--
j.gedearka <[email protected]>
https://news.detik.com/kolom/d-5261583/potensi-ekspor-olahan-singkong?tag_from=wp_cb_kolom_list
Kolom
Potensi Ekspor Olahan Singkong
Adelina Rahmasari - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 15:40 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
Salah satu pusat pembuatan tape singkong (peyeum) berada di Kampung Poncol,
Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Pabrik ini telah beroperasi sejak tahun 1970-an.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -
Pemerintah telah membentuk program pembangunan lumbung pangan dengan
implementasi perluasan lahan singkong untuk mendukung ketahanan pangan
Indonesia. Singkong memang memiliki potensi besar dan seharusnya menjadi
peluang bagi Indonesia sejak era Orde Baru.
Dalam mengolah kebijakan tersebut, pemerintah harus dapat melihat lebih jauh
potensi singkong dan perlu menyiapkan program pendukung lainnya. Bahan pangan
ini akan diolah menjadi mie dan roti, menggantikan bahan terigu atau gandum
yang selama ini masif diimpor oleh Indonesia. Produk olahan singkong ini
berpotensi untuk diekspor ke beberapa negara, seperti Kawasan Eropa Tengah.
Alternatif Terigu
Selama ini, masyarakat Indonesia mengonsumsi bahan pangan gandum ataupun tepung
terigu yang sering dijumpai dalam bentuk mie, roti, dan produk bakery lainnya.
Gandum secara rutin diimpor dari beberapa negara seperti Amerika dan Kanada.
Nilai impor Indonesia tersebut bahkan mencapai 2,7 miliar dolar AS pada 2019
(BPS).
Satu hal yang sangat disayangkan adalah potensi singkong di Indonesia yang
sebenarnya dapat digunakan sebagai pengganti terigu.
Seiring dengan berkembangnya tren diet bebas gluten (gluten free), popularitas
singkong pun meningkat. Singkong yang secara alami tidak mengandung gluten
dinilai memiliki manfaat kesehatan terutama bagi penderita intoleransi gluten.
Singkong pun mulai mendapat perhatian dan diolah menjadi tepung singkong
(mocaf) sebagai alternatif tepung terigu.
Permintaan Meningkat
Tren gluten free sangat berkembang di Eropa, termasuk kawasan Eropa Tengah.
Dengan berkembangnya tren hidup sehat dan popularitas diet bebas gluten,
permintaan produk bebas gluten pun meningkat di Kawasan Eropa Tengah, seperti
Jerman dan Hongaria.
Contohnya di Budapest, ibu kota Hongaria, produk kemasan berlabel bebas gluten
dapat dengan mudah ditemukan di swalayan. Sebagian produk bebas gluten tersebut
merupakan impor dari negara tetangga. Bahkan, kota ini menyelenggarakan
festival tahunan Mentes, berkonsep healthy life style dan salah satunya
mengusung label bebas gluten. Festival ini diikuti oleh UMKM dari berbagai
negara Eropa, dan banyak ditemukan produk-produk organik dan bebas gluten dari
Jerman dan Italia.
Potensi Ekspor
Hingga saat ini, Indonesia belum maksimal dalam mengelola singkong dan melihat
potensi ekspor produk bebas gluten. Padahal, Indonesia bisa menjadi salah satu
mitra alternatif untuk memenuhi permintaan produk bebas gluten dengan harga
yang lebih terjangkau. Ekspor olahan singkong tersebut dapat menjadi salah satu
penyumbang nilai ekspor Indonesia.
Sebenarnya pengolahan singkong sebagai alternatif produk bebas gluten telah
dilakukan oleh beberapa pelaku bisnis Indonesia. Sejumlah UMKM melihat tren
diet bebas gluten sebagai potensi dan memanfaatkan singkong sebagai alternatif
terigu dalam memproduksi kue kering, roti, donat, pizza, bahkan mie.
Penambahan lahan singkong diharapkan dapat meningkatkan kembali popularitas
tanaman pangan lokal yang tergeser akibat impor gandum. Program lahan singkong
dari pemerintah seharusnya dapat memberikan peluang bagi UMKM untuk mengolah
produk bebas gluten dan melakukan giat ekspor.
Harga yang Kompetitif
Pelaku usaha dan pemerintah harus dapat melihat potensi pasar gluten free di
Eropa Tengah. Melihat karakteristik masyarakat Eropa Tengah yang sangat
tertarik dengan produk gluten free, tentu Indonesia memiliki peluang besar
terhadap produk olahan singkong.
Selain itu, olahan singkong bisa menjadi opsi produk bebas gluten dengan harga
yang kompetitif di pasar Eropa Tengah. Dalam giat ekspor tersebut, tentu perlu
identifikasi regulasi dan sertifikasi yang diperlukan bagi pelaku usaha,
misalnya pemberian label bebas gluten maupun organik terhadap produk olahan
singkong dapat menjadi strategi promosi dan pemasaran Indonesia.
Tentunya peran pemerintah sangat penting dalam mendorong pemanfaatan singkong
sebagai produk UMKM. Misalnya, melakukan diseminasi terkait potensi ekspor,
menyediakan pelatihan dan edukasi, memberikan informasi market research, serta
memfasilitasi ekspor ke negara mitra. Promosi internasional juga dibutuhkan
untuk meningkatkan awareness masyarakat internasional terhadap produk bebas
gluten berbahan singkong.
Perlu menjadi catatan bahwa Indonesia memiliki beragam bahan pangan potensial
lainnya untuk diolah menjadi produk bebas gluten, misalnya saja tepung beras,
tepung kentang, tepung pati garut, dan lain-lain Ke depan, pemerintah dapat
mengembangkan program perluasan lahan terhadap tanaman pangan lainnya, tidak
hanya terpaku pada singkong.
Adelina Nur Rahmasari Staf Direktorat Eropa II Kementerian Luar Negeri
(mmu/mmu)
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201119170833.05431f0cbadade10b321f2b8%40upcmail.nl.