Oleh: Arya Sandhiyudha


Suatu adu cepat di mana unta, kura-kura, kera, dan iguana
bersaing satu sama lain, pasti menjadi suatu perlombaan yang kacau,
membingungkan, dan menggelikan. Ibarat bisnis seharusnya hadirnya Super
Mall tidak harus sampai mengusir pedagang asongan, jika ada kesadaran
bahwa mereka one heart one soul, one heart one goal



Kompetitif = Monopoli Standard + Interpretasi ?



Diantara konsekuensi kebobrokan masyarakat feodal, kebangkitan
kapitalisme modern, dan individualisme sekuler adalah anggapan bahwa
masyarakat yang kompetitif itu adalah suatu perlombaan besar yang
diselenggarakan dengan setiap orang menempuh jalur yang sama dengan
peluang yang sama untuk ikut serta, dengan kriteria menang dalam
standar tunggal.



Apapun keuntungannya, tidak dapat dihindari bahwa gambaran masyarakat
dalam pengertian semacam ini telah mempersempit kisaran jenis
kepribadian yang luas. Pasal-pasal abstrak dari rasionalisme yang
dipaksakan ini secara logis membuat manusia harus diabaikan perbedaan
posisi dan fungsi sosial yang melatarbelakangi nya. Padahal teori
adalah bersifat empirik yang tidak seharusnya bekerja untuk memaksa
moralitas menjadi persis sama antara business executive dan "wong cilik".



Tentu saja struktur kepribadian, kecenderungan psikologis, dan bentuk
fisik manusia, tidak bisa diabaikan. Itulah kenapa suatu adu cepat di
mana unta, kura-kura, kera, dan iguana bersaing satu sama lain, pasti
menjadi suatu perlombaan yang kacau, membingungkan, menggelikan.





Fleksibilitas = Keluasan dan Kekayaan Pola

Sejatinya, budaya kita tidaklah pernah memberlakukan masyarakat secara
monolitik. Dalam budaya tradisional bangsa kita, tidak pernah ada
hirarki profesi masyarakat yang dipaksakan, kecuali terhadap "guru".
Seperti yang pernah disebut oleh ronggowarsito dengan istilah Satrio
Pinandhito Sinisihan Wahyu (Pemimpin Berilmu dan Spirituil yang Selaras
kehendak Tuhan). Posisi nya tidak struktural, namun tak pernah jadi
"mantan" meski kita telah lepas secara formal dari 'kelas' mereka.
Sebab ikatan ilmu dan spirit memang tak bisa dipisahkan begitu saja
dengan bangunan atau ijazah.



Dalam kehidupan bermasyarakat, pengertian tersebut ejawantah dalam
pandangan bahwa seseorang dinilai dari landasan ilmu dan spirit-nya.
Sementara profesi tidak menentukan derajatnya. Seorang politisi
tidaklah "lebih baik" dari cendekia, ataupun militer dan pengusaha.
Diantara mutiara kearifan budaya yang ada, yaitu dalam mitologi wayang: dimana 
Kresna tidaklah "lebih baik" dari Arjuna, ataupun Wrekudara dan Yudistira. 



Setiap tokoh diterima sepenuhnya sebagai bagian dari cita-cita
peradaban dunia yang plural adil, dan beradab. Mereka dipandang sebagai
suatu teladan untuk kehidupan masyarakat, dihidupkan dalam suatu taraf
intensitas moral yang tinggi. Disinilah kelebihannya hingga popularitas
tokoh mitologi tersebut dapat mengena di segmen komunitas yang
berbeda-beda, dari satu pribadi unik ke pribadi unik yang lain juga
berbeda. 



Maaf, mereka yang dikenal mudah naik darah memiliki kecintaan khusus terhadap 
Baladewa.
Masyarakat yang halus, mungkin menganggap Kresna lebih menarik dari
saudaranya yang lain. Dengan cara yang sama, penduduk desa tertentu
mungkin lebih mengenal akrab sosok Semar dan anak-anaknya, daripada Yudistira 
dan Karna. Sedangkan anak-anak 'kosmo' mungkin lebih sering kagum dengan Arjuna 
sebagai panutan jika diminta memilih yang utama. 



Saripati sebenarnya ada pada "Ciri pola teladan yang dibentang luas"
jadi seakan karakter masyarakat yang beragam dapat dituang ke dalam
wadah kontribusi yang sangat fleksibel. Dimana masyarakat memilihnya
sendiri dengan dapat mengukur kepirbadiannya dan potensinya sendiri,
dengan bercermin dari teladan-teladan moral dan gambaran fisik
tokoh-tokoh wayang tersebut.



Prinsip = Apresiasi Keragaman Potensi

Begitu ternyata, cara bhineka ini bekerja, bahwa yang utama bukan adu cepat 
antar entitas dengan standard yang sama (single paradigm), namun dorongan penuh 
terhadap semua potensi dan aspirasi sehingga semuanya dapat hidup berkembang 
bersama dengan harmonis. 



Sebagaimana Arjuna, Werkudara, dan Yudistira
semuanya dihormati, baik anak yang bertubuh kekar, aktif tapi tak
pandai bicara, maupun yang bertubuh langsing dan suka berintrospeksi,
masing-masing mendapatkan jalannya yang memungkinkan kepribadian dan
ciri fisiknya berkembang tanpa paksaan kejiwaan terhadapnya.



Jika diperhatikan daya tarik seksual Arjuna
adalah "obat" kepada anak yang bertubuh kecil-kurus dan lemah bahwa dia
tiidak akan menderita dalam persaingan sosio-seksual sehari-hari. Anak
yang berbakat dalam pidato dan politik memiliki Kresna-nya. Anak yang menyukai 
kegiatan intelektual dan religius memiliki Yudistira-nya, anak muda yang 
berdarah panas dan pemberani memiliki Baladewa-nya. Kemenangan atas asal usul 
sosial yang rendah dan "orang atas" digambarkan oleh Karna. 



Ataupun Wibisana dan Kumbakarna diantara
simbol pemuda yang memiliki teladan untuk kesetiaan yang tak
tergoyahkan pada negara atau simbol sebuah kecintaan abstrak pada
prinsip. Begitu juga bagi perempuan, dapat mendambakan kelembutan dan
keluwesan Sumbadra atau mencari peran yang lebih aktif dan bersemangat dalam 
kehangatan yang penuh daya dari Srikandi.



Tak heran jika bukan hanya satuan-satuan wanita dalam Tentara Nasional 
Indonesia (TNI)
yang mengambil Srikandi sebagai teladan mereka, namun juga gerilyawan
wanita pertama yang mendarat di Irian Barat selama kampanye pembebasan Irian 
Barat pada tahun 1962 disebut sebagai "Srikandi kita" oleh Presiden Soekarno 
dan oleh masyarakat umum.



Itulah metode mengelola kekayaan bangsa kita yang diajarkan tersirat.
Menjaga keinginan yang satu (tunggal ika), namun perihal cara (taktik)
semua komponen didorong untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Duh,
elegan nya entitas kita dalam gambaran mitologi itu. Ibarat pebisnis
Super Mall yang tidak mengusir pedagang asongan, karena ada kesadaran
bahwa mereka one heart one soul, one heart one goal.




      

Kirim email ke