http://sp.beritasatu.com/home/di-jepang-duterte-kembali-luapkan-amarah-pada-as/117305
 
http://sp.beritasatu.com/home/di-jepang-duterte-kembali-luapkan-amarah-pada-as/117305

 Di Jepang, Duterte Kembali Luapkan Amarah pada AS
U-5 | Rabu, 26 Oktober 2016 | 16:26

 

 Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri) bertemu dengan Perdana Menteri (PM) 
Jepang Shinzo Abe di Tokyo, Jepang, Rabu (26/10). [Istimewa] 

 

 [TOKYO] Presiden Filipina Rodrigo Duterte tiba di Tokyo, Jepang, hari Selasa 
(25/10) dalam rangka kunjungan selama tiga hari. Bahkan, sekalipun sudah berada 
di Jepang, Duterte tetap tidak bisa menahan amarahnya kepada Amerika Serikat 
(AS).
 Pada hari pertama di Jepang, Duterte malah mengulang lagi ancamannya untuk 
mengakhiri perjanjian atau pakta pertahanan dengan AS yang berlaku sejak tahun 
2014. “Amerika benar-benar penganggu,” kata Duterte kepada sekitar 1.200 warga 
Filipina di Tokyo, kemarin, merujuk kepada kritik AS atas kampanye 
anti-narkobanya.
 Duterte menyebut ancaman AS untuk memotong bantuan ke Filipina adalah 
pernyataan merendahkan. “Kamu bisa dapatkan itu semua. Itu semua milikmu. Kami 
akan bertahan,” tandasnya.
 Sebelum terbang ke Jepang, Duterte juga menyampaikan pidato di Bandara Manila, 
menyebut warga Amerika “bodoh” dan negara itu telah diserang dengan kefanatikan 
murni dan diskriminasi. Dia kembali mengancam akan mencabut pakta pertahanan 
yang mengizinkan sejumlah besar pasukan AS, kapal perang, dan 
pesawat-pesawatnya untuk menggelar latihan perang di tanah Filipina.
 “Warga Amerika ini sungguh-sungguh bodoh,” kata Duterte yang juga menyebut 
orang Amerika “seperti seseorang tanpa visa, orang-orang bodoh”.
 Terkait pakta pertahanan Filipina-AS, Duterte mendesak agar melupakan saja hal 
itu. “Saya tidak ingin melihat tentara apa pun dari negara mana pun, kecuali 
tentara Filipina,” tandasnya.
 Duterte tampaknya berada dalam suasana hati tidak menyenangkan sebelum 
keberangkatannya ke Jepang. Setelah mendapatkan tiga pertanyaan singkat dari 
wartawan, suasana hatinya langsung memburuk sehingga selama 15-20 menit dia 
melawan semua hal terkait Amerika.
 Duterte saat ini kebal terhadap gugatan sebagai presiden, tapi dia bisa 
dituntut saat turun jabatan. Namun, Duterte mempersilakan AS menguggat kampanye 
anti-narkobanya. “Jika kamu punya bukti, silakan maju lakukan gugatan. Saya 
tidak masalah dengan itu. Saya bersedia membusuk di penjara untuk negara saya,” 
ujarnya.
 
 Dia menambahkan sekalipun Filipina adalah negara miskin, tapi tetap harus 
dihormati. “Jangan main-main dengan kedaulatan kami,” tandasnya. [Al 
Jazeera/Inquirer/C-5]
 

Kirim email ke