Ini berita th lalu, harga sewa cuman Rp 90 ribu perbulan (tidak tahu harga sewa 
sekarang) dgn disediakan sekolah padahal dikelola swasta. Bandingkan dgn 
rusunnya pemprov DKI yg sewanya Rp 300 ribu dan sekolah yg jauh. 
 

 ---
 "Sebulan di sini Rp 90.000, sudah termasuk keamanan, kebersihan. Kalau air dan 
listrik (bayar) sendiri-sendiri," kata Nur kepada Kompas.com, Kamis 
(29/1/2015). 

Biaya sewa tersebut terhitung murah bagi Nur. Terlebih lagi, pengelola rusun 
dari Yayasan Buddha Tzu Chi juga menyediakan fasilitas pendidikan di dalam 
kompleks rusun sehingga anak-anak di rusun tersebut dapat bersekolah di sana 
dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) dengan harga 
yang murah. 

 ...
 

 Suatu Hari di Rumah Susun Tzu Chi... 
http://megapolitan.kompas.com/read/2015/01/31/10343481/Suatu.Hari.di.Rumah.Susun.Tzu.Chi.
 
 Sabtu, 31 Januari 2015 | 10:34 WIB

 

 

 Rumah susun (rusun) Cinta Kasih Buddha Tzu Chi di Cengkareng, Jakarta Barat, 
Kamis (29/1/2015).

 

 JAKARTA, KOMPAS.com 
  — Hari mulai beranjak siang. Beberapa warga yang kebanyakan perempuan keluar 
dari pintu-pintu yang di atasnya terdapat nomor blok dan nomor pintu. Sebagian 
ada yang mencari makanan di pedagang gerobak yang tak jauh dari pintu rumah 
mereka. Sisanya asyik mengobrol dengan tetangga sambil menyusui anak mereka 
yang masih kecil. 

Pemandangan tersebut dapat ditemukan di Kompleks Rumah Susun (Rusun) Cinta 
Kasih Buddha Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat. Rusun yang berdiri sejak tahun 
2003 itu kebanyakan diisi oleh warga binaan dari bantaran Kali Angke, Kapuk, 
dan daerah-daerah di sekitarnya. 

Salah satu warga penghuni rusun di lantai dasar adalah Ainur Samkah (35). Ainur 
atau yang biasa dipanggil Nur mengaku sudah sejak awal 2003 menghuni rusun itu 
bersama keluarganya sampai sekarang. Karena menerapkan sistem sewa, Nur 
diwajibkan untuk membayar sejumlah uang setiap bulannya. 

"Sebulan di sini Rp 90.000, sudah termasuk keamanan, kebersihan. Kalau air dan 
listrik (bayar) sendiri-sendiri," kata Nur kepada Kompas.com, Kamis 
(29/1/2015). 

Biaya sewa tersebut terhitung murah bagi Nur. Terlebih lagi, pengelola rusun 
dari Yayasan Buddha Tzu Chi juga menyediakan fasilitas pendidikan di dalam 
kompleks rusun sehingga anak-anak di rusun tersebut dapat bersekolah di sana 
dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) dengan harga 
yang murah. 

"Kalau dulu tahun 2003 kita cuma bayar Rp 10.000 untuk tahun pertama. Dapat 
seragam sama buku gratis. Kalau sekarang, bayarnya saya lupa, kayaknya enggak 
sampai Rp 100.000 juga," kata Nur. 

Bisa berjualan

Dengan tinggal di rusun, Nur diperbolehkan oleh pengelola untuk membuka usaha 
kecil-kecilan di lantai dasar dekat tempat tinggalnya. Nur yang menjual soto mi 
seharga Rp 6.000 per mangkuk dan es campur seharga Rp 2.000 per gelas ini juga 
tidak dimintai biaya tambahan oleh pengelola. 

Di rusun tersebut, juga terdapat sebuah kawasan yang dihuni banyak pedagang 
gerobak yang menjual berbagai macam makanan. Mereka adalah warga rusun sendiri. 

Warga lainnya, Dian Puspitasari (27), mengaku senang tinggal di Rusun Cinta 
Kasih, terutama karena kebersihannya. Bahkan, Dian dan warga lainnya tidak 
segan beraktivitas di lantai selasar rusun sambil menikmati es campur buatan 
Nur. 

Alas kaki

Warga rusun sudah terbiasa melepas alas kakinya sebelum menginjak lantai 
selasar. Bagi yang unit rusunnya di lantai atas, alas kaki mereka dibawa. Tidak 
terkecuali untuk anak kecil, mereka juga sudah paham dengan kebiasaan tersebut. 

"Kita juga berapa lama sekali ada kerja bakti bersih-bersih. Tapi, kalau 
hari-hari biasa, ya kita-kita saja yang bersihin lantai kita sendiri," tutur 
Dian. 

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan rusun milik pemerintah daerah yang 
berada di sekitarnya. Salah satu contoh Rusun Daan Mogot. Rusun yang memiliki 
delapan menara itu belum jelas soal pembayaran sewanya dari kebijakan awal yang 
memberikan gratis selama enam bulan. 

Bahkan, lokasi rusun sendiri sulit dijangkau karena akses dari jalan besar 
sampai ke dalam kompleks rusun jauhnya sekitar 1 kilometer, dengan kondisi 
jalan tanah dan berbatu. Beberapa warga yang sudah tinggal di sana sempat 
mengeluhkan jauhnya jarak jika mau mengantar anak sekolah.
 
 Penulis : Andri Donnal Putera Editor : Farid Assifa
 

 

 

 

Kirim email ke