Kenapa yang dilirik diplomasi Biden dan tidak melirik bagaimana Tiongkok secara 
konkrit melindungi alam semesta dengan usaha keras menggunakan energi ramah 
lingungan!? Diplomasi Iklim Biden yang dijalankan jelas hanya digunakan sebagai 
tangga turun dari KESALAHAN Trump yang tidak lagi mengakui “Perjanjian Paris”, 
hanya bertujuan agar AS kembali berperan “memimpin Dunia”! Namun kenyataan AS 
sebagai negara besar, sudah tidak berhasil berbuat lebih banyak bagi kebaikan 
dunia. Bliden pun akhirnya mengakui usaha pembangunan RRT menggunakan energi 
ramah lingkungan, khususnya pembangkit listrik tenaga air, matahari dan angin 
yang dibangun besar-besaran, ... sudah jauh melebihi AS! 

Bagaimana dengan Indonesia? Kenapa lebih mengejar bio-diesel gunakan kelapa 
sawit? Tidak gunakan keunggulan negara kepulauan bangun pembangkit listrik 
tenaga aingin, ...? Lalu, usaha RRT bantu bangun pabrik accu diprotes jadi 
penguasaan modal RRT atas nikel dari hulu sampai hilir di Indonesia,... Kenapa 
tidak menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk belajar dan mandiri 
mengerjakan sendiri dalam waktu dekat? Lalu yang diributin masuknya buruh 
Tiongkok dan membuat buruh Indonesia jatuh jadi penganggur? Tanpa peduli, untuk 
membungun smelter dibutuhkan modal besar dan keahlian tertentu! Tidak semua 
modal asing mau dan kenyataan buruh Indonesia juga belum ada keahlian disitu, 
sedang pemerintah tidak berkemampuan menyiapkan lebih dahulu! Lalu? Modal 
Tiongkok yang berani nanamkan modal besar bangun smelter nikel, dan untuk 
mempercepat pembangunan datangkan buruh lebih banyak untuk bangun dan mulai 
produksi lebih cepat. Diprotes buruh Tiongkok merebut kerja buruh setempat! 
Padahal buruh setempat belum siap, ... Buruh-buruh Indonesia harus lebih dahulu 
dididik dan latihan dengan buka sekolah, itulah yang dikerjakan smelter Nikel 
Tsingshan di Worowali. Setelah buruh setempat fasih dan lancar mengerjakan, 
tentu saja buruh Tiongkok pulang kembali! Dan dengan begitu bisa mengurangi 
biaya pengeluaran mendatangkan buruh dari Tiongkok sendiri yang jauh lebih 
mahal! 

Kalau proses transisi itu tidak dijalankan, kapan bangsa ini mau BERDIKARI dan 
tidak tergantung negara asing lagi???

Jokowi “Lirik” Diplomasi Iklim Biden?B68 - Monday, April 26, 2021 16:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-lirik-diplomasi-iklim-biden
 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara di depan para hadirin Konferensi 
Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim yang digelar pada 22-23 April dari Istana 
Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. (Foto: BPMI Setpres)
8 min read

Guna memeringati hari Hari Bumi Sedunia (Earth Day) yang jatuh pada tanggal 22 
April, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengundang pemimpin-pemimpin 
negara lain untuk berbicara di Earth Day Summit secara visual. Mungkinkah 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) “lirik” diplomasi iklim (climate diplomacy) ala 
Biden ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Terdapat sebuah pernyataan menarik yang berasal dari Rahm Emanuel, Kepala Staf 
Kepresidenan Obama. Setidaknya, Emanuel pernah mengatakan bahwa pemerintah 
harus memanfaatkan masa krisis dengan sebaik-baiknya.

Menurutnya, krisis memberikan pemerintah sebuah kesempatan untuk 
mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan yang sudah dilaksanakan selama 
ini. Bukan tidak mungkin, pernyataan ini bisa memberikan inspirasi bagi para 
pengambil kebijakan.

Boleh jadi, inspirasi ini mulai terlihat dalam bentuk arahan yang diberikan 
oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Dewan Energi Nasional (DEN) pada 
tanggal 21 April silam. Dalam arahan tersebut, Jokowi mengungkapkan 
keinginannya agar sektor energi Indonesia memanfaatkan momentum pandemi 
Covid-19 untuk mengalihkan orientasinya terhadap perekonomian hijau (green 
economy).

Baca Juga: Vaksin Nusantara, Jokowi Memilih Diam?

 
Selain memanfaatkan momentum krisis berupa pandemi Covid-19, Jokowi sepertinya 
juga berkeinginan untuk memanfaatkan diplomasi hijau yang digencarkan oleh 
Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden. Sebagai bagian 
dari janji kampanyenya dalam Pilpres AS tahun lalu, Biden memasukkan kembali 
negaranya ke dalam Perjanjian Paris yang sempat ditinggalkan oleh pemerintahan 
sebelumnya.

Biden juga mengundang kepala-kepala negara dunia – Jokowi di antaranya – untuk 
menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim yang diadakan pada 
tanggal 22-23 April 2021. Beberapa tema yang diangkat dalam KTT tersebut 
sejalan dengan arahan Jokowi terhadap DEN, yaitu ekonomi hijau dan pengurangan 
emisi karbon.

Melihat keselarasan arahan Jokowi dengan tema KTT tersebut, bukan tidak mungkin 
Indonesia bakal bergerak beriringan dengan pemerintahan Biden di AS dalam 
isu-isu lingkungan. Lanyas, bila benar begitu, mengapa Jokowi merasa perlu 
untuk menyelaraskan pemerintahannya dengan Biden? Mungkinkah Biden membantu 
Jokowi dalam mewujudkan visi ekonomi hijau ini?



Visi Ekonomi Hijau Jokowi
Menurut Kamar Dagang Internasional (ICC), ekonomi hijau (green economy) adalah 
sistem perekonomian yang memandang penting baik pertumbuhan ekonomi dan 
pelestarian lingkungan alam. Aktor-aktor ekonomi yang terlibat di dalam sistem 
perekonomian tersebut akan menjaga kualitas lingkungan alam dalam rangka 
memastikan keberlanjutan kehidupan ekonomi masyarakat.

Perbincangan tentang ekonomi hijau di ranah pembuat kebijakan Indonesia 
merupakan suatu hal yang baru dan mengalami intensitas pada periode 
kepresidenan Jokowi yang kedua – bukan berarti pemerintah sebelumnya tidak 
menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Pengembangan energi terbarukan 
merupakan salah satu komitmen politik yang dibuat oleh pasangan calon (paslon) 
Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dalam Pilpres 2014.

Namun, pencapaian-pencapaian pemerintah di sektor energi selama lima tahun 
selanjutnya tidak menunjukkan konsistensi dengan komitmen yang telah dibuat. 
Berhadapan dengan kendala berupa penurunan harga minyak dunia, pemerintah 
mengalami kesulitan dalam mengembangkan sektor energi terbarukan.

Komitmen Jokowi semakin dicederai oleh pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU 
Ciptaker) yang dinilai berdampak negatif terhadap lingkungan alam Indonesia. 
Beberapa pihak – terutama pemerhati lingkungan alam – mempermasalahkan beberapa 
perombakan yang dilakukan terhadap UU yang mendahului UU Ciptaker.

Kendati adanya persepsi buruk yang telah terbentuk sejak periode 
kepresidenannya yang pertama, Jokowi berkeinginan untuk kembali menjelajahi ide 
ekonomi hijau. Dalam menyampaikan keinginannya untuk menggariskan rencana 
pembangunan ekonomi hijau bagi Indonesia, Jokowi terkesan bersikap pragmatis.

Jokowi meramalkan bahwa perekonomian dunia pada masa mendatang akan bercorak 
pelestarian lingkungan. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya kesadaran 
masyarakat terhadap pentingnya aktivitas tersebut bagi keberlangsungan 
kehidupannya di bumi. Oleh karena itu, Indonesia harus mulai menjadikan 
perekonomiannya lebih ramah lingkungan.

Baca Juga: Bukit Algoritma: Jokowi Hadapi Techno-hegemony?


Dari upaya tersebut, Jokowi juga berharap Indonesia menjadi negara yang 
kompetitif di bidang industri hijau. Lantas, bagaimana langkah-langkah yang 
akan diambil oleh Jokowi dalam mewujudkan visi ekonomi hijau ini?



Kembalinya AS ke Paris Agreement
Visi Jokowi untuk ekonomi hijau sejalan dengan pandangan yang dimiliki oleh 
pemerintahan AS sekarang terhadap isu lingkungan alam. Berkebalikan dengan 
pendahulunya, yakni Presiden Donald Trump, Presiden Biden menjadikan lingkungan 
alam sebagai isu unggulan pemerintahannya.

Sejak masa kampanye sebelum Pilpres AS tahun lalu, Biden membuat berbagai 
komitmen yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan alam. Salah satu tujuan 
yang ingin dicapai oleh pemerintahannya adalah perekonomian yang sepenuhnya 
hijau dan nol emisi gas rumah kaca sebelum tahun 2050 bagi AS. Selain itu, 
Biden juga bertujuan untuk menggandeng negara-negara lain dalam rangka 
menghadapi ancaman perubahan iklim.

Untuk mewujudkan tujuan yang kedua, Biden harus membangun kembali kredibilitas 
AS untuk memimpin dunia dalam menghadapi isu-isu lingkungan alam. Kredibilitas 
tersebut telah dirusak sebelumnya oleh Trump yang memangkas komitmen luar 
negeri negaranya dalam urusan-urusan lingkungan. Salah satunya dengan 
mengeluarkan AS dari Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang disepakati secara 
multilateral pada tahun 2016.

Sejak masa kepresidenannya, Biden telah bekerja keras untuk membangun kembali 
kredibilitas tersebut. Sebagai langkah awal, beliau menjadikan mantan Menteri 
Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry sebagai utusan khusus kepresidenan untuk 
urusan iklim. Tindakan tersebut, dan beberapa lainnya, mengindikasikan bahwa 
perbaikan kredibilitas AS diupayakan oleh Biden melalui diplomasi iklim.

Diplomasi iklim diartikan oleh Nick Mabey, Liz Gallagher, dan Camilla Born 
sebagai proses diplomatis pembentukan tata-aturan seputar iklim di tataran 
internasional. Dengan kata lain, diplomasi iklim merupakan aktivitas yang 
dilaksanakan oleh berbagai negara untuk membentuk suatu kerangka hukum iklim 
yang mengikat.

Dalam kasus ini, AS di bawah Biden melakukan diplomasi iklim untuk menciptakan 
tata-aturan yang ditujukan untuk menjaga dan memperbaiki kondisi iklim yang 
sudah ada. Lebih lanjut, aturan yang dicanangkan oleh AS dipengaruhi oleh 
tujuannya untuk membangun perekonomian hijau yang berkelanjutan.   

Sejalan dengan diplomasi iklim yang sudah dijelaskan sebelumnya, Biden 
memutuskan untuk mengembalikan AS ke dalam Perjanjian Paris. Kemudian, beliau 
mengadakan KTT iklim yang mengundang 40 kepala negara pada tanggal 22-23 April 
silam.

Pesan Biden dalam KTT itu pun sejalan dengan arahan Jokowi yang disampaikan 
kepada Dewan Energi Nasional (DEN) sehari sebelumnya. Lantas, bila benar arahan 
Jokowi ini sejalan dengan Biden, apakah mungkin pemerintahan Jokowi akan 
dibantu oleh pemerintah AS guna mewujudkan ekonomi hijau?



Jokowi di antara Biden dan Xi
Disampaikannya arahan kepada DEN sehari sebelum pelaksanaan KTT iklim Biden 
mengindikasikan bahwa Jokowi memiliki kesamaan agenda dengan Biden dan kerja 
sama antara keduanya dapat menguntungkan masing-masing pihak. Di satu sisi, 
Jokowi akan memperoleh dukungan politis dan teknis dari AS dan negara-negara 
mitra lainnya.

Baca Juga: Jokowi, Kapitalisme dan Super League

 
Di sisi yang lain, Biden akan menemukan sekutu yang cukup dipertimbangkan oleh 
komunitas internasional dalam upayanya untuk mencapai tujuan-tujuan 
lingkungannya. Sebuah sekutu diperlukan oleh Biden karena dorongan untuk 
meningkatkan keterlibatan AS dalam isu-isu lingkungan dunia tidak hanya berasal 
dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri.

Mundurnya AS dari komitmen-komitmen iklim luar negerinya semasa kepresidenan 
Trump telah menaikkan status Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam forum-forum 
iklim internasional. Ditariknya dukungan finansial untuk Peserikatan 
Bangsa-Bangsa (PBB) oleh AS, misalnya, menciptakan kekosongan yang dapat diisi 
oleh RRT.

Sampai tahun 2020, China Trust Fund mendanai proyek-proyek lingkungan PBB di 81 
negara—lebih dari 2/3 anggota PBB. Selain itu, dikuranginya pendanaan untuk 
penelitian dan pengembangan energi terbarukan di AS menciptakan kondisi yang 
menguntungkan RRT untuk mengambil jubah kepemimpinan dunia di bidang tersebut.

Hal yang sama dapat ditemukan di sektor keuangan. Dalam dua bidang tersebut, 
RRT dapat menunjukkan kompetensinya kepada negara-negara selagi membangun 
kredibilitasnya sebagai pemimpin energi hijau dunia. AS akan membutuhkan sekutu 
untuk berkompetisi dengan RRT dalam perebutan kepemimpinan dunia.

Apa yang dilakukan oleh Tiongkok ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh 
mantan Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd dalam tulisannya yang berjudul 
The New Geopolitics of China’s Climate Leadership. Menurut Rudd, Tiongkok sudah 
menargetkan kepemimpinan iklim di tingkat global sejak tahun 2014 ketika 
menyatakan fokus pada kebijakan lingkungan bersama Presiden Obama.

Bukan tidak mungkin, Indonesia pun bakal menjadi penerima dari sejumlah 
investasi ekonomi hijau yang dipromosikan oleh Tiongkok. Beberapa proyek 
tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan di 
Kalimantan Utara yang akan dibiayai PowerChina dan Pembangkit Listrik Tenaga 
Surya (PLTS) yang rencananya akan dibangun di Subang.

Meski begitu, kebijakan-kebijakan ekonomi hijau – seperti pengembangan energi 
terbarukan – di Indonesia masih terbatas. Boleh jadi, Biden ingin AS mampu 
mengisi kekosongan yang masih dimiliki oleh pemerintahan Jokowi.

Apalagi, bukan hanya kepentingan politik dan lingkungan saja yang mendapatkan 
keuntungan dari visi ekonomi hijau Biden dan Jokowi ini. Bisa jadi, sejumlah 
bisnis dan pengusaha turut mendapatkan keuntungan dari visi perubahan iklim ini.

Rusty Vanneman, ahli investasi dari Omaha, AS, misalnya, menilai bahwa ada 
beberapa sektor yang akan diuntungkan, seperti pengusaha-pengusaha yang 
bergerak di bidang bahan dan peralatan pembangunan yang bisa saja digunakan 
sebagai materi untuk pembangunan proyek-proyek energi terbarukan. Selain itu, 
sejumlah investor dinilai dapat memperoleh keuntungan.

Alhasil, meski muncul skeptisme terhadap terbatasnya praktikalitas untuk 
memperoleh keuntungan dari ekonomi hijau, bukan tidak mungkin terdapat manfaat 
politik dan bisnis yang diperoleh – baik oleh pemerintahan Jokowi maupun Biden. 
Menarik untuk diamati apakah AS akan benar-benar kembali mengambil posisi 
kepemimpinan lingkungan ini dengan menggandeng Indonesia. (B68)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/706C44B571EF4FCD9432A5FBD5FC6AEA%40A10Live.

Reply via email to