Sungguh satu tulisan Birgaldo Sinaga yang sangat menyentuh, PATUT direnungkan 
secara SERIUS oleh setiap umat berAgama bagaimana menegakkan KEADILAN, dan, ... 
BENAR-BENAR menjadi seorang berimam baik dan SALEH sebagaimana ajaran Agama 
masing-masing! 

Mudah-mudahan warga Jakarta LULUS menghadapi ujian berat proses BELAJAR 
BERDEMOKRASI dalam pertarungan PILKADA DKI-Jakarta putaran ke-2 yang makin 
sengit ini, bisa menerima dan menghormati segala perbedaan yang ada untuk 
mempertahankan persatuan, kedamaian dan kehidupan harmonis bermasyarakat! TIDAK 
SEBALIKNYA menciptakan perpecahan hanya karena perbedaan Agama, perbedaan 
etnis, dan perbedaan politik yang ada! Inilah Ujian dan tantangan berat dalam 
Proses BELAJAR berdemokrasi dan mendewasakan bangsa ini!

“Belakangan ini, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah dalam tingkat 
tidak waras. Rasa kemanusiaan sudah hilang. Kemanusiaan yang bernurani telah 
bermetamorfosis menjadi kemanusiaan yang berwajah setan. Jahat. Keji. Kejam. 
Bengis. Tragis. Tragedi.

Bayangkan kepada mayat nenek tua Hindun kita tega melaknatnya. Menajiskannya. 
Membuang muka dan menyumpah serapahnya. Tidak memberi doa. Apa salah dan dosa 
nenek renta Hindun yang nafasnya saja tinggal hitungan jam itu? Apakah karena 
Ia memilih Ahok yang menurutnya layak jadi pelayannya? Yang memberi jaminan 
kesehatan dan pendidikan buat anak cucunya? Orang yang tidak merampok uang 
pajak kerja kerasnya?

Kejahatan menolak sholat jenazah ini sungguh mengerikan. Memang tidak ada yang 
terbunuh dari aksi sekelompok orang yang tidak memiliki hati dan empati pada 
orang mati. Nenek Hindun itu juga tidak punya kuasa apa-apa lagi selain 
menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha Adil.”  (Birgaldo Sinaga)

Salam,

ChanCT




Nenek Hindun Dan Kejamnya Pendukung Anies Sandi
https://seword.com/politik/nenek-hindun-dan-kejamnya-pendukung-anies-sandi/
BY BIRGALDO SINAGA ON MARCH 12, 2017POLITIK


Orang mati butuh keadilan. Siapa yang memberikan keadilan bagi orang mati? 
Orang hidup. Kita yang masih hidup sedaya upaya memberikan keadilan itu bagi 
orang mati karena orang mati tidak bisa lagi mencari keadilan bagi dirinya. 
Orang mati tidak bisa lagi bersuara menuntut keadilan bagi dirinya.

Suatu hari di penghujung tahun 2009, seorang anak remaja tewas dalam penjara 
Polsek Batam Kota. Namanya Josua. Ia anak jalanan yang hidup di kerasnya 
kehidupan. Kadang Ia pergi ke Jakarta merantau. Kadang ke Medan. Kadang di 
Siantar kampungnya. Pokoknya Josua pergi kemana ia suka. Langit adalah batasnya.

Suatu hari, Ia tertidur di dalam kedai barang bekas di bilangan Batam Center. 
Ia terpergok di dalam oleh penjaga kedai itu pada jam 01.30 dini hari. Ia 
disangka mencuri. Padahal tidak ada barang yang hilang. Lalu Ia di bawa ke 
Polsek. Dimasukkan ke dalam sel selama 3 hari.

Keluarganya datang menjenguk. Diupayakan perdamaian dengan si pelapor. 
Sayangnya sebelum perdamaian terjadi, karena masih suasana Natal, pada 26 
Desember 2009, Josua tewas. Polisi mengatakan bunuh diri diteralis pintu sel 
pakai kaos oblongnya. Mayat segera dikirim ke kampung halaman Siantar. 
Dikuburkan.

Saya mendengar kasus ini. Lalu mencari tahu karena ada kejanggalan yang ku 
lihat. Saya melakukan investigasi. Investigasi ini menjadi pengalaman paling 
mendebarkan seumur hidup saya.

Saya mewawancarai para saksi-saksi. Melihat TKP kedai barang bekas tempat Josua 
tidur. Mewawancarai saksi mata di sana. Berkunjung ke penjara tempat Josua di 
kerangkeng. Bertemu dengan dokter yang memvisum Josua. Melihat rumah sakit.

Saya melakukan investigasi hingga wawancara dengan penjaga penjara, Wakapolres 
Barelang, Kapolsek Hilman hingga semua pihak yang menurut saya punya informasi 
kuat termasuk beberapa teman wartawan yang mangkal di sana.

Hasil investigasi itu saya bagi ke salah satu media lokal terkenal di Batam. 
Baca di sini liputannya 
http://iqbalfile.blogspot.co.id/2010/01/duka-dalam-sepotong-kaos-bola.html?m=1

Saya bersama teman teman mahasiswa PMII mendesak Kapolres Batam saat itu 
melakukan penyelidikan ulang dengan melakukan otopsi menyeluruh atas korban.

Kejanggalan korban disiksa cukup kuat. Analisis investigasi cukup masuk akal 
dengan kesimpulan bahwa korban di siksa lalu mati dalam sel. Saksi mata yang 
menjenguk korban sehari sebelum tewas menceritakan korban di siksa saat dalam 
tahanan.

Ujungnya Kapolres Leonidas saat itu mengabulkan tuntutan saya. Pembongkaran 
kuburan Josua di Siantar disetujui. Otopsi mayat dilaksanakan sekitar awal 
Februari 2010 di Pematang Siantar. Hampir dua bulan Josua dikubur. Seisi 
kampung Josua ikut menyaksikan proses otopsi.

Saya ikut melihat proses otopsi itu. Mulai kebaktian doa pembongkaran jenazah. 
Membuka peti mati. Mengangkat jenazah dalam tenda otopsi. Saya melihat 
bagaimana bentuk jenazah yang sudah terkubur selama 2 bulan. Aroma bau mayat 
yang menusuk hidung. Saya melihat para dokter forensik yang tenang dan santai 
saat membedah tubuh mayat. Menggergaji, memotong dan mengambil sampel jaringan 
dalam organ tubuh seperti lambung, hati, jantung, ginjal, otak, paru, empedu 
dlsb.

Peristiwa itu membekas sampai sekarang. Saya masih ingat detail bagaimana 
suasana di bawah tenda otopsi mayat itu karena saya ada di sana. Mencari 
keadilan bagi orang mati.

Pagi sebelum berangkat ke kuburan saya bertemu dengan keluarga Josua. Rumahnya 
tidak jauh dari kuburan itu. Di rumah sangat sederhana itu, nenek Josua 
menciumiku. Nenek Josua menangis meraung raung. Ia memelukku begitu kuat sambil 
menangis pilu menyebut nyebut pahompunya atau cucunya.

Emak Josua menangis kencang. Josua adalah anak bungsu yang kehilangan pegangan 
ketika ayahnya meninggal dunia. Ia akhirnya hidup di jalanan. Ayahnya sudah 
lama meninggal dunia. Emak Napitu Ibu Josua adalah janda tua. Petani kecil di 
kampungnya.

Saat bertemu, Ibu Josua memelukku kuat. Erat sekali dekapannya. Ia berbisik 
dalam bahasa Batak yang saya tidak tahu artinya karena sambil menangis 
sesunggukkan. Saya hanya ingat Ia berkata bahwa saya telah mengangkat 
kehormatan keluarga mereka dari cibiran orang kampung.

Orang kampungnya akhirnya percaya bahwa anaknya bukan bunuh diri seperti kata 
polisi. Bagi penganut Khatolik, bunuh diri adalah dosa terbesar. Terkutuk. 
Dengan adanya pencarian keadilan ini membuat mereka semua orang kampung di sana 
percaya anaknya bukan bunuh diri.

Tidak mungkin bunuh diri. Sama seperti pendapat psikolog yang saya temui pernah 
bilang jarang ditemukan anak jalanan bunuh diri. Mereka terbiasa hidup keras. 
Justru anak yang penyendiri dan pendiam yang rentan bunuh diri. Itu fakta 
empirik.

Proses mencari keadilan itu tidak mudah. Saya menghadapi institusi yang 
berkuasa. Sambil menunggu hasil otopsi, saya pergi ke Jakarta. Bertemu dengan 
Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak. Melapor ke Kompolnas. 
Pergi ke TV One dalam Apa Kabar Indonesia Pagi.

Saya meyakini, bahwa orang hiduplah yang menyelesaikan persoalan orang mati. 
Orang hiduplah yang memberi keadilan bagi orang mati. Orang hiduplah yang 
memberi penghormatan bagi orang mati. Karena orang mati telah usai hidupnya. 
Telah berakhir tugas perjuangannya. Tugas orang hidup memastikan roh kebenaran, 
roh keadilan, roh kearifan nan bijaksana, roh kasih sayang yang dihembuskan 
Allah Yang Maha Pengasih tetap ada.

Belakangan ini, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah dalam tingkat 
tidak waras. Rasa kemanusiaan sudah hilang. Kemanusiaan yang bernurani telah 
bermetamorfosis menjadi kemanusiaan yang berwajah setan. Jahat. Keji. Kejam. 
Bengis. Tragis. Tragedi.

Bayangkan kepada mayat nenek tua Hindun kita tega melaknatnya. Menajiskannya. 
Membuang muka dan menyumpah serapahnya. Tidak memberi doa. Apa salah dan dosa 
nenek renta Hindun yang nafasnya saja tinggal hitungan jam itu? Apakah karena 
Ia memilih Ahok yang menurutnya layak jadi pelayannya? Yang memberi jaminan 
kesehatan dan pendidikan buat anak cucunya? Orang yang tidak merampok uang 
pajak kerja kerasnya?

Kejahatan menolak sholat jenazah ini sungguh mengerikan. Memang tidak ada yang 
terbunuh dari aksi sekelompok orang yang tidak memiliki hati dan empati pada 
orang mati. Nenek Hindun itu juga tidak punya kuasa apa-apa lagi selain 
menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha Adil.

Orang mati tidak punya urusan lagi dengan orang hidup. Orang hiduplah yang 
punya urusan dengan orang mati. Urusan itu menjadi dasar dan pembuktian apakah 
kita ini manusia yang menjadi manusia bagi sesamanya?

Ataukah kita ini sesungguhnya hanya binatang bagi sesama kita. Hanya binatang 
yang tidak mau menguburkan dan mendoakan sesamanya kaum binatang. Itupun bukan 
karena mereka tidak mau, tapi karena mereka tidak mampu dan memang mereka 
diciptakan oleh Sang Maha Pencipta tidak memiliki akal.

Haruskah kita menjadi binatang bagi sesama kita? Ebiet G Ade menulis dengan 
indah syair tentang itu. Katanya “Sedang Tuhan di atas sana tak pernah 
menghukum. Dengan sinar wajahnya lebih tajam dari matahari. Kemanakah sirnanya 
nurani embun pagi. Yang biasanya ramah kini membakar hati?”. Kemana? Lenyap 
karena ambisius kekuasaan. Kebencian menghalalkan segala cara. Mematikan akal 
sehat dan nurani. Menghanguskan apa saja hingga tulang belulang kita.


Wahai manusia penolak jenajah sesamamu manusia, betapa keji dan jahatnya jiwamu 
dalam menghalalkan segala cara demi kekuasaan calon yang ingin kau menangkan. 
Kau begitu keji. Buas. Jahat. Bengis. Sadis. Semoga Tuhan di atas sana tidak 
menolakmu saat engkau mati seperti halnya engkau menolak Nenek Hindun saat Ia 
meninggal dunia.

Salam perjuangan
Birgaldo Sinaga


Kirim email ke