https://news.detik.com/kolom/d-5637570/bersatu-padu-hadapi-pandemi?tag_from=wp_cb_kolom_list




Kolom

Bersatu Padu Hadapi Pandemi

Danom Theo - detikNews

Jumat, 09 Jul 2021 17:24 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
Ilustrasi
Foto: Dok. Kominfo
Jakarta -

Ketika masker langka di pasaran akibat pandemi COVID-19, sekitar bulan Maret 
2020, Nurhayati mulai menjalankan mesin jahit manualnya untuk membuat masker 
kain non medis. Perempuan dari Desa Sungai Duri, Bengkayang, Kalimantan Barat 
itu bertekad menjahit masker sebanyak mungkin untuk dibagikannya secara gratis 
kepada petugas dan masyarakat di jalanan.

Bukannya tanpa halangan, namun akhirnya upayanya berbuah manis. Kesulitan 
pertama adalah ia lekas kehabisan bahan kain. Ternyata tingkat produktivitasnya 
juga tidak sesuai bayangan semula. Targetnya tak main-main, 10.000 unit masker. 
Padahal niat Nurhayati hanya ingin mengurangi beban petugas dan masyarakat yang 
berjuang sendiri dengan cara menyediakan masker buatan tangannya.

Gayung bersambut, kata berjawab. Masalah itu tak bertahan lama. Bantuan 
berdatangan dari para tetangganya yang membantu dengan mesin jahit 
sendiri-sendiri dan secara sukarela. Gotong royong itu pun viral hingga semakin 
banyak pihak yang bersimpati. Dukungan meluas hingga berlimpah bantuan bahan 
baku berupa kain, benang, dan juga uang tunai kepada Nurhayati dan para 
sukarelawan.

Kisah lain yang mencuri perhatian datang dari ARMY Indonesia di tahun 2021, 
sebutan bagi penggemar boyband BTS di Tanah Air. Saat itu sedang heboh antrian 
pemesanan BTS Meal dari salah satu gerai resto siap saji itu, ratusan bahkan 
ribuan mitra pengemudi ojek online (driver ojol) yang telah menunggu pesanan 
berjam-jam akhirnya dibubarkan aparat keamanan dengan alasan kesehatan dan 
keselamatan.

Salah satu driver ojol, Bagyo mengaku hanya bisa pasrah ketika antrian 
dibubarkan dan sebagian orderan dibatalkan oleh pihak resto. Ia mengambil 
resiko dalam antrian demi menafkahi keluarganya. Ia dan driver ojol lainnya 
menempuh bahaya terpapar virus COVID-19. Kisah mereka merisak dunia maya.

Para pemesan makanan yang juga adalah penggemar boyband asal Korea Selatan itu 
tersentuh hatinya. BTS ARMY Indonesia, demikian mereka menyebut diri, membalas 
kegigihan para driver ojol dengan menggalang dana melalui platform donasi 
online. Simpati dan dukungan berdatangan pula dari masyarakat luas hingga 
terkumpul sekitar 262 juta rupiah.

Dana disalurkan secara merata kepada driver melalui sistem internal platform 
pemesanan ojol itu. Balas jasa tak berhenti pada donasi uang. Masyarakat 
tergerak untuk berbuat lebih bagi para mitra pengemudi ojek online. Paket 
makanan, sembako, hingga layanan tes antigen gratis bagi driver ojol disediakan.

Nampaknya kebaikan-kebaikan bersama semacam itu terus bergulir di tengah 
pandemi. Kolektivisme mengakar kuat menjadi ciri jati diri bangsa Indonesia, 
bersama-sama menghadapi terjangan COVID-19 yang merusak kehidupan berbangsa dan 
bernegara.

Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa

Masyarakat terdiri dari individu-individu yang pada dasarnya memiliki akal 
sehat dan hati nurani. Pun sebagai bangsa, masyarakat Indonesia memiliki 
pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Aksi gotong royong kebaikan seperti pada 
dua kisah di atas boleh jadi adalah buah dari upaya internalisasi nilai-nilai 
kebangsaan dan kenegaraan selama puluhan tahun yaitu Pancasila.

Perjalanan Pancasila dapat ditelusuri jejaknya dari peristiwa pengasingan, oleh 
pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap Koesno Sosrodiharjo atau lebih 
dikenal sebagai Soekarno. Ia diasingkan di Pulau Ende selama kurun waktu tahun 
1934-1938.

Selama di pengasingan itulah, Soekarno atau Bung Karno mengumpulkan dan 
merumuskan nilai-nilai kebangsaan yang kelak mempersatukan seluruh rakyat 
Indonesia ke dalam sebuah pedoman, yaitu Pancasila.

Pancasila sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua suku 
kata. Panca artinya lima dan sila artinya dasar. Pancasila dimaknai oleh Sang 
Proklamator sebagai lima pedoman hidup berbangsa dan bernegara di Negara 
Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pengasingan, Bung Karno acap kali berdiskusi dengan banyak tokoh, 
diantaranya para misionaris Katolik berkebangsaan Belanda, juga penduduk lokal. 
Tak jarang, lengan baju disingsingkannya untuk membantu warga setempat 
membangun jembatan, Bahkan ketertarikannya pada dunia seni pertunjukan 
diekspresikan dalam pentas seni dan ia menulis naskah dramanya sendiri.

Di sela-sela kesibukan itu, dia sering beristirahat di bawah rindangnya sebuah 
pohon sukun. Pohon itu hanya berjarak 700 meter dari kediamannya. Daunnya 
rimbun dan tegap berdiri menghadap pantai Ende. Di situlah, perlahan-lahan dia 
merenung tentang pengalaman di Ende, dialektika dengan banyak tokoh budaya dan 
agama, serta impiannya untuk berdiri di atas kaki sendiri sebagai insan merdeka.

Gagasan kemerdekaan tidak serta merta diwujudkan semudah membalik telapak 
tangan. Bung Karno menyadari bahwa bangsa ini harus bersatu. Ia membutuhkan 
sesuatu yang dapat menyatukan jutaan orang dari berbagai suku, etnis, budaya, 
agama, politik, dan lain sebagainya.

Permenungan di bawah pohon sukun itu berbuah tujuh tahun kemudian. Perilaku 
sehari-hari masyarakat di berbagai daerah dirumuskan Bung Karno menjadi pedoman 
hidup berbangsa dan bernegara yang akhirnya menyatukan orang-orang sebagai 
bangsa.

Pedoman itu diungkapkannya dalam pidatonya pada sidang Badan Penyelidik Usaha 
Persiapan Kemerdekaan tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno mencetuskan rumusan dasar 
negara dalam lima butir gagasan, yaitu kebangsaan, internasionalisme dan 
kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang 
maha esa. Ia menyebut lima butir gagasan itu sebagai Pancasila.

Nama Pancasila diucapkan Bung Karno dalam pidatonya, begini:

"Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, 
kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, 
tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - 
namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar 
itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi."

Peristiwa itulah yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Pancasila. Pada 
sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945, 
Pancasila dijadikan ideologi dan dasar Negara bersama dengan Undang-Undang 
Dasar 1945.
Baru 71 tahun kemudian, yaitu tanggal 1 Juni 2016, Presiden Joko Widodo 
menandatangani Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir 
Pancasila sekaligus menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Jati Diri Bangsa Indonesia: Bersatu Padu Hadapi Pandemi

Sudah lebih dari 16 bulan setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus 
pertama warga negara Indonesia positif COVID-19. Semenjak itu, pelbagai 
kebijakan pemerintah diterapkan secara bertahap di tingkat nasional dan daerah 
untuk mencegah dan menanggulangi pandemi COVID-19. Terakhir adalah pada 1 Juli 
2021, Presiden mengumumkan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan 
Masyarakat (PPKM) Darurat secara khusus untuk kawasan Pulau Jawa dan Bali.

Di samping itu, pemerintah Indonesia juga menggencarkan program vaksinasi 
gratis bagi masyarakat luas. Data Peta Sebaran dari situs daring 
www.covid19.go.id, diakses per 6 Juli 2021, menunjukkan bahwa vaksinasi ke-1 
telah mencapai angka lebih dari 32 juta orang dan vaksinasi ke-2 telah mencapai 
14 juta orang. Sedangkan tingkat kesembuhan mencapai 84 persen dan kematian 2,6 
persen.

Vaksinasi sebagai intervensi kesehatan diupayakan untuk mempercepat 
pengendalian demi mencapai kekebalan kelompok dengan target sasaran 181,5 juta 
penduduk Indonesia. Program 3T yaitu testing, tracing, dan treatment juga 
digalakkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Dibarengi dengan upaya pemulihan 
ekonomi nasional, pemerintah mencatat realisasi anggaran tersebut sebesar Rp 
252 triliun hingga Semester I-2021.

Penyerapan terbesar diperuntukkan bagi program-program perlindungan sosial, 
dukungan UMKM dan koperasi, kesehatan, insentif usaha, dan berbagai program 
prioritas lainnya. Pasca pemberlakuan PPKM Darurat, pemerintah merelokasi 
anggaran penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional pada sektor 
kesehatan, perlindungan sosial, dan insentif usaha.

Presiden Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu 
melawan pandemi COVID-19. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan 3M mutlak 
diperlukan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Perpaduan 
kerjasama antara pemerintah dan masyarakat harus berkesinambungan antara 3T dan 
3M serta vaksinasi. Inilah kunci menghadapi pandemi.

Danom Theo

(akd/ega)
kominfo
pandemi covid-19





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210709183002.d01d7cc5c931e48af793570d%40upcmail.nl.

Reply via email to