ANALISIS Playing the Victim: Strategi Ahok Curi Simpati Massa 
http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161119204225-516-173833/playing-the-victim-strategi-ahok-curi-simpati-massa/
 Puput Tripeni Juniman
 Sabtu, 19/11/2016 20:42 WIB
 
 Sebarkan:  
http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161119204225-516-173833/playing-the-victim-strategi-ahok-curi-simpati-massa/#
  
http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161119204225-516-173833/playing-the-victim-strategi-ahok-curi-simpati-massa/#
  
http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20161119204225-516-173833/playing-the-victim-strategi-ahok-curi-simpati-massa/#
 
 Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. (CNN Indonesia/Safir 
Makki)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama 
resmi menyandang status tersangka kasus dugaan penistaan agama akibat 
pernyataannya yang menyinggung surat Al-Maidah ayat 51.

Status tersebut memang tak membuat petahana yang akrab disapa Ahok itu lantas 
gagal dalam pencalonan. Tapi tak bisa dimunkiri, status tersangka punya 
pengaruh besar pada tingkat keterpilihan Ahok di Pilkada 2017.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, elektabilitas Ahok 
dan pasangannya Djarot Saiful Hidayat menurun tajam pasca penetapan tersangka. 
Elektabilitas yang semula berada di angka 24,6 persen, saat ini terjun di angka 
10,6 persen. Elektabilitas yang dimiliki Ahok merupakan yang terendah dibanding 
dua pesaing lainnya.

Citra status tersangka yang buruk menjadi penyebab hilangnya pendukung Ahok. 
Peneliti LSI Ardian Sopa menyebut masyarakat cenderung menuntut pejabat mundur 
dari jabatan jika tersandung kasus. 

Sementara Ahok justru ditetapkan sebagai tersangka saat hendak maju menjadi 
pejabat publik.

Untuk melawan stigma itu, Ahok harus membuktikan diri bahwa dia tak bersalah 
meski berstatus tersangka. Pasalnya, penyandang status tersangka belum bisa 
dinyatakan bersalah karena baru diduga sebagai pelaku tindak pidana.

Menurut Ardian, Ahok bisa menggunakan situasi ini dengan bermain playing the 
victim atau berperan sebagai korban dalam sebuah peristiwa. Ahok bisa 
memanfaatkan status tersangka dugaan penistaan agama dengan menjadi 'korban 
yang teraniaya'.

"Jadi kalau misalnya Ahok-Djarot bisa menggunakan playing the victim ini, 
bermain peran, ini bisa membalikkan situasi," kata Ardian.

Bertindak sebagai korban, dalam buku Psikolog asal Amerika George K Simon, In 
Sheep's Clothing, merupakan strategi untuk memanipulasi pikiran orang lain. 
Cara ini dinilai efektif karena setiap orang tak ingin melihat orang lain 
menderita agar tidak merasa bersalah terhadap diri sendiri.

Dengan berlagak sebagai korban, artinya Ahok harus memposisikan diri sebagai 
seorang yang terdampak dari suatu peristiwa atau pihak yang paling dirugikan. 
Dengan kata lain, Ahok dituntut bisa menunjukkan bahwa status tersangka-nya itu 
merupakan akibat dari peristiwa lain.

 Ahok harus bisa menyentuh pikiran masyarakat bahwa dia merupakan korban dari 
semua rangkaian peristiwa  dugaan penistaan agama ini. Serta mempelihatkan 
bahwa dia adalah pihak yang paling dirugikan.

"Karena masyarakat indonesia mayoritas suka sekali mendukung yang terzalimi, 
yang teraniya begitu," tutur Ardian.

Pendapat yang sama juga diutarakan pengamat politik Universitas Padjajaran Idil 
Akbar. Menurutnya, strategi politik sebagai korban bertujuan mempengaruhi 
persepsi masyarakat dengan sasarannya  bukan logika atau rasional, tapi 
perasaan. Dia menyarankan Ahok bekerja keras dengan menggunakan strategi ini.

"Ahok akan menjadi pusat pemberitaan. Berita positif atau negatif, dalam 
politik akhirnya menjadi positif. Melalui pemberitaan, Ahok akan mengubah 
mindset orang Jakarta sehingga menganggap Ahok korban, bukan pelaku. Ia akan 
menggerakkan sumber daya relawan, mesin politik, dan media massa," kata Idil.

Sikap Ahok Setelah Tersangka

Pasca penetapan sebagai tersangka, Ahok bersama tim pemenangannya sudah 
memperlihatkan indikasi menggunakan strategi playing the victim. 

Saat polisi hendak mengumumkan hasil dari gelar perkara kasus dugaan penistaan 
agama itu, Ahok justru bersikap seolah-olah sedang tak terjadi apa-apa. Dia 
tengah asyik berfoto dengan simpatisannya di posko pemenangan, Rumah Lembang.

Juru Bicara tim pemenangan Ahok-Djarot, Ruhut Sitompul, secara terang-terangan 
menunjukkan mereka tengah berusaha berperan sebagai korban.

"Kami lagi teraniaya. Tetapi rakyat Jakarta telah cerdas. Suara rakyat, suara 
Tuhan. Sekarang mereka bisa lihat. Mereka bisa melihat apa yang terjadi 
sekarang ini," kata Ruhut, saat konferensi pers pasca penetapan Ahok jadi 
tersangka.

Penetapan tersangka itu juga tak diwarnai kekecewaan. Ahok dan segenap tim 
pemenangan menyambut optimis dan yakin bakal memenangkan Pilkada 2017 dalam 
satu putaran. 

Ahok mengaku ikhlas ditetapkan sebagai tersangka. Situasi ini, menurut Ahok, 
menunjukkan kedewasaan bangsa dalam melihat satu persoalan.

"Ingat, 15 Februari pemilihan, kami tetap ikut jadi tolong pendukung tetap 
datang ke TPS untuk memenangkan kami satu putaran. Kami mengimbau kepada 
seluruh pendukung untuk menerima status tersangka saya dengan ikhlas karena 
kami yakin polisi pasti profesional menetapkan sebagai tersangka," tutur Ahok.

Kepada warga yang datang ke Balai Rakyat di Rumah Lembang, Ahok menggambarkan 
bahwa menjadi tersangka kasus penistaan agama tak seburuk menjadi koruptor. Dia 
menceritakan hal itu melalui pengalaman anaknya.

"Anak saya cerita, di kampusnya pada bertanya ke dia kenapa saya jadi 
tersangka. Saya bilang ke anak saya, harus bangga kalau ada yang bully karena 
papa mereka tersangkakan bukan karena koruptor," kata Ahok.

Ahok dan Tim Pemenangan tentunya sampai saat ini berpikir keras untuk melawan 
stigma buruk tersangka itu. Pasalnya selama belum kasus inkrah, Ahok belum bisa 
disebut sebagai penista agama. Keberhasilan playing the victim itu akan 
terlihat saat hari pemilihan nanti.

 

 

Kirim email ke