Tampilkan pesan asli Pada Kamis, 29 Desember 2016 19:42, Sri Isni <[email protected]> menulis:
Pidato Jokowi Menyejukan, Tetapi Masyarakat Butuh Lebih dari Sekedar Angin
Sejuk! - KOMPASIANA.com _filtered ;#yiv7841063611 html, #yiv7841063611
body{margin:0;padding:0;font-size:12px;font-family:'Open Sans',
sans-serif;}#yiv7841063611 ul, #yiv7841063611 li{margin:0;}#yiv7841063611 body
*, #yiv7841063611 body *:before, #yiv7841063611 body *:after{}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt
{background:#e9f2ed;width:300px;height:auto;padding:10px 10px 15px
10px;overflow:hidden;}#yiv7841063611 .yiv7841063611kolom-newslt_desc
{color:#365b97;padding:0px 0px 0px
25px;font-size:13px;font-weight:300;position:relative;height:auto;}#yiv7841063611
table{margin:5px 30px 0px;}#yiv7841063611
input.yiv7841063611kolom-newslt_input{border:none;margin:10px 0px 0px
-10px;padding-left:25px;width:250px;height:40px;border-radius:20px;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_btn
{color:#ffffff;display:inline-block;background:#28aeb5;border:none;border-radius:20px;outline:none;white-space:nowrap;cursor:pointer;font-weight:400;padding:9px
18px;margin:13px 0px 0px -77px;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_img{position:absolute;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_input:focus{outline:none;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_input-webkit-input-placeholder
{color:#bababa;font-weight:300;font-style:italic;font-family:'Open Sans',
sans-serif;text-transform:uppercase;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_input-moz-placeholder
{color:#bababa;font-weight:300;font-style:italic;font-family:'Open Sans',
sans-serif;text-transform:uppercase;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kolom-newslt_input-moz-placeholder
{color:#bababa;font-weight:300;font-style:italic;font-family:'Open Sans',
sans-serif;text-transform:uppercase;} #yiv7841063611 .yiv7841063611read
.yiv7841063611thumb {height:100%;}PILIHAN
Pidato Jokowi Menyejukan, Tetapi Masyarakat Butuh Lebih dari Sekedar Angin
Sejuk!
29 Desember 2016 17:17:29 Diperbarui: 30 Desember 2016 01:13:28 Dibaca :
Komentar : Nilai : Kegiatan perayaan natal nasional tahun 2016 yang
diselenggarakan di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara dan disiarkan di stasiun
televisi, diselingi dengan agenda pidato Presiden Jokowi. Pidato yang
disampaikan berisi ajakan untuk menghargai dan mengaplikasikan nilai-nilai
Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila dalam interaksi antar masyarakat melalui
sikap saling menghargai, menghormati, melindungi, mengayomi dan membantu karena
kita adalah saudara sebangsa dan se-tanah air. Presiden juga dalam orasinya
mengingatkan masyarakat untuk menghentikan ujaran kebencian, hasutan, fitnah
dan caci maki baik di kehidupan nyata maupun di media sosial. Pidato tersebut
tentu menyejukan telinga para pendengarnya, terlihat bahwa Presiden tanggap
dengan situasi sosial dan lebih jauh lagi bisa bersimpati dan berempati
khususnya kepada kaum-kaum minoritas.Bercermin dari situasi sekarang pidato
tersebut bisa jadi hanya kenang-kenangan bagi masyarakat Indonesia dan Sulawesi
Utara khususnya apabila peristiwa-peristiwa radikal dan pola pikir konservatif
fundamentalis yang seringkali kontra dengan toleransi, demokrasi dan
kemanusiaan masih merajalela di Negara ini. Dalam menyambut penghujung tahun
2016 ini saja tentu masih terlintas di benak kita aksi meredaksi video yang
dilakukan Buni Yani yang memicu terjadinya demonstrasi 4 November 2016 yang
berakhir bentrok, demonstrasi 212, Ahmad Dhani yang dilaporkan atas dugaan
menghina Presiden, penangkapan beberapa tokoh yang diduga akan melakukan makar
(termasuk lagi-lagi Ahamad Dhani), penetapan status tersangka Ahok, peledakan
bom di vihara di Singkawang dan gereja di Samarinda yang memakan korban Jiwa
anak kecil, penangkapan pengantin bom panci di Bekasi, penangkapan teroris di
Tangerang Selatan, penangkapan teroris di Jatiluhur (diduga berafiliasi dengan
ISIS dan akan menjalankan aksinya pada saat tahun baru), pembubaran ibadah oleh
sekelompok ormas di Sabuga Bandung, keluarnya Fatwa intoleran dari MUI yang
berakibat sekelompok ormas melakukan aksi menyapu atribut-atribut natal di
tempat-tempat umum dan yang baru-baru ini habib Rizieq dilaporkan ke kepolisian
karena menyebut "..kalau tuhan beranak bidannya siapa...".Rangkaian
peristiwa-peristiwa radikal yang didasari pola pikir konservatif fundamentalis
tersebut terjadi hanya dalam tempo bulanan, belum lagi kalau kita mau mengingat
peristiwa bom bali ditahun 2002, 2005 dan bom di JW Marriott Jakarta ditahun
2009. Berdasarkan serangkaian peristiwa tersebut terlihat bahwa masalah
radikalisme, konservatif dan fundamentalisme adalah masalah serius untuk Negara
ini, yang mana masalah tersebut tidak hanya bisa diselesaikan melalui orasi
saja. Saya sangat mengapresiasi tindakan para aparatur penegak hukum menangkap
dan bertindak tegas kepada para teroris dan pelaku-pelaku radikal lainnya
sehingga bisa meminimalisir timbulnya korban jiwa dan luka, tapi jangan sampai
kita tersanjung dan seolah-olah mendewakan tindakan represif yang berhasil
diajalankan oleh aparatur penegak hukum.Ada pepatah berkata "tak ada api,
masakan ada asap?" artinya selalu ada sebab dari sebuah kejadian. Begitu pula
dengan tindakan-tindakan radikal, konservatif, fundamentalis yang kontra
demokrasi, toleransi dan kemanusiaan yang berulang-ulang terjadi di Negara ini
pasti ada penyebabnya. Penyebab tersebut bisa berasal dari dalam (beberapa
contoh: kurangnya pengetahuan yang benar atas ajaran agamanya sendiri dan
kebudayaan di Negara ini, terbentuknya sikap anti simpati dan empati) maupun
dari luar (beberapa contoh: dakwah/penyebaran ajaran agama yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai ajaran agama yang hakiki, berada di lingkungan yang
terkurung dengan pola pikir konservatif). Dari sekian banyak faktor-faktor
tersebut saya melihat faktor yang paling krisis adalah faktor penyebaran ajaran
agama yang dengan mudah disalahgunakan demi kepentingan kelompok-kelompok
tertentu. Melalui ajaran agama yang disalahgunakan tersebut masyarakat dengan
mudah pula menerimanya karena dianggap diutarakan oleh orang yang dipandang
sebagai pemimpin umat sehingga adanya perasaan harus menerima bulat-bulat.
Hal-hal seperti itulah yang membuat seringkali masyarakat kita terpecah dan
intoleran dengan perbedaan yang ada (agama, suku, budaya dan ras) dan
orang-orang yang sudah terikat dengan pola pikir konservatif, radikal
fundamentalis karena menjadi korban dari penyebaran ajaran agama yang
menyimpang dari ajaran yang hakiki tersebut akan lebih mudah lagi untuk
dijadikan "alat" entah untuk kegiatan terorisme, kegiatan kudeta atau makar.
Hal itulah yang harus dengan sungguh-sungguh diantisipasi dan mulai dikaji oleh
eksekutif, legislatif dan yudikatif Negara ini sampai ke akar-akarnya agar
kejadian-kejadian serupa bisa semakin diminimalisir tidak hanya untuk tempo
sekarang tapi sampai ke masa yang akan datang juga. Karena berdakwah adalah
kegiatan yang paling krisis dan dengan mudah dapat disalahgunakan untuk mencuci
pikiran masyarakat maka selain tindakan-tindakan represif (penangkapan teroris
dan para pelaku kejahatan lainnya yang didasarkan konsep radikal, konservatif
dan fundamentalis) yang sudah dilakukan sangat baik oleh aparatur penegak hukum
pemerintah juga harus bekerja sama menjalankan kegiatan "dakwah kebudayaan"
(solusi dari Bilver Singh dan Abdul Munir seorang intelektual peneliti
radikalisme di Indonesia). Kegiatan tersebut tentu akan memakan proses lama
karena hasil yang didapatkan pun untuk meredam radikalisme dalam jangka panjang
artinya jika kita berhasil melakukan dakwah kebudayaan tersebut maka dampak
meminimalisir tindakan-tindakan radikal intoleran dan fundamentalis tersebut
tidak hanya terjadi dalam hitungan tahunan tapi harapannnya puluhan tahun
bahkan seterusnya.lalu bagaimana cara pemerintah saling bekerja sama dalam
melaksanakan dakwah kebudayaan tersebut? berikut 4 hal yang dapat dilakukan:
- Pemerintah harus satu suara terlebih dahulu dan kemudian berkomitmen bahwa
dakwah kebudayaan akan dijadikan kegiatan yang berkelanjutan;
- Pemerintah khususya kementrian agama dan kementrian pendidikan dapat
bekerjasama menyusun suatu kurikulum yang mana dakwah kebudayaan menjadi
substansi didalamnya (misalnya: penafsiran dan pengimplikasian pancasila dan
bhineka tunggal ika secara benar, termasuk mengontrol ajaran-ajaran keagamaan
agar penerapannya sesuai dengan tafsiran-tafsiran yang hakiki, toleran dan
menjunjung nilai-nilai kemanusiaan);
- Dalam menyusun kurikulum tersebut, legislatif dapat dilibatkan juga dalam
hal adanya kebutuhan mengeluarkan produk-produk hukum yang bisa menjadi
landasan konsideran menimbang atau mengingat bagi kegiatan dakwah kebudayaan
ataupun sebagai landasan sebagai diberlakukannya kegiatan dakwah kebudayaan
tersebut secara nasional;
- Dalam memberlakukan dakwah budaya tersebut harus ada kontrol berkala dari
pemerintah untuk dilakukan evaluasi dan tindakan tegas atas
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi atas tidak terlaksanannya dakwah
kebudayaan tersebut dengan baik.
Secara rasionalitas segala tindakan yang dilakukan manusia berasal dari
struktur pemikiran atau pemahaman dalam pola pikirnya sendiri. Oleh karena itu
jika kita mampu menyelesaikan masalah tidak hanya dari batangnya saja (tindakan
represif yang sudah berjalan dengan baik) melainkan hingga ke akarnya (dakwah
kebudayaan yang belum konkrit terlaksana) niscaya para penegak hukum tidak akan
banyak melakukan tindakan represif (penangkapan-penangkapan) bukan karena
kecolongan melainkan dalam benak masyarakat Indonesia sudah tertanam
nilai-nilai keagamaan yang menjunjung toleransi dan kemanusiaan sembari
mengedepankan nilai-nilai pancasila, bhineka tunggal ika dan demokrasi yang
sekaligus juga tercermin dalam tindakannya sehari-hari. Bila hal tersebut bisa
terjadi maka pidato natal nasional 2016 Presiden Jokowi akan menjadi kenangan
yang indah karena nyata implikasinya.KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP
KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.LABEL radikalisme
humanis konservatif saran opini islam solusi dakwahkebudayaan pancasila
politik
NILAI :
Beri Nilai
Selanjutnya
Tentang Kompasiana Syarat & Ketentuan Bantuan #yiv7841063611 #yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-bottom-banner-container .yiv7841063611close {}#yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-bottom-banner-container .yiv7841063611close a, #yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-skin-ads .yiv7841063611close
{background:#125ba8;text-align:center;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-skin-ads .yiv7841063611close a {color:#fff;padding:1px
7px;font-size:11px;}#yiv7841063611 .yiv7841063611kcm-bottom-banner-container
.yiv7841063611close span, #yiv7841063611 .yiv7841063611kcm-skin-ads
.yiv7841063611close span {padding-left:10px;}#yiv7841063611
.yiv7841063611skin-left {position:absolute;}#yiv7841063611
.yiv7841063611skin-right {position:absolute;}#yiv7841063611
.yiv7841063611bottom-banner {padding:0 0 0;height:50px;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-bottom-banner-container
{width:1100px;z-index:999999;background:#eee;}#yiv7841063611
.yiv7841063611kcm-bottom-banner-container .yiv7841063611close a
{position:absolute;padding:1px 7px;font-size:11px;color:#fff;border-radius:3px
3px 0 0!important;font:11px/18px 'open sans', sans-serif;}#yiv7841063611
.yiv7841063611carousel-control.yiv7841063611right
{background:none!important;}#yiv7841063611
.yiv7841063611carousel-control.yiv7841063611left
{background:none!important;}#yiv7841063611 .yiv7841063611carousel-control span
{font-weight:200!important;background:#eee;}#yiv7841063611
.yiv7841063611headline-big .yiv7841063611thumb-sponsor
{width:100%;height:480px;position:relative;overflow:hidden;}#yiv7841063611
.yiv7841063611headline-big .yiv7841063611thumb-sponsor img
{width:100%;}#yiv7841063611 .yiv7841063611sponsor-head-title h1 {font:400
30px/34px 'open sans', arial;margin:5px
0;max-height:140px;overflow:hidden;}#yiv7841063611
.yiv7841063611sponsor-head-title h2 {font:400 10px/16px 'open sans',
arial!important;margin:5px 0;background:#fe5558;color:#fff;padding:2px
10px;display:inline-block;text-transform:uppercase;}#yiv7841063611
.yiv7841063611sponsor-head-title p {margin:10px
0;max-height:240px;overflow:hidden;}#yiv7841063611 .yiv7841063611sponsor-title
{font:400 10px/16px 'open sans', arial!important;margin:5px
0;color:#fe5558;display:inline-block;text-transform:uppercase;}#yiv7841063611
.yiv7841063611container {z-index:1;position:relative;}#yiv7841063611
.yiv7841063611skin-ads {width:100%;height:100%;z-index:0;}#yiv7841063611
.yiv7841063611skin-ads .yiv7841063611left
{position:relative;width:100px;height:650px;float:left;z-index:10;}#yiv7841063611
.yiv7841063611skin-ads .yiv7841063611right
{position:relative;width:100px;height:650px;float:right;z-index:10;}#yiv7841063611
.yiv7841063611close-skin a {color:#fff;padding:1px
7px;font-size:11px;background:#125ba8;text-align:center;position:relative;display:block;font:600
11px/18px open sans, sans-serif;}#yiv7841063611 .yiv7841063611pol-ads
{position:absolute;text-align:center;width:100%;z-index:9;height:0;}#yiv7841063611
.yiv7841063611pol-ads .yiv7841063611pol-banner
{text-align:center;position:relative;z-index:10;display:table;}#yiv7841063611
.yiv7841063611close-pol {text-align:right;}#yiv7841063611
.yiv7841063611close-pol a {color:#fff;padding:1px
7px;font-size:11px;background:#125ba8;position:relative;display:inline-block;font:600
11px/18px open sans, sans-serif;}#yiv7841063611 .yiv7841063611blue
{background:#61c3f1;} <a rel="nofollow" target="_blank"
href="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a42149aa&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE"><img
border="0" alt=""
src="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=3629&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a42149aa"></a>
--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
avw.php?zoneid=3629&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a42149aa
Description: Binary data
