Wawancara dengan seorangaktivis Marxis Tiongkok (1)
Oleh José Ruiz Andrés, Beijing (China) 20/06/15 Saya ada di sebuah kampung di luar kota Beijing, sebuah meja dengan teh dan beberapa kue di atasnya,di salah satu rumah-rumah yang sepertisarang lebah mengelilingi kota. Sementara kami duduk, tuan rumah saya, Hongbing(jelas nama samaran), juga menawarkan sebatang rokok sambil mengangkat topimerah Chicago Bulls. Kalau kita lihat penampilannya, tak seorangpun akanmengira ia seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hakburuh di beberapa kolektif danorganisasi Marxis di RRT dan redaktur ‘Tiongkok Merah’, salah satu situspenting yang merupakan referensi bagi “kiri baru”. Apartemennya sangat sederhana, dihiasi banyak sekali patung-patung kecilMao Zedong yang terbuat dari porselen. Setelah duduk dan merasa nyaman, kami mulai wawancara. J.R.Andres: Pertanyaan pertama tajam dan sulit, tapi saya ingin andamendefinisi terminologi tertentu supaya para pembaca dapat mengerti dengansiapa dan apa yang kita bicarakan. Apakah Tiongkok sebuah negeri komunis? Hongbing: Secara pribadi, saya berpendapat pemerintah Tkk sekarang inibukan negeri komunis, dan juga bukan sosialis. Tiga puluh tahun yang lalu,bahkan sebelumnya, setelah kekalahan Revolusi Kebudayaan, dimulai jalanrestorasi kapitalis. Gerakan massa tahun 1989 dan ambruknya Soviet Uni padatahun 1991 merupakan titik-titik genting. Sejak itu tidak ada harapan untukmembalik, atau menahan restorasi itu, kecuali gerakan masa yang muncul dewasa ini atau di masa depan. Tatiana: Jelas sekali bagaimana aktivis ini mengkarakterisasi negerinya.Jelas juga menyebut adanya restorasi kapitalis. Ini pendapat orang yang lahirdan hidup di Tkk sampai sekarang. Barangkali masih kurang aku-rat? Tapi Chanmarah besar ketika saya bilang Deng memimpin restora-si kapitalis. Dia bilangitu cap yang saya lemparkan seenak udelnya sen-diri!!! Tapi Hongbing tidak ragu-ragu dan tidak ada dualisme dalam mengkarakterisasi masyarakat dimana ia hidup, yaitu masyarakat kapitalis. Di Tkk sekarang tidak adapertarungan antara unsur-unsur sosialis dan unsur-unsur kapitalis, karena unsur-unsursosialisnya sudah dibongkar dan dihapus (Komune Rakyat dan hak-hak buruh). Hongbing: Tahun 2001 dan 2002 Pemerintah Tkk bergabung dengan WTO danmengubah piagam partai supaya kaum kapitalis dapat masuk Partai…Takdiragukan lagi restorasi di Tkk praktis sudah sampai pada eksponennya yangtertinggi. Dewasa ini terdapat sejumlah besar miliuner, bahkanmultimilyuner dalam Kongres Rakyat Nasional dan Partai Komunis Tiongkok. Takpeduli bagaimana anda memandangnya, dari segi politik, ekonomi atau siapa yangjadi bagian dari struktur partai, pemerintah Tkk sekarang tidak banyak berbedadengan partai-partai kapitalis. Tatiana: Jelas bergabungnya Tkk dengan WTO bukan satu hal remeh temehatau tanda kelihaian diplomasi Tkk. Jelas juga disebut piagam partai diubah. TapiChan menuduh saya mencap revisionis seenak udelnya sendiri. Padahal gamblangkelihatan apa yang diubah, apa yang direvisi… Perubahan dilakukan untukmengubah watak Partai yang tadinya merupakan pelopor, detasemen termaju darikelas buruh menjadi Partai seluruh rakyat, seperti yang terjadi di PKUS. TapiChan masih ngotot , tanpa argumentasi logis, seolah-olah PKT lain dari PKUS.Dan juga sulit bagi Chan untuk menunjukkan perbedaan antara PKT danPartai-partai elit yang ada di Indonesia, bukan? Bahkan antara DPR dan KongresRakyat Nasional. Lalu Partai dan lembaga apa itu kalau di dalamnya terdapatsejumlah besar miliuner dan multimilyuner. Logiskah untuk terus menamakan PKTsebagai partai pelopor kaum buruh dan massa pekerja lainnya? Ini pendapat 170kader dan anggota PKT dalam suratnya kepada Hu Yaobang:” Seperti apa yang kami katakan sebelumnya dalam bagian tentang sikapteguh dalam kepemimpinan Partai Komunis, maksud mengajukan “tiga perwakilan”adalah untuk merubah watak Partai sebagai pelopor proletariat dengan mengijinkan kapitalis masuk Partai.” J.R.Andres: Setelahmendefinisi RRT, secara politik bagaimana anda mendefinisi anda sendiri danbagaimana sampai ke situ? Hongbing: Saya anggap diri saya sosialis, lebih tepat lagi, Marxis. Padamasa remaja, saya menyaksikan gerakan 1989 dan saya terkesan dalam sekali.Dengan begitu dimulailah perkembangan pikiran saya yang masih hijau tentangpolitik dan gerakan massa. Tahun 1999, kedutaan Tkk di ex-Yugoslavia dibom olehAngkatan Udara AS. Itu membangkit-kan amarah besar massa rakyat Tkk dan sudahtentu termasuk saya sendiri. Tapi lebih dari itu, terjadi perubahan sangatbesar dalam pandangan/pikiran saya. Ketika itu saya berpandangan neoliberaldalam ekonomi dan dalam politik internasional pro-Amerika. Justru pada waktuitu, 10 juta pekerja negeri diPHK dan juga disingkirkan dari jaminan sosial….Massa rakyat menderita dampak politik pro-pasar. Tatiana: Terjadi perubahan positif pada Hongbing. Dari pandanganneo-liberal dan pro-Amerika menjadi aktivis Marxis. Kalau Chan dari oportuniskiri menjadi oportunis kanan. 10 juta diphk!! Lantas bagaimana bisa terusbilang di Tkk ada kediktaturan proletariat?? 10 juta proletariatnya didepakkejalan, ditelanjangi dari semua hak-hak politik, ekonomi dan sosialnya. Ah, bukanapa-apa itu! Itu diperlukan untuk memungkinkan orang lain jadi kaya dulu. Chan masih akan bisa bilang, tidak betul rakyat menderita , informasi tidak akurat!!!Bayangkan 10 juta diphk tanpa menerima jaminan sosial apapun! Bukankah itu berarti menghukum manusia-manusia itu untuk mati pelan-pelan? Ingat tidak video yangpernah saya postingkan, bagaimana buruh menangis ketika dia dipecat dan pabrikyang dia ikut membangunnya selama 30 tahun ditutup??Ah, Tatiana, jangansentimental! HIdup itu berat, harus berani berjuang! Begitu kira-kira ejekan Chan. Hongbing: Para pemuda mulai mempersoalkan politik itu dan keabsyahannya. Kami adalah yangdinamakan “kiri baru” yang muncul di Tkk dalam periode itu. Ketika itu sayabaru saja tamat universitas. Kejadian-kejadian itu dan gerakan massa yang timbulmembuat saya lebih radikal. Sejak itu saya juga dapat kesempatan untuk mengenalsituasi sebenarnya dari kaum pekerja dinegeri-negeri “barat” dan gerakan anti-globalisasi yang bertentangan denganpolitik neoliberal negeri-negeri tsb. Saya mulai membaca dan mengertikonsekwensi Marxisme klasik dan penerapannya di dunia riil. Maka itu, sejakawal abad XXI saya mengklasifikasi diri sebagai sosialis atau marxis. Tatiana: Pemuda dan mahasiswa yang punya simpati dan berpihak kepadakaum buruh dan kaum tani yang menderita penghisapan dan penindasan memangbiasanya berpaling kepada Marxisme untuk mencari jawaban kepada pertanyaan dankegelisahannya. Sebaliknya kaum revisionis menganggap Marxisme sebagai dalil-dalilusang yang patut dibuang ke dalam keranjang sampah! Karena mereka tidak dapatdan tidak akan menemukan dalam Marxisme dasar teori guna membenarkan praktekdan “teori” baru mereka, seperti misalnya manfaat dari penghisapan danpenghisapan diperlukan untuk membangun sosialisme. Tapi tetap menganggapdirinya Marxis! Chan mula-mula gembira ketika menemukan tulisan ketua PKJepang yang menyatakan bahwareform kapitalis Deng sudah pernah dijalankan oleh Lenin! Wah, Chan berjingkrakdan berseru: Lenin sendiri yang membetulkan kesalahan dan mengatakan sosialismeharus dibangun setelah kapitalisme!!!! Stalin lah yang menghentikannya!!! Chanmerasa jadi murid Lenin. Setelah saya tunjukkan perbedaan kondisi kongkrit kelahiran NEP dan restorasi kapitalis Dengdan juga reaksi AA, Lusi dan Tan Sie Tik, kembali dia meremehkan Lenin dan ngototingin mengubah kata-kata Lenin :” kombinasi ekonomi kapitalis dengan politikkomunis” menjadi “kombinasi ekonomikapitalis dengan ekonomi sosialisme”!!!. Jadi politik sama dengan ekonomi? Memangkeduanya berhubungan, tapi masing-masing punya bidangnya sendiri. Maksudkata-kata Lenin adalah ekonomi kapitalis yang diintrodusir ketika itu dipimpinoleh politik proletar/komunis. Kelihatan di sini prinsip politik adalahpanglima. J.R.Andres:Dewasa ini sulitkah menjadi komunis “sejati” di Tkk? Hongbing: (tertawa). Ya jelas, tidakmudah jadi seorang sosialis sejati di Tkk sekarang ini; di mana-mana dan disegala waktu pada umumnya memang tidak mudah! Lagi pula, PKT, sebagaisatu-satunya grup yang memerintah, menindas secara verbal dan fisik semua suarakritik yang menginginkan perubahan…Tak perduli apa yang anda tuntut, sepertiyang terjadi baru-baru ini dengan lima feminis yang ditangkap, yang pokokadalah anda berorganisasi dan “menentang”. Rejim yang sekarang menyatakandirinya dalam kata-kata sebagai penerus sosialisme/ komunisme dan Marxisme,tapi bertindak sebagai sebuah rejim kapitalis monopartai. Sebenarnya merekatidak percaya satu kata pun dari Marxisme, Maoisme atau sosialisme! Tatiana: Perhatikan mereka menggunakan kata “sejati” di belakang katasosialis dan komunis. Perlukah itu? Mengapa? Soalnya tidak semua yang menganggap atau menamakan dirinyasosialis atau komunis betul-betul memiliki sifat dan berbuat sesuai denganfaham sosialis atau komunis. Banyak sosialis gadungan dan komunis gadungan.Buktinya ya PKT itu sendiri! Dua kalimat terakhir Hongbing yang menunjuk padakepalsuan dan kemunafikan pemerintah dan PKT pada hakekatnya sudah dikatakanlebih dulu oleh pak Wertheim. Chan tidak berani memberi komentar tentangpendapat pak Wertheim. Saya sih tidak marah dibilang tidak pakai otak sendiri.Saya pakai otak puluhan peneliti dan ahli tentang Tkk. Karena saya sadar otaksaya punya banyak keterbatasan. Bagi saya lebih baik berpikir dengan menggunakanpuluhan otak peneliti dan ahli dari pada pakai hanya satu otak. Hongbing: Seperti kata mantan Perdana Menteri, Wen Jiabao, dalam sebuahkonferensi pers tahun 2012, kaum elite di pemerintah benar-benar dibikinkhawatir oleh kekacauan apa saja atau situasi “anarkis” atau gerakan proletarsejati, seperti revolusi kebudayaan baru. Mereka juga takut akan segala aliranpemikiran yang dapat melemahkan hege-moninya. Oleh karena itu mereka menindasdengan kekerasan yang sama bentuk–bentuk ekspresi kebudayaan Maoisme dan kananpro-Amerika. Di samping itu Pemerintah menjatuhkan hukuman berat (antara lima sampai10 tahun penjara) kepada beberapa Maois yang mencoba mengorganisasi partai padatahun 2010. Bahkan beberapa organisasi dan asosiasi mahasiswa “dimonitor” olehpihak administrasi universitas, karena dibuat khawatir oleh mahasiswa “terlaluradikal”, yang mencoba menjelaskan masyarakat sekarang dengan menggunakanterminologi teori Marxis klasik di luar tembok universitas. Tatiana: Bagaimana ini? Jadi di Tkk ada penindasan terhadap bentukmanifestasi kebudayaan Maoisme? Lha katanya mendukung FMTT? Mengapa orang-orangMaois ingin mengorganisasi partai baru? Tidakkah cukup dengan Partai yang ada? PendukungMaois malah dihukum di negeri yang katanya mendukung FMTT! Apa masuk akal ini? Mengapamahasiswa “terlalu radikal” ditakuti oleh penguasa? Dan definisi “radikal” disini maksudnya adalah mereka yang ingin menjelaskan masyarakat denganmenggunakan terminologi Marxis klasik di luar tembok universitas. Pantesan Chan dan S. Suroso tidak mau bicaratentang analisa kelas, kontradiks kelas, perjuangan kelas, nilai lebih. Berikutapa yang ditulis oleh 170 kader dan anggota PKT: “Dasar dari teori “tiga perwakilan” adalah tiganegasi. Pertama menegasi teori perjuangan klas dan kediktaturan proletariat.Pimpinan inti menekankan berkali-kali bahwa grup pengusaha swasta baru masukdalam “lapisan sosial baru” dan menyangkal bahwa mereka sebenarnya adalahborjuasi baru. Kedua, ia menegasi teori nilai dan teori nilai lebihdan secara terang-terangan menyatakan bahwa teori Marx sudah kedaluwarsa dantak berlaku lagi. Pada Kongres Partai ke 16, kalimat bahwa sosialismeharus “melenyapkan penghisapan” dihilangkan dari Piagam Partai tanpa penjelasanapapun. Sejak saat itu, konsep-konsep yang merupakan dasar dari Marxisme,seperti “klas”, “nilai lebih” dan “penghisapan” tidak lagi muncul dalamdokumen-dokumen resmi Partai Komunis Tiongkok.” Cocok nggakobservasi Hongbing dengan pendapat 170 kader dan anggota PKT? Bersambung...
