"Tahun 1967, kami sekeluarga harus keluar dari Istana. MPRS mengeluarkan 
Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden 
Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban 
Supersemar sebagai presiden, yakni Soeharto." 

@ Apakah ini awal dari contoh lahirnya kesewenang2an di negeri hukum dengan 
cara menghakimi sendiri bahkan menjadikannya budaya bangsa, semoga tidak 
terjadi?!!! 

Menurut saya, Bukan AWAL dari kesewenang-wenangan menghakimi sendiri tanpa 
proses HUKUM yang sah dan adil, lebih tepat dikatakan  PUNCAK dari kebrutalan 
dan kesewenang-wengan jenderal Soeharto menginjak-injak HAM dan UU/HUKUM 
dinegeri ini!!!

Karena awal keberutalan dan kesewenang-wenangan jenderal Soeharto adalah 
PEMBUNUHAN terhadap 7 jenderal TNI dan kemudian dilanjutkan dengan pengejaran, 
penangkapan bahkan pembantaian terhadap warga yang dituduh KOMUNIS. Langkah 
berikut setelah menggebuk hancur PKI yang dituduh dalam G30S itu, kemudian 
dengan mudahnya jenderal Soeharto menangkap 15 Menteri-Menteri yang SETIA pada 
Presiden Soekarno, dan puncaknya menggulingkan Presiden Soekarno melalui MPRS 
gadungan, yang lebih dahulu meneggantikan mayoritas anggota MPRS dari wakil 
PKI, SOBSI, GERWANI, HASI, PNI-Kiri, Partindo, BAPERK yang jelas SoekarnoisI, 
... dengan begundal-begundal Soeharto!

Jelas TAP MPRS No.25/1966 dan TAP MPRS No.33/1967 itu dikeluarkan oleh MPRS 
gadungan yang TIDAK SAH! Dan, selanjutnya juga, penetapan jenderal Soeharto 
sebagai Presiden RI-2, sekalipun berkuasa meneruskan jabatannya selama lebih 32 
tahun itu, sampai lengser 21 Mei 1998, juga TIDAK SAH!!!

Salam,
ChanCT


From: zeta roza [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, October 2, 2016 9:42 AM
To: [email protected] ; GELORA_In 
Subject: [GELORA45] Re:[temu_eropa] "Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar 
Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S"

  
"Tahun 1967, kami sekeluarga harus keluar dari Istana. MPRS mengeluarkan 
Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden 
Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban 
Supersemar sebagai presiden, yakni Soeharto." 



"Setelah itu, Bapak dikenai tahanan kota dan menetap di Wisma Yaso (sekarang 
Museum Satria Mandala, Jakarta) sampai akhir 1967."

"Pada awal 1968, Soekarno dikenai tahanan rumah dan dibatasi aktivitasnya, 
termasuk untuk bertemu keluarga."



@Apakah ini awal dari contoh lahirnya kesewenang2an di negeri hukum dengan cara 
menghakimi sendiri bahkan menjadikannya budaya bangsa, semoga tidak terjadi?!!! 
Karena RI bangsa yang besar dan berdaulat...!!


@Dari fakta kejadian bersejarah itu, apakah yang disebut "perebutan 
kekuasaan/kudeta" atau siapakah yang merebut kekuasaan/ berkudeta dengan adanya 
fakta kejadian UUD 1945 sq Majelis Permusyawarahan Rakyat Sementara yang 
anggotanya diangkat sendiri dari partainya sendiri untuk menggunakan pencabutan 
kekuasaan Soekarno sebagai Presiden RI tanpa PEMILU Presiden..  karena 
telahterjadi penangkapan para Anggota Menteri dan Parlemen beserta Anggota 
Partai2 di-Pemerintahan Presiden Soekarno! tanpa proseshukum?... 

< /div> 
@Peristiwa 30 September 1965 telah menelan banyak Jiwa sekitar 3juta lebih 
rakyat RI dan miljunan rupiah kekayaan bumi RI... 


@Menghargai sejarahnya sendiri akan tidak mengulangi kesalahannya sendiri... 
Dan tentunya dihormati tidak disepelekan oleh negeri2 lain karena nyata tahu 
bermartabat tinggi...

---



Verzonden via Yahoo Mail op Android
< br> 
    
  "Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S"
  
http://nasional.kompas.com/read/2016/10/01/19031381/.bapak.menangis.di.depan.saya.mendengar.jutaan.rakyatnya.dibunuh.setelah.g30s.?page=all

  Sabtu, 1 Oktober 2016 | 19:03 WIB

  Kristian ErdiantoSukmawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Pertama RI 
Soekarno, saat ditemui di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat 
(30/9/2016).

  JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta, Kamis, 30 September 1965. Tepat 51 tahun yang 
lalu, umur saya masih 14 tahun.

  Malam itu tidak ada yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Saat itu 
bapak sedang tidak di rumah.

  Dia sedang menghadiri sebuah acara, kalau tidak salah Hari Teknik Nasional. 
Sebagai seorang Presiden Republik Indonesia sudah menjadi keharusan beliau 
menyampaikan pidato.

  Setelah acara itu Bapak tidak pulang ke Istana. Kebiasaan Bapak pada hari 
Jumat sampai Minggu, dia akan pulang ke rumah istri ketiganya, Ibu Hartini di 
Bogor.

  Tidak ada sesuatu apapun yang mengejutkan. Semua berjalan seperti biasa. 
Sampai pada pagi harinya, Jumat 1 Oktober 1965, saya sedang bersiap akan 
berangkat ke sekolah.

  Tiba-tiba pengasuh saya memanggil. "Putri, hari ini tidak boleh sekolah 
karena kabar dari Detasemen Kawal Pribadi ada jenderal yang diculik," kata dia.

  Sejak kecil saya dipanggil dengan nama Putri oleh pengasuh saya, bukan dengan 
nama asli, Sukmawati.

  Suasana pagi itu begitu sepi dan mencekam. Saya mengintip dari jendela, tidak 
ada satu pun ajudan Bapak yang berkumpul di Istana.

  Saya justru melihat di pagar Istana ada sekumpulan tentara siap tempur dengan 
seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan).

  "Kok aneh," pikir saya, karena hari itu tidak ada perayaan kenegaraan apapun.

  "Ah mungkin karena ada jenderal yang diculik."

  Kemudian saya melihat ada seorang tentara membawa pistol di halaman istana, 
juga ada truk tentara.

  Aneh, padahal tidak boleh ada truk dan senjata api di lingkungan istana. 
Hanya ajudan bapak saja yang boleh membawa senjata di Istana.

  Keadaan semakin mencekam. Di dalam istana hanya ada kakak saya Rahmawati dan 
adik saya Guruh.

  Tidak lama kemudian seorang ajudan menyuruh kami berkemas untuk meninggalkan 
Istana. Kami diantar ke rumah Ibu di Jalan Sriwijaya.

  Saat keluar dari Istana, memang banyak tentara tak dikenal berjaga di depan 
pagar. Dari rumah, kami diminta untuk menemui Bapak di kawasan Halim.

  Kami akhirnya bertemu. Saya melihat ekspresi bapak saat itu sangat berbeda. 
Ekspresi yang tidak pernah saya lihat sejak peristiwa percobaan pembunuhan 
Bapak pada 30 November 1957 di Perguruan Cikini.

  Siang hari itu, wajah Bapak kusut. Ada kesedihan dan kekalutan. Perasaan saya 
mengatakan ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.

  Saat berada di Halim, saya melihat Bapak ditemani oleh para panglima 
tentaranya, kecuali Jenderal Ahmad Yani saja yang tidak hadir di situ.

  Kemudian bapak menyuruh saya untuk menemui Ibu yang sedang berada di Bandung. 
Setelah hari itu hidup saya berjalan seperti biasa.

  Tahun 1967, kami sekeluarga harus keluar dari Istana. MPRS mengeluarkan 
Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden 
Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban 
Supersemar sebagai presiden, yakni Soeharto.

  Setelah itu, Bapak dikenai tahanan kota dan menetap di Wisma Yaso (sekarang 
Museum Satria Mandala, Jakarta) sampai akhir 1967.

  Pada awal 1968, Soekarno dikenai tahanan rumah dan dibatasi aktivitasnya, 
termasuk untuk bertemu keluarga.

  Bapak pernah mengatakan kepada saya bahwa dia sangat merasa kesepian. Banyak 
menteri yang masih setia kepadanya diciduk oleh Pemerintah.

  Hanya Ibu Hartini yang diperbolehkan mendampingi di rumah tahanan. Saya hanya 
bisa menjenguk ketika tim investigasi dari Angkatan Darat tidak datang ke rumah 
tananan untuk melakukan pemeriksaan.

  Betapa hancurnya hati seorang Bung Karno, setelah apa yang sudah dia berikan 
kepada bangsanya, malah dijadikan sebagai tahanan politik.

  (Baca: Pemerintah Wajib Minta Maaf kepada Korban Kasus HAM 30 September)

  Suatu hari saya menjenguk Bapak. Dia sudah malas keluar untuk jalan-jalan 
keliling kota, kebiasaannya sejak dulu. Hari itu dia hanya tidur-tiduran saja 
di sofa.

  Tiba-tiba, dia menangis tersedu sambil memeluk saya. Saat itu saya tidak 
terlalu paham kenapa Bapak menangis.

  Belakangan saya baru mengetahui, Bapak menangis karena mendengar kabar yang 
tidak baik setelah 1 Oktober 1965. Terjadi pembunuhan massal terhadap rakyatnya 
yang dituduh memiliki paham komunisme.

  Bapak juga menangis karena dia digulingkan begitu saja oleh bangsanya sendiri 
dan jutaan rakyat yang dia cintai dibunuh untuk melanggengkan sebuah kekuasaan. 
Memang tragis, akhir hidup seorang pendiri bangsa.

  *Cerita ini disusun dari penuturan Putri Presiden pertama RI Sukmawati 
Soekarnoputri saat ditemui Kompas.com di Kantor PARA Syndicate, Jalan Wijaya, 
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2016). 

  Kompas TVMenteri Yasonna Bantah PKI Bakal Bangkit

  [Non-text portions of this message have been removed]



Kirim email ke