Mirip riwayat Abraham Lincoln. Ke media berkampanye 
menghapus perbudakan, di pedalaman membumi-hanguskan 
perkampungan Indian berikut isinya.
Sebelum dibasmi tentara AS, warga Indian yang tertangkap 
dipaksa dulu membangun jalur kereta SF-Chicago. Suku Sioux 
yang gigih melawan akhirnya mati langkah karena jalur kereta 
telah melenyapkan padang perburuan yang menjadi tumpuan 
kehidupan mereka. Sekarang, giliran cicit-buyut yang digebuki 
tentara AS lantaran berjuang menyelamatkan lingkungan hidup 
mereka dari jalur pipa perusahaan jahanam.
Lalu, untuk apa Indonesia membangun begitu banyak bandara 
bertaraf internasional (dengan APBN) selagi garam masih impor 
dan ribuan serdadu AS nongkrong di Australia?
Ah, kita tunggu saja episode jalur "bermanfaat" berikutnya: 
kereta cepat JKT-BDG yang pembangunannya sudah melibatkan 
orang-orang berseragam tentara RRC.

--- jetaimemucho1@... wrote:
Pak Jokowi, jangan belaga  pilon dan  terus membohongi rakyat!  Bagaimana 
Bandara Internasional Jawa Barat akan memberi manfaat kepada seluruh 
masyarakat??? Apalagi kepada penduduk disekitarnya?? Sekarang saja untuk 
membebaskan lahan, pemerintah dan aparatnya harus menggunakan kekerasan 
terhadap kaum tani yang tinggal di sekitar proyek BIJB!!! Siapa yang dapat 
berbisnis menggunakan infrastruktur BIJB seperti pertokoan, restoran dan lain 
sebagainya? Pikirkanlah pakai akal sehat, siapa yang akan naik turun pesawat di 
BIJB itu???Petanikah, buruhkah, kaum miskin kotakah, kelas pekerja dan sektor 
miskin lain kah? Mengaku ketika rumahnya sendiri digusur, trauma itu akan 
dibawa seumur hidup. Lantas gimana dengan penduduk dan anak-anak yang trauma 
sekarang karena lahannya, rumahnya, sekolahnya, musolahnya dibuldozer?? Mengapa 
tidak dipikirkan trauma mereka? Kenapa nggak blusukan ke desa-desa yang sedang 
konflik tanah???Dasar.....!!!



Berita Majalengka

Riwayat Perintah Jokowi soal Bandara Kertajati hingga Bentrok Rakyat versus 
Aparat
 Rabu, 23 November 2016 23:49

setkab.go.id + langit amaravatiBerita dan foto Presiden Jokowi didampingi 
menteri terkait di Bandara Kertajati, Majalengka, 14 Januari 2016 sebagaimana 
disiarkan laman resmi Sekretariat Kabinet. Inzet: Dua petani korban bentrokan 
di Sukamulya.
SURYA.co.id | JAKARTA - Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) 
mengadakan pemantauan atas dugaan pelanggaran HAM menyusul bentrok antara warga 
Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majaklengka, Jawa barat dengan 
ribuan aparat keamanan, 17 November 2016.Sebagaimana dikutip SURYA.co.id dari 
laman resmi Komnas HAM, bentrokan terjadi karena warga menolak kegiatan 
pengukuran calon lokasi Bandara Internasional Jawa Barat yang dilakukan oleh 
aparat pemerintah.Dalam pemantauan yang dilakukan pada 22-25 November 2016 dan 
dipimpin oleh Komisioner Natalius Pigai itu, dilakukan pengamatan lapangan di 
lokasi bentrokan, pertemuan dengan para saksi dan para pihak, untuk melakukan 
verifikasi awal atas dugaan pelanggaran HAM.Hasil dari pemantauan yang 
merupakan mandat Pasal 89 ayat (3) Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia itu, 
akan disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada pemerintah dan pihak 
terkait.Bandara Internasional Jawa Barat adalah salah satu proyek strategis 
nasional yang diatur di dalam Perpres No 03 Tahun 2016.

Komnas HAM memantau dugaan pelanggaran HAM dalam proses pembangunan Bandara 
Kertajati.



#SAVESUKAMULYA - Ada 1.200 orang menolak Bandara Kertajati, 225 orang menerima. 
Tapi teror dan kriminalisasi telah terjadi di Majalengka.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga kini belum mengeluarkan 
pernyataan resmi terkait bentrok rakyat Sukamulya versus ribuan aparat 
itu.Demikian juga soal bentrokan serupa di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Langkat, 
Sumatera Utara. Namun lazim diketahui, khusus soal Bandara Kertajati, Jokowi 
sejak awal 2016 sudah memerintahkan kepada semua pihak terkait untuk segera 
menyelesaikan proyek itu.Berikut ini arsip riwayat perintah Jokowi sebagaimana 
dikutip tanpa suntingan dari laman resmi Sekretariat Kabinet yang diunggah pada 
14 Januari 2016.Tahun Depan Ditarget Selesai, Presiden: Bandara KertajatiHarus 
Beri Manfaat MasyarakatPresiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pembangunan 
Bandar Udara (bandara) Kertajati, di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat selesai 
tahun depan. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) 
akan mendukung pembangunan bandara itu melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara (APBN).Menurut Presiden, Bandara Internasional Jawa Barat (Jabar), yang 
ada di kecamatan Kertajati, Majalengka itu pembebasan tanahnya sudah 6 tahun 
dimulai. Sementara untuk konstruksi runway yang dimulai tahun 2015 lalu, sudah 
menghabiskan dana APBN Rp375 miliar. Kemudian tahun ini juga dari APBD Jabar 
disiapkan anggaran Rp500 miliar.“Habisnya nanti itu untuk konstruksi, runway, 
untuk terminal, semuanya kurang lebih Rp2,5 triliun,  itu kurang lebih. 
Sehingga ada sisa, tadi 500 miliar, berarti masih ada Rp2 triliun.  Kita 
putuskan kita ambil alih lewat APBN Menteri Perhubungan, karena saya berikan 
target tahun depan sudah harus selesai,” kata Presiden Jokowi saat meninjau 
pembangunan Bandara Kertajati,Majalengka, Kamis (14/1) pagi.Menurut Presiden 
Jokowi, runway Bandara Kertajati sekarang sudah 2.500 meter, lebarnya 60 meter. 
Nantinya, lanjut Presiden, akan dibangun 3.000 meter panjangnya. “Itu baru 1 
runway rencana besarnya ada 2 runway,” tambahnya.Presiden Jokowi menegaskan, 
pembangunan Bandara Kertajati,Majalengka, harus memberi manfaat pada 
semuanya.“Semuanya harus mendapatkan manfaat baik masyarakat Jawa Barat secara 
keseluruhan maupun masyarakat di sekitar bandara,” kata Presiden 
Jokowi.Presiden menjelaskan, Bandara Kertajati ini punya standar internasional, 
bisa dilewati pesawat-pesawat besar.Ia menyebutkan, kehadiran bandara ini sudah 
mendesak,  dari sisi perekonomian ataupun perkembangan pertumbuhan Jawa 
Barat.Mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan itu adalah Menko PMK Puan 
Maharani, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, dan Menhub 
Ignasius Jonan. 
Berita Langkat

VIDEO - Investor Malaysia Kerahkan Ribuan Aparat, Serbu Kaum Tani di Langkat, 
Sumatera Utara
 Senin, 21 November 2016 05:06VIDEO - Investor Malaysia Kerahkan Ribuan Aparat, 
Serbu Kaum Tani di Langkat, Sumatera Utara - Surya

  
|  
|  
|  
|   |    |

  |

  |
|  
|   |  
VIDEO - Investor Malaysia Kerahkan Ribuan Aparat, Serbu Kaum Tani di Langka...
 RIBUAN APARAT SERBU KAUM TANI DI #LANGKAT. Mereka dikerahkan oleh perusahaan 
modal Malaysia di Sumatera Utara. L...  |   |

  |

  |

 
SURYA.co.id | LANGKAT - Aparat di bawah rezim Joko Widodo - Jusuf Kalla kembali 
menyerbu kaum tani, menyusul penyerbuan di Desa Sukamulya, Kabupaten 
Majalengka, Jawa Barat, 17 November 2016.Kali ini, ribuan aparat menyerbut kaum 
tani anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) yang bersengketa dengan perusahaan 
modal Malaysia, PT Langkat Nusantara Kepong.Penyerbuan kaum tani itu terjadi di 
Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, 18 
November 2016, sebagaimana terlihat dalam video di atas. 
BACA JUGA: Video Buktikan Banyak Aparat Serbu Kaum Tani, Kapolres Bilang Tak 
Ada Bentrokan
Seperti dikutip SURYA.co.id dari laman resmi Serikat Petani Indonesia 
(SPI.or.id), penggusuran lahan milik petani itu dilakukan dengan menggunakan 
puluhan alat berat.Akibatnya, beberapa petani mengalami luka berat dan 
ringan.Suriono, Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) SPI Kabupaten Langkat, 
menjelaskan, sudah berulang kali pihak kepolisian hendak melakukan penggusuran 
tapi tidak terjadi karena pihak SPI Langkat berhasil menjelaskan duduk perkara 
atas konflik tanah ini.“Sebelum melakukan penggusuran, kita sudah sampaikan 
kepada pihak Kepolisian agar masalah ini dibawa ke Kantor Badan Pertanahan 
Nasional Kab. Langkat untuk meminta kejelasan langkah penyelesaian, tapi mereka 
malah tidak mau,” kata Suriono yang dihubungi via telepon selulernya, Sabtu  
(19/11/2016) siang.Suriono melanjutkan, pihaknya kemudian meminta agar semua 
personel kepolisian meninggalkan lahan karena menyebabkan petani dan warga 
setempat ketakutan.“Namun alih-alih pergi, tanpa mempertimbangkan penjelasan 
yang kita sampaikan pihak Kepolisian yang dipimpin oleh Kabag OPS Polres 
Langkat tetap melakukan penggusuran dan meratakan lahan pertanian dan perumahan 
petani,” ungkapnya.“Tidak hanya itu, personel polisi mengejar petani sampai 
kampung dan satu orang petani anggota SPI Basis Desa Mekar Jaya atas nama 
Sadikun ditangkap oleh Polisi,” lanjutnya.Suriono menceritakan, upaya 
penggusuran memang sempat dihalang-halangi oleh petani tapi pihak kepolisian 
tidak mempedulikan malah melakukan kekerasan dan pengusiran petani dengan 
memukul dan menendang.Akibatnya beberapa anggota petani termasuk anak kecil 
menjadi korban.

Zulkifli, petani SPI Mekar Jaya mengalami pecah kepala usai kerusuhan dengan 
pihak aparat kepolisian di Langkat
Zulkifli, petani SPI Mekar Jaya mengalami pecah kepala usai kerusuhan dengan 
pihak aparat kepolisian di LangkatPara petani yang menjadi korban yaitu:- 
Sadikun yang mengalami penangkapan dan luka lebam di wajah- Zulkifli mengalami 
pecah kepala dan lebam di wajah (dirawat di Rumah Sakit)- Boimen mengalami 
pemukulan (dirawat di Rumah Sakit) -- Legiman mengalami pemukulan- Sari 
mengalami pemukulan -- Boiran mengalami pemukulan Adi mengalami pemukulan- 
Kakek Saleh mengalami pemukulan- Nenek Siti Hawa mengalami pemukulan- Rohani 
mengalami pemukulan- Midi mengalami pemukulan- Siti (anak kecil) mengalami 
pemukulan- Udin mengalami pemukulan.

Alat berat diturunkan untuk meratakan lahan pertanian dan pemukiman petani SPI
“Kami dikepung, tidak bisa keluar dari desa, orang luar juga tidak diizinkan 
masuk,” sambung Suriono .Terkait masalah ini, Zubaidah (Ketua DPW SPI Sumut) 
mengutuk keras atas tindakan kepolisian yang melakukan kekerasan kepada petani 
anggota SPI Desa Mekar Jaya.“Tidak ada alasan apapun bagi kepolisian melakukan 
tindak kekerasan kepada petani. Banyak jalan yang bisa dilakukan untuk 
mendorong penyelesaian konflik pertanahan, bukan dengan melakukan penggusuran 
lahan apalagi melakukan kekerasan. Acapkali dengan situasi seperti ini petani 
selalu yang menjadi korban dan pelakunya masih saja oknum kepolisian,” tegas 
Zubaidah.Zubaidah memaparkan, konflik pertanahan yang muncul diLangkat ini 
salah satu pemicunya adalah semakin gencar ekspansi perusahaan perkebunan luar 
negeri.“Kasus anggota kita di Mekar Jaya dahulunya berkonflik dengan PTPN II 
Kebun Gohor Lama sejak tahun 1998. Setelah masuknya PT Langkat Nusantara Kepong 
dari Malaysia dan mengambil alih operasional PTPN II Kebun Gohor Lama segala 
upaya dilakukan perusahaan untuk menggusur petani dari lahan dan ini semakin 
intens,” papar Zubaidah.“Konflik ini melibatkan lahan seluas 554 hektare yang 
diserobot oleh PTPN II Kebun Gohor Lama,” katanya lagi.“Yang semakin membuat 
miris, kepolisian kita lebih memihak kepada perusahaan asing, bukan rakyatnya 
sendiri yang jelas-jelas tidak salah dan punya dasar hukum yang jelas. 
Bayangkan saja, satu desa dikepung 1.500 polisi dan tentara,” tegasnya.
   

Kirim email ke