Written byR53Saturday, April 9, 2022 08:01Kejeniusan Jokowi Sedang Diuji?

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kejeniusan-jokowi-sedang-diuji/
Di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti minyak goreng dan 
BBM, wacana perpanjangan jabatan presiden nyatanya tetap menguat. Apakah wacana 
perpanjangan merupakan strategi jenius Jokowi untuk meredam perlawanan politik?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I love a bit of political drama,” – David Tennant, aktor Skotlandia

Dalam teori kontrak sosial, entah itu dari sisi Thomas Hobbes maupun sisi John 
Locke, akar teorinya sama, yakni negara harus menjamin kehidupan dan keamanan 
warga negaranya. Itulah raison d’être hadirnya negara. Atas postulat ini, tidak 
terpenuhinya kebutuhan dasar kerap menjadi pemicu gejolak sosial, hingga 
pergantian kursi kekuasaan.

Revolusi Prancis pada 1789-1799 dipicu oleh ketidaksetaraan 
sosial-ekonomi-politik yang meluas. Revolusi Roti pada akhir abad ke-20 dan 
pada 2011 dipicu lonjakan harga roti yang merupakan makanan pokok di Timur 
Tengah. Kemudian di Indonesia, turunnya Soeharto pada 1998 merupakan ekses dari 
perasaan tidak adil yang meluas dan memburuknya situasi ekonomi.

Melihat polanya, berbagai gerakan sosial-politik besar dalam sejarah merupakan 
buntut dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar. Menurut psikolog Abraham 
Maslow, kebutuhan dasar atau basic needs melingkupi kebutuhan fisiologis 
(sandang, pangan, papan) dan rasa aman.

Diagram hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) dari Abraham Maslow (Sumber: 
Simply Psychology)
Atas postulat sejarah ini, berbagai ilmuwan politik, mulai dari Niccolò 
Machiavelli (1469-1527) hingga Francis Fukuyama (1952-sekarang), selalu 
menekankan pentingnya seorang penguasa menjaga kebutuhan dasar masyarakatnya. 
Tidak hanya untuk menghindari kudeta, melainkan juga untuk memperkuat soliditas 
dan legitimasi kekuasaan.

Melihat situasi Indonesia saat ini, alarm kuning dapat dikatakan telah menyala. 
Berbagai kebutuhan dasar telah naik, seperti minyak goreng dan BBM jenis 
Pertamax. Tidak berhenti di sana, kenaikan BBM jenis Pertalite dan gas LPG 3 kg 
juga disinyalir akan menyusul naik. 

Situasi ini bahkan membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan teguran 
terbuka kepada para menterinya. 

“Jangan sampai kita ini seperti biasanya dan tidak dianggap oleh masyarakat 
melakukan apa-apa. Tidak ada statement, tidak ada komunikasi harga minyak 
goreng sudah empat bulan, tidak ada penjelasan apa-apa, kenapa ini terjadi,” 
ungkap RI-1 dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 5 April.

Pertanyaannya tentu satu. Mampukah Presiden Jokowi menghindari eskalasi akibat 
kenaikan berbagai kebutuhan pokok tersebut? Dengan masa jabatan sekitar dua 
tahun lagi, apakah mantan Wali Kota Solo ini mampu turun takhta secara mulus 
dan meletakkan warisan politiknya? 

 
Kapal Mulai Digoyang?
Dalam artikel PinterPolitik pada 7 Juli 2021 yang berjudul Jokowi Mulai 
Ditinggalkan?, fenomena saat ini sebenarnya sudah diprediksi. Sama seperti yang 
terjadi di Amerika Serikat (AS), sejak Reformasi 1998, presiden Indonesia 
dihantui oleh second-term curse atau kutukan periode kedua. 

Di periode kedua Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), gejolak sosial-ekonomi-politik 
silih berganti terjadi. Mulai dari kasus korupsi yang menyeret berbagai 
politisi Partai Demokrat, kenaikan berbagai kebutuhan pokok seperti beras dan 
BBM, hingga penurunan drastis citra SBY.  

Dari informasi yang penulis himpun, SBY menjadi lame duck president (presiden 
bebek lumpuh/tidak berpengaruh) pada tahun keempat di periode keduanya. 
Berbagai pihak yang awalnya mendekati dan menjadi benteng SBY perlahan menjauh 
dan pergi. Ini yang menyebabkan berbagai gejolak menghantam pemerintahan sang 
jenderal.
Dengan demikian, second-term curse bukanlah kutukan dalam artian magis seperti 
di film-film, melainkan sebuah fenomena politik, di mana seorang presiden telah 
kehilangan daya tawarnya. Ini adalah konsekuensi tidak terhindarkan dari 
politik transaksional yang terjadi di Indonesia.

Jika melakukan komparasi, apa yang terjadi saat ini mungkin adalah tanda-tanda 
kapal politik Presiden Jokowi mulai digoyang. Berbagai kenaikan harga kebutuhan 
pokok adalah tanda nyata dari mulai munculnya kutukan periode kedua.

Namun, ada yang membedakan Presiden Jokowi dengan SBY. Kesimpulan ini penulis 
tarik dari tulisan Kishore Mahbubani yang berjudul The Genius of Jokowi. 
Menurut Mahbubani, Presiden Jokowi memiliki keterampilan memimpin yang hebat, 
hingga dapat dikatakan jenius.

Salah satu bukti yang dipaparkan adalah keberhasilan Presiden Jokowi menyatukan 
Indonesia secara politik, setelah mengalami pembelahan politik ekstrem di 
Pilpres 2019. Menurut Mahbubani, Presiden AS Joe Biden bahkan belum bisa 
melakukannya karena mayoritas Republikan belum mengakui legitimasi kepemimpinan 
Biden.

Lantas, mengacu pada Mahbubani, apakah kejeniusan kepemimpinan Jokowi 
membuatnya terhindar dari kutukan periode kedua? 

Nahkoda yang Jenius?
Sebelum menjawabnya, kita perlu sedikit menengok penelitian menarik di Nanyang 
Technological University, Singapura, yang tengah mengembangkan noise-cancelling 
windows (jendela anti-kebisingan). Seperti namanya, penelitian ini mencoba 
menjawab masalah polusi udara yang menjadi momok di perkotaan besar.

Cara kerjanya sangat menarik. Setelah mempelajari cara kerja suara, ternyata 
diketahui, suara dapat dinetralisir dengan menciptakan anti-suara. Jendela yang 
dikembangkan akan menciptakan suara tandingan agar polusi suara dapat 
dinetralisir atau setidaknya direduksi. Cara kerja ini yang membuatnya bernama 
noise-cancelling atau pembatal kebisingan.

Yang menarik, cara kerja ini juga terlihat dalam aktivitas politik yang disebut 
dengan manajemen isu. Elizabeth Dougall dalam tulisannya Issues Management, 
menjelaskan manajemen isu sebagai proses strategis dan antisipatif untuk 
mendeteksi dan merespons berbagai perubahan tren atau isu yang muncul di 
lingkungan sosial-politik.

Karena perubahan tren dan isu dapat mengkristal menjadi masalah yang memberikan 
dampak destruktif, perlu diberikan respons yang tepat untuk mencegah 
kristalisasi masalah. Salah satu caranya adalah dengan melemparkan isu lain 
agar isu yang tengah dipergunjingkan tidak mengkristal. Secara sederhana, kita 
kerap menyebutnya sebagai pengalihan isu.

 
Nah, dalam interpretasi penulis, ada kemungkinan wacana perpanjangan jabatan 
dan/atau presiden tiga periode yang keluar secara berkala, merupakan bentuk 
manajemen isu. Setidaknya ada tiga variabel utama mengapa penulis berkesimpulan 
demikian.

Pertama, penulis menarik pijakan teoretis dari sintesis konsep dramaturgy 
Erving Goffman dan buku Clifford Geertz yang berjudul Negara Teater. Seperti 
teater yang menampilkan panggung depan dan panggung belakang, politik Indonesia 
juga memainkan pembagian peran seperti itu. 
Panggung belakang adalah realitas politik, sementara panggung depan adalah 
realitas yang telah disortir atau yang telah dipilah untuk ditampilkan kepada 
audiens, yakni kita semua.

Kedua, mengacu pada isu perpanjangan jabatan atau tiga periode yang benar-benar 
tidak populis, sulit membayangkan wacana ini akan tereksekusi. Apalagi, partai 
politik besar seperti PDIP dan NasDem dengan terbuka memberikan penolakan.

Ketiga, yang mengeluarkan wacana ini justru adalah para menteri kabinet 
Presiden Jokowi. Ada nama Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Menko 
Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. 

Sekarang, kita akan menggabungkan ketiga variabel tersebut. Mengacu pada 
variabel kedua bahwa secara hitung-hitungan politik wacana ini sulit 
terlaksana, tentu ganjil melihat mengapa sosok besar seperti Bahlil, Airlangga, 
dan Luhut mengeluarkan secara berkala wacana ini.

Oleh karenanya, seperti postulat Goffman dan Geertz, jangan-jangan ini adalah 
pertunjukan teater. Wacana perpanjangan atau tiga periode merupakan panggung 
depan yang sengaja ditampilkan untuk menghibur audiens.

Nah, jika dikaitkan dengan kutukan periode kedua, panggung depan ini bertujuan 
untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu krusial seperti kenaikan harga 
kebutuhan pokok. Dan jika melihat faktanya, publik memang lebih disibukkan 
membahas perpanjangan atau tiga periode daripada masalah sosial-ekonomi yang 
terjadi.

Atas temuan ini, penulis menduga, bukan tidak mungkin wacana perpanjangan atau 
tiga periode adalah noise-cancelling atau manajemen isu. Agar isu kenaikan 
harga kebutuhan pokok tidak mengkristal menjadi masalah, maka perlu diberikan 
isu tandingan untuk mendistraksi fokus masyarakat.

Jika benar demikian bahwa Presiden Jokowi tengah memainkan teater politik, maka 
ini mengafirmasi tulisan Mahbubani yang menyebut RI-1 adalah pemimpin jenius. 
Mantan Wali Kota Solo ini tengah berusaha menghindari kutukan periode kedua. Ia 
ingin mengakhiri jabatannya secara mulus (soft landing) dan meletakkan warisan 
politik yang baik.

Well, sebagai penutup, perlu untuk digarisbawahi bahwa tulisan ini hanyalah 
interpretasi semata. Tulisan ini tidak mengklaim kebenaran (truth), melainkan 
sekadar memberi kemungkinan teoretis atas keruwetan fenomena politik yang 
tengah terjadi.

Seperti yang disebutkan filsuf Jerman, Ernst Cassirer, kita adalah Animal 
Symbolicum yang senantiasi menginterpretasi tanda dan simbol-simbol yang 
tertangkap. Mengutip sejarawan Yuval Noah Harari, kemampuan menginterpretasi, 
berfantasi, dan membuat fiksi, adalah pembeda utama manusia dari spesies 
lainnya.

Entah apa pun yang terjadi di luar sana, hanya Presiden Jokowi dan pihak-pihak 
terkait yang mengetahuinya. Sebagai rakyat biasa, kita hanya bisa menikmati 
panggung politik yang sudah, tengah, dan akan terjadi. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5E502B7F80014775B47BB2458E902314%40A10Live.

Reply via email to