http://www.cnnindonesia.com/internasional/20161027203426-134-168523/komentar-trump-tentang-islam-tak-mencerminkan-amerika/
Komentar Trump Tentang Islam Tak Mencerminkan Amerika
Riva Dessthania Suastha, CNN IndonesiaKamis, 27/10/2016 20:34 WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Trump berencana melarang sementara semua Muslim untuk memasuki AS jika ia 
berhasil memenangi pemilu nanti. (Reuters/Carlo Allegri)Jakarta, CNN Indonesia 
-- Komentar kontroversial Donald Trump soal Islam sama sekali tidak 
mencerminkan pandangan Amerika Serikat. Pemerintah AS bahkan mengecam segala 
bentuk diskriminasi dan rasisme yang diutarakan oleh Trump.

“Kami tidak berbicara spekulasi di sini (tentang potensi Trump menang). Yang 
pasti komentar itu tidak mencerminkan negara. Dalam kampanye, capres bebas 
melakukan dan berbicara apa saja,” kata Duta Besar Amerika Serikat Khusus isu 
Kebebasan Beragama Internasional, David N Saperstein dalam sebuah diskusi di 
Jakarta, Kamis (27/10).Menurut Saperstein, menjadi suatu hal yang lumrah bagi 
masing-masing calon presiden melontarkan berbagai komentar dan pandangan dalam 
masa kampanye menuju pemilu. Pandangan dan komentar mereka merupakan ide dan 
gagasan dari masing-masing kandidat sehingga tidak mewakili negara.

Dia mengatakan, pemerintah AS sendiri mengecam segala bentuk diskriminasi dan 
ujaran kebencian terhadap kaum minoritas. Pemerintah memastikan hak semua warga 
sama tanpa memandang asal dan agamanya dalam mengurangi kesenjangan.

Selama dua periode Pemerintahan Barack Obama, tutur Saperstein, AS semakin 
fokus mendekatkan diri dengan komunitas Islam di dalam negeri maupun 
internasional. Menurutnya, memperkuat kedekatan dan relasi dengan berbagai 
komunitas agama khususnya Islam dapat meningkatkan nilai komunal dalam 
menghadapi permasalahan global.

Saperstein melanjutkan, pemerintah memperkuat struktur politik luar negeri AS 
untuk terus memperjuangkan kebebasan bergama dan pluralisme sebagai bagian dari 
HAM.

“Selama dua periode pemerintahan ini, kami lebih fokus mendekatkan diri pada 
komunitas Islam internasional, salah satunya dengan menetapkan perwakilan tetap 
AS untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),” kata Seperstein.

Sentimen Islamofobia kembali menjadi perdebatan hangat di AS bahkan negara 
Barat lainnya. Sejak serangan teroris 9/11 di New York, warga Muslim mendapat 
stereotipe yang buruk serta perlakuan diskriminatif di lingkungannya.

Sentimen Islamofobia semakin memburuk akibat pernyataan Trump dalam masa 
kampanyenya. Trump berencana melarang sementara semua Muslim untuk memasuki AS 
jika ia berhasil memenangi pemilu nanti. Trump juga menyebutkan akan melakukan 
"pemeriksaan ekstrem" bagi pengungsi dan umat Islam di AS.

Bahkan, dalam debat capres terakhir, Trump mengatakan bahwa pemerintah AS 
seharusnya menyebut terorisme dengan "teroris Islam radikal", istilah yang 
ditolak oleh pemerintah Barack Obama. (den)


Kirim email ke