Written byI76Wednesday, May 18, 2022 09:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mungkinkah-airlangga-dilengserkan/
Mungkinkah Airlangga Dilengserkan?
Isu pelengseran Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menjadi sorotan 
pemberitaan belakangan ini. Meski para elite Golkar memperlihatkan sinyal bahwa 
hal itu tidak mungkin terjadi, tapi indikasi berseberangan selalu muncul. 
Lantas, mungkinkah Airlangga dapat dilengserkan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Isu pelengseran Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menjadi pembicaraan 
hangat akhir-akhir ini. Wacana yang terbangun dalam isu ini bahwa Airlangga 
akan dijatuhkan melalui mekanisme musyawarah nasional luar biasa (munaslub).

Merespons isu tersebut, elite Golkar memberikan penjelasan bahwa sulit untuk 
munaslub dikarenakan aturan partai yang ketat. Nurdin Halid, Wakil Ketua Umum 
Partai Golkar, mengatakan perlu syarat-syarat untuk menggelar munaslub, dan 
semua diatur dalam AD/ART Golkar.

Setidaknya terdapat dua syarat agar munaslub dapat dilakukan. Pertama, jika 
ketua umum berhalangan tetap, mengundurkan diri, atau melanggar AD/ART. Kedua, 
munaslub digelar jika ketua umum ditetapkan sebagai tersangka kasus hukum atau 
terlibat perbuatan pidana.

Dalam berbagai pemberitaan juga menyampaikan alasan isu penggulingan dikaitkan 
dengan elektabilitas Airlangga yang tak kunjung membaik, meski telah melakukan 
sosialisasi. Hal ini bertolak belakang dengan target Golkar yang ingin 
mengusung calon dari partainya sendiri untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Isu elektabilitas bisa jadi wacana yang dapat menarik perhatian, bukan hanya 
pengurus pusat partai politik, melainkan pengurus di setiap daerah. Terlebih 
jika kita telusuri konflik Golkar yang muncul di kepemimpinan Airlangga 
mengakar pada konflik antara Dewan Perwakilan Daerah (DPD) I dan DPD II Golkar.

Adie Kadir, Wakil Ketua Umum DPP Golkar, mengatakan dalam AD/ART partai Pasal 
39 ayat 3 terdapat syarat teknis untuk menggelar munaslub. Salah satunya, 
diadakan atas permintaan dan/atau persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 Dewan 
Pimpinan Daerah Provinsi.

Melihat begitu penting posisi tawar daerah, mengartikan bahwa wacana ini tidak 
bisa dianggap isu biasa. Isu penggulingan Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar 
dapat menjadi bom waktu. Sang Menko Perekonomian harus lebih peka dan cepat 
mengantisipasi setiap isu yang berkembang.

Apalagi di tengah kondisi politik yang semakin memanas menjelang Pemilihan Umum 
(Pemilu) 2024, indikator apapun dapat memicu perubahan besar. Lantas, seperti 
apa memahami akar konflik ini lebih dalam?


Airlangga digoyang lagi? 
Airlangga Digoyang dari Dalam?
Dalam sistem demokrasi, fungsi partai politik salah satunya sebagai manajemen 
konflik. Namun dalam konteks partai politik di Indonesia, fungsi ini tidak bisa 
 dilakukan karena hampir semua partai  politik, baik besar maupun kecil, tidak 
pernah terlepas dari konflik yang terjadi dalam internal partai.

Begitu pula bagi Golkar, sebagai partai besar yang pernah berjaya di Orde Baru, 
partai beringin mempunyai banyak cerita tentang konflik internal. Terakhir 
cerita yang muncul saat pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) 2019.
Seperti diketahui, pada Munas Golkar 2019 pertarungan perebutan ketua umum 
didalangi  oleh pertarungan dua kubu besar, yaitu kubu  Airlangga dengan kubu 
Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), 
mengatakan klaim dukungan mayoritas DPD I Golkar terhadap Airlangga tidak bisa 
jadi ukuran kemenangan. Pasalnya, suara DPD I tidak merepresentasikan suara DPD 
II Golkar, yakni tingkat Kabupaten/Kota.

Menurut Ujang, peta dukungan DPD I dan DPD II ini menegaskan posisi dukungan 
Airlangga yang dianggap didominasi oleh kalangan elite. Dengan kata lain, 
lingkup dukungan untuk Airlangga kemungkinan tidak mengakar. 

Airlangga adalah seorang politisi yang memang dari awal berasal dari keluarga 
elite. Menurut beberapa pihak, hal ini yang menjadikan Airlangga tak terbiasa 
dengan gerakan akar rumput. Berbeda dengan Bamsoet yang tumbuh dan merasakan 
karier politik dari bawah.

Pertarungan dua kubu di internal Golkar ini bisa menjadi salah satu pemicu 
munculnya isu pelengseran Airlangga yang sebenarnya telah mencuat sejak akhir 
tahun lalu. Sebenarnya, selain pelengseran, beredar juga isu perselingkuhan 
yang sempat menimpa Airlangga.

Problem-problem yang mengaitkan nama Airlangga ini yang mungkin juga menjadi 
faktor elektabilitasnya sulit terdongkrak. Selain itu, Airlangga juga dianggap 
melakukan blunder politik ketika memberikan pernyataan mendukung wacana 
penundaan pemilu yang juga jadi sorotan dan  mendapat sentimen negatif dari 
masyarakat.

Akumulasi dari konflik dan kenyataan politik di atas, mewajarkan bagi seorang 
Aburizal Bakrie (ARB) yang menjadi Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar untuk 
bicara soal pentingnya soliditas dan keutuhan antar kader Golkar menjelang 
Pemilu 2024.

ARB menegaskan, bahwa dukungan penuh kader Golkar harus tertuju kepada 
Airlangga. Dia berharap isu negatif, dan upaya-upaya untuk memecah belah yang 
dibangun oleh kader maupun kelompok harus dihindari.

Terlihat di sini bahwa ARB “pasang badan” untuk Airlangga. Kedekatan sesama 
pengusaha mungkin menjadi jawaban dari tindakan ARB ini kepada Airlangga. 
Pernyataan terbuka ARB beberapa waktu yang lalu menjadi swabukti bahwa benar 
adanya friksi yang tajam dalam internal Golkar.

Hal ini ditambah dengan berita investigatif Tempo yang menyebut terjadi 
persekongkolan untuk menggoyang kursi Airlangga di Golkar. Nama-nama yang 
disebut juga merupakan elite Golkar, seperti Menko Marves Luhut Binsar 
Pandjaitan, eks Menteri Sosial Idrus Marham, dan Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Semakin terlihat jelas isu penggulingan Airlangga dari tapuk Ketua Umum Golkar 
terindikasi oleh perpecahan internal yang sejatinya telah akut. Lantas, apakah 
isu yang berakar dari konflik ini akan semakin memanas dan menemukan klimaksnya?

Airlangga wajib Capres 
Hidup Mati Airlangga?
Merunut sejarah konflik Partai Golkar, jika sebelumnya konflik selalu 
memunculkan partai baru, maka setelah mekanisme yang disebut konsensus partai 
diterapkan, hal tersebut dapat diminimalisir.

Meutya Viada Hafid dalam tulisannya Konsensus Politik dalam Penyelesaian 
Konflik Partai Golkar, mengatakan terdapat fenomena baru dalam penyelesaian 
konflik Golkar yang disebut konsensus partai. Konsensus ini dipelopori oleh 
tiap elite yang berbeda dalam internal partai.

Setiap faksi dalam tubuh Golkar diberikan posisi strategis dalam struktur 
partai untuk menjadi penyeimbang roda organisasi. Hal ini menjelaskan bahwa isu 
penggulingan karena gesekan elite adalah fenomena yang lumrah.

Para elite yang beragam kepentingan membuat faksi dan berusaha memenangkan 
faksi-faksi mereka dalam kontestasi internal partai.

Ilmuwan politik Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca mengemukakan konsep rolling 
class dan sirkulasi elite dengan mengatakan terdapat sekelompok minoritas 
(elite) akan selalu menguasai mayoritas. Pareto juga mengatakan, singa (The 
Lion’s) dan serigala (The Fox’s) merupakan pola konflik elite politik yang 
senantiasa terjadi.

Mungkin terkesan saling menyerang, tapi para elite sebenarnya bertemu pada 
titik ekuilibrium yang disebut kepentingan bersama. Wajar jika faksi 
bertentangan dengan faksi lain, tapi tetap menjaga kepentingan bersama yaitu 
kepentingan partai secara menyeluruh.

Tapi kemungkinan lain, yaitu Airlangga digulingkan juga bisa juga terjadi. Hal 
ini mengingat isu elektabilitas Airlangga yang makin merosot ditambah isu 
penundaan pemilu, larangan ekspor CPO, dan persoalan perselingkuhan yang sempat 
mencuat.

Isu-isu ini akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menyingkirkan 
Airlangga dari kabinet dan mengambil alih Golkar. Tentunya sebagai stimulus 
yang baik untuk mengadakan munaslub.

Di saat yang bersamaan, syarat munaslub sekurang-kurangnya 2/3 Dewan Pimpinan 
Daerah Provinsi, dapat dikondisikan dengan cara menyulutkan api konflik antara 
DPD I dan DPD II. Caranya mungkin dengan menarasikan bahwa DPD I yang menjadi 
pendukung Airlangga dianggap hanyalah sebuah dominasi kalangan elite yang tidak 
mengakar.

Jika operasi penggulingan ini mendapat dukungan solid dari DPD II yang 
merupakan akar rumput, maka pelengseran kemungkinan besar dapat terjadi.

Sebagai penutup, terlihat bahwa semua kemungkinan dapat bekerja di dua level 
yang berbeda. Akrobat politik para pemangku kepentingan Golkar menjadi faktor 
penting untuk memutuskan akhir dari polemik ini. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A532096DFC334C9782058152EC0703DD%40A10Live.

Reply via email to