PKS Mulai “Gertak” Anies?A72 - Thursday, October 28, 2021 16:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pks-mulai-gertak-anies
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berpose bersama Ketua Majelis Syuro 
PKS Salim Segaf Al-Jufri (tengah). (Foto: Istimewa)
7 min read

Majelis Syuro PKS telah memutuskan untuk menyiapkan Salim Segaf Al-Jufri 
sebagai kandidat yang dimajukan partai dalam kontestasi Pilpres 2024. Apa 
strategi PKS di balik manuver ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menyatakan, bahwa 
partainya telah memilih Ketua Majelis Syuro Habib Salim Segaf Al- Jufri (Salim 
Segaf) untuk diusung dalam kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2024 
Pernyataan Mardani yang didasari oleh keputusan Majelis Syuro ini cukup menarik 
— mengingat selama ini partai berlambang bulan sabit dan padi tersebut 
digadang-gadang akan mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam 
kontestasi Pilpres 2024.

Bahkan, beberapa saat lalu Presiden PKS Ahmad Syaikhu secara terang-terangan 
mewacanakan partainya akan menduetkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai 
pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam 
Pilpres 2024.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiludin Ritonga, 
memaparkan langkah PKS mencalonkan Salim Segaf untuk maju dalam kontestasi 
Pilpres dinilai akan sangat berat. Ia memaparkan, mantan menteri sosial 
tersebut dari segi popularitas dan elektabilitas sangat kecil untuk bisa 
bersaing dengan nama besar seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo 
Subianto. 

Baca Juga: Dua Pilihan Bayangi Anies?

 
Hal tersebut tentu menjadi menarik untuk dianalisis. Mengapa PKS memilih untuk 
mencalonkan Salim Segaf untuk maju dalam kontestasi Pilpres? Apa sebenarnya 
kepentingan dan tujuan strategi ini?



Berebut Pengaruh Anies?
Seperti yang terlihat di publik, selama ini PKS nampak memposisikan diri 
sebagai partai yang paling loyal terhadap eksistensi Gubernur DKI Jakarta Anies 
Baswedan. Terhitung sejak mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) 
tersebut duduk di kursi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017 hingga saat ini, 
PKS merupakan partai yang berada di garis terdepan untuk membela berbagai 
kepentingan dan kebijakan dari sang gubernur.

Seperti yang telah dibahas di artikel PinterPolitik sebelumnya berjudul Menguak 
Strategi PKS Amankan Anies, manuver PKS yang sering kali mendompleng Anies 
dimaknai sebagai strategi survival dari partai tersebut. Terkait hal ini, 
penting bagi PKS sebagai partai oposisi untuk terus menjaga eksistensi mereka 
agar tetap menjadi top of mind di publik.

Namun, partai berlambang bulan sabit dan padi ini bukan satu-satunya partai 
yang sedang berebut pengaruh mantan menteri pendidikan tersebut, belakangan 
Anies justru sedang dekat-dekatnya dengan Partai Nasdem. Jika ditelusuri pada 
berbagai kesempatan sebelumnya, Nasdem memang cenderung menampilkan kedekatan 
dan dukungan terhadap Anies. 

Terkait hal ini, banyak pengamat yang menilai bahwa konteks ini jelas terkait 
dengan Pilpres 2024. Di sisi lain, Anies pun terlihat memperlihatkan simbol 
positif atas “pendekatan” yang dilakukan Nasdem tersebut. 

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya berjudul Bela Anies, Pembelotan Tersirat 
Nasdem telah dianalisis beberapa faktor yang menyebabkan Anies cenderung 
memilih Nasdem sebagai pelabuhan politiknya. Dari pemaparan di atas, kita bisa 
menilai bahwa PKS sebagai partai yang selama ini tampak loyal di belakang Anies 
mungkin sedikit banyak khawatir akan kedekatan sang Gubernur DKI Jakarta 
tersebut dengan Nasdem. Di saat yang sama, potensi hilangnya Anies — meskipun 
bukan kadernya sendiri — bisa saja juga membuat PKS akan kehilangan figur kunci 
di balik relevansi mereka selama ini. 

Sebuah ekses minor dari sebuah karakteristik yang dijelaskan Gian Vittorio 
Caprara dan Philip G. Zimbardo dalam Personalizing politics: A Congruency Model 
of Political Preference. Dalam tatanan politik kontemporer, Caprara dan 
Zimbardo menyebutkan bahwa terdapat kecenderungan personalisasi politik, yakni 
ketika publik atau pemilih menjadikan figur sebagai referensi atau acuan untuk 
memilih parpol. 

Baca Juga: Anies, the Next Nex Carlos?


Ketergantungan pada figur tertentu disebut keduanya dapat menjadi persoalan 
tersendiri ketika parpol itu tidak memiliki sama sekali figur prominen yang 
dapat diandalkan. Situasi inilah yang mungkin dihadapi PKS saat ini.

Bila kemungkinan di atas terjadi, PKS berpotensi mengalami degradasi 
tersendiri, yang tak hanya nihil calon untuk diusung, melainkan juga bisa 
kehilangan relevansinya dalam perpolitikan tanah air di saat bersamaan. Lantas, 
jika memang ketergantungan PKS terhadap sosok Anies diyakini masih tinggi, 
mengapa mereka memutuskan untuk fokus mengusung Salim Segaf dalam Pilpres?



Gertakan Politik?
Melihat begitu besarnya pengaruh dan figur Anies terhadap PKS tetapi, di satu 
sisi, mantan Mendikbud tersebut justru terlihat lebih menunjukan kedekatannya 
terhadap Nasdem, realita ini nampaknya membuat dukungan tersirat PKS kepada 
Anies selama ini tampak seperti hubungan tanpa status yang pasti — sebuah hal 
yang kiranya dapat membuat PKS semestinya harus menentukan demarkasi yang lebih 
tegas akan seperti apa relasinya dengan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Kembali ke pertanyaan awal, jika dirasa memang ketergantungan PKS terhadap 
Anies masih tinggi, mengapa mereka baru-baru ini memutuskan untuk fokus 
mengusung Salim Segaf untuk maju dalam kontestasi Pilpres? Bukankah secara 
elektabilitas dan popularitas, jika dibandingkan dengan nama besar seperti 
Anies, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo, nama Salim Segaf bukanlah nama 
yang imbang serta menjual untuk dimajukan dalam Pilpres?

Mengacu pada kondisi tersebut ada satu posibilitas strategi yang mungkin sedang 
dijalankan PKS, yaitu political bluffing atau gertakan politik. Melihat pada 
sejarahnya, gertakan politik atau political bluff memang telah menjadi strategi 
yang lekat digunakan oleh politisi untuk mengakomodir kepentingannya agar 
dipenuhi.

Salah satu gertakan politik paling hebat di dunia adalah peristiwa yang disebut 
dengan The Capitulation of Stettin di Prusia. Diceritakan bahwa pada 29 Oktober 
1806, brigade kavaleri ringan Prancis yang dipimpin Jenderal Brigade Antoine 
Lasalle yang hanya membawa 800 prajurit berkuda dan dua senjata dengan 
mengejutkan mampu membuat Romberg, komandan Benteng Stettin untuk menyerah. 

Padahal, saat itu, Benteng Stettin memiliki hampir 300 meriam dan 5.000 
tentara. Lalu, bagaimana cara Lasalle membuat Romberg menyerahkan Benteng 
Stettin? 

Baca Juga: Menguak Strategi PKS Amankan Anies

 
Saat itu, Lasalle menggertak Romberg bahwa ia membawa 30.000 korps tentara. 
Untuk meyakinkan Romberg, Lasalle memerintahkan para tentara untuk menyeret 
gerbong-gerbong kereta untuk membuat debu beterbangan agar tercipta ilusi 
terdapat puluhan ribu tentara yang sedang berjalan di belakang.

Dari analogi tersebut, sangat relevan bagi kita untuk menilai langkah PKS di 
balik keputusannya yang akan fokus mengusung Salim Segaf dalam kontestasi 
Pilpres sebagai strategi politik yang disebut dengan political bluffing atau 
politik gertak. Indikasi dari kesimpulan ini bisa terlihat dari statement Ketua 
DPP PKS Mardani Ali Sera, misalnya, yang memaparkan saat ini partainya tak akan 
lagi mencarikan momentum bagi Anies Baswedan dalam konteks Pilpres 2024. 

Dengan gertakan ini PKS berharap akan mempunyai bargaining lebih terhadap 
Anies. Analisa serupa diungkap oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political 
Review (IPR) Ujang Komarudin yang menilai langkah PKS mendorong Salim Segaf 
merupakan strategi partai itu untuk bisa mendapatkan bargaining atau posisi 
tawar baik itu untuk sosok Anies ataupun dalam koalisi nanti. Mereka juga 
diyakini masih berharap bahwa mantan Mendikbud itu dapat berlabuh di PKS.

Terkait hal ini, peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 
Ikrar Nusa Bhakti, memaparkan bahwa dalam politik transaksional, mereka yang 
menginginkan adanya perubahan sikap dan tindakan politik dari para aktor 
politik (kawan atau lawan), akan menggunakan power yang mereka miliki untuk 
mempengaruhi sikapnya. Ini disebut dengan bargaining power. Lebih lanjut, Ikrar 
menyebut tawar-menawar politik (political bargaining) dapat berupa tawaran yang 
menguntungkan, atau bahkan gertakan politik seperti apa yang dilakukan PKS saat 
ini. 

Pada akhirnya, manuver PKS yang menegaskan akan mengusung Salim Segaf dalam 
Pilpres 2024 memang bisa diinterpretasikan sebagai strategi gertak politik demi 
meningkatkan bargaining politik mereka terhadap Anies khususnya. Berhasil atau 
tidaknya strategi ini akan terjawab dari perubahan sikap dan posisi Anies 
terhadap PKS kedepannya. 

Namun, melihat kondisi PKS yang hanya berbekal suara sebesar 8 persen di 
parlemen, ditambah dengan rendahnya popularitas serta elektabilitas dari Salim 
Segaf, sepertinya strategi politik gertak ini tak akan banyak meningkatkan daya 
tawar PKS terhadap Anies. Mari kita nantikan saja taktik apa lagi yang akan 
digunakan PKS. (A72) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C5C5E141AAB748E1A5F2B28E2752C2D4%40A10Live.

Reply via email to