Yahya Bawa PBNU ke Barat?R53 - Friday, December 31, 2021 19:17
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/yahya-bawa-pbnu-ke-barat
 
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Foto: iNews)
7 min read

Terpilihnya Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU dinilai membawa 
perubahan terkait arah politik luar negeri PBNU. Lantas, mungkinkah PBNU akan 
lebih dekat ke Barat, yakni Amerika Serikat, setelah sebelumnya dinilai dekat 
dengan Tiongkok yang menjadi representasi Timur?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pucuk tertinggi telah berganti. Setelah dipimpin selama dua periode oleh Said 
Aqil Siradj, sekarang kursi Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU) diduduki oleh Yahya Cholil Staquf. Sosok satu ini bukanlah nama 
sembarang. Namanya bahkan sempat masuk radar kabinet pada Desember 2020, ketika 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle pertama di periode keduanya. 

Sempat digadang-gadang menggantikan Fachrul Razi menjadi Menteri Agama (Menag), 
yang terpilih ternyata adalah adik Yahya, yakni Yaqut Cholil Qoumas.

Terkait pemilihan Ketum PBNU kali ini, ada berbagai analisis menarik yang 
terlihat. Kurniawan Muhammad dalam opininya di JawaPos, misalnya, memberi 
pertanyaan, mengapa Muktamar NU kali ini terasa seperti kontestasi pilpres?

Bukan tanpa alasan, dengan fakta ini adalah urusan internal NU, para kandidat 
ketum justru banyak muncul di headline pemberitaan media. Layaknya tes ombak 
menjelang pilpres, para kandidat seolah menghamparkan dirinya ke hadapan publik 
untuk dinilai. Apakah mereka mendapat respons positif, atau justru mengalami 
resistensi. Sekalinya lagi, polanya mirip seperti pilpres.

Salah satu poin menarik yang disebutkan Kurniawan adalah, Muktamar NU kali ini 
diduga memiliki kaitan dengan Pilpres 2024. Menurutnya, sebagai ormas Islam 
terbesar di Indonesia, siapa yang akan menjadi Ketum PBNU akan menjadi top 
figure dan sangat diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan politik, baik di 
lingkungan pemerintah maupun partai politik.

Dan terbukti, pada 29 Desember, Yahya bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana 
Kepresidenan Bogor. "Saya melaporkan hasil Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama 
kemarin… Kemudian saya melaporkan juga hasil-hasil yang disepakati di dalam 
Muktamar mengenai program-program, agenda-agenda yang tentunya nanti akan 
sangat terkait dengan prospek kerja sama-kerja sama, termasuk dengan 
pemerintah," ungkap Yahya.

Pertemuan ini jelas merupakan simbol dan pesan politik bahwa posisi NU begitu 
vital. Bukan tanpa alasan kuat, dengan jumlah Nahdliyin yang disebut mencapai 
40-60 juta, NU jelas memiliki political capital yang luar biasa. 

Well, kembali pada tulisan Kurniawan, mengapa Muktamar NU kali ini terasa 
seperti pilpres? Apakah ada signifikansi tersendiri di balik dua kandidat 
utama, yakni Said Aqil dan Yahya?


  
Dari Timur ke Barat?
Untuk membahas signifikansi keduanya, kita perlu melihat arah kedekatan PBNU di 
bawah kepemimpinan Said Aqil, yang menurut berbagai pihak memiliki kedekatan 
dengan Tiongkok. 

Konteks ini misalnya terlihat dari buka puasa bersama PBNU dengan Duta Besar 
(Dubes) Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian pada 4 Mei lalu. Tercatat, kegiatan 
keakraban tersebut telah dilakukan sebanyak lima kali.

Dalam acara tersebut, Said Aqil Siroj menyinggung berbagai kerja sama antara 
PBNU dengan Tiongkok yang telah terjalin, di antaranya adalah program beasiswa 
untuk para santri dan pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di 
berbagai pesantren di Jawa dan Banten. 

Di awal pandemi, Tiongkok juga membantu PBNU menyiapkan 300 alat pelindung diri 
(APD), 1.920 alat rapid test, 16.000 masker, serta 1000 paket sembako.

Dari indikasi-indikasi kedekatan yang ada, mungkin dapat disimpulkan, Tiongkok 
tengah melakukan diplomasi publik. Ini merupakan diplomasi yang dilakukan 
dengan masyarakat sebagai targetnya. Menurut Jan Melissen dalam bukunya The New 
Public Diplomacy, diplomasi publik dilakukan melalui pembangunan relasi dengan 
organisasi-organisasi sipil (civil society organizations).

Terkhusus pemberian beasiswa, kita dapat mengutip tulisan Sue Enfield yang 
berjudul Evidence for Soft Power Created via Scholarship Schemes. Menurutnya, 
pemberian beasiswa pendidikan adalah alat yang biasa digunakan sebagai soft 
power yang dirancang sedemikian rupa untuk melayani kepentingan negara tuan 
rumah, sehingga memengaruhi negara yang diberikan beasiswa dalam jangka panjang.

Pemberian beasiswa semacam itu, tidak hanya untuk memengaruhi, melainkan juga 
sebagai sarana bertukar budaya, yang nantinya dapat memengaruhi persepsi 
penerima beasiswa terhadap negara tujuannya. Konteks ini misalnya dapat dilihat 
dari artikel yang dimuat NU Online yang berjudul Tak Sulit Menemukan Makanan 
Halal untuk Berbuka Puasa di China.

Artikel yang berisi testimoni dari alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia 
(PMII) Sarah Hajar Mahmudah tersebut menyebutkan kemudahan dalam menemukan 
makanan halal di Tiongkok karena stok makanan yang melimpah, terdapat label 
halal, serta warga lokal yang kerap membantu dalam mencari barang yang 
dibutuhkan.

Dan yang lebih menarik lagi, mengutip Jon Emont dalam tulisannya How China 
Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps, Tiongkok disebut 
melakukan manuver terhadap ormas Islam di Indonesia untuk menekan kritik atas 
dugaan diskriminasi terhadap kelompok Muslim Uighur di Xinjiang. Disebutkan, 
Tiongkok memberikan sejumlah donasi dan program beasiswa pada NU dan 
Muhammadiyah sejak tahun 2018 ketika isu Uighur mencuat ke publik.

Jika benar Tiongkok melakukan pendekatan intens terhadap PBNU, dan sepertinya 
cukup berhasil, tentu sulit membayangkan Amerika Serikat (AS) selaku pesaingnya 
berdiam diri. 

Indikasi simpulan ini misalnya terlihat pada Oktober 2020 ketika Menteri Luar 
Negeri (Menlu) AS saat itu, Mike Pompeo, mengunjungi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, 
kelompok sayap pemuda NU. Sama seperti Tiongkok, setidaknya sejak tahun 
2000-an, AS juga mulai memberikan program-program beasiswa kepada siswa-siswi 
pesantren dan madrasah.

Nah, di tengah eskalasi ketegangan AS-Tiongkok di bawah kepemimpinan Joe Biden, 
sosok pemimpin NU yang memiliki kedekatan lebih dengan Paman Sam dapat menjadi 
signifikansi vital. Entah kebetulan atau tidak, sosok itu terlihat dalam diri 
Yahya. 

Pada kunjungan Pompeo, misalnya, Yahya yang saat itu menjabat sebagai Katib Aam 
NU, disebut menjadi sosok di balik kedatangan Pompeo. Pada Juni 2018, Yahya 
juga hadir dalam konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) di 
Yerusalem. 

Pada bulan itu, Yahya juga berkesempatan bertemu dengan Perdana Menteri (PM) 
Israel Benjamin Netanyahu. Seperti yang jamak diketahui Israel merupakan negara 
yang disebut-sebut menjadi sekutu terdekat AS di kawasan Timur Tengah.

Dalam kacamata studi Hubungan Internasional, mungkin dapat dikatakan, 
perpindahan kursi Ketua Umum PBNU dari Said Aqil ke Yahya menjadi indikasi awal 
berpindahnya kedekatan NU dari Timur ke Barat.

 
  
AS Jadi Jembatan?
Menariknya, terpilihnya Yahya menjadi Ketum PBNU tidak hanya menjadi perhatian 
media dalam negeri, melainkan juga berbagai media luar negeri. Media Israel, 
The Jerusalem Post, misalnya, memuat artikel Omri Nahmias yang berjudul Experts 
weigh in on normalization between Israel and Indonesia.

Artikel tersebut mengutip pernyataan profesor di Pardee School of Global 
Affairs Boston University, Robert Hefner, yang menyebut Yahya Cholil Staquf 
terus membicarakan poin terkait Indonesia perlu membuka hubungan diplomatik 
dengan Israel, baik di lingkungan presiden maupun masyarakat luas.

Namun baru-baru ini, Yahya memberikan bantahan atas tudingan dirinya dekat 
dengan Israel. Dalam wawancaranya bersama MNC Portal, Yahya menyebut dugaan 
tersebut hanyalah gimmick Muktamar. Menurutnya, masalah Israel-Palestina tidak 
akan bisa diselesaikan melalui pendekatan politik, sehingga isu ini tidak boleh 
dijadikan komoditas politik belaka. Masalah fundamentalnya adalah agama, 
menurut Yahya. 

Well, terlepas dari ada tidaknya kedekatan tersebut, narasi yang dibawa Yahya 
sejalan dengan AS. Bahkan sejak era kepemimpinan Donald Trump, Paman Sam telah 
membujuk Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Topik tersebut 
juga menjadi pembahasan Menlu AS Antony Blinken ketika bertemu Menlu Retno 
Marsudi pada awal bulan ini. 

Dari variabel-variabel tersebut, kita dapat menarik dua kesimpulan. Pertama, 
pergantian pucuk kekuasaan di PBNU tampaknya menguntungkan AS karena sejalan 
dengan keinginan mereka agar Indonesia menormalisasi hubungan dengan Israel, 
dan sekaligus mengendurkan hubungannya dengan Tiongkok. 

Konteks ini juga sejalan dengan dugaan bahwa pemerintahan Jokowi disebut mulai 
lebih dekat dengan AS daripada Tiongkok di periode keduanya.

Kedua, seperti pernyataan Kurniawan Muhammad, Muktamar NU memiliki korelasi 
dengan Pilpres 2024. Sebagai salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia, 
tentu penting bagi berbagai pihak untuk beramah-tamah dengan pucuk tertinggi 
kursi PBNU. Dan sekali lagi, ini penting bagi AS.

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Washington akan Intervensi Pilpres 
2024?, terdapat dugaan bahwa AS akan “bermain” di Pilpres 2024 mendatang. Jika 
benar demikian, memiliki hubungan baik dengan ormas Islam terbesar di Indonesia 
tentu saja sangat penting.

Namun, ada satu catatan penting. Jika benar diplomasi publik Tiongkok berhasil 
karena memberikan berbagai bantuan dan benefit, AS harus memberikan benefit 
yang lebih besar agar kecondongan yang diharapkan dapat terjadi. Ini adalah 
prinsip diplomasi sederhana. Tidak mungkin suatu pihak berpindah jika benefit 
yang didapatkan relatif sama, apalagi di bawahnya.

Well, kita lihat saja bagaimana kelanjutan persoalan ini. Benar tidaknya Yahya 
membawa PBNU lebih dekat ke Barat daripada Timur, mungkin hanya bisa dijawab 
oleh waktu. Bisa juga ini hanyalah asumsi teoretis semata. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/17ED1F7570514215AFFAD7677A936C60%40A10Live.

Reply via email to