Hehehehe cari referensi yang mendukung nih yeah hehehehe.

Oh jadi gerakan kiri itu hanya ngurus/bela buruh saja?

Oh jadi marx itu hanya bela buruh saja?

 

Kalau dinegara yg sdh maju, semua orang tidak ada yg miskin lagi, teori2 marx 
tidak berlaku ya? Hehehehe.

Kalau ada bisnis yang buruh2nya sudah tidak ada karena digantikan oleh droid 
dan robot, pemikiran marx tidak berlaku ya? Hehehehe.

 

Sudah lihat belum definisi lain dari proletariat ini?

Kalau begini definisinya, gimana? hehehehe

The proletariat (/ˌproʊlɪˈtɛəriːət/ 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Help:IPA_for_English>  from Latin 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Latin>  proletarius) is a term for the class 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Social_class>  of wage-earners 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Wage_labor> , in a capitalist 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism>  society, whose only possession of 
significant material value is their labor-power 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Labor-power>  (their ability to work);[1] 
<https://en.wikipedia.org/wiki/Proletariat#cite_note-1>  a member of such a 
class is a proletarian.

 

Sudah tahu belum cupatnya ente itu dimana?

Kalau belum tahu, nih ane tambahin ya: kalau skilled labornya steve jobs yg 
suka coding lalu bikin dia jadi bosnya apple itu ceritanya gimana? Apakah steve 
jobs bukan labor dulunya ya? Hehehehehe. Mari kita lihat gimana argumennya 
sijonathan ini.

 

Nesare

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:GE

[email protected]] 
Sent: Saturday, November 19, 2016 11:35 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi

 

  

 

proletariat/pro·le·ta·ri·at/ n 1 lapisan sosial yang paling rendah; 2 golongan 
buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan 
hidup dari menjual tenaga

Arti kata proletariat - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online 
<http://kbbi.web.id/proletariat> 

        
        

 <http://kbbi.web.id/proletariat> Arti kata proletariat - Kamus Besar Bahasa 
Indonesia (KBBI) Online 

Definisi/arti kata 'proletariat' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 
n 1 lapisan sosial yang paling rendah; 2 golongan buruh, khususnya golongan 
buruh

                        


 <http://kbbi.web.id/proletariat> View on kbbi.web.id 

Preview by Yahoo 

                
        
                                                

 



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Proletair = buruh?

Hehehehe bikin2 definisi lagi ya?

Memperkecil artinya proletair atau memang tidak mengerti artinya proletair?

 

Lalu lihat banyak orang kaya di RRT terus disebut dictator burgois. Gampang 
sekali ya bikin statement.

 

Jelas ente ini ndak ngerti artinya proletair. Sok pinter. Baca sana, cuplik 
sini, terus pake’ logika umumn lalu bikin statement.

 

Males ngomong sama orang goblok! sok nya kaya’ tahu semua! Tetapi pikirannya 
cupat. Cupat sekali!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, November 19, 2016 12:26 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi

 

 

yg dimaksud dictator proletariat itu kekuasaan politik ada ditangan proletar 
atau buruh, yg terjadi di tiongkok sekarang dgn kekuasaan politik ditangan 
billionaires dan millionaires itu saya rasa lebih tepat disebut dictatorship of 
the bourgeoisie atau mungkin juga gabungan antara dictatorship dengan capital 
imperialism biarpun tentu saja benar juga kalau anda sebut rakyat karena kaya 
ataupun miskin ya rakyat juga.



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <SADAR@... 
<mailto:SADAR@...> > wrote :

Tentu bung boleh-boleh saja berpendapat begitu, karena itu masalah penilian 
kwalitas dan warna Diktatur Proletariat yang sekarang dijalankan di RRT saja. 
Yang PASTI PKT tidak sepenuhnya mengikuti Stalin dan Mao (1956-1978), tapi juga 
tidak sepenuhnya jalankan pemikiran Sosial-Demokrat, dan PKT  masih tetap 
menganggap dan memperlakukan dirinya Marxis-Maois dan berusaha keras 
memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak tidak hanya di 
Tiongkok tapi juga didunia, ...! Tidak hanya memperkenankan kapitalis hidup, 
tumbuh dan berkembang, tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan lebih 
baik! Membuat keseimbangan sebaik munkin dengan TETAP mendorong maju laju 
ekonomi nasionalnya! Biarlah PKT menempuh jalannya yang dianggap BENAR itu, 
siapa SALAH, siapa BENAR sesungguhnya tetap harus dibuktikan dalam PRAKTEK!

 

Ikut sertanya sementara billiuner dalam pemerintahan bahkan ada juga yang 
anggota PKT, itu karena mereka menganggap kapitalis ditingkat perjuangan 
sekarang ini bukan sasaran Revolusi, tapi masuk dalam kategori RAKYAT. Itulah 
konsekwensinya, jadi siapa saja yang dnyatakan elemen termaju dalam masyarakat 
sudah seharusnya bisa menjadi anggota partai. Dan keterlibatan kapitalis dalam 
PKT dan Pemerintah apakah bisa dikatakan yang dominasi dan TENTU yang lebih 
PENTING harus melihat bagaimana pemikiran politik kapitalis itu sendiri? Kan, 
keberadaan mereka tidak lagi mewakili klas kapitalis lagi, sekalipun mereka 
masih berprofesi sebagai pengusaha.

 

Yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana cara mereka/PKT memperkecil 
kesenjangan sosial, memperkecil lebih lanjut perbedaan kaya dan miskin setelah 
mereka berhasil mengangkat/menyelesaikan kemiskinan di Tiongkok itu. Karena 
kenyataan yang terjadi, kecepatan segelintir kapitalis menjadi lebih kaya jauh 
lebih cepat ketimbang peningkatan kesejahteraan rakyat banyak, ...

 

Salam,

ChanCT

 

 

 

From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45]

Sent: Friday, November 18, 2016 11:52 PM

To: Yahoogroups

Subject: Re: Fw: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi

 

 

Bung Chan, saya rasa diktator proletariat di Tiongkok yg anda sebut2 itu sudah 
tidak ada lagi. Dengan nyata kita bisa lihat NPC dipenuhi billionaires dan 
millionaires yg jelas bukan kelompok proletariat.

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <SADAR@... 
<mailto:SADAR@...> > wrote :

Dari diskusi bung Nesare dan Bung Sie Tik terakhir ini, saya mendapatkan 
pengertian EKONOMI sebagai ILMU yang berlaku dan bisa digunakan dalam sistim 
kapitalisme maupun sosialisme, ... dalam banyak tulisan pakar-pakar TIongkok, 
saya juga mendapatkan bahwa sebetulnya ekonomi-pasar itu bukan monopoli sistem 
kapitalisme tapi juga harus berlaku dan terjadi dalam sistem sosialis, yang 
berbeda, dalam sistem kapitalisme pasar dibarkan liberal dan itu akan 
melahirkan kapitalis-monopoli, sedang dalam sistem sosialisme NEGARA ikut 
campur mengendalikan pasar jangan sampai merugikan rakyat banyak!

 

Sedikit koreksi untuk bung Sie Tik dalam menanggapi pemikiran saya: “bahwa dng 
NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai 
negara.”  Darimana saya bisa berpendapat begitu? Lha, jelas yang dimaksudkan 
NEP oleh Lenin itu Kapitalisme Negara dibawah diktatur proletariat. Sekalipun 
kenyataan kapitalis diperkenankan hidup, tumbuh dan berkembang dibawah kendali 
diktatur proletariat, ... dan, inipun akibat setelah Rev. Okt. kapitalis 
dibabatin dan ekonomi mengalami kesulitan sampai roti pun tiada, ... saya 
yakin, kalau ekonomi tidak terjepit Lenin tentunya tidak akan mengoreksi 
kesalahan awal dan kembali memperkenankan kapitalis hidup keembali di Sovyet!

 

Memang cukup menarik, apa yang dikisahkan kapitalis-kapitalis nakal itu dalam 
mensabotase kelancaran distribusi barang dagangan untuk meraih keuntungan lebih 
besar dengan menimbun barang dagangannya. Itu juga terjadi diawal kemerdekaan 
RRT, khususnya kapitalis-kapitalis di Shanghai. Banyak kisah bagaimana Chen Yi 
(Marskal yang kemudian terkenal menjadi Menlu RRT) yang asal klasnya kapitalis 
itu harus TEGAS melawan sabaotase kapitalis-kapitalis Shanghai. Dari pengalaman 
konkrit yang dihadapi RRT itulah, mungkin Deng sampai akhir hidupnya BERKERAS 
mempertahankan Diktatur Proletariat, dibawah pimpinan PKT, bahkan kemudian 
tidak memisahkan kekuasaan Partai dan Pemerintah, ... sampai sekarang ini. 
Justru disinilah perbedaan PKT yang berkuasa sekarang ini dengan pemikiran 
kelompok Sosial-Demokrat yang hendak segera saja membuka lebar DEMOKRASI, 
memperkenankan PARPOL lahir dan bersaing dengan PKT bahkan tidak mementingkan 
kekuasaan Diktatur Proletariat!

 

Salam,

ChanCT

 

 

From: nesare1@...

Sent: Friday, November 18, 2016 6:03 PM

 

 

Sie tik: Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi 
borjuasi kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas 
feodal dan melakukan revolusi borjuis

Nesare: belum pernah saya mendengar ekonomi feudal. Ekonomi dalam feodalisme 
ada seperti juga ekonomi dalam kapitalisme, sosialisme dll. Jadi tidak ada 
kapitalisme dalam ekonomi. Yang ada capital dalam ekonomi yang artinya modal. 
Kapitalisme, feudalism, sosialisme itu semua adalah isme isme dimana ekonomi 
berada. Jadi borjuis ini bisa ada dimana2 baik difeodalisme, kapitalisme maupun 
sosialisme walaupun artinya berbeda2.

 

Sie tik: Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan 
kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal  dlm NEP 
negara yg dimaksud Lenin adalah diktatur proletariat, Karenanya pembubaran 
komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin 
justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu.

Nesare: saya tidak pusing  penggunaan kata2: mengembangkan, menggunakan atau 
istilah lain bisa saja dipakai. Saya juga setuju lenin menggunakan NEP dalam 
koridor diktatur proletariatnya. Deng juga masih begitu ada polit bironya 
walaupun semakin kendor dan rapuh tetapi ini saya lihat karena korupsinya. 
Korupsi ini adalah system pemerintahannya. Andaikata Lenin saat itu berhadapan 
dengan diktatur proletariat yang misalnya korupsi, bergajul, ego, mikir 
kelompok sendiri dll, saya lihat dia bisa melakukan apa saja. membunuhpun bisa. 
Begitu juga stalin. Tetapi kalau bung Karno tidak. Ini opini saya. Ini yang 
saya tekankan pentingnya manusianya bukan sistemnya.

 

Sie tik: Karena jelas sekali bahwa gagasan Lenin adalah untuk memperkuat 
persekutuan buruh-tani dan diktatur proletariat  agar bisa melangkah ke 
sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi gagasan ini demi melaksanakan restorasi 
kapitalisme.

Nesare: jangan berhenti sampai lenin fokusnya ke buruh. Lenin bilang: goal of 
socialism is communism, bukan buruh.

 

Sie tik: Jadi  bukan sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa 
seorang buruh tambang dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena 
buruh tambang dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 
professional tertentu  serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. 
Demikian juga distribusi  kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu 
diskriminasi positif.

Nesare: mungkin yg bung ingin katakan itu adalah meritokrasi atas perbedaan 
manusia2 itu. Itu bukan diskriminasi. Istilah meritocracy itu adalah: equal 
opportunity dan bertolak belakang dengan diskriminasi yang tidak/bukan equal 
opportunity.

Positive discrimination bisa dilaksanakan tetapi tetap tidak mencerminkan 
equality karena diskriminasi yg dilakukan adalah berdasarkan gender, agama, 
umur, ras dll. Jadi berbeda kalau skill, tanggung jawab dll dalam pekerjaan itu 
adalah ukuran meritokrasi. Dan meritokrasi ini adalah dasar asumsi dari 
individualism bukan kolektifitas.

 

Sie tik: Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949):

Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis nasional. 
Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi tidak 
bermaksud memusnahkan Kapitalisme.

Nesare: ya maupun tidak akan bisa. Itulah realitasnya. Kenapa perlu diberantas? 
Kenapa perlu dibunuh dan dimusnahkan? Sebaiknya dimanfaatkan. Ini yang saya 
tangkap dari opininya chan dan juga bung. Masalah perdebatan sesama orang kiri 
itu sebetulnya adalah perbedaan letak kirinya saja. semakin kiri orang itu 
semakin kekolektifitas. Semakin kekanan orang itu semakin ke individualism. Ini 
opini saya. Terlalu terpaku sama isme isme ini juga dan tanpa mengabaikan aspek 
lain ya tidak banyak manfaatnya. Misalnya unsur agama. Bagaimana disuatu negara 
kalau kelompok konservatif agama menang dan mendirikan negara teokrasi, kan 
jelas sekali sosialisme maupun kapitalisme akan dibabat habis. Tapi ekonomi, 
hukum, kedokteran dll tidak akan bisa dimusnahkan.

 

Sie tik: Kedua PM Belanda tsb, juga demikian , karena tanggung jawab menteri2 
kabinet jauh lebih besar dan berat dari  seorang CEO perusahaan, jadi tidak 
fair dlm hal ini, kalau dilihat dari segi pertanggungan jawab sosial.

Nesare: ya memang tidak ada bedanya mercedez buat anggota politburo dengan 
menteri dan CEO ini karena ini meritokrasi bukan komunal/pemerataan. Saya kira 
masalah ini tergantung penerapannya. System sosialisme apa yang diinginkan. 
Kalau penekanannya semakin ke meritokrasi artinya individualisme lebih 
diperhatikan, ya geraknya kekanan. Begitu juga sebaliknya semakin ke 
pemerataan, semakin kekiri. Orangnya yang menentukan sistemnya. Sistemnya bisa 
dibuat tetapi tergantung orangnya yang mengendalikan akan kemana system itu.

 

Sie tik: sekali lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan 
pikiran individu tiap orang terlepas dari  kepentingan ekonomi kelasnya atau 
golongannya

Nesare: ketika saya menulis manusia itu berbeda ya termasuk perbedaan dalam 
ekonomisnya, status sosialnya, pendidikannya dll.

 

Sie tik: Tapi kita lihat ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan 
perorangan bisa dimobilisasi menjadi kepentingan kolektif?

Nesare: bisa saja. Tetapi tidak bisa mengatakannya benar atau salah kan. 
Sebaliknya juga bisa bahwa kepentingan kolektif berganti wajah menjadi 
kepentingan individu. Inilah dasar argument saya melihat system apapun akan 
bisa bagus dan jelek tergantung penerapannya.

 

Sie tik: perjalanan menuju cita2 masyarakat sosialis memang masih jauh dan 
perlu dipikirkan lebih mendalam sebab2 keruntuhan negara sosialis pertama yg 
kemudian menyebabkan runtuhnya kubu sosialis. Mungkin ada orang2 yg kompeten 
mengenai masalah ini.

Nesare: bukunya sudah banyak sekali dalam mengupas kalahnya sosialisme. Ilmu 
yang mempelajarinya pun banyak dari ilmu  politik, sosiologi, anthropology dll. 
Di comparative study lebih2 lagi dimana setiap negara punya ahli yang 
mempelajari runtuhnya sosialisme dinegaranya masing2. Kekalahan ini fakta. 
Tetapi fakta ini adalah dalam level pelaksanaan. Masalahnya lebih mendasar dari 
sekedar kalah saja, tetapi ada faktor2 diluar control dari sosialisme itu 
sendiri. Maksudnya ada variable2 yang mempengaruhi jalannya sosialisme itu. Di 
RI, soekarno kalah dalam menerapkan system ekonominya dimana inflasi terbang 
sampai pernah menyentuk diatas 230% , economic growth malahan pernah minus 
antara 1962 – 1965. Faktornya apa? pramudya anantatur bilang “kita dikepung”. 
Ekonomi sosialismenya bung Karno itu jelas sekali sejak merdeka program 
pinjaman nasional, konperensi ekonomi, rekonstruksi dan rasionalisasi  angkatan 
perang (Rera) s/d demokrasi terpimpin berakhir 1967 ekonominya sangat 
etatisme/serba pemerintah pusat. Begitu juga jatuhnya negara2 sosialisme juga 
begitu. Ini dalam level aplikasi. Idenya sosialisme sendiri tidak akan mati. 
Sekarang dunia bergerak kekiri seperti green party ada dimana2. Begitu juga 
labor union juga selalu ada. Semakin maju/kaya negara itu semakin akan kekiri 
geraknya. Yang repot adalah negara yang belum maju/masih miskin, kesadaran kiri 
ini terhapuskan oleh urusan perut, agama dll. Inilah fakta dilevel aplikasi. 
Kalau kita lihat sekarang ini divenuzuela yg dulunya program2 kiri bisa 
berjalan krn duitnya dari ada krn harga minyak tinggi. Sekarang berantakan 
karena harga minyak jatuh. Kasihan sekali orang2 venezuela sekarang ini.

 

Sie tik: yg saya permasalahan disini adalah pengertian istilah kabir  yg 
digunakan bung Tjing untuk pelaku2 kejahatan ekonomi dikalangan pejabat negeri 
sosialis.

Nesare: ya belum terjadi saja krn negeri sosialisnya runtuh. Apakah bung tidak 
bisa melihat para koruptor itu bisa menjadi kabir? Saya melihatnya bisa. Itulah 
manusia. Inilah penekanan saya ke manusianya bukan sistemnya. Ketika orang 
bisa/berani membunuh, masalah menjadi kabir itu menjadi masalah yg mudah. 
Ketika negara baru merdeka baru melek berdiri, pemimpinnya yang dielu2kan ini 
seperti lenin, stalin, mao dll itu tidak ubahnya seperti Tuhan. Mungkin istilah 
kabir tidak akan ada, tetapi tindakannya bisa saja terjadi karena itu masalah 
melindungi kepentingan. Kalau kita pelajari pengakuan polpot sampai 
meninggalpun dia tidak merasa bersalah telah membunuh segini banyak orang. Dia 
bilang “akan saya lakukan”, “musuh saya juga akan melakukan yang sama”. Inilah 
manusia. Sekali lagi bukan sistemnya.

 

Salam

Nesare

 

 

From: Sie Tik Tan [mailto:sietik.tan@...] 
Sent: Thursday, November 17, 2016 3:33 PM
To: nesare1@...
Cc: Tiong Tjing Siauw <SADAR@... <mailto:SADAR@...> >
Subject: Re: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi

 

Bung Nesare, terimakasih atas tanggapan bung, jawaban saya bisa bung baca 
dibawah ini setelah tanggapan bung pada masalah yg bersangkutan.  Rupanya PC 
saya ngak baik jadi kalau saya menjawab dng menyisipkan seperti yg bung 
lakukan, lambat sekali  jalannya. Entah apakah sudah terlalu sarat ? Jadi kali 
ini saya gunakan tablet, ternyata lebih gampang.

Jawaban saya  ( St ) itu saya tik dng huruf miring .

Salam,

Tik

Verstuurd vanaf mijn iPad


Op 16 nov. 2016 om 12:14 heeft <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > het volgende geschreven:

Sie tik: Jadi bagi kapitalis Jepang tsb, yg penting adalah sebanyak mungkin 
dana yg masuk dan berada dlm kontrolnya, karena itu faktor psikologi juga 
digunakan dan ini memang salah satu keunggulan bisnis kapitalisme.

Nesare: betul kalau bisnis ekonomi diterapkan di system kapitalisme. Betulnya 
sama kalau bisnis ekonomi diterapkan disistem sosialisme. Bung masih belum 
mengerti maksud saya ketika saya menekankan bahwa bisnis ekonomi itu bukan 
miliknya kapitalisme saja. bisnis ekonomi itu adalah ilmu, seperti ilmu hukum, 
ilmu teknik, ilmu kedokteran dimana bisa diterapkan disistem apapun termasuk 
kapitalisme dan sosialisme.

 St: betul sewajarnya begitu karena ilmu adalah karya dan milik masyarakat 
manusia. Hanya saja kadang ada kepentingan dan hal2 specifik tertentu yg 
mempersulit pentrapannya. Pengalaman sejarah juga menunjukkan bahwa ilmu2 
sosial dan juga ekonomi mempunyai suatu keberpihakan pada golongan masyarakat 
tertentu dan dng demikian juga pada sistim tertentu.

Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi borjuasi 
kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas feodal 
dan melakukan revolusi borjuis. Pada ilmu Sastra-budaya juga demikian banyak 
karya2 yg menentang sistim yg berlaku, Boris Pasternak dng Dr. Zhivago  
dilarang di Sovjet, pada gilirannya karya2 penulis2 Barat yg dianggap aliran 
realisme dan mengupas segi2 negatif pola kehidupan degenaratif , konservatif 
dan diskriminatif masyarakat Barat , seperti Dumas, Flobert, Dickens , 
Servantes dll tetap dicetaknya.

Hukum juga pelaksanaannya biasanya digunakan untuk kepentingan yg berkuasa atau 
golongan tertentu. Seperti UU Penanaman Modal Asing di Indonesia yg digagas 
oleh pakar2 ekonomi Indonesia dng " bantuan" kaum kapitalis USA pada awal rejim 
Suharto. Tentu hanya berlaku untuk Indonesia dan tidak bisa ditrapkan di USA 
untuk mengatur investasi RRT disana. Hukum perpajakan juga demikian karenanya 
bisa ada sorga2 pajak dimana berarti juga suatu bentuk bisnis ekonomi kapitalis 
yg saat ini disebagaian besar negeri2 kapitalis tidak diberlakukan tapi 
di-negeri2 tertentu diberlakukan. Juga disosialisme ada gagasan ekonomi 
sosialis, tentu hukum tentang perusahaan swasta tidak ada. Karenanya Lenin juga 
selektif  dlm mentrapkan  bisnis tsb  sebagai ilmu.

Selain itu dng adanya hukum hak patent dan hak cipta , pentrapan suatu product 
ilmu mendapat pembatasan, kecuali kalau bayar royalty , jadi mengandung suatu 
bentuk kepentingan, seorang ilmuwan menulis makalah tanpa menyebutkan bagaian2 
yg diambilnya dari karya orang lain , bisa dituntut dng Pasal plagiat. Demikian 
juga kalau ditinjau dari segi idiologi/ isme yg dianut suatu sistim masyarakat, 
pelaksanaan kesehatan dan pendidikan dinegeri sosialis bebas biaya, di negeri 
kapitalis merupakan sarana komersialisasi. Apalagi dibidang farmasi dan 
industri, karenanya ada spionage industri. Penyelidikan dng cel2 embrio manusia 
yg tidak dimanfaatkan lagi  dari proses inseminasi  di Belanda  dilarang, tapi 
dibeberapa negara lain diperbolehkan, karena dng demikian penyelidikan menjadi 
lebih specifik untuk masalah kesehatan manusia, sebab kalau menggunakan cel2 
hewan tetap saja ada perbedaan biologisnya.

Dibidang teknologi saya jadi teringat wawancaranya genderal  Kalashnikov , 
beberapa tahun yl, dia bilang kalau saja dia ketika menciptakan teknologi 
senjatanya berada dlm sistim kapitalis dan untuk tiap pucuk senjatanya  kalau 
dipatentkan bisa untung 1$ saja, maka dia sudah jadi multimilyuner. Ngak usah 
lagi membuat vodka dng namanya sebagai merk dagang, untuk bisa menambah 
pensiunnya setelah Sovjet jatuh. Tapi karena dia hidup dinegeri sosialis, ya 
penghasilannya hanya dari tugasnya saja dlm tentera Sovjet, dan teknologinya 
walau digunakan oleh negeri sosialis lainnya juga tanpa kebijakan royalty. 
Sampai sekarangpun produksi senjata tsb dilakukan oleh negeri2 ex sosialis 
tanpa bayar royalty .

 

Sie tik: . Padahal bisnis ekonomi itu memang sudah ada dlm kapitalisme sebagai 
hasil inovasi mereka untuk mengembangkan perekonomiannya

Nesare: disini kelihatan bung mengidentikkan/menyamakan bisnis ekonomi adalah 
system kapitalisme. Disini salahnya. Kenapa salah? Saya yakin ini dikarenakan 
bung hanya melihat kejelekan kapitalisme yang berkembang seperti sekarang ini. 
Bung menjadi bias. Bung tidak/belum bisa menerima ketika Lenin menerapkan NEP 
itu. Lebih lanjut ketika saya menulis “orangnya bukan sistemnya”, itu saya 
ingin bilang sebagus apapun sistemnya, kalau orangnya jelek, jalan sistemnya 
juga akan jelek apalagi system nya baru mulai mau berjalan. Analoginya dengan 
demokrasi. Demokrasi bisa berjalan di negara2 maju tetapi dinegara2 berkembang 
dan miskin, demokrasi bisa menjadi boomerang.

St: sepengetahuan saya yg awam tentang ekonomi, bisnis ekonomi sebagai ilmu 
juga berkembang, pada sistim masyarakat komune primitif yg kemudian juga 
terbagi dlm komunitas pertanian dan komunitas peternakan tentunya mempunyai 
kegiatan ekonomi tertentu dng dasar pertukaran ketika uang belum dikenal dan 
tentu belum ada pengertian saham atau obligasi. Jadi dng perkembangan 
masyarakat itu sendiri maka inovasi2 yg terjadi dlm bisnis ekonomi juga 
berkembang. Kalau ngak salah sejarah saham mulai kira2 sejak jaman Romawi dan 
berkembang pesat diabad pertengahan  dng adanya VOC, Republik (dagang) Venesia 
dll. Perbankan juga begitu bukan? Mulai dr bentuk mindering dan dagang uang, 
sampai2 Jesus mengobral-abrik pasar uang disekeliling gereja. Jadi tiap 
masyarakat sesuai dng perkembangannya dan perkembangan ekonominya juga inovasi 
bisnisnya berkembang, itu pengertian saya ketika menyatakan bahwa bisnis 
ekonomi yg dianjurkan Lenin dipelajari itu memang sudah ada dlm masyarakat 
kapitalis.

Bung kembali menyinggung NEP yg dilaksanakan Lenin, entah apakah bung mengikuti 
pembicaraan soal ini dimana saya &teman2 menyanggah argumentasi bung Tjing soal 
NEP?  Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan 
kapitalisme dan malahan begitu antusiasnya bung Tjing yg waktu itu baru tau 
adanya gagasan NEP dan kapitalisme negara sehingga menurut logikanya  Lenin 
membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal  dlm NEP negara yg dimaksud 
Lenin adalah diktatur proletariat, dan tujuannya seperti juga bung tandaskan di 
tanggapan bung yl, adalah untuk mencapai sosialisme. Karenanya pembubaran 
komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin 
justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu. Sampai emailnya yg belum 
lama ini bung Tjing masih bersiteguh bahwa Lenin maupun Mao membenarkan 
kapitalis berkembang. Walau saya sudah lampirkan cuplikan karya Lenin dan Mao 
mengenai masa peralihan dari kapitalisme ke sosialisme tsb serperti dibawah ini 
beberapa kali.

 

 

Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949):

Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis nasional. 
Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi tidak 
bermaksud memusnahkan Kapitalisme.

Dari artikel yg sama ada  pernyataan Mao sebagai berikut:

Apabila Sosialisme sudah tercapai, atau dengan kata lain, apabila 
perusahaan-perusahaan milik perseorangan sudah dinasionalisasi, maka golongan 
Borjuis nasional akan dapat dididik dan mendapat pengulangan pendidikan yang 
lebih jauh lagi.

 

Lenin THE Tax in Kind

(The Significance Of The New Policy And Its Conditions) 
<https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1921/apr/21.htm#fw01> [1]

  _____  

Written: Completed on 21 April, 1921 (started in March)

 



Kirim email ke