http://kupang.tribunnews.com/2016/11/06/kok-tega-mereka-jarah-dan-hancurkan-warung-nasi-saya
 
http://kupang.tribunnews.com/2016/11/06/kok-tega-mereka-jarah-dan-hancurkan-warung-nasi-saya

  
 Aksi Demo 4 Nopember 2016 di Jakarta 
http://kupang.tribunnews.com/topics/aksi-demo-4-nopember-2016-di-jakarta Kok 
Tega, Mereka Jarah dan Hancurkan Warung Nasi Saya 
 Minggu, 6 November 2016 15:34
 

 Sejumlah barang bukti dibawa petugas Polres Jakarta Utara saat olah Tempat 
Kejadian Perkara (TKP) di dua minimarket, Jalan Gedong Panjang, Penjaringan, 
Jakut, Sabtu (5/11/2016). Kedua minimarket tersebut sempat dirusak dan dijarah 
sekelompok orang pada Jumat (4/11/2016) malam. 

 

 POS KUPANG.COM, JAKARTA -- Pecahan kaca  di samping etalase, potongan kayu 
kaso hingga batangan besi masih tampak berserakan di lantai warung nasi di ruko 
Jalan Gedong Padang nomor 68, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (5/11/2016) 
siang. Bahkan, rangka sepeda dengan kondisi hangus terbakar tersandar di 
etalase.
 Begitulah kondisi warung nasi milik Ruslani (40) yang menjadi salah satu 
korban penyerangan dan penjarahan http://kupang.tribunnews.com/tag/penjarahan 
sekelompok massa pada Jumat (4/11) malam. .
 Ruslan mengibaratkan, pelaku penyerangan dan penjarahan 
http://kupang.tribunnews.com/tag/penjarahanwarung nasinya seperti pelaku 
terorisme. Sebab, kelompok tersebut secara tidak langsung meneror keselamatan 
dirinya.
 "Saya awalnya memang sempat khawatir terjadi kejadian rusuh 98 karena ada demo 
besar 4 November kemarin. Ternyata benar tapi yang kena kami saja yang di sini. 
Tapi, ini termasuk perusakan, penjarahan 
http://kupang.tribunnews.com/tag/penjarahan. Menurut saya ini melebihi 
teroris," ucap Ruslani.
 "Saya cuma pedagang kaki lima, enggak tahu masalahnya apa, tiba-tiba gerobak, 
panci, lampu dihancurin, saya nggak ngerti mereka maunya apa," sambung Ruslani.
 Ruslani menceritakan kronologi kejadian penyerangan danpenjarahan 
http://kupang.tribunnews.com/tag/penjarahan yang menimpa warungnya. Sekitar 
pukul 21.00 WIBia tengah duduk di depan warung. Tak lama kemudian, ia mendengar 
keriuhan dari sekelompok anak muda berjumlah seribu orang yang datang berjalan 
kaki dari arah Utara, Luar Batang.
 Kelompok massa itu berjalan menuju arah lampu merah dekat warungnya. Tiba-tiba 
kelompok massa tersebut menyerang seorang polisi yang berjaga.
 Selanjutnya, massa tersebut berjalan ke arah balik menuju ruko tempatnya 
berjualan. Tiba-tiba, belasan anak tanggung berusia sekitar 15 tahun melempari 
warungnya dengan batu dan diikuti dengan perusakan gerobak dan isinya dengan 
kayu.
 "Yang menyerang anak-anak ABG sekitar 10 sampai 20 orang, pakai pakaian biasa, 
nggak putih-putih. Saya nggak tahu apa ada yang menggerakkin atau nggak," ujar 
Ruslani yang lahir dan besar di Rawa Bebek itu.
 
 Seketika Ruslani menghentikan ceritanya. Ia sempat menatap kosong dengan mata 
memerah ke arah etalase tempat berjualan yang telah porak poranda.
 "Saya lagi duduk, berharap ada yang beli lagi jelang saya mau tutup warung. 
Tiba-tiba diserang dan dirusak warung saya pakai batu dan kayu. Awalnya saya 
kira anak warga sini lagi tawuran, ternyata bukan. Saya kaget banget," ucap 
Ruslani seraya menghentikan ceritanya.
 "Saya sampai sekarang masih trauma, terus kepikiran kejadian semalam, kalau 
saya atau istri dan anak saya kena batu siapa yang tanggung jawab," sambungnya.
 Ruslani mengaku langsung berteriak meminta istri, anak dan tiga karyawannya 
untuk melarikan diri ke dalam ruko begitu penyerangan terjadi. "Saat kejadian 
ada 10 orang di sini, alhamdulillah nggak ada yang kena lemparan batu. Pas 
kaget diserang, kami lari ke dalam ke arah belakang dan loncat pagar. Karena 
kalau kabur ke luar sudah banyak massa dan asap hitam sudah pekat, pengab," 
ungkapnya.
 Ruslani mengungkapkan, sekitar seribu polisi dan TNI tiba di warungnya untuk 
membubarkan kelompok massa tersebut sekitar 15 menit setelah kejadian.
 Namun, saat kembali ke warungnya, ia sudah mendapati sejumlah fasilitas 
jualannya, seperti dua etalase, meja, kursi telah hancur dan hangus. Sejumlah 
bahan mentak dan makanan siap saji, seperti nasi goreng di kualinya sudah 
porak-poranda.
 Lebih dari itu, sepeda tua milik rekannya, penjual rokok, Iskandar juga sudah 
berada di tengah jalan dengan kondisi hangus terbakar. "Kok tega, sepeda buat 
belanja orang ikut dibakar, nasi goreng baru mateng dibuang," selorohnya.
 Berharap Bantuan Pemprov
Ruslani hanya duduk santai dan berbincang dengan saudaranya di depan warung 
saat Tribun menemuinya. Sesekali ia menoleh ke arah etalase tempat jualannya 
yang sudah porak-poranda.
 Ia mengaku saat ini tengah bingung. Sebab, kerugian yang diderita akibat 
penyerangan dan penjarahan http://kupang.tribunnews.com/tag/penjarahan kelompok 
tersebut mencapai Rp10 juta. Ia tak tahu bagaimana caranya mencari modal agar 
bisa kembali berjualan."Kisaran kerugian materil sekitar 10 juta, yang mahal 
etalase bisa Rp3 juta," ujar Ruslani.
 Kini, ia hanya bisa berharap ada bantuan dana dari Pemprov DKI Jakarta agar 
dirinya bisa kembali berjualan.
 
 "Saya juga bingung, minta ganti ke siapa. Karena orang-orang yang melakukan 
anarkis itu tidak mungkin mau tanggung jawab. Jadi, paling saya hanya bisa 
berharap pemprov DKI mau ulurkan tangan untuk bantu ganti rugi ke saya supaya 
bisa jualan lagi dan menafkahir anak istri," ucap Ruslani.
 Ia menceritakan, pendapatannya bisa mencapai Rp2 juta setiap hari jika kondisi 
pembeli ramai. "Cuma kemarin saya dagang lagi sepi baru dapat Rp300 ribu. Yah 
karyawan sementara menganggur, saya cuma bisa bilang ke mereka untuk sabar 
dulu, nunggu ada modal untuk jualan lagi," kata Ruslani.
 "Ke depan hanya bisa nunggu izin dari pemilik ruko apa rukonya bisa dipakai 
untuk jualan lagi atau tidak, kalau boleh saya akan bereskan dan cari modal. 
Kalau nggak boleh, yah sementara saya menganggur. Makanya itu saya berharap 
bantuan pemerintah DKI Jakarta," kata Ruslani.
 
 Ia pun berharap agar para pelaku penyerangan diproses hukum. "Saya serahkan 
masalah itu ke polisi," tukasnya.(tribunnews/abdul qodir)

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke