27 November 2016 06:00 WITA
 OPINI
 Islamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia 
http://news.rakyatku.com/read/29369/2016/11/27/islamophobia-di-amerika-christianophobia-di-indonesia
 
 

 Editor: Vkar Sammana
 

 

 

 
 Jika sebagian penduduk di AS dan barat idap Islamophobia, maka sebagian 
penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia 
mengalami gangguan penyakit “Christianophobia”.
 

 
 Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau 
kekhawatiran yang berlebihan terhadap agama Islam dan kaum Muslim. Sementara 
itu, kata "Christianophobia” yang saya maksud disini adalah sebuah "overdosis 
kebencian” terhadap umat Kristen serta ketakutan yang berlebihan terhadap 
perkembangan agama Nasrani ini. Keduanya sama-sama "penyakit psikologis” yang 
bertumpu pada pandangan dan sikap antipati terhadap Islam maupun Kristen.
 Tentu saja munculnya fenomena Islamophobia dan Christianophobia ini bukan 
tiba-tiba melainkan melalui proses yang cukup panjang serta berakar pada 
sejumlah faktor yang cukup kompleks. Seorang pakar kajian Islam, Carl Ernst, 
telah menjelaskan dengan baik akar-akar kesejarahan dan perkembangan 
kontemporer Islamophobia di Amerika ini dalam bukunya Islamophobia in America: 
The Anatomy of Intolerance.
 Meskipun peristiwa serangan teroris pada 9 September, 2001, yang 
meluluhlantakkan gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di 
Washington, D.C. itu menjadi momentum kebangkitan kebencian terhadap Islam, 
tetapi fenomena Islamophobia di Amerika sesungguhnya sudah berakar jauh sebelum 
tragedi terorisme yang menelan sekitar 3,000 korban jiwa itu. Berbagai tulisan 
tentang "sisi negatif” Islam sudah lama beredar di kalangan masyarakat Amerika. 
Sayangnya masih banyak warga Amerika yang "kuper” dan enggan berselancar 
menggali pluralitas Islam dan keanekaragaman kaum Muslim serta "buta” terhadap 
geografi kultural umat Islam sehingga setiap membicarakan Islam, yang muncul di 
benak mereka adalah jenis keislaman yang serba keras, intoleran, konservatif, 
ekstrim, kolot, dan lain sebagainya.    
 Carl Ernst, yang juga seorang profesor studi-studi keislaman di University of 
North Carolina, Chapel Hill, menjelaskan bahwa fenomena Islamophobia di Amerika 
Serikat bukan hanya menjangkiti komunitas agama, khususnya Kristen dan Yahudi, 
tetapi juga komunitas non-agama seperti kaum ateis, non-teis, sekularis, 
agnostik, dlsb. Pula, bukan hanya kalangan non-akademik, komunitas akademik 
juga banyak yang terjangkit penyakit Islamophobia ini. Begitu pula kalangan 
politisi, policy makers, birokrat, wartawan, dlsb. Tokoh agama maupun 
masyarakat awam.
 Menjangkiti setiap lapisan masyarakat
 Jelasnya, penyakit Islamophobia ini telah menjangkiti hampir semua lapisan 
masyarakat Amerika dari berbagai kalangan dan profesi. Ekspresi overdosis 
kebencian atas Islam ini sangat terasa di berbagai media: televisi, radio, 
medsos, dlsb. Ungkapan-ungkapan sarkastik atas ajaran Islam, penghinaan 
terhadap Al-Qur'an serta pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan simbol-simbol 
keislaman marak di berbagai media dan acara-acara pertemuan publik. 
 Sebagai orang yang pernah cukup lama tinggal di Amerika, saya juga merasakan 
"aura kebencian” yang begitu menggelora di sebagian kalangan masyarakat "Paman 
Sam”.
 Banyak pihak (ormas, LSM, media, politisi, funding agency, dan sebagainya) 
telah diuntungkan secara materi-ekonomi dan finansial dengan pertumbuhan dan 
perkembangbiakkan Islamophobia ini sehingga wajar kalau sejumlah sarjana dan 
pengamat Islam seperti Nathan Lean dan John Esposito menyebutnya "Industri 
Islamophobia” dalam buku mereka yang berjudul The Islamophobia Industry: How 
the Right Manufactures Fear of Muslims. Saya kira kemenangan George W. Bush dan 
kini Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, antara lain, karena 
didukung oleh kelompok Islamophobia yang cukup menggurita di Amerika.  
 Lain Amerika, lain pula Indonesia
 Saya melihat sejak beberapa tahun terakhir, sebagian kaum Muslim dan ormas 
Islam di Tanah Air sedang "mengidap gejala Christianophobia”. Kelompok ini 
terutama muncul di kota-kota, khususnya Jakarta dan sejumlah kota besar lain di 
Indonesia. Fenomena Christianophobia ini terutama terjadi sejak lengsernya 
Presiden Suharto tahun 1998 yang ditandai dengan merebaknya berbagai ormas 
"Islam kanan” yang menjamur di berbagai daerah urban. Lahirnya sejumlah ormas 
"Islam kanan” ini bukan hanya "produk lokal” saja tetapi juga ada yang menjadi 
cabang dari ormas-ormas Islam mancanegara.
 Ada banyak faktor, baik faktor internasional maupun "domestik” (nasional dan 
lokal), yang turut memberi kontribusi bagi muncul dan berkembangnya sejumlah 
ormas "Islam kanan” yang ditandai dengan pandangan, sikap dan tindakan 
intoleransi dan Christianophobia ini. Dalam konteks internasional, berbagai 
penyerangan Amerika terhadap Irak dan Afganistan khususnya serta pembelaan 
(terselubung maupun terang-terangan) pemerintah Amerika atas Israel, ketimbang 
Palestina, turut menciptakan munculnya fenomena Christianophobia ini.
 Sementara itu dalam konteks domestik, muncul dan maraknya berbagai kelompok 
Kristen yang agresif dalam menjalankan "misi penginjilan” di berbagai daerah 
juga menjadi faktor penting yang turut menjadi "trigger” bagi perkembangan 
kelompok "Islam kanan” yang "anti-Kristen” tadi. Faktor domestik lain adalah 
munculnya sejumlah pemimpin politik-pemerintahan beragama Kristen di beberapa 
daerah yang mayoritas Muslim. 
 Beberapa faktor ini membuat sebagian kelompok Islam di Indonesia was-was atau 
khawatir akan terjadinya pengambilalihan otoritas atau kekuasaan, baik 
kekuasaan politik-ekonomi maupun otoritas kultural-keagamaan. Mereka khawatir 
jika kelak Indonesia akan "menjadi Kristen” dan para elit Kristen akan menjadi 
"tuan” di negara yang kini berpenduduk mayoritas Muslim.
 Maka untuk mencegah kemungkinan buruk itu terjadi di masa yang akan datang, 
berbagai upaya mereka lakukan untuk "membonsai” ruang gerak umat Kristen. 
Upaya-upaya yang kelompok "Islam kanan” lakukan bukan hanya melalui jalur 
"propaganda politik” saja tetapi juga lewat "kampanye keagamaan” dengan 
memproduksi berbagai wacana atau diskursus keagamaan yang "anti-Kristen” maupun 
dengan menyebarluaskan teks-teks klasik dan pendapat sejumlah ulama dan tokoh 
Islam, khususnya yang kontra Kristen dan kekristenan, sementara mengabaikan 
teks-teks klasik Islam yang pluralis dan pendapat para ulama yang toleran.
 Para pendukung Islamophobia maupun Christianophobia sesungguhnya sama-sama 
ekstrim dan menderita "penyakit psikologis” akut yang perlu "diruwat” agar 
kembali "normal” seperti sedia kala. Memang ada kelompok Islam ekstrim dan 
intoleran tetapi tidak semua kaum Muslim itu radikal dan intoleran. Banyak umat 
Islam yang mengedepankan akal-sehat dan bersikap toleran-pluralis dalam 
menyikapi masalah sosial-politik-keagamaan. 
 Begitu pula sebaliknya: ada umat Kristen yang "bigot” dan antipati terhadap 
Islam dan kaum Muslim tetapi juga banyak sekali kaum Nasrani yang waras, 
toleran, humanis dan bersahabat dengan umat Islam. Karena itu janganlah suka 
mengeneralisir, atau menurut orang Jawa "gebyah uyah”, dalam menyikapi sebuah 
persoalan tetapi harus dengan hati yang lapang, pikiran yang panjang, dan jiwa 
yang tenang.     
 Penulis:
 Sumanto al Qurtuby
Dosen Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research in Social Sciences, 
King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi


 

 

Kirim email ke