https://www.antaranews.com/berita/2701681/kemenkop-pertanian-terpadu-jadi-jalan-keluar-atas-kebutuhan-pangan?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home




Kemenkop: Pertanian terpadu jadi jalan keluar atas kebutuhan pangan

Minggu, 13 Februari 2022 22:20 WIB

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim saat melakukan 
pembukaan dan kick-off (awal mula) pengembangan sistem pertanian terpadu 
bersama komunitas Made-in-Indonesia Superconnection (MSC), Desa Ujungjaya, 
Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (12/1). ANTARA/HO-KemenkopUKM.
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim 
mengatakan program integrated farming (sistem pertanian terpadu) merupakan 
jalan keluar atas tantangan terhadap kebutuhan kemandirian pangan bagi sebuah 
negara.

Hal itu Ia sampaikan saat melakukan pembukaan dan kick-off (awal mula) 
pengembangan sistem pertanian terpadu bersama komunitas Made-in-Indonesia 
Superconnection (MSC), di Desa Ujungjaya, Sumedang, Jawa Barat.

"Kebutuhan akan pangan sangat mendesak dan menjadi tantangan bagi dunia di 
tengah ancaman krisis pangan sehingga perlu kita antisipasi sebagai negara yang 
kaya akan sumber daya alam,” kata Arif sebagaimana dalam keterangan pers, yang 
diterima di Jakarta, Minggu.

Selain ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, langkah ini juga diupayakan 
untuk mewujudkan banyak koperasi modern terutama yang bergerak di sektor pangan.

Sistem pertanian terpadu, lanjutnya, bisa dimanfaatkan guna produktivitas 
sektor pertanian dengan menjadikan kotoran sapi sebagai pupuk kandang bagi 
pakan ternak hijau, dan dapat dijadikan biogas yang bermanfaat sebagai energi 
alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.

“Upaya Kabupaten Sumedang dalam membangun kluster pangan seperti ternak sapi, 
domba, juga dapat diintegrasikan dengan ketersediaan pakan ternak yang 
bersumber dari kacang koro. Sehingga, ekosistem integrated farming dapat 
menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Sumedang,” ucapnya.

Seperti diketahui, sistem pertanian ini memanfaatkan keterkaitan antara tanaman 
perkebunan, pangan, hortikultura, hewan ternak, dan perikanan untuk mendapatkan 
agro ekosistem yang mendukung produksi pertanian (stabilitas habitat), 
peningkatan ekonomi, serta pelestarian sumber daya alam.

Pendiri MSC sekaligus pendiri dan CEO Industry and Businees Institute of 
Management (IBIMA), I Made Dana Tangkas, mengemukakan bahwa pihaknya akan pula 
mengembangkan sistem pertanian terpadu di Pekalongan, Jawa Tengah, dan Bali.

Di tahap awal, MSC mengembangkan produk pertanian di Sumedang dengan komoditas 
antara lain padi, jagung, dan porang di atas lahan seluas tiga ribu meter 
persegi. Di lahan tersebut juga akan dikembangkan lahan untuk pakan ternak 
berupa rumput Taiwan.

"Kita juga menyiapkan peternakan ayam, kambing, dan sapi," ungkap Made.

Dalam hal ini, Made Tangkas mengaku akan menggulirkan aneka pelatihan, 
pengembangan produk, hingga pengembangan bisnis..

Pada tahun 2022, ditargetkan 250 integrated farming terbentuk dengan menyiapkan 
modal antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar per sistem pertanian terpadu.

Ke depan, ia mengharapkan pengelolaan pertanian terpadu melalui koperasi 
primer, sekunder, dan jenis lainnya dari hulu ke hilir. Serta memiliki pola 
kemitraan plasma dan inti plasma.

Baca juga: Menkop dorong koperasi pangan dengan sistem pertanian terpadu
Baca juga: Dukung lumbung pangan, Kementan dorong pola pertanian terpadu
 

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022

    TAGS:
    Kemenkop
    Pangan
    Sistem Pertanian Terpadu









-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220213212146.f8e254717f99df974d0639b0%40upcmail.nl.

Reply via email to