Written byI76Thursday, April 7, 2022 07:00
Tiga Periode Rugikan 
Prabowo?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tiga-periode-rugikan-prabowo/
Wacana tiga periode mendapatkan momen kembali setelah digaungkan oleh berbagai 
pihak, mulai dari masyarakat, politisi, hingga pejabat tinggi pemerintahan. 
Jika memang terjadi, wacana ini disebut akan merugikan sejumlah kandidat yang 
berpotensi maju di Pilpres 2024. Apakah salah yang dirugikan adalah Prabowo 
Subianto?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pekan lalu, jagat media dihebohkan dengan munculnya kembali wacana masa jabatan 
presiden tiga periode. Sejumlah kepala desa yang tergabung dalam Asosiasi 
Pemerintah Desa Indonesia (Apdesi), meneriakkan hal serupa pada Silaturahmi 
Nasional Desa 2022 di Istora Senayan, Jakarta.

Merespons riuh berkembangnya wacana itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
menganggap teriakan dukungan kepada dirinya untuk menjabat presiden tiga 
periode sebagai keinginan masyarakat. Dan juga Jokowi menyampaikan ia sering 
mendengar aspirasi seperti itu. Namun, ia menegaskan tetap mengikuti aturan 
dalam konstitusi.

Wacana tiga periode sebenarnya telah muncul sejak jauh hari, tepatnya pada 
November 2019, bertepatan dengan MPR tengah menggodok usulan amendemen UUD 
1945. Ketua Fraksi Partai NasDem Johnny G. Plate mengusulkan  masa jabatan 
presiden diperbolehkan 3×5 tahun.

Setelah sempat jadi pembicaraan, sekitar Desember 2019 Presiden Jokowi 
membantah wacana tersebut. Bagi Jokowi, mereka yang menginginkan tiga periode  
ingin mukanya, ingin mencari muka, hingga ingin menjerumuskannya.

Akhirnya wacana tiga periode berubah menjadi wacana penundaan pemilu dengan 
dalih kondisi  pandemi Covid-19. Transformasi perubahan wacana seolah 
mengisyaratkan adanya pola yang  sama untuk mempertahankan status quo kekuasaan.

Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, 
mengatakan, jika Pemilu 2024 ditunda, ini akan berakibat fatal karena presiden 
hingga anggota DPR yang menjabat lebih dari masa jabatannya tak memiliki 
legitimasi atau keabsahan atas jabatan yang diemban. Risiko  terbesarnya akan 
muncul pembangkangan dari rakyat karena jabatan pemimpin serta wakil rakyat tak 
memiliki legitimasi.

Sebagian pengamat mensinyalir berkembangnya wacana tersebut karena didukung 
oleh partai politik (parpol). Parpol dianggap sebagai institusi  yang sangat 
punya kepentingan dalam pembangunan wacana  ini.

Lantas, dalam konteks wacana tiga periode, apa sebenarnya motif dan kepentingan 
parpol di balik wacana ini?

 
Pilihan Rasional Parpol
Amitai Etzioni dalam bukunya Organisasi-Organisasi Modern, mengatakan manusia 
merupakan homo-economicus atau rationalman, yaitu manusia selalu ingin 
memaksimalkan utility (perolehan manfaat) terhadap dirinya. Pemahaman ini 
didasarkan Etzioni  berdasarkan pada teori ekonomi neo-klasik.

Selanjutnya, Etzioni mengatakan rasionalitas diindikasikan sebagai konsep 
pikiran-pikiran manusia untuk memilih dari sisi pendekatan tujuan, yaitu untuk 
melihat skala prioritas dari kurang penting sampai yang paling penting, sesuai 
dengan tujuan yang ingin dicapai.

James Charles Bouffard dalam buku How to Use Psychology for Business Success, 
menegaskan arah dari perspektif teori pilihan rasional sebagai identifikasi 
dari berbagai penjelasan tentang cost and benefit, atau sebagai tingkatan nilai 
dan keuntungan. Oleh karena itu, teori pilihan rasional erat kaitannya dengan 
teori pengambilan keputusan.

Konsep pilihan rasional, dapat dijadikan alat untuk menjelaskan perilaku parpol 
yang saat ini sedang menghadapi wacana tiga periode yang berkembang. Parpol 
dituntut untuk meempertimbangkan untung rugi, sehingga pilihan dukungan maupun 
tidak berangkat dari pertimbangan tersebut.
Dalam literasi ilmu politik, pendekatan pilihan rasional seringkali 
diasosiasikan sebagai  model pilihan politik yang selalu memecahkan 
persoalannya secara optimasi matematik. Parpol akan menghitung  bukan hanya 
untung rugi secara abstrak, melainkan menghitung setiap kemungkinan dengan 
konkrit berdasarkan kalkulasi matematika.

Jika pendekatan pilihan rasional ini menjadi pilihan, maka asumsi matematis 
secara umum, akan menempatkan partai koalisi sebagai parpol  yang dimungkinkan 
mendukung kebijakan tersebut. Sebut saja PDIP dengan 128 kursi ditempatkan 
sebagai partai yang diuntungkan.

Kemudian berurutan dari jumlah kursi terbanyak, Golkar dengan 85 kursi, 
Gerindra 78 kursi, NasDem 59 kursi, PKB 58 kursi, PAN 44 kursi, dan terakhir 
PPP dengan 19 kursi. Dan jika benar akan ada amendemen, maka total suara yang 
dimiliki sebesar 471 kursi. Ini jelas akan keluar sebagai pemenang dibandingkan 
gabungan suara Demokrat dan PKS yang hanya sebesar 104 kursi.

Namun kenyataannya dalam politik kalkulasi matematis tidaklah rigid, bahkan 
sering kali fleksibel. Hal ini terlihat dari pernyataan petinggi parpol dari 
tiga partai politik pendukung pemerintah yang tegas menolak usulan penundaan 
Pemilu 2024. Mereka adalah PDIP, NasDem, dan PPP.

Bahkan setelah tiga parpol besar itu menolak wacana, Gerindra  yang juga punya 
kandidat  di Pemilu 2024, yaitu Prabowo Subianto, juga masuk sebagai bagian 
dari parpol yang menolak. Dan jika ditambah dengan dua parpol oposisi lain yang 
sudah pasti menolak, maka jumlahnya akan menjadi 388 kursi. Ini akan melawan 
187 akumulasi kursi dari Golkar, PKB, dan NasDem.

Perubahan kalkulasi matematis ini menjelaskan bahwa tiga partai besar koalisi 
pemerintah rupanya belum sepenuhnya merestui adanya wacana tiga periode. Hal 
ini ingin  juga menjelaskan bahwa peta 2024 mulai terlihat sangat cair dan 
dapat membuat kemungkinan-kemungkinan baru dan interpretasi-interpretasi baru.

Selain itu, posisi Prabowo yang digadang-gadang masih akan bertarung di 2024 
tampaknya masih menjadi salah satu kandidat terkuat. Kalkulasi ini diambil 
karena sejauh ini belum dirasakan ada kandidat kuat yang mewakili ketiga parpol 
tersebut.

Lantas, mungkinkah sinyal politik parpol yang menolak tiga periode mengarah 
kepada prabowo?

 
Menerka Sinyal Politik
Dalam politik, dibutuhkan sense of politics dalam melihat setiap gejala politik 
yang terjadi. Dan jika dikontekstualisasikan kepada wacana tiga periode, maka 
tiga partai besar pengusung pemerintah yang menolak, tidak hanya dapat 
ditafsirkan sebagai penolakan yang sifatnya moralistik, karena marwah demokrasi 
dan lainnya.

Bisa saja, sikap politik parpol ini adalah bagian dari sinyal politik yang 
ingin disampaikan kepada seseorang. Kita tahu dalam politik, sinyal politik 
merupakan bahasa lain dari sikap parpol sesungguhnya.

Sebagai contoh, dalam pemberitaan, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan 
tidak ada sama sekali ruang penundaan pemilu. Di sini terlihat bahwa PDIP 
sangat siap untuk menghadapi Pemilu 2024.

Kemudian, Ketua Umum NasDem Surya Paloh mengutarakan sikapnya dengan 
mengatakan, kalau ibarat kereta api, maka sudah tiup peluit dan jalan. Oleh 
karenanya, harapannya masalah penundaan pemilu sudah perlu dibahas lagi.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Wakil Ketua MPR dari Fraksi PPP Arsul Sani. 
menurutnya, secara moral konstitusi tidak pas untuk melakukan amendemen UUD, 
jika MPR tidak bertanya dulu kepada rakyat secara keseluruhan, apakah rakyat 
setuju pemilu ditunda.

Ada semacam sinyal politik yang diberikan oleh ketiga parpol ini kepada calon 
kontestan yang akan bertanding di 2024. Dan jika jeli, maka sinyal politik 
tersebut secara interpretatif bisa saja ditujukan kepada Prabowo.

Hal ini disebabkan posisi Prabowo yang mungkin menjadi orang paling dirugikan 
jika memang terjadi tiga periode maupun penundaan pemilu ini. Meski juga 
merugikan dua partai lain, yaitu Demokrat dan PKS.

Jika kita melihat berbagai hasil survei, pasca Pemilu 2019, Prabowo kerap 
berada di urutan teratas elektabilitas, bahkan unggul dibanding  calon favorit 
yang sedang populer, seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

Fakta menarik ini yang juga diaminkan oleh pengamat politik Universitas 
Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin. Menurutnya, pencalonan Prabowo terbilang 
lancar. Posisinya sebagai Ketum Gerindra dan penentu terakhir nama-nama yang 
bakal diusung pada Pilpres 2024, menjadikan Prabowo unggul satu langkah 
ketimbang nama-nama yang bukan berasal dari ketum parpol.

Maka, dapat dikatakan bahwa pilihan rasional partai pengusung pemerintah yang 
tidak mendukung wacana tiga periode, sebenarnya ingin memberikan pesan implisit 
bahwa Prabowo harus mendekati mereka, dikarenakan dia adalah orang yang paling 
dirugikan jika terjadi wacana ini.

Selain itu, jika dilihat dari faktor elektabilitas dan kekuasaan Prabowo 
sebagai Ketum Partai Gerindra, akan menjadi pertimbangan rasional parpol lain 
untuk lebih memilih Prabowo dibanding bakal calon yang lainnya. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7AEC071F073B48E68D671E46D3BBAE92%40A10Live.

Reply via email to