Pertemuan FoSSEI Nasional
dengan Direktorat Perbankan Syariah
Bank Indonesia
[fossei.org-Jakarta 22/05/08] Menindaklanjuti dari hasil Simposum
Nasional Ekonomi Islam FoSSEI di Pekanbaru yang dilakukan pada tanggal 12-14
Mei 2008 lalu yang dilanjutkan dengan aksi damai yang salah satu agendanya
yaitu memberikan Rekomendasi hasil Simposium Nasional Ekonomi Islam tersebut
kepada Bank Indonesia Pekanbaru, Direktorat Perbankan Syariah BI (DPbS-BI)
pada hari rabu (21/05) telah mengundang rekan-rekan FoSSEI Nasional untuk
bersilaturahim dan melakukan dengar pendapat serta membahas sekilas tentang
hasil rekomendasi tersebut.
Hadir pada pertemuan tersebut perwakilan dari DPbS-BI antara lain Bpk
Dani Gunawan (Ketua Tim Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syariah), Bpk
Bambang Himawan (Analis Senior DPbS-BI), Bpk Nasirwan (Peneliti Senior
DPbS-BI) dan Bpk Ali Sakti (Peneliti Junior DPbS BI), sedangkan perwakilan
dari FoSSEI Nasional antara lain Ahmad Fil Ardhi (Koordinator PRESNAS),
Farizal (PRESNAS CoCODA), Dedi Hasongko (Staf Ahli PRESNAS), Fauzul Azmi
(KOREG JABODETABEK), Riza (Badan Riset Regional JABODETABEK), Yanis (Dept.
Dana Usaha Regional JABODETABEK) dan Fehmi Kurnia (Ketua KSEI IPB).
Pertemuan yang berlansung sekitar dua jam ini antara lain membahas
tentang akselerasi yang sedang dilakukan DPbS-BI untuk meningkatkan
marketshare perbankan syariah. Bpk Dani menjelaskan bahwa saat ini BI sedang
berusaha menggenjot asset perbankan syariah agar semakin besar, disamping
tugas-tugas rutin lainnya seperti penyempurnaan peraturan, pengawasan,
regulasi, dll. "Salah satu caranya yaitu dengan sosialisasi sebesar-besarnya
dengan mendidik masyarakat supaya faham ekonomi dan perbankan syariah." Papar
Pak Dani.
Ada enam hal yang dilakukan DPbS-BI secara besar-besaran dalam rangka
akselerasi ini yaitu:
- Peraturan
Semua ketentuan dan peraturan perbankan syariah dievaluasi untuk
disempurnakan agar tidak menghambat perkembangan perbankan syariah, namun
penyempurnaan peraturan ini tetap memperhitungkan prinsip kehati-hatian agar
tidak melanggar prinsip-prinsip syariah. Hal ini perlu dilakukan agar
peraturan tersebut mudah diterima oleh masyarakat dan dapat dilakukan juga
oleh industri perbankan syariah.
- Kelembagaan
DPbS-BI melakukan Kerjasama dengan pihak Pemerintah (misalkan terkait
pajak), DPR (undang-undang), agar mendukung dan kondusif terhadap pekembangan
perbankan syariah.
- Edukasi dan Sosialisasi
DPbS-BI melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing. Tujuannya selain masyarakat faham terhadap
bank syariah juga tergerak untuk melakukan transaksi di bank syariah. "Jadi
sekarang tahapannya bukan lagi pemahaman, tetapi tergerak (action)" kata pak
Dani.
- Produk
Pada awalnya memang peraturan untuk peluncuran produk-produk baru sangat
ketat dan hati-hati, namun sekarang BPbS-BI mempersilahkan kepada bank-bank
syariah untuk melakukan inovasi seluas-luasnya untuk mengembangkan produk
mereka, namun tetap tidak melanggar syariah. Selain itu masyarakatpun memiliki
banyak pilihan untuk bertransaksi di bank syariah.
- Pengawasan
Selain melakukan pengawasan terhadap prinsip-prinsip syariah, akuntansi,
manajemen, permodalan, pembiayaan, dll DPbS-BI juga melakukan pengawasan
bisnis bank syariah agar sesuai dengan akselerasi. Bank syariah dipacu untuk
melakukan rencana-rencana bisnis yang sifatnya untuk memacu assetnya itu
sendiri.
- SDI (Sumber Daya Insani)
Ada dua hal yang terus ditingkatkan berkaitan dengan SDI ini yaitu SDI
internal, yaitu SDI yang ada di DPbS itu sendiri dan SDI Eksternal yaitu
kebutuhan untuk industri, praktisi dan akademisi perbankan syariah.
Beliau memaparkan juga bahwa dengan adanya akselerasi ini, marketshare
perbankan syariah dapat terus meningkat dan dapat dirasakan keberadaannya dan
bisa menjadi solusi dari permasalahan bangsa. "Memang sekarang belum terasa
karena marketshare kita baru 2%, mungkin nanti jika sudah 50% lebih bukan
tidak mungkin kemakmuran di negara kita bisa terwujud." Jelas Pak Dani.
Selain itu, pertemuan ini juga membahas tentang hasil dari
Simposium Nasional Ekonomi Islam yaitu rekomendasi kepada pihak-pihak yang
berwenang termasuk BI. Adapun isi dari rekomendasi tersebut adalah:
- BI sebagai otoritas perbankan tertinggi di Indonesia
mengupayakan pengembangan perbankan syariah dalam bentuk program kerja yang
terintegritas.
- Melakukan sosialisasi secara Sistimatik dan Holistik guna
meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah.
- Segera sahkan RUU perbankan syariah.
- Intensifkan peran ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga
pendidkan dalam mensosialisasikan perbankan syariah.
- Memasukkan kurikulum Ekonomi islam untuk tingkat pelajar SMP
dan SMA.
Pada intinya DPbS-BI sangat mengapresiasi dan berterimakasih kepada
FoSSEI atas dukungan dan perhatiaan yang besar atas perkembangan ekonomi
syariah di Indonesia. Mengenai pembahasan point per point, sebenarnya DPbS-BI
pun sedang melakukan upaya yang sama, salah satunya saat ini mereka sedang
melakukan "Grand Desain Marketing Bank Syariah" yang rencananya rampung akhir
mei nanti. Grand Desain ini dikembangkan agar sosialisasi perbankan syariah
lebih terarah, sistematis dan akademis.
Selain itu beberapa tanggapan terlontar dari DPbS-BI, diantaranya dari
Bpk Bambang yang menyambut baik adanya rekomendasi ini yang cukup tajam. Namun
beliau berharap agar reaksi kita adalah reaksi normal terhadap kondisi dan
fenomena yang ada. Beliau juga menggarisbawahi point pertama dari rekomendasi
tersebut yaitu kata "terintegrasi". Beliau mengatakan, "Secara ideal memang
sulit untuk memaksakan integrasi, meskipun tujuan kita sama. Bahkan bisa jadi
dalam kondisi tidak terintegrasi kita bisa bekerja lebih optimal dalam
mencapai tujuan." Beliau juga memaparkan bahwa peran kita adalah bekerja
sesuai dengan kesanggupan kita, sampaikanlah walau hanya satu ayat. "Meskipun
tidak terintegrasi, tidak terstandarisasi, tidak bersinergis tapi kita bisa
melakukan apa yang bisa kita perbuat." Tambah beliau.
Bpk Bambang juga memberi informasi sekilas tentang 'nasib' RUU perbankan
syariah. Saat ini RUU tersebut tersebut sudah di ujung periode untuk segera
disahkan. "Tinggal melakukan 2 rapat, yaitu rapat PANJA dan rapat pengesahan."
Pak Nasirwan pun tak ketinggalan memberikan tanggapan atas peran FoSSEI.
Beliau merasa kagum kepada rekan-rekan FoSSEI karena memiliki 'kegelisahan'
yang sama terhadap kondisi ekonomi syariah yang ada. Beliau juga 'greget'
karena sesuatu konsep dan praktek yang baik dan ideal atas realitas empiris
yang ada, bahwa ekonomi syariah bisa menjadi solusi namun belum dapat
berkembang dengan baik di masyarakat. "Perjuangan pengembangan ekonomi syariah
seperti memperjuangkan eksistensi, kita harus memiliki spirit yang sama untuk
menjadi mujahid tangguh pejuang ekonomi syariah." Papar beliau.
Selain itu beliau juga memberi gambaran tentang FoSSEI. FoSSEI adalah
organisasi kemahaswaan yang memiliki ciri yang unik. Dari sisi
tujuanseharusnya menkonsenkan diri kepada dua hal, internal dan eksternal.
Dari sisi Internal, FoSSEI harus menciptakan kader-kader yang menjadi "the
future leader" dalam bidangnya, dalam hal ini ekonomi syariah. Beliau
mengatakan, "Aktivitas-aktivitas yang dilakukan FoSSEI seharusnya lebih banyak
dikonsenkan untuk membangun dirinya dalam artian mencetak kader-kader
berkualitas dan terbaik yang siap menggantikan peran-peran pemerintah termasuk
juga BI"
Sedangkan dari sisi ekternal, FoSSEI dengan kemampuan intelektualnya
bisa menjadi presure groups dan sosial control kepada pihak-pihak berkuasa.
Namun ekspetasinya harus berbobot dan santun jangan sampai ada kontraproduktif
dengan yang dilakukan DPbS-BI. Beliau berharap besar agar FoSSEI bisa berperan
lebih banyak terutama dalam hal SDM, kajian ilmiah yang bisa disampaikan
rekomendasinya baik dalam tataran daerah maupun secara nasional, juga
koordinasi yang baik.
Terakhir dari Bpk Ali Sakti menanggapi bahwa FoSSEI bisa melihat BI juga
memiliki semangat yang sama dalam pengembangan ekonomi syariah, sehingga
keterbatasan dan kendala menyebabkan kita untuk bersinergis. Beliau
menganalisa bahwa kampanye dan sosialisasi ekonomi syariahdengan door to door
seperti kuliah subuh, ceramah dhuha, kultum ternyata lebih efektif daripada
mengadakan event besar seperti seminar dan talkshow.
Terakhir Bpk Ali sakti menutup pembicaraan dengan kata-kata "lakukanlah
apa yang kita bisa, kamipun di BI sedang berjuang, terus perbaharui semangat!"
[farizal-CoCODA]
FARIZAL ALBONCELLI
PRESIDIUM NASIONAL FoSSEI
Centre of Communication and Data Administration
Friendster : [EMAIL PROTECTED]
Mobile : +62856 9171 4916
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam 'SEBI' Ciputat