Pendidikan antirealitas lewat Hoax ? Op do 1 jul. 2021 om 19:40 schreef 'j.gedearka' via GELORA45 < [email protected]>:
> > > > > https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2187-pendidikan-antirealitas > > > > Kamis 01 Juli 2021, 05:00 WIB > > Pendidikan Antirealitas > > Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial > > Pendidikan Antirealitas MI/Ebet Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi > Media Group. PENDIDIKAN tinggi dicita-citakan untuk menghasilkan > intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang berbudaya dan kreatif, > toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani membela kebenaran > untuk kepentingan bangsa. Cita-cita yang dituangkan dalam Undang-Undang > Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi itu jauh panggang daripada > api. Pendidikan di negeri ini sesungguhnya antirealitas. Disebut > antirealitas karena dunia pendidikan tinggi dijadikan menara gading yang > dijauhkan dari masyarakat dan, ini yang memprihatinkan, sudah kehilangan > nalar kritisnya. Lebih memprihatinkan lagi bila pendidikan tinggi > membungkam kritik. Kehilangan nalar kritisnya itu disorot Agus Nuryatno > dalam tulisannya berjudul Kritik Budaya Akademik di Pendidikan Tinggi > (2017). Kata dia, kritik mestinya menjadi bagian penting dalam pengembangan > ilmu pengetahuan dan kelembagaan pendidikan. Sudah saatnya pendidikan > tinggi di negeri ini, meminjam pendapat Paulo Freire, harus berorientasi > untuk membebaskan manusia dari kungkungan rasa takut dan tertekan akibat > otoritas kekuasaan (penindasan). Pendidikan yang menolak budaya bisu untuk > memulihkan kembali kemanusiaan yang telah dirampas. Ikhtiar berpijak pada > realitas untuk menolak budaya bisu itulah yang bisa dimaknai dari unggahan > Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia pada Sabtu (26/6). Melalui > akun Twitter @BEMUI_Official, BEM UI menyebut Presiden Joko Widodo sebagai > 'the King of Lip Service'. Reaksi atas kritik BEM UI berlebihan. Mulai > pemanggilan oleh pihak rektorat hingga peretasan akun media sosial sejumlah > pegiat BEM UI. Reaksi itu ujung-ujungnya membungkam kritik. Meski demikian, > konten dan konteks kritik tetaplah menjadi perhatian. Segala upaya > membungkam kritik harus dilawan. Harus dilawan karena, kata WS Rendra, > apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, hidup akan menjadi sayur > tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan, tidak > mengandung perdebatan, dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan. Berkuasa > memang ada tidak enaknya. Siapa pun yang berkuasa di atas muka bumi ini > pasti menjadi sasaran kritik. Kritik bisa halus atau kasar, sinis atau > sarkastis, tetapi mestinya memiliki nilai yang sama. Kritik ialah madu, > bukan racun. Moral terhadap kritik itu menjadi sangat penting dikemukakan > kepada presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Di antara yang memilih > itu ada yang halus bahasanya, ada pula yang tanpa tedeng aling-aling > langsung sasaran, bahkan cenderung kasar. Setelah dilantik menjadi Presiden > Republik Indonesia, dia ialah presiden untuk siapa pun, termasuk mahasiswa > yang baik halus bahasanya maupun kasar lisannya. Reaksi Presiden Joko > Widodo atas kritik yang dilancarkan BEM UI patut diapresiasi. “Saya kira > ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi, jadi kritik itu > boleh-boleh saja dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk > berekspresi. Tapi juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki > budaya kesopansantunan,” ujar Presiden, Selasa (29/6). Jokowi sudah kenyang > kritik. Kritik yang disampaikan mulai dirinya disebut klemar-klemer, > plonga-plongo, otoriter, bebek lumpuh, Bapak Bipang, dan terakhir 'the King > of Lip Service' yang disematkan BEM UI. Keterbukaan seorang presiden > menerima kritik sesungguhnya buah reformasi. Bangsa ini telah melalui > sebuah era yang sangat pahit. Kebebasan yang terpasung telah melahirkan > situasi serbasemu di masa silam. Kini, kita bersahabat dengan kebebasan dan > jangan sekali-kali membungkam kritik. Presiden Jokowi sampai-sampai meminta > masyarakat untuk lebih aktif dalam memberi masukan dan kritik kepada > pemerintah. Menurut Jokowi, pada 8 Februari, kritik tersebut ialah bagian > dari proses untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik. Sejauh ini, > jujur dikatakan bahwa Jokowi yang dikritik bertubi-tubi tidak membalas > kritik dengan kritik. Apalagi sampai bertanya kepada pengkritiknya apa yang > sudah mereka perbuat untuk kepentingan rakyat? Ia membalas kritik dengan > terus bekerja terutama di masa pandemi covid-19 ini. Terus bekerja karena > menyadari bahwa demokrasi yang dianut didasari pada keyakinan bahwa kritik > ialah vitamin yang menyehatkan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. > Karena itulah, jangan pernah memadamkan kritik dengan represi kekuasaan. > BEM UI telah mencatatkan sejarah kritik mereka. Sejarah, kata Philip > Guedalla, berulang dengan sendirinya. Mahasiswa yang melancarkan kritik > saat ini, ketika nanti berkuasa, juga mendapat kritik. Jangan-jangan mereka > yang berada di lingkaran kekuasaan saat ini juga tukang kritik pemerintah > ketika menjadi mahasiswa. Karena itu, membungkam kritik hakikatnya > antirealitas. > > Sumber: > https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2187-pendidikan-antirealitas > > > > > > -- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210701194035.8f3c8f73b41869ba21b1adbd%40upcmail.nl > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavgnLNHcFPOBrBg41iiRB%3D8WiG%2B%2BdNwENdNnYJhf8MC0PA%40mail.gmail.com.
