Dh,




Wassalam

[EMAIL PROTECTED]
Supriyanto CQA-CRD  Laboratory
Jl. Ancol  I No. 4 - 5 Ancol Barat Jakarta Utara 14430
021-6909432 Ext. 316
----- Forwarded by Supray_to/JKT/INDOFOOD on 02/22/2005 01:01 PM -----
                                                                                
                           
                      "Info                                                     
                           
                      alsofwah.or.id"          To:       <[EMAIL PROTECTED]>    
               
                      <[EMAIL PROTECTED]        cc:                             
                            
                      or.id>                   Subject:  [syiar-alsofwah] Ada 
Apa Dengan Bulan Muharram..? 
                                                                                
                           
                      02/21/2005 01:45                                          
                           
                      PM                                                        
                           
                                                                                
                           
                                                                                
                           




Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Semoga Netters Syiar al-Sofwa senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala

Ada Apa Dengan Bulan Muharram..?
oleh : Ammu Khansa'
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=indexanalisa&id=250&section=an017

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta'ala, kami memuji-Nya, mohon
pertolongan-Nya dan minta ampunan-Nya, kamipun berlindung kepada-Nya dari
kejelekan diri dan keburukan amal kami.

Barangsiapa yang Allah Subhaanahu wa Ta'ala berikan petunjuk kepadanya,
niscaya tak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang
telah Allah Subhaanahu wa Ta'ala sesatkan, niscaya tak akan ada seorangpun
yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Dan saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak untuk disembah melainkan
Allah Subhaanahu wa Ta'ala semata tiada sekutu bagi-Nya, dan saya berkasi
bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya Dan saya bersaksi bahwa
tiada ilaah yang berhak untuk disembah melainkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala
semata tiada sekutu bagi-Nya, dan saya berkasi bahwa Muhammad adalah
seorang hamba dan utusan-Nya. Dan saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang
berhak untuk disembah melainkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala semata tiada
sekutu bagi-Nya, dan saya berkasi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan
utusan-Nya.

Selanjutnya, pada dasarnya adanya pergantian malam dan siang, bulan serta
tahun terdapat hikmah dan pelajaran yang agung bagi setiap orang yang mau
berfikir. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya:
"Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan."
(QS. an-Nur: 44)

Oleh karenanya sudah merupakan keharusan bagi setiap muslim agar dia
senantiasa interopeksi diri setiap saat dan setiap waktu sehingga dia tetap
bisa istiqamah dan terjaga dalam beragama atas dasar pemahaman yang benar
dan lurus dan tidak salah sangka terhadap dirinya dengan mengganggap telah
berbuat sebaik-baiknya padahal tidak demikian. Allah Subhaanahu wa Ta'ala
berfirman, artinya: "Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya
dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat
sebaik-baiknya. " (QS al-Kahfi: 104).

Demikian halnya, manakala datang tahun baru hijriyah, yaitu bulan
al-Muharram, pada bulan ini kita telah berpisah dengan tahun sebelumnya dan
akan menyambut tahun yang akan datang, tahun yang baru, maka apakah yang
telah kita tinggalkan dari sekian amal perbuatan untuk tahun kemarin? Dan
dengan apa kita akan menyambut tahun yang baru ini?? Apakah bulan ini
memiliki keistimewaan dan keutamaan tersendiri? apakah ada amalan yang
harus dilakukan oleh setiap muslim pada bulan tersebut sebagai upaya untuk
menghidupkan as-Sunnah dan upaya untuk memperoleh pahala serta kebaikan
bagi orang yang mengajak kepada tujuan agama.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang mengajak
kepada suatu petunjuk maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang
yang mengikutinya dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari pahala mereka."
(HR. Muslim)
Keutamaan Bulan Muharram



Pada asalnya hari dan bulan memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah
Subhaanahu wa Ta'ala, kecuali yang diistimewakan dari hari dan bulan
selainnya berdarkan dalil baik dari al-Qur'an dan as-Sunnah.

Dan termasuk bulan yang mulia di antara bulan-bulan yang ada adalah bulan
Muharram. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala, artinya:
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya
empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah
menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin
semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertaqwa." (QS. at-Taubah: 36)

Dan di dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda: "....Di adalam satu
tahun ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan yang mulia,
tiga di antaranya berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan
Rajab yang berada di antara bulan Jumada dan Sya'ban." (HR. al-Bukhari, no.
2958 dari Abu Bakrah).

Dari ayat dan hadits di atas telah menunjukkan kemuliaan bulan tersebut di
sisi Allah Subhaanahu wa Ta'ala dan menemaan Muharram merupakan penguat
atas keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Dan di antara keutamaan yang terkandung di bulan Muharram adalah sebagai
berikut:

  a.. Dosa yang dilakukan pada bulan-bulan yang dimulyakan tersebut lebih
dahsyat dari bulan-bulan selainnya. Dan begitu juga sebaliknya bahwa pahala
amal shalih begitu besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Allah Subhaanahu
wa Ta'ala berfirman, artinya: "Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian
di dalamnya -bulan-bulan tersebut-(QS. at-Taubah: 36)
  Berkata Ibnu Katsir: "Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun
kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah
menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemulyaaannya,
dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan
amal shalih pahalanya begitu besar."

  b.. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya
berpuasa pada tanggal 10 Muharram (puasa 'Asyura).
  Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa yang paling
utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram." (HR.
Muslim) dan di dalam hadits yang lain beliau juga bersabda, "Puasa 'Asyura
menghapus kesalahan setahun yang telah lalu." (HR. Muslim).
  Ibnu Abbas berkata. "Tidaklah aku melihat Rasulullah lebih menjaga puasa
pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu
'Asyura." (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).

  c.. Pada hari 'Asyura merupakan hari-hari Allah, yang pada hari itu
al-haq mendapatkan kemenangan atas kebatilan. Orang-orang mukmin yang
sedikit mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir yang banyak. Pada
hari itu pula Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihis salam dan kaumnya dari
kerajaan Fir'aun, sehingga nabi Musa berpuasa sebagai wujud rasa syukur
kepada Allah Ta'ala.Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, dia berkata;
"Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang di Madinah, beliau
melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari 'Asyura, kemudian
beliau bertanya: "Hai apa ini?" mereka menjawab: "Ini adalah hari yang
baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka
berpuasalah nabi Musa 'alaihis salam". Beliau bersabda: "Aku lebih berhak
terhadap musa daripada kalian, kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan
memerintahkan -para shahabat- agar berpuasa pada hari itu."
Amalan Yang Dianjurkan

Bertolak dari keutamaan yang terkandung di dalam bulan Muharram, maka ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kaum Muslimin dalam menyambut
bulan yang mulia ini.

Dan diantara amalan yang dianjurkan dalam bulan Muharram adalah sebagai
berikut:

  a.. Tidak berbuat dzalim pada bulan ini, baik yang kecil maupun yang
besar.
  Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, ".maka janganlah menganiaya diri
dalam bulan yang empat itu."(QS. at-Taubah: 36)
  Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Takutlah kalian
terhadap kedhaliman, karena sesungguhnya kedhaliman itu merupakan
kegelapan-kegelapan pada hari kiamat." (HR. Muslim dan lainnya)
  Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Tidak ada dari satu dosapun yang
lebih pantas untuk dicepatkan siksanya dari pelaku dosa itu baik di dunia
maupun di akhirat daripada melewati batas (kedhaliman) dan memutus
silaturrahim." (ash-Shahihah, no. 915)

  b.. Berpuasa 'Asyura.
  Puasa pada hari 'Asyura sudah dikenal sejak zaman jahiliyah sebelum
diutusnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh
'Aisyah, "Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu berpuasa pada hari
itu." al-Qurthubi berkata, "Kemungkinan kaum Quraisy menyandarkan amalan
puasa mereka kepada syari'at orang-orang sebelum mereka, seperti syari'at
Nabi Ibrahim.

  Demikian pula saat di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah, beliau
Shallallaahu berpuasa pada hari tersebut. Dan ketika beliau hijrah ke
Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi merayakannya beliaupun bertanya
kepada mereka tentang sebabnya, kemudian mereka menjawab sebagaimana yang
tersebut di dalam hadits, "Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah
menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah Musa 'alaihis
salam." (HR. al-Bukhari, no. 1865.

  Oleh karenanya beliau memerintahkan para sahabat untuk menyelisihi
mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu
Musa al-Asy'ari, bahwa Nabi bersabda, ".......Berpuasalah kalian pada hari
tersebut."(HR. al-Bukhari dan Muslim)

  Diperintahkannya puasa 'Asyura karena didalamnya terkandung sekian
keutamaan, sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa sallam, "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa
du bulan Allah al-Muharram." (HR. Muslim, no. 1982)

  Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa beliau ditanya tentang puasa di
hari 'Asyura, maka beliau menjawab, "Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa
kecil) pada tahun kemarin." (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi dan
Abdur Razaq)

  Imam an-Nawawiy berkata, "Puasa hari 'Asyura dapat menghapuskan seluruh
dosa-dosa kecil selain dosa-dosa besar dan sebagai kafarrah dosa satu
tahun." (al-Majmu' Syarh al-Muhadzab, juz. 6)
  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Dihapuskan dosa-dosa dengan
thaharah, shalat, puasa di bulan Ramadhan, puasa hari 'Arafah, dan puasa
hari 'Asyura, semuanya untuk dosa-dosa yang kecil."(Lihat. Al-Fatawa
al-Kubra, juz. 5)
  Ibnu Abbas berkata, "Tidak pernah aku melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi
wa sallam begitu bersemangat perpuasa di hari yang beliau utamakan
dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini, yakni hari 'Asyura, dan bulan
ini, yakni bulan Ramadhan." (HR. al-Bukhari, no. 1867)

  c.. Disukai puasa 'Asyura (10 Muharram) disertai dengan Tasu'a (9
Muharram) untuk menyelisi orang-orang Yahudi dan Nashrani.
  Ibnu Abbas berkata, "Ketika Rasulullah berpuasa pada hari 'Asyura dan
memerintahkan para shahabat untuk berpuasa, mereka berkata: "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi
dan Nashrani, maka Rasulullah bersabda, "Maka apabila datang tahun depan
insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan." Ibnu Abbas berkata,
"Tidaklah datang tahun berikutnya sampai Rasulullah wafat."(HR. Muslim, no.
1916)
Berkaitan dengan puasa 'Asyura secara khusus, maka ada beberapa cara dalam
pelaksanaannya, di antaranya:

1. Berpuasa selama tiga hari, 9, 10 dan 11 Muharram.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas, "Selisihilah orang Yahudi dan
berpuasalah sehari sebelum dan sehari setelahnya."
Ibnu Hajar di dalam Fath al-Baari, 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara
ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut adalah
Imam asy-Syaukani (Nail al-Authar, 4/245)

Namun maryolitas ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan
untuk lebih hati-hati. Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qudamah di dalam
al-Mughni dari pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini pada saat
timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Maryolitas hadits menunjukkan cara seperti ini, sebagaimana yang telah
tersampaikan di atas.

3. Berpuasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharram.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas, "Selisihilah orang Yahudi dan
berpuasalah sehari sebelum atau sehari setelahnya." (Hadits shahih secara
mauquf sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma'tsurah, asy-Syafi'i, no. 338 dan
Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar, 1/218).

Ibnu Rajab berkata, "Dalam sebagian riwayat disebutakan "atau sesudahnya",
maka kata "atau" di sini mungkin merupakan keraguan rawi atau memang
menunjukkan kebolehan..."(Lihat, Lathaiful Ma'arif, hal. 49)

ar-Rafi' berkata, "Berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada tanggal
9 maka dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram." (Lihat,
at-Talhish al-Habir, 2/213)

4. Berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.
al-Hafidz berkata, " Puasa 'Asyura mempunyai tiga tingkatan, yang terendah
berpuasa sehari saja, tingkatan di atasnya ditambah puasa tanggal 9 dan
tingkatan berikutnya ditambah puasa tanggal 9 dan 11 Muharram. Wallahu
a'lam.

Perkara Yang menyelisihi as-Sunnah

Adapun amalan-amalan yang menyelisihi as-Sunnah dan banyak dilakukan oleh
kaum Muslimin dalam rangka menghormati dan memuliayakan bulan Muharram
sangatlah banyak dan beragam. Dan berikut akan kami sebutkan dengan maksud
kita dapat berhati-hati sehingga tidak terjerumus kepada amalan ibadah yang
sia-sia dikarenakan tidak didasarkan kepada dalil yang kuat dan contoh
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabat beliau.

A. 'Asyura Menurut Syi'ah
Tanggal 10 Muharram 61 H, adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah al-Husain
bin Ali di padang Karbala.

Syi'ah menjadikan hari 'Asyura sebagai hari bergabung, duka cita, dan
menyiksa diri sebagai ungkapan kesedihan dan penyesalan. Pada hari itu
mereka memperingati kematian al-Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan
yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi al-Husen secara
histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di
jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai
besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya.
(at-Tasyayyu' wasy Syi'ah, Ahmad al-Kisrawiy asy-Syi'iy, hal. 141. Tahqiq
Dr. Nasyir al-Qifariy)

B. 'Asyura Menurut Maryolitas Kaum Muslimin.
Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas,
kebanyakan kaum Muslimin menjadikan hari 'Asyura sebagai hari raya, pesta
dan serba ria.

Dan di antara amalan-amalan yang menyelisihi sunnah yang dilakukan oleh
mereka adalah:

  a.. Shalat dan dzikir-dzikir khusus, yang disebut dengan shalat
'Asyura.Mereka beralasan dengan hadits palsu, seperti yang disebutkan oleh
as-Suyuthi di dalam al-La'ali al-Mashnu'ah. (as-Sunan wal Mubtada'at, hal.
134)

  b.. Mandi Janabah, bercelak, memakai minyak rambut dan mewarnai kuku dan
menyemir rambut. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan
atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.Mereka beralasan dengan
hadits palsu, "Barangsiapa yang memakai celak pada hari 'Asyura, maka ia
tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada
hari 'Asyura, ia tidak akan sakit selama tahun itu." (Hadits ini palsu
menurut as-Sakhawi, Mula Ali Qari dan al-Hakim, lihat al-Ibda', hal.
150-151)

  c.. Membuat makanan khusus/istimewa, seperti membuat bubur syura yang
terdapat di Sumatera Barat.

  d.. Do'a awal dan akhir tahun yang di baca pada malam akhir tahun. Mereka
beranggapan dan berkeyakinan bahwa siapa yang membaca do'a 'Asyura tidak
akan meninggal pada tahun tersebut. (as-Sunan wal Mubtada'at, Muhammad
asy-Syukairi, hal. 134)

  e.. Menentukan berinfaq dan memberi makan orang-orang miskin. Dan yang
demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan
dilakukan pada hari tersebut.

  f.. Memberikan uang belanja yang lebih kepada keluarga. Dan yang demikian
jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada
hari tersebut.Mereka beralasan dengan hadits lemah, "Barangsiapa yang
meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari 'Asyura, maka Allah akan
melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR. ath-Thabrani, al-Baihaqi
dan Ibnu Abdil Bar)

  g.. Setelah mandi janabat berziarah ke makam orang alim, menengok orang
sakit, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali. Karena perbuatan
tersebut di atas diperintahkan oleh syari'at setiap saat, dan adapun
mengususkannya pada hari 10 Muharram tidak berdasar sama sekali.
C. 'Asyura Menurut Tradisi dan Kultur Kejawen
Bulan Suro menurut istilah mereka, banyak diwarnai orang Jawa dengan
berbagai mitos dan khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah
bulan keramat yang tidak boleh di buat main-main dan bersenang-senang
seperti hajatan pernikahan, dan jenis hajatan yang lainnya.

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh mereka
di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi'ah animesme, dinamisme
dan Arab Jahiliyah. Dulu, orang Quraisy Jahiliyah pada setiap 'Asyura
selalu mengganti Kiswah Ka'bah (kain pembungkus Ka'bah)(Lihat, Fath
al-Baari, 4/246). Kini orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus pada
bulan Suro juga.

Walhasil, pada dasarnya di dalam Islam, 'Asyura tidak di isi dengan
kesedihan dan penyiksaan diri, tidak di isi dengan pesta dan berhias diri
dan juga tidak di isi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang
dianggap suci untuk tolak bala' bahkan tidak di isi dengan
berkumpul-kumpul.

Khatimah



Demikian pembahasan singkat yang dapat kami sampaikan. Semoga kita dapat
memuliakan dan mengagungkan bulan Muharram tersebut sebagaimana Allah telah
memuliakannya dengan cara mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya, bukan
dengan cara-cara yang tidak ada asal-usulnya dari syari'at sama sekali.

Dan akhirnya semoga pembahasan ini bermanfa't bagi kita semua. Wallahu
'alamu bish shawab.

Dirujuk dari kitab Puasa Sunnah, hukum dan keutamaannya, cet. Darul Haq,
hal. 41-58; Majalah as-Sunnah, 03/V/1421H-2001M dan Buletin an-Nur, edisi
231, tahun 1421 H.

Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran adalah
kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah
dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum
mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin

Waassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810
Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
e-mail: info @alsofwah.or.id
website: www.alsofwah.or.id
Rekening Donasi : Bank Muamalat Indonesia - Cabang Fatmawati
No.Rek. 304. 001.8515
an. SIWAKZ - Yayasan Al-Sofwa (isi berita : Website)
Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat
mencantumkan sumber: alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.
"Bersama Al-Sofwah Menapak Jalan Dakwah Salafusshalih"




_____________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information.  If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately.  Any other use of the email is prohibited.



---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/

Kirim email ke