https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2399-belajar-dari-tragedi-kematian




Jumat 06 Agustus 2021, 05:00 WIB 

Belajar dari Tragedi Kematian 

Administrator | Editorial 

  Belajar dari Tragedi Kematian MI/Duta . TINGKAT keparahan situasi pandemi 
sejatinya tidak hanya dilihat dari seberapa luas, seberapa cepat penyebaran 
atau penularan penyakitnya. Pandemi juga bisa dikategorikan parah jika 
mengakibatkan angka kematian yang tinggi. Karena itu, pengendalian pandemi 
covid-19 sekarang ini pun semestinya dilakukan dengan strategi dan pendekatan 
yang terukur terhadap kedua isu tersebut. Cukupkah kita hanya membendung 
penyebaran virus dengan menggalakkan protokol kesehatan, sedangkan di sisi lain 
fasilitas dan sistem kesehatan tak punya cukup kekuatan untuk mencegah kematian 
pasien-pasien yang sudah telanjur terpapar virus? Lebih celaka lagi kalau di 
hulu kita gagal membendung penyebaran, di hilir pun gagal menghindarkan 
kematian. Jawabannya ialah tidak. Dua sisi itu, hulu dan hilir harus kita 
menangi kalau ingin menguasai pengendalian pandemi. Kalau kita analogikan 
dengan pemberantasan korupsi, ada sisi pencegahan (untuk mengerem laju 
penyebaran virus), ada sisi penindakan (untuk menghindarkan pasien dari ajal). 
Keduanya sama penting dan harus secara paralel dilakukan. Indonesia mengalami 
horor kematian akibat covid-19 dalam dua bulan terakhir. Selama 15 bulan 
pertama (Maret 2020-Mei 2021), jumlah kematian akibat covid-19 di Indonesia 
sebanyak 50 ribu orang, tetapi hanya dalam waktu sembilan minggu hingga awal 
Agustus ini, angka kumulatifnya sudah menembus 100 ribu orang. Juli mencatat 
angka kematian paling memilukan, lebih dari 32 ribu jiwa. Dalam sepekan 
terakhir Juli, kematian rata-rata harian bahkan mencapai 1.582 jiwa. Dalam 
perspektif kemanusiaan, satu kematian pun sesungguhnya ialah tragedi. Lalu 
sebutan apalagi yang pas untuk menggambarkan 100 ribu kematian? Jelas ini 
merupakan pesan penting bagi pemangku kebijakan bahwa situasi pandemi kita saat 
ini sedemikian serius dan parah. Tidak boleh ada lagi dalih ketidaksiapan dan 
keterlambatan penanganan covid-19. Terlebih saat ini penyebaran kasus covid-19 
berikut kematian yang diakibatkannya tengah menanjak di luar Pulau Jawa. Kita 
harus ingatkan lagi, kejadian lonjakan covid-19 yang teramat cepat dan membuat 
kalang kabut hampir semua daerah di Pulau Jawa tempo hari tak boleh terulang di 
luar Jawa. Dari kejadian lonjakan kematian di Jawa itu pun semestinya 
pemerintah belajar bahwa ternyata kematian akibat covid-19 tidak selalu 
didominasi oleh orang lanjut usia (lansia). Satuan Tugas (Satgas) Penanganan 
Covid-19 melaporkan berdasarkan laju kasus kematian pada Juni hingga Juli 2021, 
ada kecenderungan pergeseran risiko kematian akibat wabah itu dari lansia ke 
kelompok masyarakat berusia produktif. Ini semacam antitesis dari 'teori' yang 
kita percayai sejak awal pandemi bahwa kelompok paling berisiko covid-19 ialah 
mereka yang berusia lanjut. Sangat kuat dugaan bahwa pergeseran itu dipicu oleh 
aktivitas dan mobilitas usia produktif yang tinggi dan kecenderungan mereka 
lebih mengabaikan protokol kesehatan. Setiap kasus dan tren harus menjadi 
pembelajaran supaya tidak terjadi kembali. Betul kata seorang pakar, di negara 
maju setiap kematian dijadikan studi kasus untuk mencari tahu penyebab dan 
karakternya. Dari situlah pemerintah bisa memperoleh rujukan strategi. Di sisi 
masyarakat, tren kematian yang mulai banyak menyasar kaum muda semestinya 
menjadi alarm agar kita jangan sekali-sekali bersikap lengah dan menyepelekan 
prokes. Ingat, virus korona dengan semua varian mutasinya kian ganas dan 
berbahaya. Tentu saja situasi akan semakin runyam jika virus yang kian 
berbahaya itu bertemu dengan sikap masa bodoh dan abai masyarakat.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2399-belajar-dari-tragedi-kematian





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210806185404.bb6593bd6142adc3d29fc8d7%40upcmail.nl.

Reply via email to