Jangan bosan membelejeti kemunafikan kaum revisionis! Apa yang dibaca, kegiatan apa yang dilakukan, dan lingkungan pergaulan dari orang seperti saya sudah tentu tidak sama dengan yang dilakukan anjing jaga remo Siauw Tiong Tjing serta konco-konconya. Bagi saya, Pao Yu-ching, Mingqi Li, Han Dong-ping, Wang Zheng, Bai-Di, Mobo-gao, Xing Li, Hongsheng Jiang, Prof. Wertheim, Maurice Meisner, William Hinton, Fred Engs, Jean Daubier, Edgar Snow, dan masih ada beberapa nama lagi yang tidak saya ingat sekarang, adalah peneliti dan penulis yang dengan serius mempelajari sejarah dan perkembangan Partai dan Negara Tiongkok. Tapi saya baca juga buku-bukunya penulis yang anti-komunis dan anti-Mao yang mendapat dukungan kaum imperialis, seperti Jung-chang dan Li Zhisui.
STT bersandar pada pokoknya pada berita dan propaganda resmi pemerintah kapitalis monopoli/revisionis yang berkepentingan membungkam suara kaum buruh dan kaum pekerja lainnya serta para aktivis pembela hak-hak demokra-tis dan kesejahteraannya. Persis seperti rezim Soeharto yang mengharuskan satu versi sejarah yang resmi direstui, begitu juga rezim kapitalis monopoli-revisionis China mengharuskan satu versi dalam menginterpretasi sejarah dan kenyataan ekonomi, politik dan sosial Tiongkok aktual. Mencatut periode pembangunan sosialis di bawah pimpinan Mao, tidak mengakui adanya dua periode di mana terdapat dua sistem ekonomi yang bertolak belakang: sosialisme dan kapitalisme. Inilah yang dijunjung dan diamini oleh para antek dan pendukung China imperialis. Berkali-kali saya menunjukkan kepalsuan dan kemunafikan kaum revisionis China yang berkuasa, sifat yang juga dimiliki oleh STT. Kepalsuan dan kemunafikan kaum revisionis China sudah lama dibelejeti oleh kaum komunis dan kaum revolusioner yang tergabung dalam berbagai partai dan organisasi massa berbagai negeri termasuk di Tiongkok sendiri. Simak sendiri kata-kata seorang komunis Tiongkok yang ditujukan kepada para pendukung pemerintahan Xi, dalam tulisannya, 10 Januari 2022. Let it be perfectly clear to anyone who defends Xi’s administration: China’s nominally Communist Party has always sung the praises of Mao and Marx, while at the same time systemically hunting down and persecuting the most ardent Maoist and Marxist activists in the country. Take for example, Qiu Zhanxuan, president of the Peking University Marxist Society, who was detained by police as a “warn-ing” in 2018 while on his way to celebrate Mao’s birthday, then detained again in February 2019, after which he recorded a video saying he had been tortured while in custody. Finally in April 2019 he disappeared a third time while visiting a factory district “to expe-rience workers’ life,” and has not been heard from since. Jelas, ia melihat organisasi yang secara NOMINAL menyandang nama Partai Komunis, selalu menyanyikan pujian kepada Mao dan Marx, sementara dalam prakteknya, secara sistematis memburu dan menganiaya aktivis Maois dan Marxis yang paling bersemangat di negeri ini. Bukankah saya selalu menunjukkan kemunafikan Partai yang menamakan dirinya “Komunis” itu? Hanya orang-orang revisionis seperti STT yang terus mimpi di tengah hari bolong membayangkan “kejayaan” PKT yang sudah lama dihancurkan. Oleh karena itu sebenarnya Kaisan Xi harus menggantinya dengan nama Partai Kapitalis Tiongkok, barulah ada kecocokan antara bentuk dan isi. Sudah beberapa kali saya mempostingkan berita tentang kaum muda Maois, kegiatannya, dan juga penindasan yang dilakukan kaum penguasa kapitalis monopoli/revisionis China yang tak kalah kejamnya dari rezim fasis Suharto. Kaum revisionis menggunakan penculikan, penghilangan paksa dan juga penyiksaan baik physik maupun psikologis, seperti diajukan oleh penulis Marxis Tkk tentang Qiu Zhanxuan, ketua Peking University Marxist Society, yang ditangkap tahun 2018, dalam perjalannya menuju tempat peringatan hari lahir Mao. Dibebaskan untuk ditangkap kembali bulan Februari 2019. Setelah dibebaskan, ditangkap untuk ketiga kalinya dan hilang sampai sekarang, seperti ditelan bumi! Dia sempat menyatakan dirinya mengalami penyiksaan… Sebetulnya, kondisi kerja kaum buruh yang misalnya, menghasilkan 6 juta penderita pneumoconiosis sudah merupakan siksaan seumur hidup sampai ajalnya! Apakah 18 buruh pabrik Fosconn yang bunuh diri juga bukan pencerminan dari kondisi kerja dan hidup yang begitu menyiksa sehingga mereka ambil keputusan drastis mengkahiri hidupnya ? Jurang ideologi antara saya dan STT menempatkan kami di barisan yang kepentingan kelasnya bertolak belakang 180 derajat. Dalam keadaan perang, bukannya tak mungkin kami akan saling tembak, ha…ha..!!! Jadi teringat pada anekdot percakapan antara Lenin dan Maxim Gorki. Maxim Gorki menyatakan keraguannya akan politik Bolsjewik/Lenin terhadap musuh-musuh kelasnya.. Lenin mencoba menjelaskannya. Ketika terjadi penembakan terhadap Lenin yang menyebabkan kematiannya yang terlalu cepat, Lenin hanya menun jukkan, itulah kenyataannya. Artinya musuh tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan/pembunuhan… Sent from Mail for Windows -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1891603639.270149.1642007521572%40yahoo.com.
