Kenapa Wacana ‘Jokowi Maju’ Keluar Berkala?R53 - Monday, January 17, 2022 15:51
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-wacana-jokowi-maju-keluar-berkala
 
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersama dengan Presiden Joko Widodo (Foto: 
Detikcom)
6 min read

Narasi mendorong Jokowi maju untuk yang ketiga kalinya telah terdengar sejak 
November 2019. Setelah sebelumnya ada deklarasi untuk pasangan Jokowi-Prabowo, 
sekarang ada dukungan agar Jokowi maju sebagai wakil Prabowo di Pilpres 2024. 
Kenapa narasi ini tetap keluar secara berkala?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I think it’s a trial balloon to see what happens, and I’m not impressed with 
it.” — Jim McDermott, politisi Amerika Serikat

Joko Widodo (Jokowi) begitu fenomenal. Kemunculannya di Pilkada DKI Jakarta 
2012 membawa harapan baru di tengah publik. Tidak berhenti memenangkan DKI, 
mantan Wali Kota Solo ini terpilih sebagai RI-1 di Pilpres 2014. A New Hope 
tulis majalah Time waktu itu. Jokowi disebut sebagai Barack Obama-nya 
Indonesia. Pemimpin merakyat yang tidak datang dari kalangan elite atau militer.

Kendati telah memasuki periode keduanya saat ini, dukungan masyarakat terhadap 
Jokowi terus menggelora. Setidaknya, ini terlihat jelas dari dorongan agar 
Jokowi kembali maju di Pilpres 2024. Terlepas dari benar atau tidaknya, wacana 
ini menunjukkan terdapat pihak yang menggantungkan harapannya pada Jokowi. 
Setidaknya, sejak November 2019, wacana meminta Jokowi maju kembali telah 
terdengar di tengah publik.

Sampai saat ini, wacana tersebut terus keluar secara berkala, bahkan sempat ada 
deklarasi Jokowi-Prabowo pada Oktober dan Desember 2021. Dan, kini, setelah 
wacana itu ramai ditolak dan dikritik, muncul wacana alternatif untuk 
menempatkan Jokowi sebagai wakil Prabowo Subianto. 

"Kami dari Sekretariat Bersama (Sekber) Prabowo-Jokowi mendorong Bapak Prabowo 
Subianto, calon presiden dan Bapak Joko Widodo, calon wakil presiden," ungkap 
G. Gisel, Ketua Koordinator Sekber Prabowo-Jokowi pada 15 Januari.

Dari serangkaian fenomena ini, muncul satu pertanyaan sederhana, mengapa wacana 
mendorong Jokowi maju muncul secara berkala? Bahkan, setelah ditolak oleh 
Jokowi sendiri, mengapa wacana ini tetap muncul?



Perang Udara dan Perang Teritorial
Untuk menjawabnya, kita dapat melihat strategi penyerangan Jerman Nazi di 
Perang Dunia II. Sebelum menurunkan tank dan prajurit infanterinya, Adolf 
Hitler selalu mengerahkan terlebih dahulu pasukan udara khusus yang disebut 
Luftwaffe. Disebutkan, total produksi pesawat Luftwaffe mencapai 119.871 unit 
dengan sekitar 3.400.000 personel.

Dengan jumlah sebanyak itu, serangan udara Jerman Nazi begitu menakutkan. 
Bom-bom yang diturunkan layaknya hujan deras dengan ledakan tiada henti. 
Setelah menghancurkan, atau setidaknya melemahkan pertahanan musuh, tank-tank 
Jerman Nazi yang cepat dan pasukan infanteri kemudian melakukan finalisasi 
penguasaan wilayah.

 
Yang menarik adalah, mengutip George Dimitriu dalam tulisannya Clausewitz and 
the Politics of War: Contemporary Theory, strategi penyerangan seperti itu juga 
telah diadopsi dalam strategi politik modern. Sama dengan militer, pasukan 
politik juga dibagi dua, yakni pasukan udara dan pasukan infanteri. 

Pasukan udara adalah tim siber, yakni mereka yang menciptakan narasi di tengah 
media. Pada konteks tertentu, pasukan udara disebut juga sebagai buzzer atau 
pendengung. Sama seperti Luftwaffe, pasukan siber tidak bertugas untuk 
melakukan finalisasi, melainkan melakukan penetrasi awal. Tugas mereka adalah 
membuka jalan bagi pasukan infanteri, yakni menyusupi narasi politik ke ingatan 
publik. Banyak politisi menyebutnya sebagai perang udara.

Setelah serangan udara berhasil dilakukan, serangan kemudian berlanjut ke 
perang teritorial. Pasukan infanteri, yakni politisi-politisi lapangan 
melakukan berbagai strategi, seperti konsolidasi, blusukan, hingga melakukan 
pendekatan-pendekatan praktis ke target sasaran. 

Nah, pada kasus terus munculnya wacana Jokowi maju di Pilpres 2024, ini adalah 
perang udara. Pihak-pihak yang berkepentingan tengah mengerahkan Luftwaffe 
mereka. Sama seperti Jerman Nazi yang menurunkan Luftwaffe secara berkala, 
wacana memajukan Jokowi juga dilakukan secara demikian.

Secara khusus, strategi ini disebut dengan trial balloon, yakni wacana yang 
sengaja dilepas untuk melihat dan memetakan reaksi publik. Tidak hanya 
diperuntukkan kepada publik, politisi juga kerap menggunakan taktik ini untuk 
melakukan diplomasi terbuka. Suatu isu sengaja dilempar untuk melihat reaksi 
politisi atau partai lain — apakah mereka tertarik atau tidak. Jika tertarik, 
lobi-lobi belakang layar kemudian akan dilakukan.

Well, seperti pernyataan Jim McDermott di awal tulisan, ini adalah trial 
balloon dan kita tidak perlu terkejut menanggapinya. Namun, yang menjadi 
pertanyaan serius adalah, meskipun wacana ini telah ditolak Jokowi 
berkali-kali, serta masyarakat luas juga menolaknya, mengapa trial balloon ini 
tetap dilakukan?



Kerangkeng Vetokrasi?
Secara cepat, banyak pihak akan menyebut bahwa ini adalah kehendak oligarki. 
Terdapat konglomerasi bisnis yang tampaknya nyaman dengan pemerintahan Jokowi, 
sehingga mendorongnya untuk maju. Asumsi semacam ini tidak salah, tetapi kurang 
tepat.

Seperti yang ditegaskan dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Musuh Kita 
Bukan Oligarki?, masalahnya tidak terletak pada oligarki, melainkan vetokrasi. 
Sedikit mengulang, vetokrasi atau vetocracy adalah sistem tata kelola 
pemerintahan yang tidak berfungsi karena tidak ada satu entitas politik yang 
dapat memperoleh kekuasaan yang cukup untuk membuat keputusan dan mengambil 
alih tanggung jawab yang efektif.

Mereka para vetokrat, adalah kelompok kepentingan yang terorganisir dengan baik 
dan kaya, serta dapat memblokir inisiatif kebijakan yang tidak mereka sukai. 
Poin penekanannya adalah hak veto. Vetokrat adalah elite politik dan/atau 
ekonomi yang memiliki hak veto dalam menentukan jalannya pemerintahan.

Nah, poin vetokrasi ini yang menjadi variabel pembeda utama. Pasalnya, menurut 
peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, 
isu presiden tiga periode sudah ada sejak era pemerintahan Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY). Artinya, ini bukan isu baru, melainkan “mainan” lama.

Kemudian, dengan fakta oligarki ada di setiap pemerintahan, variabel pembeda 
utama adalah muncul tidaknya para vetokrat. Dengan tidak ramainya wacana tiga 
periode di pemerintahan SBY, mungkin dapat disimpulkan vetokrat tidak berdiri 
di belakang wacana itu.

Namun, sekarang, dengan terus bergulirnya wacana ini secara berkala, tampaknya 
ada vetokrat yang mendukung. Mereka, siapa pun itu, adalah elite politik 
dan/atau ekonomi yang mungkin merasa diuntungkan di bawah pemerintahan Jokowi. 


  
Duet Prabowo-Jokowi Bukan Solusi?
Terkait kesimpulan ini, tentu ada yang membantah. Direktur Eksekutif Indo 
Barometer M. Qodari, misalnya, akan merujuk pada argumentasi bahwa duet 
Jokowi-Prabowo atau Prabowo-Jokowi diusung karena bertolak dari polarisasi 
ekstrem pada Pilpres 2019. Karena kedua tokoh tersebut mewakili kedua kutub 
masyarakat, maka menyatukan keduanya dinilai sebagai solusi untuk menghilangkan 
polarisasi.

Secara cepat, argumentasi tersebut dapat disimpulkan sangat masuk akal. Namun, 
ada satu poin penting yang tidak diungkap, yakni polarisasi bukanlah buah dari 
Jokowi dan Prabowo, melainkan buah dari strategi kampanye partai dan/atau 
koalisi.

Cara membuktikannya sederhana, yakni kemenangan Anies Baswedan di Pilkada DKI 
Jakarta 2017. Dengan derasnya isu identitas saat itu, dan terbukti membawa 
kemenangan bagi Anies, sangat masuk akal untuk menduga bahwa strategi serupa 
ingin diadopsi pada Pilpres 2019. Sekali lagi, ini adalah buah strategi 
politik. 

Sedikit konteks, penelitian terkait penggunaan politik identitas di kedua 
pemilu tersebut telah banyak dilakukan. Misalnya artikel The Effect of Islam, 
Millennials, and Educated Voters to Anies-Sandi Victory of 2nd Round DKI 
Jakarta Governor Election in 2017 dan Identity Politics' Issue in Indonesia 
Presidential Election 2019.

Dengan kata lain, untuk mencegah polarisasi seperti di Pilpres 2019, bukan 
dengan cara menggabungkan Jokowi dengan Prabowo, melainkan tidak mengulangi 
kembali strategi politik identitas yang memecah belah.

Well, sebagai penutup, mungkin dapat disimpulkan bahwa terus keluarnya wacana 
Jokowi maju di Pilpres 2024 adalah buah dari dukungan pihak-pihak tertentu. 
Terlepas dari Jokowi setuju atau tidak, mereka sepertinya ingin terus melakukan 
serangan udara atau infiltrasi narasi ke ingatan publik. Kita lihat saja apakah 
serangan udara ini berbuah penguasaan teritori atau tidak. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/81693356F31A466282697B13CAC55706%40A10Live.

Reply via email to