Written byJ61Thursday, September 22, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mafia-tembak-jatuh-drone-prabowo/
Mafia Tembak Jatuh Drone Prabowo?
Drone militer lokal Elang Hitam yang sempat jadi proyeksi andalan Menteri 
Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto baru saja dialihkan ke penggunaan sipil 
oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lalu, mungkinkah ada peran 
kepentingan tertentu di balik gagalnya proyek pertahanan ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Impian Indonesia, mungkin termasuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo 
Subianto, untuk memiliki drone militer/kombatan buatan lokal pupus. Itu setelah 
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengumumkan pengalihan 
drone militer Elang Hitam ke penggunaan sipil.

Padahal, Prabowo telah mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal 2020 
silam untuk melihat secara langsung prototipe Elang Hitam yang kala itu 
risetnya masih di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Saat itu, di depan Presiden Jokowi dan Prabowo, Kepala BPPT Hammam Riza 
mengatakan langkah percepatan pengembangan drone lokal akan dilakukan untuk 
mewujudkan kepemilikan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) dengan spesifikasi tempur 
atau Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) bagi pertahanan Indonesia.

Bahkan, rencananya, jangka waktu pengembangan drone tempur Elang Hitam 
dipercepat dari sebelumnya rampung pada tahun 2024, menjadi tahun 2022.

Sebelumnya, Elang Hitam diproyeksikan bisa bersaing dengan drone kombatan lain 
seperti MQ-9 Reaper buatan Amerika Serikat (AS), CH-4 Rainbow buatan Tiongkok, 
hingga Bayraktar TB2 buatan Turki yang populer di konflik Rusia-Ukraina.

Singkat cerita, setelah BPPT diintegrasi ke BRIN, pengembangan Elang Hitam 
seolah melambat. Konsorsium yang terlibat dalam drone Elang Hitam sendiri 
memang sejak awal telah melibatkan keterlibatan instansi yang begitu gemuk.

  
Mulai dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan), TNI AU, PT Dirgantara Indonesia 
(PTDI), PT Len Industri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), 
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Institut Teknologi 
Bandung (ITB).

Diketahui, pengalihan peruntukan Elang Hitam dari drone kombatan ke penggunaan 
sipil terjadi setelah evaluasi dan audit mendalam.

Pasca kegagalan uji terbang pada Desember 2021 silam, Kepala Badan Riset dan 
Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan keputusan pengalihan itu 
terpaksa dilakukan.

Selain itu, Laksana menyebut terdapat berbagai masalah teknis lain terkait 
mitra pemilik teknologi kunci Elang Hitam dalam peruntukannya sebagai drone 
tempur.

Jika dikritisi lebih dalam dan selain alasan yang dikemukakan Laksana, mengapa 
pengembangan drone tempur Elang Hitam terkesan gagal?

Kita Tidak Punya Uang?
Dalam debat calon presiden (capres) 2019, Prabowo Subianto yang kini menjabat 
Menhan pernah berujar satu frasa menarik terkait pertahanan.

“Saya menilai pertahanan Indonesia terlalu lemah, jauh dari yang diharapkan. 
Kenapa? Karena kita tidak punya uang,” begitu kata Prabowo dalam debat keempat 
Pilpres 2019 yang diselenggarakan di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada 30 Maret 
2019 silam.

“Karena kita tidak punya uang” kemudian viral karena dijadikan parodi oleh 
netizen dalam berbagai hal.

 
Sayangnya, frasa itu juga diduga menjadi biang keladi mandeknya pengembangan 
Elang Hitam. BRIN yang ditunjuk sebagai wadah konsorsium dan ujung tombak riset 
drone kombatan itu tampak begitu keteteran setelah target percepatan proyek 
dimajukan.

Masalah anggaran riset lantas ditengarai menjadi salah satu faktornya. Secara 
umum, alokasi dana untuk riset lintas disiplin di Indonesia sendiri masih 
terbilang sangat kecil.

Itu bahkan pernah disinggung Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin pada Oktober 
2020 lalu mengakui bahwa anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk 
pengembangan riset hanya sebesar 0,3 persen dari total Produk Domestik Bruto 
(PDB).

Sebagai perbandingan, berdasarkan data 2018 saja, negara-negara Asia yang kuat 
dalam riset dan inovasi seperti Korea Selatan dan Jepang mengalokasikan 
anggaran 4,3 persen dan 3,5 persen dari PDB mereka untuk kebutuhan tersebut.

Sedangkan negara tetangga terdekat Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia, 
juga memiliki alokasi anggaran yang cukup besar, yaitu masing-masing sebesar 
2,6 persen dan 1,3 persen dari PDB mereka.

Khusus untuk anggaran pengembangan drone Elang Hitam PinterPolitik menemukan 
angka Rp300 miliar yang dibocorkan oleh LAPAN sebelum melebur dengan BRIN.

Sayangnya, peleburan sejumlah konsorsium ke dalam BRIN juga disebut menjadi 
penghambat. Impresi tumpang tindih dan proporsionalitas anggaran muncul ke 
permukaan sebagai isu utama penyebab terhambatnya riset dan pengembangan Elang 
Hitam.

Keputusan pemerintah yang menggabungkan beberapa instansi dalam konsorsium 
pengembangan Elang Hitam ke dalam BRIN ditengarai membuat proyek itu menjadi 
jalan di tempat.

Kepala BRIN bahkan terkesan tidak mendukung proyek tersebut dengan alasan 
ketiadaan dana.

Eksistensi BRIN sejak awal memang menuai tanggapan kritis. Aspek riset ilmu 
pengetahuan dan teknologi (iptek) dianggap beririsan dengan kepentingan politik 
ketika jajaran atas BRIN diisi oleh sejumlah elite penguasa seperti Megawati 
Soekarnoputri.

Padahal, Antoni Putra, peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia 
(PSHK) dalam artikelnya Urgensi Mewujudkan Badan Riset dan Inovasi Nasional 
(BRIN), mengatakan bahwa BRIN diharapkan dapat menyelesaikan masalah pembuangan 
anggaran dan sulit berkembangnya riset di Indonesia.

Masih terkait dengan anggaran, faktor kedua yang kiranya menjadi musabab 
pengalihan fungsi Elang Hitam ialah mengenai oportunisme kebijakan pemerintah.

Hal itu agaknya dapat tercermin dari telaah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
Budi Gunawan (BG) terhadap disertasi Hasto Kristiyanto berjudul Diskursus 
Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara.

BG menilai Indonesia masih gamang dalam menghadapi perkembangan geopolitik 
karena tidak memiliki panduan dan pembelajaran yang berpihak kepada kepentingan 
nasional.

Perspektif itu turut menyiratkan tendensi pragmatis dan oportunis, termasuk 
kiranya dalam merumuskan kebijakan pertahanan.

Dengan biaya riset dan pengembangan Elang Hitam yang cenderung tentatif, opsi 
mengimpor drone militer/kombatan kemungkinan lebih logis bagi para stakeholder 
tanah air.

Bersamaan dengan gelagat terhambatnya pengembangan Elang Hitam, Indonesia 
santer disebut akan mengimpor drone militer asal Turki Bayraktar TB2.
Dalam sebuah seminar di kanal YouTube Pussenkav, Direktur Doktrin Angkatan 
Darat Brigjen TNI Agustinus Purboyo mengungkapkan bahwa Bayraktar TB2 mulai 
masuk ke dalam proses kontrak.

Bahkan, sebelum viral di konflik Rusia-Ukraina, drone Bayraktar ternyata telah 
diincar oleh Indonesia. Itu dikemukakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Turki 
Dr. Lalu Muhammad Iqbal yang juga berharap agar ada transfer teknologi 
bersamaan dengan transaksi alutsista itu.

Kendati demikian, terdapat satu faktor menarik lain yang kiranya ikut 
menggagalkan Elang Hitam menjadi drone kombatan buatan lokal, apakah itu?

 
Mafia Tembak Elang Hitam?
Di balik pengadaan alutsista impor di sebuah negara, tidak jarang peluang 
vested interest atau kelompok dengan kepentingan personal yang berwujud pihak 
ketiga turut serta. Biasanya, mereka memanfaatkan celah regulasi maupun 
mekanisme panjang dari sebuah proyek pertahanan.

Di Indonesia sendiri, proses pengadaan alutsista membutuhkan proses yang tidak 
sederhana. Mulai dari tahap usulan kebutuhan, dinamika di DPR, hingga alokasi 
anggaran kemungkinan memeberikan ruang bagi para vested interest.

Menurut salah satu sumber yang diperoleh Penelitian dan Pengembangan 
PinterPolitik (Litbang PinterPolitik), dalam perundingan-perundingan ini tidak 
jarang ada beberapa kepentingan aktor-aktor domestik maupun asing yang ikut 
masuk.

Tentu publik masih ingat saat pemerhati militer dan pertahanan Connie 
Rahakundini Bakrie yang menyebut ada mafia berinisial M yang bermain dalam 
pengadaan alutsista di Indonesia.

Dugaan eksistensi mafia bisnis dalam sistem pertahanan nasional disebut 
memperburuk berbagai persoalan alat utama sistem pertahanan atau alutsista TNI, 
yang mungkin mencakup pula upaya pengembangan alutsista lokal seperti Elang 
Hitam.

Selain itu, jika diperhatikan, terdapat tren “diskriminasi” dan “pelabelan” 
saat alutsista lokal negara tertentu menantang pasar alutsista yang telah ada 
selama ini. Bahkan, ketika masih dalam tahap pengembangan.

Sebut saja tudingan miring terhadap alutsista buatan Rusia, Iran, hingga 
Tiongkok. Kendaraan kavaleri, jet tempur, rudal balistik dari ketiga negara itu 
tidak jarang mendapat label negatif yang mana objektivitas penilaiannya kerap 
diragukan.

Elang Hitam pun tampak demikian. Media bernama Defense Security Asia, misalnya, 
menilai drone tempur buatan anak bangsa itu dinilai tidak memiliki kemampuan 
militer.

Pelabelan itu seolah menjadi variabel justifikasi pendukung bagi para 
stakeholder pengembang Elang Hitam tanah air untuk tidak melanjutkan riset 
lebih lanjut.

Opsi alternatif untuk mengimpor drone militer seperti Bayraktar TB2, Akinci, 
hingga CH-4 Rainbow asal Tiongkok lantas tampak mengiringi pelabelan minor itu.

Oleh karena itu, pengembangan riset di bidang militer kiranya diharapkan tidak 
memberikan kesan mudah putus asa. Dukungan regulasi dan alokasi pendanaan juga 
tentu diinginkan demi terwujudnya pengembangan alutsista lokal yang mumpuni. 
(J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EA3401806BD24F1F95E2CD20B87613A5%40A10Live.

Reply via email to