Terimakasih pada Bung Chalik atas tulisannya ini.
Yang jadi pertanyaan pada saya adalah: Apakah Albania sekarang ini masih
negeri sosialis?

Horas.

L. Sitompul

Pada 27 Oktober 2016 09.31, [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> menulis:

>
>
>
>
>
>
> *JALAN SUTERA ABAD 21*
>
>
>
> *KATA SAMBUTAN*
>
>
>
> *Chalik Hamid*
>
>
>
> UNTUK memberikan kata sambutan atas terbitnya buku baru Bung Suar Suroso
> yang diberi judul *Jalan Sutera Abad 21*, saya berusaha menampilkan
> sebuah negara sosialis di Eropa dan sebuah lagi desa  kecil yang
> merupakan cerminan negeri sosialis Tiongkok di Asia. Saya berusaha meninjau
> kelebihan dan kekurangan negeri‐negeri ini dalam praktik sosialis di masa
> lalu dan sekarang. Negeri itu adalah Albania yang berkedudukan di Eropa dan
> sebuah Desa Huaxi yang merupakan bagian dari Tiongkok di Asia.
>
>
>
> Dalam pelaksanaan praktik Marxisme–Leninisme di negeri negeri sosialis,
> sering terjadi kesalahan yang bisa menimbulkan kehancuran negeri tersebut.
> Sebagai contoh saya melihat kejadian itu di Albania. Mengapa saya mengambil
> contoh Albania? Karena  saya mengalami langsung di negeri ini selama
> seperempat abad, selama dua puluh lima tahun.
>
>
>
> Partai Buruh Albania yang sebelumnya adalah Partai Komunis Albania, yang
> sejak semula diketuai oleh Anwar Hoja, (di Albania ditulis: Enver Hoxha),
> setelah menumbangkan kekuasaan kaum feodal dalam negeri dan mengusir
> kekuasaan fasis Jerman, berhasil menegakkan pemerintahan demokrasi rakyat.
> Dari sistem feodal, negeri ini langsung melompat memasuki sistem demokrasi
> rakyat. Dia tidak mengalami sistem kapitalis,seperti yang dialami negeri
> sosialis lainnya di dunia. Negeri itu membentuk koperasi‐koperasi
> pertanian dan perusahaan pertanian negara (ferma). Koperasi pertanian
> dipimpin oleh pengurus yang dipilih oleh rakyat yang merupakan anggota
> koperasi. Para anggota koperasi merupakan penduduk desa yang tergabung
> dalam sebuah koperasi. Sedangkan perusahaan pertanian negara, yang disebut
> ferma, adalah milik negara dikelola oleh pemerintah daerah masing‐masing.
> Para pekerjanya adalah penduduk (warga) yang berdekatan dengan tempat
> perusahaan pertanian tersebut. Baik koperasi maupun perusahaan pertanian
> negara, pada pokoknya bergerak di bidang pertanian, peternakan, dan
> perkebunan buah‐buahan. Bidang‐bidang lainnya seperti industri berat dan
> ringan, pabrik tembaga, pabrik tenun, pembangkit listrik (*hidrocentral*),
> pabrik porselen, dan lain‐lain, sepenuhnya berada di tangan
> pemerintah/negara.
>
>
>
> Apakah ada kesalahan yang kita jumpai dalam pengembangankoperasi dan
> perusahaan pertanian negara ini? Ya, ada! Yang paling  pokok dan utama
> adalah warga tidak diberi tanah semacam halaman untuk bercocok tanam guna
> kebutuhan hidup mereka.
>
> Misalnya untuk bertanam sayur‐sayuran guna kebutuhan makan mereka sehari‐hari.
> Warga tidak diperbolehkan beternak hewan besar seperti sapi, untuk
> memperoleh susu dan keju. Yang diperkenankan hanyalah ternak kecil seperti
> ayam. Padahal penduduk membutuhkan susu dan keju untuk hidupnya. Semua
> kebutuhan hidup harus dibeli di koperasi, padahal penghasilan mereka dari
> koperasi sangat terbatas dan sedikit. Koperasi sendiri tidak mampu memenuhi
> kebutuhan kaum tani sehari‐hari, dari hasil pertanian dan peternakan.
> Pemerintah beralasan seolah hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian
> ideologi proletariat, jangan sampai warga berkembang menempuh kembali
> ideologi burjuis. Pemberian sebidang tanah dan pemeliharaan hewan besar
> dianggap oleh pemerintah akan mengembangkan ideologi burjuis.
>
>
>
> Di kalangan atas juga terjadi perbedaan cara hidup sangat mencolok. Untuk
> ketua Partai dan para anggota Politbiro masing‐masing disediakan
> kendaraan Mercedes‐Benz, seluruh anggota Comite Central mendapatkan mobil
> Fiat buatan Italia.Penduduk biasa seperti buruh dan tani, sama sekali tidak
> diperbolehkan memiliki kendaraan bermotor. Mereka paling‐paling hanya
> memiliki sepeda yang sangat sulit untuk diperoleh karena benda ini
> merupakan barang impor. Di jalan‐jalan umum kita tidak menemukan
> kesibukan atau kemacetan, karena penduduk tidak memiliki kendaraan bermotor
> seperti yang terdapat di negeri‐negeri lain.
>
> Ketimpangan‐ketimpangan ini tentu saja menimbulkan kecemburuan sosial di
> kalangan rakyat. Belum lagi masuk ke masalah makanan. Di kalangan atas yang
> mencakup anggota Politbiro Partai Buruh Albania dibandingkan dengan
> kehidupanwarga, juga terdapat perbedaan yang menyentuh hati. Anggota
> Politbiro mengonsumsi makanan yang ditanam di perkebunan khusus untuk
> mereka. Para pemimpin itu memiliki perkebunan yang menghasilkan sayuran dan
> perkebunan buah‐buahan khusus untuk para pemimpin. Untuk mereka
> disediakan peternakan khusus untuk susu, keju, dan daging yang berbeda
> dengan yang dikonsumsi rakyat biasa. Warga memperoleh makanan dari pasar
> bebas, dari warung‐warung dan kedai‐kedai, yang memperolehnya dengan
> antrean panjang. Kualitas makanannya jauh berbeda dengan makanan para
> pemimpin. Sebagai akibatnya, terbuka lapisan masyarakat baru dalam sistem
> sosialis, sebagai akibat salah urus, sebagai akibat kekeliruan dalam
> penerapan Marxisme–Leninisme. Hal demikian bukan hanya terjadi di Albania,
> tetapi juga di negeri‐negeri sosialis Uni Sovyet dan Eropa Timur lainnya
> seperti Hongaria, Bulgaria, Rumania, Cekoslawakia, Polandia, dan lain‐
> lainnya.
>
> Saya juga melihat, ada lagi sebuah kesalahan yang dilakukan oleh Partai
> Buruh Albania pada waktu itu. Partai masih terus memelihara dan memupuk
> “dosa keturunan”. Jika ada seorang kakek atau ayah melakukan kesalahan
> dalam perjuangan melawan feodalisme dan membasmi fasisme Jerman di Albania,
> maka dosa kesalahan itu akan turut diderita oleh sang anak berikut
> keturunan selanjutnya. Sang anak dan generasi keturunan selanjutnya tidak
> akan mendapatkan pelayanan yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.
> Sang anak dan generasi keturunan selanjutnya akan terus‐menerus turut
> menanggung beban apa yang dilakukan sang kakek atau ayah di masa lalu.
> Mereka tidak akan mendapatkan pendidikan yang sama dengan anggota
> masyarakat lainnya. Mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan yang sama
> dengan warga lainnya. Keturunan “bekas penjahat” ini selalu mendapatkan
> pekerjaan yang lebih berat, seperti di pertambangan dalam tanah, pabrik
> pengecoran, dan pekerjaan pertanian. Mereka selalu diremehkan dan
> dicemoohkan dalam kehidupan sehari‐hari.
>
> Hal ini persis seperti yang dilakukan oleh pemerintah orde baru rezim
> fasis Jenderal Soeharto terhadap keturunan anggota Partai Komunis Indonesia
> dan pengikut Bung Karno. Kebejatan tersebut masih berlaku hingga saat ini,
> di mana rekonsiliasi belum pernah dilakukan dan Tap MPRS No.XXV/1966 belum
> dicabut dan dimusnahkan. Para pengikut rezim orde baru Soeharto masih terus
> berkuasa dan bercokol dalam kekuasaan negara RI.
>
>
>
> Kelemahan lainnya kita jumpai juga di bidang komunikasi dan propaganda,
> misalnya dalam hubungan penyiaran di TV dan radio. Di kalangan pimpinan
> diadakan saluran khusus untuk mengetahui perkembangan di luar negeri dengan
> mengikuti siaran TV/radio dari berbagai stasiun penyiaran negeri‐negeri
> lainnya. Sedangkan warga biasa hanya diperbolehkan mengikuti siaran dalam
> negeri yang disalurkan lewat TV/radio ibu kota Tirana. Untuk mengetahui
> perkembangan negeri‐negeri lainnya, warga secara diam‐diam membuat
> “antena liar” untuk memperoleh berita dan perkembangan lainnya di luar
> negeri, seperti di bidang olahraga dan kebudayaan. Di tempat‐tempat
> kerja, di pabrik, warga membuat antena televisi agar bisa berhasil
> menangkap siaran dari luar negeri. Mereka selalu melihat siaran TV dari
> Roma (Italia) dan Belgrado (Yugoslavia) secara diam‐diam dan sembunyi.
> Jika diadakan festival internasional atau pertandingan bola dunia, warga
> pasti melihatnya dengan menggunakan antena liar. Secara resmi pemerintah
> melarang warga melihat siaran TV lainnya dari luar negeri, warga hanya
> diperbolehkan mengikuti TV dan radio siaran dalam negeri. Bagi warga yang
> melanggar ketentuan pemerintah diambil tindakan hukum hingga masuk penjara.
>
>
>
> Mengapa pemerintah melakukan pemblokiran terhadap siaran‐siaran dari luar
> negeri bagi warganya? Alasannya sangat sederhana. Untuk menjaga kemurnian
> ideologi Marxisme–Leninisme. Di kalangan bawah dilakukan pemeliharaan
> ideology Marxisme–Leninisme, sedangkan di kalangan atas telah menyusup dan
> berkembang ideologi burjuis. Kepincangan‐kepincangan
>
> demikian ini terjadi sebagai akibat kesalahan pimpinan dalam menerapkan
> Marxisme–Leninisme di kalangan rakyat biasa, tidak satunya ucapan dan
> perbuatan. Kelihatannya masalah seperti ini merupakan hal kecil, tetapi
> dalam kenyataan, hal demikian menjadi pendorong hancurnya negeri‐negeri
> sosialis di Eropa Timur dan di dunia.
>
>
>
> Ada lagi sebuah kejadian tragis yang terjadi bagi pimpinan Partai di
> Albania. Di saat‐saat akan berakhir dan runtuhnya pemerintahan sosialis
> di Albania, di kalangan pimpinan tertinggi Partai terjadi saling tuduh dan
> saling sikut, hingga pada akhirnya saling bunuh. Betapa tragisnya, beberapa
> anggota Politbiro Partai saling tembak yang mengakibatkan beberapa orang
> terbunuh mati. Beberapa anggota Politbiro Partai yang merupakan kawan
> seperjuangan ketika bersama‐sama memusnahkan kaum feodal dan mengusir
> kaum fasis Jerman dari negerinya, pada akhirnya bentrok sendiri. Mereka
> gontok‐gontokan. Yang satu menuduh yang lain sebagai agen luar negeri
> untuk menumbangkan pemerintah Albania. Yang terakhir sekali adalah
> dibunuhnya Perdana Menteri Pemerintah Sosialis Albania, Mehmet Shehu. Oleh
> Ketua Partai Buruh Albania, orang ini dianggap sebagai agen ganda luar
> negeri yang berusaha menghancurkan Albania. Dia dituduh sebagai agen
> imperialisme Amerika Serikat dan sekaligus agen social imperialisme Uni
> Sovyet. Dia dibunuh dalam sebuah sidang. Kepada anggota masyarakat dan
> anggota Partai, dinyatakan bahwa perdana menteri itu melakukan bunuh diri,
> karena akal busuknya sudah diketahui.
>
>
>
> Namun kita juga tidak bisa menutup mata, melupakan segi‐segi positif dan
> kebaikan dalam sistem sosialis yang terdapat di negeri tersebut. Pelayanan
> kesehatan gratis yang diberikan kepada rakyat, sangat perlu dibanggakan.
> Jika ada warga menderita sakit, segera dibawa ke rumah sakit. Seluruh
> pemeriksaan dan pengobatan, warga tidak membayar satu sen pun. Demikian
> juga obat‐obat yang diperoleh dari apotek seluruhnya gratis, sama sekali
> tidak dibayar. Demikian juga dalam masalah pendidikan. Dalam semua jenjang
> pendidikan warga memperolehnya dengan gratis. Mulai dari penitipan bayi,
> taman kanak‐kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan
> tinggi di universitas, semuanya dilakukan tanpa bayar. Kesempatan ini
> sangat terbuka bagi warga yang memiliki kemampuan untuk belajar. Bagi warga
> yang sudah bekerja, juga dibuka kesempatan untuk belajar pada malam hari.
> Betapa banyaknya jumlah kader sarjana yang dihasilkan dari sekolah malam
> hari, termasuk para sahabat dan teman dari Indonesia. Bagi warga yang telah
> berhasil menamatkan pendidikannya segera akan mendapatkan pekerjaan sesuai
> dengan bakatnya. Tidak ada kekecualian, semua mendapatkan pekerjaan. Yang
> sangat menarik, semua pekerja akan menerima upah tidak jauh berbeda dalam
> jumlahnya. Seorang insinyur misalnya, menerima upah tidak jauh berbeda
> dengan seorang pekerja mesin bubut. Seorang dokter menerima gaji tidak jauh
> berbeda dengan seorang perawat. Demikian seterusnya.
>
>
>
> Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin dalam sistem sosialis di Albania,
> mereka berusaha untuk mengatasi atau mengurangi perbedaan gaya hidup yang
> berlebihan di masyarakat. Mereka berusaha mengatasi kesenjangan sosial
> jangan sampai terjadi di Albania. Pada waktu itu, Albania sama sekali tidak
> mengenal pengangguran. Semua penduduk dewasa memperoleh pekerjaan, di sana
> tidak ada manusia parasit.
>
>
>
> Demikian pula di bidang perumahan. Pemerintah melindungi warganya dengan
> memberikan perumahan. Memang pemerintah masih mengalami kesulitan untuk
> memenuhi kebutuhan perumahan rakyat. Apartemen terus dibangun dan
> dikembangkan. Warga desa diberi berbagai keringanan dan prioritas untuk
> membangun rumahnya. Bagi kaum buruh pabrik, pemerintah
>
> menyediakan bahan bangunan untuk membangun perumahan dengan kerja
> sukarela. Setelah apartemen selesai, buruh membaginya sesuai dengan
> ketentuan yang mereka atur sendiri. Dengan cara ini banyak kaum buruh dan
> warga yang tertolong untuk mengatasi masalah perumahan.
>
>
>
> Marxisme–Leninisme adalah sebuah ilmu. Sebagai ilmu, maka dia tidak pernah
> mandeg, tidak boleh berhenti pada satu titik. Ia akan selalu berkembang
> bersama ilmu‐ilmu lainnya. Marxisme–Leninisme termasuk masih muda
> dibandingkan dengan ilmu‐ilmu lainnya yang terdapat di dunia ini. Puncak
> pengujian kebenaran ilmu ini adalah ketika dimenangkannya Revolusi Oktober
> di Rusia pada tahun 1917. Dalam praktik proses pengembangannya masih selalu
> mengalami ganjalan. Selama puluhan tahun dalam praktik di berbagai negeri,
> akhirnya dia mengalami pukulan berat. Beberapa negeri sosialis yang
> menganut ajaran Marxisme–Leninisme, mengalami kehancuran. Tapi perlu
> dicatat bahwa Marxisme– Leninisme tak pernah mati. Ilmu itu tetap utuh dan
> bertahan.Namun dia masih perlu dikembangkan dan disempurnakan.
>
>
>
> Kini saya berusaha menampilkan sebuah contoh lain sebagai bahan banding
> dalam pelaksanaan dan pengembangan system sosialis yang didasari teori
> Marxisme–Leninisme. Sebuah desa di Tiongkok, bernama Huaxi, terletak di
> Provinsi Jiangsu, merupakan salah satu desa yang menganut paham sosialis
> yang didasari Marxisme–Leninisme. Huaxi adalah mininya Tiongkok yang besar.
> Merupakan desa teladan yang perlu dicontoh oleh desa‐desa lainnya di
> sana. Penduduk desa mengalami kemakmuran luar biasa. Setiap keluarga paling
> tidak memiliki sebuah rumah dan sebuah mobil. Perlengkapan rumah tangga
> keluarga, sudah dilengkapi dengan baik. Keluarga di Huaxi rata‐rata
> memiliki aset 150.000 dolar AS, pendapatan per kapita mencapai 2.000 dolar
> AS. Penduduk desa ini hidup dengan sejahtera yang diperoleh dari pabrik
> baja, besi, dan pabrik tekstil milik kolektif. Pada tahun 2008 saja, pabrik
> ‐pabrik ini berhasil mengumpulkan 7,3 miliar dolar AS. Sejak kemerdekaan
> Tiongkok pada tahun 1949 hingga kini, Partai Komunis Tiongkok telah
> berhasil mengubah negeri itu dari negeri terbelakang menjadi sebuah negeri
> maju di dunia. Kedudukan perekonomian Tiongkok telah berhasil menduduki
> tempat kedua di dunia setelah AS. Negeri‐negeri Eropa dan negeri‐negeri
> dunia lainnya tidak ada yang tidak mengenal barang produksi Tiongkok. Kini
> barang‐barang Tiongkok memenuhi pasar dunia. Di Eropa mulai barang‐barang
> elektronik, porselen, bahan makanan, sampai tusuk sate dan tusuk gigi pun
> adalah produksi Tiongkok.
>
> Di tahun 1980‐an, ketika Tiongkok mulai mendorong kepemilikan
> perseorangan, Desa Huaxi berada di garis terdepan.Hasil dari pabrik baja
> dan pabrik‐pabrik lainnya digunakan untuk mengembangkan usaha lainnya.
> Mereka memperoleh sukses luar biasa. Warga Huaxi telah berhasil merealisasi
> mimpi mereka. Penduduk Huaxi yang berjumlah 400 kepala keluarga sekarang
> memiliki rumah bergaya Eropa, seluas 400–600 meter persegi, lengkap dengan
> mobilnya. Warga desa tersebut mendapat gaji pokok dan juga mendapat bonus
> tahunan. Menurut ketentuan yang ditetapkan bersama, 80 persen harus
> diinvestasikan ke dalam saham perusahaan, yang dengan demikian perusahaan
> akan terus berkembang dan membesar. Desa Huaxi yang menjadi kebanggaan
> Tiongkok ini, semoga bisa menjadi teladan bagi desa‐desa lainnya di
> Tiongkok. Banyak pendapat yang dikemukakan mengenai desa ini. Ada yang
> mengatakan desa ini menempuh jalan perpaduan sosialisme dengan kapitalisme.
> Ada yang mengatakan sudah sepenuhnya menempuh jalan kapitalisme. Banyak
> pula yang mengatakan inilah sosialisme berciri Tiongkok. Menurut pendapat
> saya, biarkan ilmu itu berkembang demi kemakmuran umat manusia, dengan
> sedapat mungkin menghindari penghisapan manusia atas manusia.
>
>
>
> Tulisan saya ini merupakan sambutan dalam rangka terbitnya buku Suar
> Suroso *Jalan Sutera Abad 21*. Buku ini sebenarnya melengkapi tulisan
> dalam buku Suar sebelumnya *Pikir Itu Pelita Hati* yang telah diterbitkan
> Ultimus Bandung beberapa waktu yang lalu. Saya melihat, kedua buah buku ini
> juga merupakan jawaban bagi beberapa teman yang berdiam di Eropa. Sekaligus
> merupakan pembelaan sosialisme dunia dewasa ini, termasuk sosialisme yang
> berkarakteristik Tiongkok, atau sosialisme berciri Tiongkok, atau
> sosialisme ala Tiongkok. Sepuluh bab tulisan dalam buku *Jalan* *Sutera
> Abad 21 *saling mengisi dengan buku *Pikir Itu Pelita Hati*. Buku ini
> sangat berguna dalam menganalisa situasi dan perkembangan zaman. Masing‐masing
> kita mempunyai hak memberikan pendapat untuk menjawab situasi konkret
> dewasa ini.
>
>
>
> Dari dua contoh di atas, saya berusaha mengemukakan bahwa
> Marxisme–Leninisme sebagai ilmu, belumlah sepenuhnya sempurna. Ia terus
> berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu lainnya. Dia akan terus
> dilengkapi, hingga pada akhirnya menjadi sempurna dan teruji dalam praktik.
> Di samping itu adanya negeri‐negeri yang dalam praktik menyelewengkan
> ajaran Marxisme–Leninisme itu ke arah lain, sehingga membawa negeri
> tersebut ke jalan yang fatal, itu adalah merupakan sebuah konsekuensi.
> Sementara itu, jika ada pandangan dan pendapat yang menyatakan bahwa
> Marxisme–Leninisme sekarang ini sepenuhnya sudah lengkap dan sempurna, ini
> akan membawa kita pada dogmatisme.
>
>
>
>
>
> *Amsterdam**, 6 Agustus 2016*
>
> 
>

Kirim email ke