Bermodal Biji Buah Lokal, Sutrisno Sulap Berbagai Buah Ukuran JumboSutrisno
(53) warga JL Rumpuk Nomor 107, Kelurahan Kertosari, Kecamatan/Kabupaten
Ponorogo mampu menghasilkan buah berkualitas jumbo.
Minggu, 3 Maret 2013 12:51
[image: Bermodal Biji Buah Lokal, Sutrisno Sulap Berbagai Buah Ukuran Jumbo]
surya/sudarmawan
BUAH JUMBO - Sutrisno menunjukkan perbandingan buah srikaya lokal dengan
buah srikaya hasil teknis dan rekayasanya di kebun belakang rumahnya JL
Rumpuk, Nomor 107, Kelurahan Kertosari, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo,
Minggu (3/3).

Hanya bermodalkan keuletan, pria 2 anak ini kini sudah mendapatkan
perhatian dari berbagai kalangan terutama petani, Dinas Pertanian dan Dinas
Perkebunan dari luar Kabupaten Ponorogo.

Diantaranya, Kabupaten Probolinggo, Tulungagung, Jember, Kediri, Madiun,
Pacitan, Lumajang, Situbondo serta sejumlah Kabupaten asal Pulau Garam,
Madura. Mereka berdatangan ke rumah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
bertugas di UPTD Badan Keluarga Berencana (BKB) Pulung itu, hanya untuk
berguru cara penyambungan berbagai macam buah lokal agar menghasilkan buah
berukuran jumbo serta mencari benih yang sudah jadi untuk dikembangan dan
disemaikan di daerahnya masing-masing.

Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kalangangan dari
wilayah Jawa Tengah juga banyak yang datang untuk berguru dan memborong
benih yang siap tanam dari kebun lelaki berkaca mata ini.

"Awalnya memang hanya coba-coba, tetapi sekarang hasilnya bisa dinikmati
keluarga saya, masyarakat umum serta berbagai instansi yang membutuhkan,"
terangnya kepada Surya, Minggu (3/3/2013).

Selain itu, Sutrisno mengungkapkan jika saat uji coba pengembangan
penyambungan buah lokal dengan berbagai jenis benih unggul impor itu, hanya
bermodalkan tanah seluas 7 x 7 meter yang ada di belakang rumahnya. Namun,
secara bertahap akhirnya kini mampu memiliki lahan perkebunan dan
persemaian selus 2 hektar berisi sekitar 100 jenis benih buah-buahan yang
mampu menghasilkan buah super dan jumbo.

"Kali pertama saya coba untuk buah klengkeng, hasilnya mampu menghasilkan
klengkeng pingpong yang dalam 1 kilogram hanya berisi 40 butir buah.
Hasilnya sudah berkembang pesat. Sekarang saya kembangkan buah Srikaya yang
mampu menghasilkan buah 2 kilogram per buah," ungkapnya sambil
membandingkan buah srikaya lokal dan hasil rekayasanya.

Selama ini, Sutrisno mengembangkan perkebunan benih buah di samping dan
belakang rumahnya itu menggunakan 3 cara penyambungan agar menghasilkan
buah lokal berukuran jumbo. Diantaranya teknis sambung mata, teknis sambung
pucuk dan teknis sambung susu.
Halaman selanjutnya
<http://surabaya.tribunnews.com/2013/03/03/bermodal-biji-buah-lokal-sutrisno-sulap-berbagai-buah-ukuran-jumbo?page=2>

Selama ini, kebanyakan orang menggunakan teknis sambung pucuk karena lebih
hemat dan mudah diterapkan, disusul sambung mata dan terakhir yang paling
susah dan tak digemari teknik sambung susu. Untuk teknis terakhir masih
sangat langka diterapkan petani karena para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL)
Dinas Pertanian juga tak pernah mempraktekkannya. Meski hasilnya rata-rata
membutuhkan waktu 3 bulan untuk bisa dipindahkan atau ditanam.

"Kalau saya pakai sambung pucuk. Selain paling hemat mudah dilaksanakan.
Teknik ini dari benih yang akan disambung dipotong kira-kira sepanjang 15
sentimeter bisa menjadi tiga batang baru," urainya sembari mempraktekan
ketiga teknis penyambungan berbagai macam itu.

Sutrisno mencontohkan untuk penyambungan buah srikaya yang menghasilkan
buah 2 kilogram per buah, tetap mengandalkan biji buah srikata lokal yang
dalam 1 kilogramnya berisi 10 sampai 12 buah. Setelah itu diambil biji buah
srikaya masing-masing berisi sebanyak 50 biji. Setelah disemaikan akan
disambung dengan buah srikaya Thailand agar menghasilkan buah super yang
rasanya lebih manis dan ukuran buahnya jumbo.

"Srikaya lokal saya beli di pasar sebanyak 1 kilogram. Kemudian saya ambil
bijinya, hasilnya mampu menghasilkan sekitar 500 batang benih srikaya
dengan buah ukuran jumbo. Saat srikaya jumbo berbuah isinya hanya 15 butir
biji, dagingnya lebih banyak dan rasanya lebih manis," paparnya.

Sedangkan benih srikaya jumbo hasil rekayasanya, biasanya dijual dengan
harga Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per batang. Jika srikaya lokal
menghasilkan 500 sampai 600 biji buah sudah mampu menghasilkan uang jutaan
rupiah.

"Itulah keuntungan usaha budidaya saya ini," tegasnya. Sementara, sejak
Tahun 1984 hingga kini, Sutrisno menganggap penghasilannya sebagai pecinta
buah melebihi gajinya sebagai PNS. Selama ini untuk mengurus lahan seluas 2
hektar, Sutrisno mengandalkan bantuan 4 orang karyawan dan 4 orang anak
asuhnya yang kini sudah dikuliahkan semuanya.

"Dulu memang awalnya mencari biji-bijian bekas dimakan anak-anak dan di
jalanan maupun di halaman rumah. Sekarang penghasilan saya minimal sebulan
Rp 75 juta. Di bulan Desember 2012 sebulan mencapai Rp 133 juta, Januari
2013 hasil penjualan benih mencapai Rp 108 juta dan untuk bulan Februari
kemarin belum ditotal istri saya," pungkasnya

2016-10-21 7:26 GMT+02:00 Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service
Indonesia] <[email protected]>:

> Coba bantu unduh pak, kebetulan pc dikantor tidak bisa pakai buka internet
>
>
>
> *From:* kh djie [mailto:[email protected]]
> *Sent:* Friday, October 21, 2016 12:49 PM
> *To:* Gelora45; Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia]
> *Subject:* [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Dua tahun kerja, Jokowi gagal
> tekan harga pangan
>
>
>
> Bung Karma,
>
> Buah Jumbo :
>
> http://surabaya.tribunnews.com/2013/03/03/bermodal-biji-
> buah-lokal-sutrisno-sulap-berbagai-buah-ukuran-jumbo
>
> Salam,
>
> KH
>
>
>
> 2016-10-21 2:05 GMT+02:00 'Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service
> Indonesia]' [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
>
>
>
> Alternatif masalah daging, bisa dilakukan dengan ternak sapi jenis Limosi
> kalau tidak salah namanya karena beratnya sampai 1,3 ton per ekor.
>
> Di bidang sembako, bisa mengembangkan sayur dan buah-buahan jenis jumbo,
> misalnya kentang berat sampai 100 kg per biji, nangka segede drum, labu
> satu biji besar 1 mobil pickup, mentimun panjangnya 1 meter, pohon anggur
> bisa berbuah perbatangnya sampai 3/4 ton- 1 ton, pohon-pohon  ini saya
>  lihat di FB
>
>
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
> *Sent:* Wednesday, October 19, 2016 5:47 PM
> *To:* ;
> *Subject:* [**EXTERNAL**] [GELORA45] Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan
> harga pangan
>
>
>
>
>
>
>
> http://nasional.kontan.co.id/news/dua-tahun-kerja-jokowi-
> gagal-tekan-harga-pangan
>
>
> Dua tahun kerja, Jokowi gagal tekan harga pangan
>
> Rabu, 19 Oktober 2016 / 15:35 WIB
>
>
> ยท         Dua tahun Jokowi, Kemendagri pecat 105 PNS
>
>
>
> Jakarta. Usia pemerintahan Presiden Joko Widodo menginjak dua tahun pada
> pekan ini. Namun, banyak masalah yang belum berhasil diselesaikan di dua
> tahun usia pemerintahan tersebut.
>
> Salah satunya, soal harga pangan. Enggartiasto Lukito, Menteri Perdagangan
> mengatakan, dalam waktu dua tahun ini, harga pangan masih belum sesuai
> harapan. Indikatornya, harga daging yang masih tinggi.
>
> BACA JUGA :
>
>    - *Dua tahun, kabinet Jokowi belum satu nafas*
>    - *Dua tahun Jokowi-JK, bagaimana realisasinya? *
>
> "Presiden berikan teguran, Beliau minta, ini diperhatikan karena penurunan
> harganya kecil," katanya di Jakarta Rabu (19/10).
>
> Enggar mengatakan, sebenarnya untuk meredam gejolak harga barang kebutuhan
> pokok, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri
> Perdagangan No. 63 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di
> Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.
>
> Dalam peraturan tersebut harga daging sapi segar dipatok antara Rp 50.000
> sampai Rp 105.000 per kilogram tergantung jenis bagian dagingnya. Tapi dari
> data Kementerian Perdagangan harga daging sampai saat ini masih bertengger
> di batas atas harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.
>
> Enggar mengatakan, pihaknya masih memerlukan waktu untuk menekan harga
> daging supaya sesuai harapan. "Prosesnya panjang, untuk impor dari
> Australia ke sini butuh waktu, perlu penggemukan, selama empat bulan, baru
> dipotong, nah ini kan baru kemarin impornya," katanya.
>
> 
>
>
>

Kirim email ke