Kalu polisi yang tiap hari pungli tanpa arogansi toh? Sim C jadi 3...C1...C2... 
C3.... MUNGKIN A..? A 1..sedan..A2 picup.. A3. SUV.. A4 1000CC..A5 
1500Cc.....dsb...Bisa jadi serang punya 10SIM..

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Thu., Nov. 26, 2020 at 6:35 a.m., [email protected]<[email protected]> 
wrote:   Hi Moderator,
Politely I ask you, please remove my email address from this mailing list.
Your attention is very much appreciated.
Kind regards
Burhan Kristianto

-----Original Message-----
From: [email protected] <[email protected]> On Behalf Of 
Lusi D.
Sent: Thursday, 26 November 2020 9:21 PM
To: nasional-list <[email protected]>; GELORA45_In 
<[email protected]>; chalik.hamid <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Arogansi Tentara

1.
Pernyataan Pangdam Panglima Dinilai Kental Nuansa Masa Lalu dan Menunjukkan 
Arogansi Tentara

News IDtoday, November 24,2020
https://news.idtoday.co/pernyataan-pangdam-panglima-dinilai-kental-nuansa-masa-lalu-dan-menunjukkan-arogansi-tentara/

IDTODAY NEWS – Pernyataan Panglima Kodam Jaya dan Panglima TNI soal kerisauan 
terhadap keutuhan bangsa dan negara belakangan ini dinilai sangat kental dengan 
nuansa masa lalu dan menunjukkan arogansi tentara.
Terlebih kerisauan itu tak disertai dengan hal-hal yang konkret mengenai bentuk 
dan tensi ancaman yang dimaksud.

“Pernyataan Pangdam Jaya maupun sebelumnya oleh Panglima TNI memang terkesan 
sangat kental nuansa masa lalu. Ada kesan arogansi, menakut-nakuti dan 
menunjukkan lembaga-lembaga lain lemah sehingga TNI harus turun tangan di 
situ,” ungkap Peneliti militer dari Institute for Security and Strategic 
Studies (ISESS), Khairul Fahmi, kepada Republika, Senin (23/11).

Menurutnya, kerisauan terhadap keutuhan bangsa dan negara itu tak disertai 
hal-hal yang konkret dan spesifik mengenai bentuk dan tensi ancaman, selain 
problem politik, hukum, dan keamanan. Dia mengatakan, tiga problem terakhir 
sebetulnya juga merupakan domain lembaga-lembaga lain, bukan TNI.

“Saya tak akan terlalu jauh menyinggung soal netralitas dan profesionalitas, 
karena bagaimanapun akan selalu ada pintu masuk bagi TNI untuk ikut terlibat 
dalam urusan penyelenggaraan negara. Tapi TNI tetap harus diingatkan agar tak 
terlalu jauh masuk ke ruang politik melampaui mandatnya,” kata dia.

Fahmi mengungkapkan, memang sulit untuk membayangkan patriotisme dan heroisme 
tentara hadir tanpa disertai antusiasme tinggi dan kepeloporan. Antusiasme 
serta kepeloporan itu, kata dia, justru tak jarang malah berpotensi mengancam 
demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia (HAM), dan ketentuan hukum.

Pada akhirnya, menurut Fahmi, kata kunci peran dan kiprah TNI tetaplah politik 
negara. Sepanjang ada kebijakan dan keputusan politik negara yang mendasari, 
manuver dan tindakan itu akan aman dan sah bagi TNI, apapun bentuknya.

“Bahwa manuver dan tindakan itu mungkin menabrak ketentuan perundang-undangan, 
itu soal lain,” jelas dia.

Sebelumnya, Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurachman, mengingatkan, agar 
jangan ada yang berani mengganggu persatuan di Jakarta. Hal itu ia sampaikan 
ketika merespons pertanyaan terkait pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab (HRS).

“Jangan coba-coba mengganggu persatuan dan kesatuan yang ada di Jakarta. Kalau 
mencoba-coba mengganggu, itu akan saya hajar nanti,”
kata Dudung saat memimpin Gelar Pasukan Kesiapan Menghadapi Pilkada Serentak 
Tahun 2020 dan Penanggulangan Bencana Banjir di Jakarta di Silang Monas, 
Jakarta Pusat, Jumat (20/11).

Mendengar pernyataan Dudung lewat pengeras suara itu, pasukan TNI pun bertepuk 
tangan. “Nah, semua prajurit mendukung,” kata Dudung.

Sementara itu, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto menekankan, pentingnya 
perstauan dan kesatuan demi menjaga stabilitas negara. Hadi meminta agar 
masyarakat tak termakan provokasi dan ambisi yang menyebabkan hilang persatuan 
dan kesatuan bangsa.

“Saudara-saudara sekalian. Saya ingin menyampaikan kembali, pentingnya 
persatuan dan kesatuan dalam menjaga stabilitas nasional,” kata Hadi di Subden 
Denma Mabes TNI, Jakarta Pusat, samping Istana Kepresidenan pada Sabtu (14/11) 
malam WIB.

Hadi berpesan, TNI tidak bisa membiarkan persatuan dan kesatuan bangsa di 
Indonesia hilang atau dikaburkan oleh provokasi dan ambisi yang dibungkus 
dengan berbagai identitas. “Seluruh prajurit TNI adalah alat utama pertahanan 
negara, untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” 
kata mantan KSAU tersebut.

Hadi menekankan, tidak satu pun musuh yang dibiarkan, apalagi melakukan upaya 
berupa ancaman dan gangguan, terhadap cita-cita luhur bangsa dan negara 
Indonesia. “Ingat! Siapa saja yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, 
akan berhadapan dengan TNI. Hidup TNI. Hidup rakyat.
NKRI harga mati,” kata Hadi. 


2.
Fadli Zon Sindir Jenderal Dudung sebagai Pemenang Perang Baliho IDtoday News 
November 24, 2020 
https://news.idtoday.co/fadli-zon-sindir-jenderal-dudung-sebagai-pemenang-perang-baliho/



3.
Banjir Karangan Bunga untuk Jenderal Dudung, Netizen: Buat Sendiri, Heboh 
Sendiri!

IDtoday News, November 24, 2020
https://news.idtoday.co/banjir-karangan-bunga-untuk-jenderal-dudung-netizen-buat-sendiri-heboh-sendiri/

IDTODAY NEWS – Sejumlah karangan bunga terus berdatangan di Markas Kodam Jaya, 
Cililitan, Jakarta Timur. Karangan bunga ini ditujukan untuk Pangdam Jaya 
Mayjen Dudung Abdurahman, yang ingin membubarkan Front Pembela Islam (FPI) 
serta menugaskan prajuritnya mencopoti spanduk dan baliho Habib Rizieq mendapat 
dukungan dari masyarakat.

Karangan bunga tersebut bertuliskan berbagai kalimat dukungan kepada TNI. 
Seperti TNI Dahsyat, Bravo TNI, Kami Putra Putrimu Selalu Mendukung Komando, 
Terima Kasih Karena Tidak Memihak Pada Penghina, Tapi Kalian Telah Memihak Pada 
Kebenaran, Terima Kasih Kepada Kodam Jaya, dan lain sebagainya. Foto-foto 
karangan bunga juga itu dibagikan oleh akun instagram @warung_jurnalis.

Netizen pun ikut mengomentari unggahan dan banyak pula yang bingung mengenai 
maksud pemberian karangan bunga untuk Mayjen Dudung tersebut.

“Gak yakin gw klo dari pribadi warga..” tulis akun @m.haviz93, dilihat Okezone, 
Selasa (24/11/2020)

“ Yaelah ini kubu sebelah yg apresiasi alias kaum pembenci” komentar @prio90s_

“Dari warga? Mending beli sembako kayanya drpd beli bunga, mubazir….dan saya 
sbg warga ga merasa ujar akun @amirakhmi

“Buat sendiri heboh heboh sendiri,” tulis akun @biodies3l

Ratusan karangan bunga itu mulai memenuhi ruas trotoal di depan Makodam Jaya. 
Warga yang melintas pun mengabadikan karangan bungan tersebut dengan selfie 
tepat di depan Makodam Jaya.

Sebelumnya, Panglima Daerah Komando Militer Jaya/Jayakarta (Pangdam
Jaya) Mayjen TNI Dudung Abdurachman menegaskan semua pihak atau orang di Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus taat hukum.

Penegasan itu dilontarkan menyusul ramainya soal pencopotan baliho Imam Besar 
Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Menurut dia, jangan seenaknya sendiri seakan-akan FPI yang paling benar. 
“Jangan coba-coba pokoknya. Kalau perlu FPI bubarkan saja. Kalau coba-coba 
dengan TNI, mari. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur. Suka-sukanya 
sendiri,” tegasnya.

Sumber: okezone.com



4.
Soal Penurunan Baliho HRS, Begini Respons Mantan Pangdam Jaya

IDtoday News
November 24, 2020
https://news.idtoday.co/soal-penurunan-baliho-hrs-begini-respons-mantan-pangdam-jaya/

IDTODAY NEWS – Pengerahan prajurit TNI untuk mencopot baliho Imam Besar Front 
Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), diduga lantaran instansi 
terkait (Satpol PP) yang berwenang atas tugas tersebut mengalami sejumlah 
kesulitan.

Begitu asumsi yang disampaikan mantan Panglima Kodam Jaya tahun 1996, Letjen 
TNI (Purn) Sutiyoso, saat menjadi narasumber dalam diskusi di stasiun televisi 
TVOne, Senin (23/11).

Menurut pria yang akrab disapa Bang Yos ini, jika sudah mengerahkan pasukan 
khusus artinya ada tugas yang tidak bisa diselesaikan oleh satuan lain.

“Pasukan khusus Kopassus itu barang-barang amat mahal. Itu hanya ditugaskan 
kepada sebuah sasaran yang niscaya ini tidak bisa dilakukan oleh satuan lain 
itu,” jelas Sutiyoso seperti dikutip Kantor Berita RMOLJakarta, Selasa (24/11).

Namun demikian, mantan Gubernur DKI Jakarta ini menilai, penerjunan pasukan 
khusus saat ini belum diperlukan karena keadaan tidak genting.

“Saya kira belum segenting itu. Tindakan apapun harus terukur jangan 
berlebihan,” sambungnya.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini juga tidak mau menyalahkan 
panglima maupun prajurit TNI. Sebab segala sesuatu yang dikerjakan pasti atas 
perintah atasan.

“Bagaimanapun bila panglima (Kodam Jaya) dapat perintah dari atas dia susah 
juga. Tetapi menurut saya, sekali lagi, TNI itu maju pada saat-saat terakhir 
sebagai senjata pamungkas kalau yang lain sudah tidak bisa lagi,” tegasnya.

“Karena intinya tentara itu diharapkan untuk menghadapi musuh dari luar maupun 
dari dalam misalnya separatis, teroris, nah itu baru (diturunkan),” demikian 
Sutiyoso.

Sumber: rmol.id 








--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201126112034.20fa1e23%40lilik-ThinkPad-T420s.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/020701d6c3e8%243c78ff80%24b56afe80%24%40gmail.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/429622763.1113298.1606393960766%40mail.yahoo.com.

Reply via email to