https://news.detik.com/kolom/d-5936816/pesantren-dan-afiliasi-jaringan-teroris



Kolom

Pesantren dan Afiliasi Jaringan Teroris

M. Saekan Muchith - detikNews

Jumat, 11 Feb 2022 14:20 WIB
7 komentar
SHARE
URL telah disalin
Pesantren dan Afiliasi Jaringan Teroris
M. Saekan Muchith (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR pada 26 Januari lalu, Badan 
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan ada 198 pesantren yang 
terafiliasi dengan terorisme. Beberapa elemen masyarakat, termasuk NU dan MUI, 
mempertanyakan akurasi datanya,. Seakan tidak rasional jika ada ratusan 
pesantren yang sudah terafiliasi dengan gerakan teroris.

Dilematis memang; satu sisi BNPT lembaga resmi negara yang dilindungi undang 
undang dan menyampaikan informasi dalam forum resmi kenegaraan di hadapan 
Komisi III DPR, tidak mungkin BNPT memberi paparan data tanpa didasarkan data 
dan fakta yang valid dan reliable. Di sisi lain, sebagai umat Islam dan bangsa 
Indonesia rasanya sakit dan tidak percaya jika para aktivis teroris sudah 
berhasil mempengaruhi bahkan "mencuci otak" pondok pesantren di Indonesia.

Fitrah Teroris

Karakter dasar (fitrah) teroris adalah berusaha memanipulasi, mereduksi, dan 
merekayasa pesan agama sesuai dengan kepentingan yang ingin dicapai meskipun 
dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agama.

Gerakan teroris diawali dari pembelokan makna agama ke makna sesuai yang 
diinginkan. Ingin membunuh orang lain yang seagama, mereka mencari pesan atau 
dalil untuk mengkafirkan agar bisa halal darahnya alias boleh dibunuh. 
Abdurahman Ibnu Mulzam seorang tokoh agama hafal Alqur'an, rajin puasa sunah, 
dan paling rajin salat malam (tahajud) tega membunuh Sayyidina Ali Ibnu Abu 
Thalib, karena memanipulasi makna kafir dalam Alqur'an sampai sampai 
menyimpulkan Sayyidina Ali telah kafir dan halal dibunuh.

Ingin menyerang aparat negara yang sah, mereka memaknai dalil agama tentang 
thoghut. Semua aparat hukum dan keamanan negara dikategorikan thoghut, sehingga 
wajib diserang. Mengajak orang agar mau mencuri dan merampok, mereka 
memanipulasi makna tentang jihad. Mengambil dan merampok milik orang kafir 
direkayasa maknanya sebagai sebuah jihad di jalan Allah. Ingin melakukan 
pelecehan seksual dan melegalkan perzinahan, mereka membuat istilah jihad 
pernikahan.

Semua itu dilakukan untuk menutupi kejahatan dan kebobrokan moralnya agar 
terlihat beretika dan berkepribadian di mata kelompoknya.

Mengapa Pesantren?

Mengapa jaringan teroris bisa berafiliasi ke pesantren? Bukankah pesantren itu 
tempat belajar agama? Tempat akhlak agama diajarkan? Tempatnya para kiai atau 
ahli agama mengajarkan pemahaman agama? Justru karena semua itu, gerakan 
teroris memiliki peluang besar bisa berafiliasi dengan pondok pesantren.

Faktor pertama dan utama terjadinya gerakan radikal yang berujung teroris 
disebabkan pemahaman teks atau ajaran Islam yang dimanipulasi dan dipahami 
secara sempit (tekstualis). Agar bisa membelokkan atau memanipulasi ajaran 
Islam, satu satunya tempat yang mudah harus lewat lembaga yang sehari harinya 
mengajarkan materi agama Islam salah satunya pondok pesantren.

Pondok pesantren selain dikenal mengajarkan agama Islam juga menanamkan nilai 
nilai kepribadian (akhlak) beragama. Isu lain yang ditanamkan para teroris 
kepada calon calon pengikutnya adalah tentang akhlak dalam menjalankan ajaran 
agama Islam atau biasa disebut sebagai jihad di jalan Allah. Semua kejahatan 
bahkan kebiadaban dibungkus atau dilabeli dengan akhlak agar dianggap sebagai 
ajaran mulia. Bungkus kejahatan akan lebih mudah jika dikemas melalui 
simbol-simbol lembaga yang mengajarkan moralitas diantaranya pondok pesantren.

Pondok pesantren tempat orang-orang yang berhati mulia, tempatnya orang yang 
berjuang atau pengabdian tanpa pamrih (ikhlas) sehingga lebih dekat dengan 
masyarakat. Ada beban etik jika mempersoalkan atau menentang gerakan yang 
menggunakan simbol yang dimiliki pondok pesantren. Tidak sedikit masyarakat 
yang percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan orang-orang yang dianggap 
orang baik atau memiliki hati yang mulia (oknum kiai/santri) meskipun yang 
dikatakan itu merugikan banyak orang.

Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang bernama Amru Bin Luhay yang sukses 
mempengaruhi dan mengajak masyarakat Mekkah untuk menyembah berhala karena Amru 
Bin Luhay dikenal orang yang baik akhlaknya, halus tutur katanya, serta rajin 
bersedekah. Masyarakat tidak sadar jika ajakan menyembah berhala Amru Bin Luhay 
itu ajakan yang sesat dan menyesatkan karena dibungkus dengan simbol-simbol 
kebaikan yang ada dalam diri Amru Bin Luhay.

Upaya Memutus

Terlepas pro dan kontra, mungkin atau tidak mungkin, valid atau tidak validnya 
informasi yang dipaparkan BNPT, secara langsung atau tidak langsung gerakan 
teroris bisa berafiliasi dengan organisasi, oknum, dan lembaga apa saja 
termasuk pondok pesantren.

Kita tidak boleh hanya mempertanyakan atau menolak hasil kajian BNPT yang 
justru lupa bagaimana merumuskan langkah-langkah memutus rantai jaringan 
terorisme. Tidak semua pesantren bisa "terinfeksi" virus radikalisme yang 
berujung dengan terorisme. Tetapi tidak semua pesantren memiliki kekebalan yang 
kuat dalam menghadapi "rayuan manis" para aktivis teroris yang selalu 
menggunakan isu dan simbol keagamaan.

Langkah kongkret untuk memutus jaringan teroris dengan pesantren dilakukan 
dengan cara; pertama, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama perlu 
mengeluarkan standar nasional pondok pesantren yang berlaku di semua pondok 
pesantren tanpa kecuali. Standar nasional minimal menyangkut tentang standar 
input (santri), standar pendidik (ustaz), sandar proses pembelajaran, standar 
materi yang diajarkan (kurikulum), standar pengelolaan, dan standar profil 
lulusan.

Kedua, perlu dilakukan kontrol secara periodik maksimal lima tahun sekali oleh 
lembaga yang kredibel dan independen. Jaminan mutu (quality control) bisa 
dilakukan dengan mekanisme akreditasi atau sertifikasi. Hal seperti ini sudah 
lazim diberlakukan di berbagai lembaga dan profesi tertentu.'

Ketiga, pentingnya kesadaran bersama bahwa tidak selamanya simbol-simbol agama 
itu selalu digunakan untuk kebaikan. Masih banyak oknum yang berusaha 
memanfaatkan simbol simbol agama untuk kepentingan pribadi dengan cara yang 
menyimpang atau menyesatkan.

Tidak semua pondok pesantren selalu mengajarkan, mendidik, dan membimbing dalam 
memahami dan menjalankan pesan agama dengan cara benar dengan tujuan yang benar 
dunia-akhirat. Bisa juga oknum oknum dalam pondok pesantren sengaja membelokkan 
misi utama pondok pesantren sebagai kedok untuk melancarkan gerakan radikal 
yang berujung terorisme.

Kajian BNPT terhadap jaringan dan gerakan teroris secara rutin perlu terus 
dilakukan agar penanggulangan terorisme bisa dilakukan secara masif dan 
terintegrasi dengan organisasi atau lembaga lainnya. Target akhirnya ruang 
gerak teroris makin dipersempit sampai mereka benar benar lemah dan tidak 
berdaya.

Dr. M. Saekan Muchith Dosen FITK UIN Walisongo Semarang

(mmu/mmu)
pesantren
terorisme
pesantren terafiliasi teroris
bnpt
jaringan teroris

Baca artikel detiknews, "Pesantren dan Afiliasi Jaringan Teroris" selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-5936816/pesantren-dan-afiliasi-jaringan-teroris.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220213210637.9d5ed54fcb46e4b704b9b756%40upcmail.nl.

Reply via email to