu biasa sampai kemudian muncul gejala 
yang lebih hebat.

Padahal -meski ada beberapa kasus penyimpangan-  bila si anak atau si 
orang tua itu sendiri terkena gejala seperti panas yang tak kunjung turun 
selama tiga hari dan kemudian 
mendingin pada hari ke 4 dan 5 itu sudah dapat dipastikan gejala demam 
berdarah.

Apalagi kalau si anak tiba-tiba mengalami menggigil hebat, sekali atau 
beberapa kali, ia sudah dipastikan positif DBD.

Kurangnya pengetahuan orang tua mau pun penyangkalan diri ini  memang 
menghinggapi hampir semua orang tua. Gejala kasat mata yang patut dicurigai 
adalah bila anak selalu merasa 
lemas, mengantuk dan tidur sepanjang hari; tidak mau makan dan minum; 
gelisah; nyeri abdominal akut dan hebat; atau tidak buang air kecil selama 
4 hingga 6 jam.

Kalau gejala-gejala seperti itu terlihat pada anak, lebih baik kita 
bersikap paranoid. Kita jangan mengambil risiko dan langsung membawa anak 
tersebut  ke rumah sakit untuk mendapat tindakan medis.

Namun sikap emergency atau dalam keadaan darurat ini jangan hanya pada orang 
tua atau keluarga 
si penderita sakit. Kalangan medis atau pun pemerintah juga harus bersikap 
dan bertindak darurat.

Bila pada keadaan biasa demam dapat ditengarai sebagai gejala  tiphus atau 
flu biasa atau yang lainnya, dalam situasi KLB lebih baik bila itu 
pertama-tama hal itu dianggap sebagai gejala awal DBD.  Apabila kemudian 
salah,  baru dilihat kemungkinan penyakit lain.

Sebaiknya para dokter juga jangan terbawa prinsip untuk menenangkan orang 
tua terlebih dulu dengan mengatakan gejala yang terlihat bukanlah DBD. 
Padahal itu butuh  penelitian yang seksama.

MEWASPADAI GEJALA DBD 

Panas tinggi mendadak, 2-7 hari, umumnya tanpa batuk pilek. Atasi dengan 
obat penurun panas. 
Wajah kemerahan, lesu, tidur terus, tidak mau main, tidak mau makan dan 
minum. Bila anak kekurangan cairan (muntah terus, tidak kencing setiap 4-6 
jam) perlu diinfus. 
Panas hari pertama dan kedua sudah boleh cek ke laboratorium, tetapi perlu 
diulang bila panas berlanjut. 
Panas hari ketiga penurunan trombosit bisa dideteksi. Kalau normal 
150.000-400.000/ul darah, hari ketiga turun jadi 100.000-150.000/ul, hari 
keempat 50.000-100.000/ul hari kelima kurang dari 50.000/ul atau jumlah 
trombosit terendah. Berikan transfusi darah bila perlu. 
Kadar hematokrit penanda kebocoran pembuluh darah, terus meningkat dan 
puncaknya pada hari kelima. Jumlah hematokrit normal tergantung umur, 
janis kelamin, dan berat badan. 
Bila kaki dan tangan dingin, tanda terjadi shock, atasi dengan infus atau minum 
sebanyak-banyaknya. 
Masa kritis berlangsung 24-28 jam. 
Hari keenam jumlah trombosit meningkat dan kembali normal pada hari 
kedelapan. Hematokrit juga berangsur turun dan normal kembali pada hari 
yang sama. (sumber:  Kompas)

Oleskan Minyak Sereh

Untuk pencegahan anak terhinggapi penyakit ini, orang tua disarankan 
bersikap sedikit berlebihan. 

Kalau dilihat dari siklus aktifnya, nyamuk Aedes Aegypti biasa "berdinas" 
pada pukul 9-12 pagi dan 2-5 sore.

Terutama pada pagi hari dan di sekolah mereka selalu menyerang bagian betis, 
telinga mau pun bagian leher anak-anak.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya anak-anak mengenakan stocking bila ke 
sekolah,karena betis memang sasaran yang menyenangkan buat 
nyamuk."

Sementara untuk "menjaga" serangan nyamuk  terhadap daerah telinga mau pun 
leher disarankan untuk mengoleskan lotion atau pun minyak sereh murni yang 
mudah didapat di toko kimia atau minyak 
kayu putih. 

Nyamuk Aedes Aegypti betina memang membutuhkan banyak darah untuk membantu 
proses bertelur. 
Kalau gigitannya hanya sekali, mungkin antibodi kita masih bisa mengatasi. 
Namun yang berbahaya adalah apabila gigitan tersebut terjadi 
berulang-ulang. (zrp

Kirim email ke