Dasar cina... Bikin susah Orang saja....ngasih duit cash 2T....Sama 
Kapolda.....ngitung duitnya saja bisa tahunan ....mulut sampe dower....?
Kalau pejabat yang nyumbang...Serba Salah......wah ...duit Korup...Tapi 
sebetulnya bagus...hasil Korup di bagikan lagi ke masyarakat..... Mirip Robin 
Hood..
Ataukah para pejabat atau kolaborator Kurup memang hasil dari defected genetic 
flow.....sehingga inhumane...?




Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Wed., Jul. 28, 2021 at 7:48 a.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
https://www.disway.id/r/1391/bantuan-2-t Bantuan 2 T28 July 2021Oleh : Dahlan 
Iskan BUKAN main. Hanya itu yang bisa saya tulis. Kok ada orang menyumbang uang 
Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia. 
Saya harus menghubungi Prof Dr dr Hardi Darmawan. Saya tidak punya nomor 
telepon beliau. Tapi saya kenal dengan kakak beliau. Yang sejak sebelum pandemi 
tinggal di Singapura. Saya hubungi sang kakak. Saya pun mendapat nomor telepon 
Prof Hardi. Saya kirim WA ke beliau. Lalu Prof Hardi yang menelepon saya 
kemarin sore. Awalnya beliau saya ajak bicara dalam bahasa Mandarin. Tapi Prof 
Hardi mengatakan tidak bisa berbahasa ibunya itu. Maka kami pun menggunakan 
bahasa Indonesia.  Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri dan Prof Dr 
dr Hardi Darmawan.  "Sumbangan itu betul ya, Prof? Kok fantastis sekali," kata 
saya. "Betul. Saya kenal baik keluarga itu," jawab beliau. Prof Hardi lantas 
bercerita. Tiga hari lalu beliau dihubungi putri pengusaha itu. "Saya diminta 
ikut menyaksikan," ujar Prof Hardi. Prof Dr dr Hardi Darmawan adalah guru besar 
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Juga aktivis di gereja 
Katolik Palembang. Termasuk menjadi pendiri lembaga pendidikan Katolik Caritas. 
Bahkan pernah mendapat penghargaan dari Sri Paus. "Resminya bantuan itu nanti 
untuk kapolda, gubernur, atau Pemprov Sumsel?" tanya saya. "Ke Kapolda Sumsel 
Pak Eko Indra Heri," ujar Prof Hardi.  "Siapa yang menentukan bahwa bantuan itu 
untuk kapolda Sumsel? Apakah atas arahan Prof Hardi?" tanya saya lagi. "Bukan 
arahan saya. Itu langsung keinginan keluarga. Untuk diberikan ke kapolda," 
jawab Prof Hardi. "Bantuan itu nanti bentuknya uang kontan, cek, atau transfer? 
Atau berbentuk bantuan bahan makanan?" “Bentuknya uang. Akan ditransfer besok," 
jawab Prof Hardi kemarin sore. Berarti hari ini. "Apakah boleh ditransfer ke 
rekening Polda? Juga apakah boleh dikirim ke rekening pribadi kapolda?" tanya 
saya sambil mengingatkan aturan yang ada. “Masih diatur. Mungkin disiapkan 
rekening khusus." Ya sudah. Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang itu. 
Ada orang yang ingin menyumbangkan uang besar kok ditanya prosedur. Yang 
penting diterima dulu. Semoga yang menyumbang itu bisa menyaksikan dengan 
bahagia dari surga di atas sana. Akidi Tio, pengusaha yang menyumbang Rp 2 
triliun itu, meninggal tahun 2009 lalu. Saat itu Tio berusia 89 tahun. Berarti 
101 tahun hari ini. Beliau meninggal akibat serangan jantung. Makamnya juga di 
Palembang. Istri Tio sudah meninggal lebih dulu: tahun 2005. Juga di Palembang. 
Dalam usia 82 tahun. Mereka punya 7 orang anak. Hanya seorang, putri, yang 
masih tinggal di Palembang. Yang lain tinggal di Jakarta. "Semua jadi pengusaha 
sukses," ujar Prof Hardi. Tio adalah pasien Prof Hardi. Istri Tio pasien istri 
Prof Hardi, yang juga seorang dokter. "Saya dan istri akrab dengan keluarga Pak 
Tio," ujar Prof Hardi. Menurut Prof Hardi, keluarga Pak Tio sudah bersahabat 
dengan Kapolda Irjen Eko Indra Heri jauh ke masa belakang. Yakni ketika Eko 
masih perwira dan masih bertugas di Direskrim Polda Sumsel. Ketika Eko pindah 
tugas menjadi kapolres di Langsa, hubungan itu tetap akrab. Tio adalah orang 
Aceh. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Salah satu adiknya punya pabrik di 
Langsa. Saya pun menghubungi Bupati Aceh Timur Rocky Hasbalah Thaib. Siapa tahu 
kenal dengan keluarga Tio. "Beliau sudah lama meninggalkan Langsa. Kami tidak 
kenal di sini. Yang jelas di Langsa memang banyak penduduk Tionghoa sejak 
dulu," katanya. Dilihat dari marganya (Tio), berarti Akidi dari suku Tiuchu. Di 
Palembang memang banyak juga suku Tiuchu. Laksamana Cheng Ho –dengan armadanya 
yang besar– cukup lama singgah di Palembang. Nama Palembang dalam bahasa 
Mandarin disebut Ju Gang (巨港) –pelabuhan besar. Sebagian armada Cheng Ho pilih  
menetap di Palembang –tidak meneruskan pelayaran ke Jawa dan kembali ke 
Tiongkok. Prof Hardi sendiri lahir, besar, dan sekolah di Palembang. Pun gelar 
dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Setelah itu 
dr Hardi memperdalam ilmu penyakit tropik di Amerika Serikat. Yakni di New 
Orleans. Prof Hardi ingat persis sosok Tio yang rendah hati. "Setiap datang ke 
tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih," ujarnya. 
"Tapi mengapa semua teman saya yang Tionghoa di Palembang tidak mengenal Tio?" 
tanya saya. Itu, katanya, karena Tio sangat rendah hati. Juga tidak mau 
menonjol. "Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba 
Tuhan," ujarnya. Beliau, katanya, pernah punya pabrik kecap, pabrik mebel, 
kebun sawit, dan juga kontraktor bangunan. Saya pun menghubungi teman lama. 
Nihil. "Saya tidak kenal nama itu sama sekali," jawab Alex Noerdin –dua kali 
menjadi Gubernur Sumsel yang sukses. Lalu saya menghubungi seorang mantan 
menteri asal Palembang. Jawabnya sama. Saya juga menghubungi lima orang 
pengusaha Tionghoa di sana. Tidak ada yang mengenal nama itu. Saya hubungi juga 
seorang Tionghoa bermarga Tio. "Saya tidak tahu siapa beliau. Tapi sebagai 
sesama marga Tio saya ikut bangga," katanya. Berarti pengusaha ini memang luar 
biasa rendah hatinya. Low profil high profit. Dan yang seperti itu banyak 
sekali di lingkungan masyarakat Tionghoa. Saya punya banyak teman Tionghoa 
seperti itu. Sehari-hari hanya pakai sandal. Bajunya pun lusuh dan dari kain 
yang biasa-biasa saja. Namanya tidak pernah disebut di mana-mana. Tapi uangnya 
luar biasa banyaknya. Saya malu kalau pakai baju bagus di depan mereka. (Dahlan 
Iskan)

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A077389206A24BAFBE5109009D27BB5E%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1594932226.374331.1627480721661%40mail.yahoo.com.

Reply via email to