Rekam jejak JP Morgan di Indonesia 
https://beritagar.id/artikel/berita/rekam-jejak-jp-morgan-di-indonesia 
 Oleh : Ronna Nirmala https://beritagar.id/penulis/nirmala |  11:37 WIB - Rabu 
, 04 Januari 2017
 

 

 UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
 
 
 Ilustrasi beberapa orang duduk di lobi kantor JP Morgan Chase di New York, 
Amerika Serikat © Mark Lennihan /AP Photo Kementerian Keuangan memutuskan untuk 
tidak melanjutkan hubungan kemitraan dengan JP Morgan Chase Bank sejak awal 
tahun 2017. Alhasil, JP Morgan tidak boleh lagi menerima setoran penerimaan 
negara Indonesia dalam program amnesti pajak.
 Pemutusan hubungan ini bermula dari hasil riset yang dirilis JP Morgan Chase 
pada 13 November 2016. JP Morgan memang membuat riset mengenai kondisi pasar 
keuangan di Indonesia usai terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika 
Serikat (AS), dan agaknya pemerintah Indonesia tidak senang dengan hasil riset 
ini.
 Padahal, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada JP Morgan untuk 
menjadi salah satu bank persepsi untuk program amnesti pajak sejak Juli 2016 
hingga Maret 2017.
 Bank persepsi adalah bank umum yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk 
menerima setoran penerimaan negara bukan dalam rangka impor, yang meliputi 
penerimaan pajak, cukai dalam negeri, dan penerimaan bukan pajak.
 JP Morgan sebenarnya bukan pemain baru di Indonesia. JP Morgan telah ada sejak 
tahun 1968 http://www.jpmorgan.co.id/country/ID/EN/about dengan membuka kantor 
cabangnya di Jakarta, yang kemudian menyusul 10 tahun kemudian mendirikan 
kantor perwakilannya yang kini berlokasi di Gedung Energi, Sudirman, Jakarta.
 Februari 2012, JP Morgan secara resmi mengumumkan penunjukan Haryanto T. 
Budiman  http://data.bisnis.com/read/people/142/haryanto-t-budimansebagai 
Managing Director dan Senior Country Officer (SCO) untuk Indonesia. Selain 
jabatannya sebagai SCO, Haryanto juga memimpin bisnis Global Corporate Banking 
(GCB) di Indonesia.
 Sebelum bergabung dengan JP Morgan, Haryanto menjabat sebagai Senior Executive 
Vice President (SEVP) dan anggota Board of Management PT Bank Mandiri Tbk 
(BMRI), bank terbesar di Indonesia.

 Perusahaan asal Amerika Serikat itu sendiri telah berdiri hampir 200 tahun 
lamanya http://www.jpmorgan.co.id/country/ID/EN/company-history. JP Morgan 
Chase & Co (NYSE: JPM) adalah perusahaan penyedia jasa keuangan global 
terkemuka dengan aset mencapai USD2 triliun dan beroperasi di lebih dari 60 
negara.
 Perusahaan ini memimpin pangsa pasar dalam bidang investasi perbankan, layanan 
keuangan personal, usaha kecil dan perbankan komersial, pemrosesan transaksi 
keuangan, pengelolaan aset, dan private equity.
 Aktivitas penggadaian di divisi perbankan swasta dan pengelolaan kekayaan 
pribadi dilakukan di bawah perlindungan JP Morgan Chase Bank. Merek Chase 
digunakan untuk jasa kartu kredit di AS dan Kanada, sementara bank eceran dan 
komersialnya berkantor pusat di Chicago.
 Di AS, perusahaan ini menjadi pasar deposito terbesar ketiga setelah Wells 
Fargo dan Bank of America. Unit pengelola investasi global JP Morgan Chase 
adalah yang terbesar di AS dengan aset senilai USD53,5 miliar pada akhir 2009.
 Sementara untuk banknya, JP Morgan Chase adalah bank terbesar keempat 
https://id.wikipedia.org/wiki/JPMorgan_Chase di AS setelah Bank of America 
Citigroup, dan Wells Fargo.
 Sebagai komponen Dow Jones Industrial Average, JP Morgan Chase & Co melayani 
jutaan konsumen di AS dan berbagai perusahaan terkemuka di dunia. JP Morgan 
mulai membangun bisnisnya Asia Pasifik pada tahun 1872 tepatnya di Hong Kong 
dan kini telah beroperasi di 17 negara dengan 30 kantor.
 Sekadar catatan, JP Morgan menyebutkan 
https://beritagar.id/artikel/berita/pemerintah-putuskan-hubungan-kerja-sama-dengan-jp-morgan
 imbal hasil surat utang tenor 10 tahun naik dari 1,85 persen menjadi 2,15 
persen pasca-terpilihnya Trump. Kenaikan tingkat imbal hasil dan gejolak pasar 
obligasi ini mendongkrak risiko premium di pasar negara-negara yang pasarnya 
berkembang (emerging market).
 Hal ini memicu kenaikan Credit Default Swaps (CDS) Indonesia, sehingga 
berpotensi mendorong arus dana keluar dari Indonesia.
 Berdasarkan kepada riset tersebut, JP Morgan merekomendasikan pengaturan ulang 
alokasi portofolio para investor. Tak hanya itu, JP Morgan kemudian memangkas 
dua level rekomendasi Indonesia dari "overweight" menjadi "underweight".
 Memang, pasca-kemenangan Trump pada 9 November 2016, pasar modal dan obligasi 
Indonesia sempat bergejolak. Puncaknya terjadi pada 11 November 2016. Saat itu, 
nilai tukar rupiah sempat menembus USD13.800. Sedangkan Indeks Harga Saham 
Gabungan (IHSG) anjlok 4,01 persen.
 Bank Indonesia (BI) mencatat, dana asing yang keluar dari Indonesia mencapai 
Rp16 triliun dalam tempo sepekan perdagangan, yaitu 9 sampai 14 November 2016.
 Namun, pemerintah menegaskan gejolak itu hanya akan bersifat sementara. 
Apalagi, pemerintah meyakini bahwa kerjasama Indonesia-AS tidak akan surut 
https://beritagar.id/artikel/berita/strategi-indonesia-hadapi-kebijakan-ekonomi-trump
 meski Trump menjadi presiden. Pasalnya, Indonesia adalah mitra dagang 
strategis, tak hanya dalam konteks bilateral, melainkan kerjasama regional.
 Bukan sekali saja JP Morgan membuat pemerintah menjadi geram. Tahun 2015, JP 
Morgan juga pernah membangkitkan amarah pemerintah.
 Dalam risetnya pada 20 Agustus 2015, JP Morgan merekomendasikan agar investor 
mengurangi kepemilikan di surat utang Indonesia. Sebab, menilai risiko aset 
portofolio Indonesia semakin meningkat karena tiga faktor.
 Pertama, kebijakan Tiongkok mendevaluasi mata uangnya yang membuat risiko 
obligasi negara-negara pasar berkembang Asia meningkat. Kedua, besarnya aliran 
dana keluar membuat prospek obligasi global negara-negara pasar berkembang 
menurun, termasuk Indonesia. Ketiga, adanya kekhawatiran bahwa utang pemerintah 
pada tahun 2016 akan meningkat sebesar 10 persen.
 Kala itu, Gubernur BI Agus Martowardojo meminta agar riset tersebut dilakukan 
dengan hati-hati dalam mengambil rancangan analisisnya. Menteri Keuangan pada 
saat itu, Bambang Brodjonegoro mengaku telah memberikan sanksi kepada JP Morgan 
atas hasil risetnya yang dinilai merugikan Indonesia.

 

Kirim email ke